Mimpiku Tergadai Kemiskinan Bapak
Digagalkan Bapak
Debu di pelataran rumah yang biasanya tenang, sore itu seperti ikut terbakar amarah. Suara napas Tegar memburu, bukan karena ia baru saja menyelesaikan sirkuit lari lima kilometer di lereng bukit, melainkan karena melihat kotak kayu di bawah dipan kamarnya telah melompong.
"Di mana, Pak? Jangan bilang Bapak bercanda," suara Tegar bergetar, tertahan di kerongkongan.
Bapak tidak menjawab. Ia duduk di lincak bambu, jemarinya yang kasar sibuk melinting tembakau. Tangannya gemetar, tapi matanya menatap lurus ke arah pohon kemiri yang meranggas di kejauhan.
"Pak! Jawab Tegar! Sepatu itu bukan cuma barang! Itu nyawa Tegar buat ke provinsi!"
Bapak mengembuskan asap rokoknya pelan, lalu menoleh dengan tatapan layu. "Sudah dibawa Kang Mulyo ke pasar kota, Gar. Tadi siang."
Dunia Tegar terasa runtuh seketika. "Dijual? Bapak jual sepatu pemberian Coach Hendra? Itu sepatu kemenangan Tegar di kecamatan, Pak! Itu satu-satunya alasan Tegar bisa lari tanpa luka!"
"Obat Tulus habis, Gar," potong Bapak dengan suara rendah namun tajam. "Adikmu tadi pagi muntah darah lagi. Mukanya sudah seputih kain kafan. Kamu mau Bapak diam saja melihat kembaranmu mati?"
"Tapi tidak dengan sepatu itu, Pak! Itu tiket Tegar buat dapat beasiswa! Tiga hari lagi, Pak! Tiga hari lagi lomba provinsi!"
"Tulus butuh napas hari ini, bukan janji lari tiga hari lagi!" Bapak berdiri, suaranya meninggi, memecah kesunyian bukit yang gersang. "Kamu punya kaki yang kuat, Gar. Kamu bisa lari meski hanya beralas kulit. Tapi Tulus? Jantungnya itu seperti kaca retak!"
"Selalu Tulus... Selalu Tulus yang dipikirkan," gumam Tegar, air mata mulai menggenang. "Apa Bapak pernah tanya, gimana rasanya lari di aspal panas tanpa alas? Sepatu itu perlindungan Tegar, Pak!"
"Cukup, Tegar!" Ibu muncul dari balik pintu dapur yang reyot, membawa segelas air putih. Wajahnya sembap. "Jangan bentak Bapakmu. Kami tidak punya pilihan. Sawah kita puso, jagungnya kerdil semua. Apa yang mau dijual? Cangkul Bapakmu? Nanti kita makan apa?"
Tegar tertawa getir. "Jadi, mimpi Tegar memang harganya cuma setara beberapa butir obat kimia itu, ya, Bu?"
"Bukan begitu, Le..."
"Lalu apa? Kalau Tegar pakai sandal jepit, atau telanjang kaki, mereka bakal anggap Tegar anak liar yang nggak punya modal! Coach Hendra sudah titip pesan, ini kesempatan terakhir Tegar!"
"Kalau kamu memang berbakat, kaki telanjang pun kamu bakal menang!" bentak Bapak lagi, kali ini ia mendekat, menunjuk dada Tegar. "Jangan jadi anak manja. Kamu sehat, kamu kuat. Gusti Allah kasih kamu fisik sempurna itu buat bantu keluargamu!"
"Bantu keluarga atau jadi tumbal buat Tulus, Pak?"
PLAK!
Tamparan itu mendarat di pipi Tegar. Bapak terdiam, tangannya masih menggantung di udara, matanya menyiratkan penyesalan yang terlambat.
"Makasih, Pak. Sekarang Tegar tahu, di rumah ini, napas Tulus lebih berharga daripada seluruh masa depan Tegar."
Tegar berbalik dan berlari sekuat tenaga. Ia tidak peduli pada teriakan Ibu. Ia berlari keluar dari halaman rumah, menembus semak belukar menuju jalanan setapak yang dipenuhi batu-batu kapur tajam. Amarah di dadanya membuat ia lupa bahwa ia sedang bertelanjang kaki.
Ia berlari dengan kecepatan penuh, membayangkan dirinya sedang berada di lintasan provinsi. Namun, tanpa perlindungan sol karet yang empuk, setiap pijakannya terasa seperti ditusuk ribuan jarum.
"Aku harus bisa! Tanpa sepatu pun aku harus menang!" teriaknya pada angin.
Tiba-tiba, saat ia mencoba melompati sebuah gundukan tanah di belokan tajam, kaki kanannya menghantam bongkahan batu kali yang tertanam separuh di tanah.
KRAK!
"AAAGHHH!"
Tegar terjatuh, tubuhnya terseret di atas tanah yang gersang. Ia mengerang kesakitan, memegangi jempol kakinya yang berdenyut hebat. Darah segar merembes keluar, membasahi debu putih di sekelilingnya. Kuku jempolnya pecah, dan telapak kakinya sobek cukup dalam.
"Sial! Sial! Sial!" Tegar memukul-mukul tanah dengan tinjunya.
Ia melihat lukanya dengan tatapan hancur. Tiga hari lagi. Hanya tiga hari lagi. Luka sedalam ini tidak akan sembuh dalam waktu singkat. Impiannya untuk terbang ke kota, mendapatkan beasiswa, dan keluar dari kemiskinan ini seolah-olah ikut terkubur bersama tetesan darahnya di tanah bukit ini.
Di tengah isak tangis dan rasa perih yang menjalar, mata Tegar menatap kejauhan. Diujung jalan, tepatnta di teras rumah bambu, ia melihat seorang pemuda yang memiliki paras sama dengan dirinya tengah duduk bersandar di atas bale-bale. Di sebelahnya bapak dan ibu mendampingi.
Hati Tegar semakin hancur melihat kontrasnya kasih sayang kedua orang tuanya. Mereka begitu memperhatikan Tulus. Memperlakukan saudara kembarnya bak porselin mahal yang takut retak. Sementara dirinya, seperti orang lain yang harus berjuang sendiri.
"Gar, kenapa tidak ke lapangan?" Coach Hendra tiba-tiba muncul entah dari mana.
Tegar menatap pria yang menjadi penyemangatnya itu dengan tatapan nanar. Ia lalu menunduk, memandangi lukanya sambil memegangi kakinya yang berdenyut nyeri.
Coach Hendra mengikuti arah tatapan Tegar. "Astaghfirullah, Gar. Kenapa bisa jadi begini?"
Tanpa dikomando, air mata Tegar langsung meluncur membasahi pipinya. Rasa malu yang selama ini ia coba sembunyikan hilang di hadapan pelatih yang lebih berperan seperti bapak dibanding bapaknya sendiri.
Pria yang memakai kaos olahraga itu mengelus punggung Tegar dengan penuh kasih sayang. "Ada apa, Gar? Bapakmu melarang kamu ikut lomba?"
Tegar menggeleng.
"Terus kamu sedang apa di sini?"
"Coach, maafkan Tegar. Tegar ... Tegar tidak bisa mewakili sekolah untuk lomba. Kaki Tegar terluka."
Coach Hendra tidak bertanya lebih banyak lagi. Ia menoleh ke arah rumah Tegar. Ada perasaan nyeri melihat tiga orang yang menatap Tager dari kejauhan tanpa ada niat untuk menolong. Bahkan sekadar bertanya kenapa dan apa yang dirasakan Tegar pun tidak.
"Sudahlah. Ayo kita ke puskesmas dulu. Lukamu perlu segera ditangani biar nggak infeksi." Coach Hendra memapah Tegar dan membantunya naik ke atas motor.
Sesampainya di puskesmas luka Tegar segera ditangani. Dia mendapatkan beberapa jahitan pada luka robek akibat tergores batu. Air mata pemuda itu terus mengalir. Bukan karena rasa sakit yang mendera. Dia sudah biasa merasakan sakit. Tapi karena sikap Coach Hendra yang sangat perhatian. Berbanding terbalik dengan kedua orang tuanya yang hanya fokus pada Tulus.
Selesai pengobatan Coach Hendra mengajak Tegar duduk di ruang tunggu. "Katakan, Nak apa yang sebenarnya terjadi?"
Tegar menarik nafas dalam, seolah-olah dengan begitu beban di dadanya bisa terangkat. "Sepatu hadiah dari Coach Hendra dijual bapak untuk beli obatnya Tulus."
Pria yang berusia 26 tahun itu hanya bisa menghembuskan nafas lelah. "Kamu tidak bilang kalau kamu mau mewakili sekolah untuk ikut lomba tingkat provinsi?"
"Sudah, Coach. Tapi bapak tidak mau tahu. Bagi bapak mimpiku tidak penting. Hanya Tulus yang penting bagi bapak dan ibu."
Coach Hendra tahu, hidup Tegar tidak mudah. "Sabar ya. Mungkin belum rezeki kamu ikut lomba kali ini. Tahun depan Coach yakin kamu bisa maju."
Spontan Tegar mendongak. Menatap pelatihnya dengan tatapan terkejut. "Jadi ... Saya didiskualifikasi, Coach?"
"Bukan. Kamu hanya diistirahatkan sejenak sampai kakimu sembuh."
Tiba-tiba Tegar bangkit dari duduknya lalu berlutut di hadapan Coach Hendra. "Tolong jangan eliminasi says, Coach. Saya tetap ingin ikut!"
"Tapi, Gar. Kakimu sedang sakit. Kamu tidak bisa melaksanakan diri."
Tegar menggeleng. Memohon pada pelatihnya dengan penuh harap. "Saya mohon, izinkan saya tetap ikut, Coach."
Tiba-tiba dari arah pintu masuk datang seseorang dan berkata dengan lantang. "Anak orang miskin sepertimu tidak pantas ikut lomba!"