Mimpiku Tergadai Kemiskinan Bapak

Luka Masa Lalu

"Ibu! Sambal terinya jangan lupa dimasukkan ke rantang paling bawah!"

Suara Tegar menggelegar dari ruang tengah, memecah kesunyian subuh yang masih berkabut. Ia sibuk mengikat tali sepatu ketsnya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya memastikan tongkat penyangganya tidak bergeser.

"Sudah, Gar! Sudah Ibu masukkan juga pepes pindang sisa semalam. Kamu ini, seperti mau piknik ke luar kota saja," sahut Ibu dari dapur, suaranya dibalut tawa kecil yang terdengar ringan—sesuatu yang sangat langka dalam sepuluh tahun terakhir.

Tulus muncul dari kamar, sudah mengenakan kaos lusuh yang biasa ia pakai ke sawah dulu. "Bukan piknik, Bu. Mas Tegar bilang dia rindu bau lumpur. Katanya, bau asap knalpot di kota bikin dia lupa caranya jadi orang desa."

"Cepat, Lus! Sebelum matahari naik tinggi. Aku mau lihat gubuk itu lagi," ajak Tegar antusias.

Bapak muncul dari pintu belakang, membawa dua buah caping bambu. Ia menatap kedua putranya dengan tatapan yang sulit diartikan—ada rasa bangga, namun juga ada guratan penyesalan yang mendalam.

"Bapak antar sampai pinggir jalan besar?" tawar Bapak pelan.

Tegar menggeleng mantap. "Tidak usah, Pak. Biar Tulus yang jadi kaki saya hari ini. Bapak istirahat saja di rumah, temani Ibu."

Sawah membentang seperti permadani hijau yang tak berujung. Angin pagi berembus membawa aroma tanah basah dan bulir padi yang mulai berisi. Tegar berjalan perlahan, bertumpu pada tongkatnya di jalan setapak yang licin, sementara Tulus menjinjing rantang makanan di sampingnya.

Begitu sampai di gubuk kecil yang reot namun tetap berdiri kokoh di tengah sawah, Tegar langsung menjatuhkan tubuhnya di atas amben bambu. Ia memejamkan mata, menghirup udara dalam-dalam.

"Mas... ingat tidak?" Tulus memulai pembicaraan setelah mereka duduk bersila menghadap hamparan hijau. "Dulu, di gubuk ini, aku sering menangis sendirian karena tidak boleh ikut Mas main bola di lapangan desa."

Tegar membuka matanya, menatap langit-langit gubuk. "Aku ingat. Tapi kamu tahu tidak, Lus? Aku lebih sering menangis di balik pohon besar di sana, setiap kali melihat Ibu menyuapi kamu dengan telur satu-satunya, sementara aku cuma makan nasi garam di dapur."

Tulus terdiam. Jarinya memainkan anyaman bambu gubuk yang mulai lapuk. "Aku selalu merasa bersalah untuk itu, Mas. Aku tahu Ibu dan Bapak pilih kasih."

"Pilih kasih?" Tegar tertawa pahit, suaranya parau. "Itu kata yang halus, Lus. Dulu, aku merasa seperti anak pungut yang dipaksa jadi mesin uang masa depan, sementara kamu adalah permata yang harus dijaga di dalam kotak kaca."

"Mas..."

"Ingat waktu aku menang lomba lari tingkat kecamatan pertama kali?" potong Tegar, matanya menatap kosong ke depan. "Aku pulang membawa piala plastik murah itu dengan kaki yang lecet-lecet. Aku ingin pamer pada Bapak. Tapi apa yang Bapak bilang?"

Tulus menunduk, ia tahu arah pembicaraan ini. "Bapak bilang... 'Jangan pamer, nanti Tulus iri dan jantungnya kumat'."

"Tepat!" Tegar memukul amben bambu dengan telapak tangannya. Plak! "Aku melempar piala itu ke selokan malam itu juga. Aku benci lari, Lus. Aku benci menjadi kuat jika kekuatanku dianggap sebagai ancaman untuk keselamatanmu."

Tulus menatap kakaknya dengan mata berkaca-kaca. "Tapi Mas tidak berhenti. Kenapa? Padahal Bapak sering menyita sepatumu, bahkan pernah mengurungmu di gudang supaya Mas tidak pergi latihan."

"Karena cuma saat lari, aku merasa punya dunia sendiri di mana Bapak dan Ibu tidak bisa mengaturku," bisik Tegar. "Setiap langkah kakiku di lintasan adalah teriakan protesku pada mereka. Aku ingin mereka melihatku, Lus. Bukan sebagai 'kakaknya si sakit', tapi sebagai Tegar. Cuma Tegar."

Tulus meletakkan tangannya di atas lutut Tegar yang kaku. "Maafkan aku, Mas. Karena aku, Mas harus berjuang sendirian di kegelapan. Karena jantungku yang lemah ini, Mas kehilangan masa kecil yang bahagia."

"Jangan minta maaf," Tegar menatap adiknya tajam. "Dulu, aku memang benci padamu. Setiap kali aku melihatmu batuk atau pingsan, dalam hati kecilku yang jahat, aku berpikir: 'Gara-gara anak ini, aku tidak pernah dipeluk Bapak'."

Tulus tersedak isaknya sendiri. "Aku tahu, Mas. Aku merasakannya. Itulah kenapa aku selalu mencoba memberikan jatah makananku padamu, meski Ibu marah."

"Dan sekarang lihat kita," Tegar tersenyum miris, air mata mulai menggenang di sudut matanya. "Si anak emas yang dijaga setengah mati, malah lari di lintasan olimpiade. Dan si anak buangan yang diharapkan jadi juara dunia, malah berakhir di atas kursi roda dan tongkat."

"Ini tidak adil, Mas! Harusnya Mas yang ada di sana! Harusnya kaki Mas yang menerima medali itu!" tangis Tulus pecah. Ia memeluk lutut kakaknya, menyembunyikan wajahnya di sana.

Tegar mengelus kepala Tulus dengan lembut. "Awalnya aku juga berpikir begitu. Aku merasa Tuhan sedang bercanda dengan sangat kasar. Tapi saat aku melihatmu di garis finish kemarin, melihat namaku ada di dadamu, dan melihat bagaimana kamu berjuang melawan maut demi kehormatanku... rasa benciku pada masa lalu itu terbakar habis, Lus. Hangus bersama bengkel kita."

"Mas benar-benar tidak dendam lagi pada Bapak?" tanya Tulus sesenggukan.

Tegar menarik napas panjang, aroma nasi hangat dari rantang yang baru dibuka Tulus memenuhi gubuk. "Bapak hanya orang tua yang ketakutan, Lus. Dia takut kehilangan kamu, dan dia takut gagal menjadikanku 'sesuatu'. Dia salah cara, tapi dia tidak salah cinta."

Tegar mengambil piring plastik, menyendokkan nasi dan sayur lodeh ke piring Tulus.

"Dulu, Ibu selalu mendahulukanmu," ujar Tegar sambil menyerahkan piring itu. "Sekarang, aku yang akan mendahului porsimu. Bukan karena kamu sakit, tapi karena kamu adalah pahlawanku."

Tulus menerima piring itu dengan tangan bergetar. "Kita makan satu piring berdua saja, Mas. Seperti waktu kita sembunyi-sembunyi makan singkong bakar di sawah ini dulu saat Bapak melarangku makan makanan keras."

Tegar terkekeh, air matanya jatuh namun bibirnya tersenyum. "Ide bagus. Sini, aku suapi. Anggap saja ini perayaan untuk pelatih baru dan atlet masa depannya."

Di bawah atap rumbia yang mulai bocor, di tengah sawah yang menjadi saksi bisu tangisan masa kecil mereka, dua saudara itu makan dengan lahap. Tidak ada lagi sekat antara 'si sehat' dan 'si sakit'. Hanya ada dua manusia yang sedang menyembuhkan luka lama dengan setiap suapan nasi hangat.

Namun, di tengah tawa mereka, sebuah bayangan mobil hitam berhenti di pinggir jalan desa yang tak jauh dari sawah. Seseorang turun dengan kacamata hitam, menatap ke arah gubuk dengan ponsel di telinga.

"Saya sudah menemukan mereka," ucap suara di balik telepon itu dengan nada dingin. "Tegar dan Tulus. Mereka sedang lengah di tengah sawah. Apa perintah selanjutnya, Tuan Salim?"

Tegar yang sedang tertawa tiba-tiba berhenti. Instingnya sebagai atlet yang selalu waspada terhadap sekitar mendadak menegang. Ia menatap ke arah jalan raya, merasakan hembusan angin yang tiba-tiba berubah menjadi dingin dan mencekam.

"Lus, cepat habiskan makanannya," bisik Tegar tiba-tiba, suaranya berubah serius. "Ada yang tidak beres."

Tulus mendongak, matanya yang sembap menangkap raut wajah kakaknya yang mengeras. Di kejauhan, pintu mobil hitam itu tertutup dengan dentuman yang menggema di keheningan sawah, menandakan bahwa ketenangan mereka di rumah baru saja berakhir sebelum dimulai.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!