Mimpiku Tergadai Kemiskinan Bapak
Koma
Lampu neon di atas pintu ruang operasi itu sudah menyala merah selama enam jam. Enam jam yang terasa seperti enam dekade bagi Bapak dan Ibu. Di koridor Rumah Sakit Provinsi yang megah namun dingin itu, bau karbol bercampur dengan aroma kecemasan yang pekat. Ribuan doa dipanjatkan, tidak hanya dari mulut kedua orang tua itu, tetapi juga dari jutaan orang yang memantau layar ponsel mereka di seluruh penjuru negeri.
Tepat pukul 04.15 pagi, saat fajar mulai mengintip malu-malu di ufuk timur Kabupaten, lampu merah itu akhirnya padam.
Suara decit pintu ganda yang terbuka terdengar seperti suara guntur di tengah kesunyian. Tim dokter keluar dengan langkah gontai. Baju bedah hijau yang mereka kenakan tampak lepek oleh keringat, dan di beberapa bagian, bercak darah kecokelatan menjadi saksi bisu betapa sengitnya pertarungan di dalam sana.
Bapak, yang sejak tadi duduk bersila di lantai sambil menggenggam tasbih kayu yang sudah licin, langsung melompat berdiri. Kakinya yang gemetar hampir tak sanggup menopang berat badannya sendiri. Ibu, yang baru saja terbangun dari pingsan singkatnya, dipapah oleh Coach Hendra menuju ke arah dokter bedah jantung senior yang memimpin operasi.
"Dokter..." suara Bapak serak, nyaris hilang. "Anak-anak saya... apakah mereka masih ada?"
Dokter itu melepas maskernya. Wajahnya menunjukkan kelelahan yang luar biasa, namun ada secercah cahaya di matanya saat menatap Bapak. Ia menarik napas panjang, membiarkan oksigen pagi mengisi paru-parunya sebelum memberikan vonis.
"Pak, Bu... operasi Tulus berjalan dengan mukjizat. Katup sintetis yang dikirim dengan helikopter itu terpasang sempurna. Jantungnya, yang selama ini lemah dan berjuang sendirian, kini berdetak dengan ritme yang stabil. Tulus... dia sudah melewati masa kritisnya."
Tangis Ibu pecah seketika. Ia jatuh bersimpuh, mencium lantai rumah sakit yang dingin sebagai bentuk sujud syukur yang tak terhingga. "Alhamdulillah... Ya Allah, terima kasih..."
Namun, Bapak menyadari sesuatu. Dokter itu belum menyebut nama Tegar. Tatapan dokter beralih ke arah Coach Hendra, lalu kembali ke Bapak dengan sorot yang lebih redup. Ada jeda yang menyakitkan, sebuah keheningan yang seolah-olah menyedot seluruh udara di lorong itu.
"Bagaimana dengan Tegar, Dok? Pahlawan kami?" tanya Coach Hendra, suaranya bergetar menahan tangis.
Dokter itu menunduk sejenak. "Kondisi Tegar jauh lebih rumit. Sepsis atau keracunan darah akibat infeksi di kakinya sudah menyebar sangat jauh. Kami telah melakukan amputasi total hingga pangkal paha kanan untuk menghentikan penyebaran racun. Secara medis, operasi pembersihan itu berhasil. Kami berhasil membuang bagian tubuh yang membusuk itu tepat waktu sebelum mencapai organ vitalnya."
"Lalu kenapa wajah Dokter seperti itu?" desak Bapak, jantungnya berdegup kencang karena firasat buruk.
"Tegar tidak bangun, Pak," jawab dokter itu lirih. "Seharusnya, setelah efek anestesi berkurang, pasien akan menunjukkan tanda-tanda kesadaran. Tapi Tegar... dia jatuh ke dalam koma yang sangat dalam. Kami menyebutnya Post-Operative Coma. Secara fisik, tubuhnya sudah bersih dari racun. Tapi secara neurologis, seolah-olah jiwa Tegar menolak untuk kembali. Dia berada di ambang antara hidup dan mati, bukan karena tubuhnya menyerah, tapi karena kesadarannya seolah terjebak di suatu tempat."
Dunia seolah runtuh menimpa pundak Bapak. Anaknya selamat, tapi anaknya juga "hilang".
Ruang Isolasi: Satu Jantung, Satu Kesunyian
Pihak rumah sakit memberikan pengecualian luar biasa. Karena ikatan batin mereka yang unik, kedua saudara kembar itu ditempatkan dalam satu ruangan ICU besar yang hanya dipisahkan oleh tirai tipis yang sengaja dibuka.
Pemandangan di dalam ruangan itu adalah definisi dari sebuah tragedi yang indah.
Di sisi kanan, Tulus terbaring dengan berbagai alat bantu pernapasan. Dada kecilnya yang dulu sering kembang-kempis kepayahan, kini bergerak naik turun dengan teratur. Mesin monitor di sampingnya mengeluarkan suara bip... bip... yang kuat dan penuh harapan. Warna biru di bibirnya telah memudar, berganti dengan rona pucat yang mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan.
Namun di sisi kiri, kontrasnya begitu menyakitkan. Tegar, sang atlet lari kebanggaan Kabupaten, terbaring kaku. Selimut rumah sakit menutupi tubuhnya, namun semua orang bisa melihat perbedaan mencolok itu: sisi kanan selimutnya tampak rata, hampa, tak lagi ada kaki kokoh yang dulu mampu berlari melompati parit-parit di sawah. Wajahnya tenang, terlalu tenang, hingga tampak seperti patung marmer yang tak bernyawa.
Ibu duduk di antara kedua brankar itu. Tangannya yang kasar karena bertahun-tahun mencangkul kini memegang tangan kedua anaknya. Tangan kiri memegang tangan Tulus yang hangat, tangan kanan memegang tangan Tegar yang sedingin es.
"Gar... bangun, Le," bisik Ibu, air matanya menetes mengenai punggung tangan Tegar. "Katamu, kamu ingin membelikan Ibu kerudung baru dari bonus medali emasmu. Ibu tidak butuh kerudung itu, Nak. Ibu hanya ingin kamu bangun dan melihat adikmu. Tulus sudah bisa bernapas tanpa sakit, Gar. Ini yang kamu inginkan, kan?"
Tak ada respons. Hanya suara mesin ventilator yang mendesis, memompa udara ke paru-paru Tegar yang seolah-olah enggan untuk bekerja sendiri.
Gema di Luar Dinding Putih
Di luar rumah sakit, dunia sedang berduka sekaligus merayakan. Kabar tentang Tegar yang koma demi menyelamatkan adiknya telah menjadi berita utama di setiap stasiun televisi.
Halaman rumah sakit tidak lagi sepi. Ratusan orang berkumpul membawa lilin. Para atlet lari dari berbagai klub datang dengan seragam mereka, namun kali ini mereka tidak berlari untuk mengejar waktu. Mereka melakukan silent run—berlari mengelilingi rumah sakit dalam diam total, hanya suara gesekan sepatu lari di atas aspal yang terdengar.
"Nomor 072 tidak pernah kalah," ujar seorang pelari senior sambil meletakkan sepasang sepatu lari baru di depan gerbang rumah sakit. "Dia hanya sedang berada di lintasan lari yang lebih panjang dari kita semua. Dia sedang berlari menuju jalannya pulang."
Donasi yang terkumpul di rekening Bapak kini menembus angka 2 Miliar Rupiah. Perusahaan-perusahaan besar menawarkan bantuan rehabilitasi, bahkan ada yayasan internasional yang siap menerbangkan Tegar ke luar negeri untuk mendapatkan kaki bionik tercanggih di dunia. Namun, semua kemewahan itu terasa hambar. Di dalam ruangan ICU, uang miliaran itu tak mampu membeli satu kedipan mata dari Tegar.
Tengah malam, saat seluruh rumah sakit mulai terlelap dalam kelelahan, Tulus perlahan membuka matanya. Kesadarannya belum pulih seratus persen, namun rasa sakit di dadanya yang biasanya menusuk kini digantikan oleh rasa hangat yang aneh.
Ia menoleh ke samping. Melalui sela-sela kabel, ia melihat kakaknya. Tulus memang masih kecil, tapi ikatan batin kembar mereka memberitahunya segalanya. Ia melihat kaki kakaknya yang hilang. Ia melihat wajah kakaknya yang begitu jauh.
Dengan gerakan yang sangat pelan dan menyakitkan, Tulus menggerakkan tangan kirinya. Ia berusaha meraih tangan Tegar. Pipa-pipa di tubuhnya bergeser, alarm monitor jantungnya sempat berbunyi karena detak jantungnya meningkat akibat usaha fisik itu.
Jari kelingking Tulus akhirnya menyentuh kulit Tegar.
Pada detik itu juga, layar monitor di atas tempat tidur Tegar yang tadinya menunjukkan garis gelombang otak yang datar dan lambat, tiba-tiba melonjak. Sebuah frekuensi yang tak terbaca oleh akal sehat muncul.
Dalam komanya, Tegar mungkin sedang berada di sebuah padang jati yang sangat luas, tempat yang selalu ia impikan saat ia merasa lelah dengan kemiskinan. Di sana, ia memiliki dua kaki yang utuh, kuat, dan ringan. Ia berlari mengejar matahari yang tidak pernah terbenam. Namun, tepat saat ia hampir mencapai garis finish yang penuh cahaya putih, ia merasakan sebuah tarikan kecil di ujung jarinya.
Sebuah suara bisikan, bukan di telinga, tapi di dalam jiwanya.
"Mas Tegar... ayo pulang. Tulus takut sendirian..."
Tegar berhenti berlari di dunia antah-berantah itu. Ia menoleh ke belakang, melihat kegelapan yang penuh dengan selang, bau obat-obatan, dan isak tangis ibunya. Ia tahu, jika ia melangkah maju ke cahaya itu, kakinya akan utuh selamanya, dan ia takkan pernah lagi merasakan sakit. Tapi jika ia kembali, ia akan terbangun sebagai pria dengan satu kaki, seorang mantan atlet yang mimpinya telah mati.
Di dunia nyata, air mata mengalir dari sudut mata Tegar yang masih terpejam.
"Dokter! Lihat!" teriak perawat yang sedang berjaga. "Ada aktivitas otak yang meningkat pada pasien Tegar! Dia merespons!"
Dokter bedah segera masuk ke ruangan. Ia melihat tangan Tulus yang memegang erat jari kakaknya. Sebuah pemandangan yang membuat dokter yang sudah puluhan tahun menangani kematian itu harus memalingkan wajah untuk menyembunyikan air matanya.
"Dia masih berjuang," bisik dokter itu. "Tegar sedang bertanding di babak paling menentukan dalam hidupnya. Dan kali ini, penontonnya bukan lagi satu stadion, melainkan seluruh malaikat di langit."
Malam itu, di ruang ICU yang sunyi, dua nyawa itu kembali bertaut. Satu jantung baru yang berdetak kuat, dan satu jiwa yang sedang berusaha mencari jalan pulang melewati labirin koma yang gelap. Perjuangan belum berakhir. Bagi Tegar, garis finish-nya bukan lagi medali emas, melainkan kemampuan untuk membuka mata dan tersenyum pada adiknya, meski ia harus melakukannya dengan tubuh yang tak lagi sempurna.
Akankah Tegar terbangun saat ia menyadari bahwa dunia yang ia tinggalkan jauh lebih mencintainya daripada kedamaian di dalam komanya?