Merhaba Aisyah

Mampir ke Raya Resto

Mereka pun telah sampai di depan restoran tertera jelas nama restoran itu 'Raya Resto' dengan senangnya Raya menghampiri Mamahnya yang sedang berkutik dengan pekerjaannya dia menyuruh sahabat-sahabatnya untuk duduk di bangku paling belakang.

 

"Kalian tunggu di sana ya nanti aku akan buatkan makanan," ujar Raya dan berjalan menghampiri Mamahnya.

 

"Ya sudah kita tunggu di sana ya!" kata Aisyah seraya menggandeng tangan Fatimah untuk ikut menunggu.

 

Raya Resto adalah impian sejak dulu Mamahnya Raya namun karena uangnya belum cukup untuk bisa membuka restoran dan kini alhamdulillah mereka sudah bisa membuka restorannya dengan sengaja Mamahnya Raya memberikan nama restoran ini atas nama Raya sendiri, ya tidak lama lagi Raya akan menyelesaikan pembelajarannya maka bisa menjadi penerus restoran ini, sudah banyak yang memberikan pujian atas masakan Mamahnya Raya yang sungguh enak serta menggoda selera kini pun bangku yang kosong hanya bagian pojok yang dekat dengan kamar mandi.

 

"Keren ya Tante Sindy aku jadi tidak sabar menikmati masakannya," seru Fatimah dengan tersenyum senang.

 

Pandangan Aisyah pun menyapu ke seluruh tempat yang dihias dengan demikian rupa, "Bagus juga tempatnya dan pas sekali adanya di pinggir jalan jadi semua orang bisa melihatnya."

 

Sambil menunggu Aisyah pun membuka ponselnya yang tidak pernah sepi begitu pun sekarang baru ditinggal beberapa menit sudah ramai ada pesan masuk dari grup TPA, Bunda, Ka Katya dan Pembimbing lesnya.

 

*Ka Katya

 

"Assalamualaikum Syah, maaf dek tolong bilangin ke Ayah kakak pulang besok karena kakak sudah tidak ada tugas, tolong bilangin ya dek dan kamu mau kakak beliin apa?"

 

Aisyah langsung mengetik balasan betapa senangnya dia mendengar kepulangan kakaknya itu, sudah tidak sabar untuk mendengarkan cerita dari kakaknya yang selalu membangkitkan semangat dalam dirinya dan tidak sabar ingin berbagi cerita dengan kakaknya itu.

 

*Bunda

 

"Sayang Bunda hari ini ada acara arisan jadi mungkin Bunda akan pulang sore dan Ayah kamu akan pulang malam ada rapat yang harus dihadiri, jaga diri baik-baik ya di rumah."

 

*Pembimbing

 

"Aisyah untuk besok libur dulu ya dek tolong sampaikan ke orangtuamu juga karena ada urusan keluarga."

 

Besok libur? otomatis dia bisa menghabiskan waktunya bersama kakaknya, gumam Aisyah dalam hatinya yang kini sedang menari-nari mendengar kabar yang begitu menyenangkan.

 

"Aku akan belajar bahasa dengan ka Katya saja dan menyuruhnya untuk mengeteskan hafalanku," kata Aisyah dengan tersenyum manis.

 

Fatimah memandang wajah sahabatnya itu yang tiba-tiba terlihat senang, "Ada apa Syah? kok wajahmu terlihat senang gitu apakah ada kabar baik?"

 

Mendengar pertanyaan itu Aisyah langsung membalikan tubuhnya menghadap Fatimah. "Fat, besok ka Katya akan pulang aku sudah kangen banget sama dia," seru Aisyah dengan mata yang berbinar-binar.

 

"Wahh selamat ya salam buat ka Katya dariku." Fatimah ikut senang mendengarnya ya dia cukup mengenal kakaknya Aisyah sejak dia berteman dengan adiknya itu.

 

Raya pun kembali dengan membawa nampan yang berisi dua piring makanan karena ini adalah restoran milik Mamahnya jadi dia sendiri yang langsung membawa makanan itu kepada sahabatnya.

 

"Nih gays makan dulu!" kata Raya seraya memberikan dua piring itu kepada Aisyah yang berada di sampingnya.

 

Melihat Raya yang begitu bahagia membuat Aisyah jadi terharu selama ini sahabatnya itu selalu begitu mempedulikan dan menyayangi Mamahnya setelah ditinggal Papahnya entah ke mana mereka jadi hidup berdua, begitu tangguhnya Raya menghadapi atau menjali semuanya.

 

"Mau aku bantuin gak Ray?" Aisyah menawarkan dirinya untuk membantu Raya.

 

Raya menoleh, "Tidak perlu Syah biar aku saja sudah cobain tuh masakan Mamah," kata Raya dan membalikan tubuhnya meninggalkan ke dua sahabatnya itu.

 

"Baiklah semangat Ray," seru Aisyah dengan memberikan senyuman terbaiknya yang dibalas dengan ajungan ibu jari Raya.

 

Fatimah mulai mencicipi makanannya dengan sendoknya begitu pun dengan Aisyah yang langsung mencobanya karena kebetulan mereka sedang lapar juga hari ini.

 

"Bagaimana enak tak masakan Mamahku?" ujar Raya telah kembali kepada dua sahabatnya yang sedang asik mencoba makanannya.

 

Aisyah menoleh memandang Raya lalu mengacungkan ke dua ibu jarinya, "Enak banget Ray masakan Mamah kamu aku lapar jadi aku makan duluan ya!"

 

Siapa yang tidak senang mendengar pujian itu? Raya tersenyum senang karena Mamahnya menyuruh untuk tetap duduk menemani makan bersama sahabatnya jadi dia pun menurutinya Raya juga ikut makan bersama.

 

Mereka asik menikmati makannya sesekali Fatimah meneguk air minumnya hingga kini tinggal setengah lain dengan Aisyah dan Raya yang baru minum sekali itu pun di awal saja sebelum makan, sangat tepat membuka restoran di pinggir jalan karena semua orang bisa melihatnya dengan jelas banyak yang berdatangan untuk makan di tempat atau pun untuk dibawa pulang.

 

"Ray makasih banget ya sudah mengajak kita makan di sini," ujar Fatimah merasa puas dengan makanan yang tinggal sedikit.

 

Raya masih mengunyah nasi dalam mulutnya, "Kapan-kapan kalian bisa berkunjung ke mari khusus buat kalian nanti aku kasih potongan harga deh hehe," seru Raya sembari terkekeh.

 

"Tenang saja aku akan ajak keluargaku untuk makan di sini." Ya Aisyah berjanji untuk itu lagipula keluarga juga tahu tentang orangtua Raya sebagaimana yang pernah dia ceritakan dengan mereka.

 

Mendengar ucapan Aisyah membuat Raya langsung melotot terkejut, "Seriusan? wahh senangnya aku mendengarnya Syah."

 

"Ray aku boleh mesan satu lagi gak? tapi bungkus ya untuk adikku di rumah ke dua orangtuaku sedang pergi kasihan dia belum makan," kata Fatimah dia baru saja mendapat pesan dari pembantu rumahnya dan memberikan kabar itu kepadanya.

 

"Kasihan sekali Yulia pasti dia menunggumu di rumah Fat," sahut Aisyah sedikit terkejut mendengar hal itu.

 

Raya pun langsung bangkit untuk membuatkan pesanan Fatimah, "Tunggu sebentar aku akan buatkan, tidak pedas kan?"

 

"Tidak, dia tidak suka pedas meskipun suka aku tidak akan membiarkannya makan yang pedas-pedas," ungkap Fatimah dengan cemberut bagaimana pun dia sebagai seorang kakak tidak akan membiarkan adiknya sakit.

 

Aisyah menepuk bahu sahabatnya itu pelan, "Wahh kakak yang baik, andai saja aku juga punya adik sepertimu pasti aku kujaga dan sayangi dia," ujarnya.

 

"Kau enak memiliki kakak harusnya kau lebih bersyukur Syah." Fatimah langsung menasehati sahabatnya itu yang selalu iri kepadanya.

 

"Kau enak memiliki kakak harusnya kau lebih bersyukur Syah." Fatimah langsung menasehati sahabatnya itu yang selalu iri kepadanya.

 

Aisyah tekekeh, "Astagfirullah, iya aku bersyukur kok punya seorang kakak siapa tahu nanti Bunda hamil lagi kan hehehe," ujarnya penuh harap.

 

Bagaimana tidak Aisyah temasuk seorang wanita yang menyukai anak kecil sama halnya dengan dia sangat menyayangi Ameera sejak awal berjumpa dia menjadi sering mengirim pesan serta bertukar cerita karena Ameera sosok wanita yang memiliki rasa penasaran yang tinggi terhadap ilmu pengetahuan Aisyah juga meminta Ameera untuk bisa bergabung dengan Osis.

 

"Eh Syah acara pergantian ketua rohis kapan?" tanya Raya yang sudah kembali dengan membawa plastik di tangannya.

 

Karena lupa Aisyah mencari tahu di ponsel miliknya, "Tanggal 8 nanti kenapa memangnya?"

 

"Tidak aku hanya bertanya saja kira-kira siapa yah yang bisa menggantikan posisi Raka sebagai ketua Osis," ungkap Raya sembari duduk dibangkunya lagi.

 

Aisyah menggelengkan kepalanya dia tidak tahu apa-apa terkait hal itu biarkan itu menjadi urusan Raka dua tahun berlalu dengan begitu cepat, waktu terus berjalan hari terus berganti hingga tak terasa kini waktu Aisyah telah habis.

 

"Eh Ray makasih banyak ya, nih bayarnya aku pulang dulu ya!" kata Fatimah dan menarik tangan Aisyah untuk segera pulang.

 

Dengan cepat Aisyah pun mengambil tasnya, "Ya sudah aku pulang dulu ya Ray lain waktu aku akan ke sini lagi kok, semangat jualannya!" seru Aisyah sembari tersenyum.

 

"Siap thanks ya sudah mau berkunjung ke tempatku," ujar Raya yang mengantarkan mereka hingga mereka naik angkot.

 

***

 

"Pak Ujang, Bunda belum pulang ya?" tanya Aisyah saat melihat seisi rumah sepi tanpa seseorang pun di dalamnya yang akhirnya dia memilih ke luar dan bertanya kepada supir pribadi keluarganya.

 

Saat itu Pak Ujang sedang memotong rumput di halaman kaget mendengar suara Aisyah, "Hmm, belum non memangnya Ibu tidak bilang kalau mau pergi?"

 

"Sudah sih tapi aku kira Bunda sudah pulang." Aisyah menyahut dengan lirih. "Ya sudah aku masuk ke dalam dulu ya Pak, mau baca-baca buku." Aisyah berlalu masuk ke dalam rumahnya dengan langkah kaki yang gontai Aisyah berjalan menuju ruangan santai yang mana di sana terdapat perpustakaan kecil milik keluarganya.

 

Aisyah mengambil salah satu buku dari rak dan duduk di bangku sebelumnya dia menyeduh kopi mocca sebelum mengistirahatkan bokongnya di bangku yang empuk, dia juga menyilangkan kakinya saat mulai membaca.

 

Aysel novel turky yang ditulis oleh salah satu penulis bernama Emre Mahmet yang mana di dalam buku tersebut menceritakan tentang seorang anak kecil yatim piatu yang diasuh oleh dua pasangan suami istri yang dari judulnya saja membuat Aisyah tertarik untuk lebih mengetahui siapa sosok Aysel dalam cerita dan ada beberapa bahasa Turky juga yang sengaja dicantumkan di dalamnya membuat Aisyah bisa belajar dari sana.

 

"Dalam kehidupannya yang biasa-biasa, tiba-tiba Iskender dipertemukan dengan Aysel Xaviera, seorang perempuan yang mampu menarik perhatian Iskender sampai-sampai ia harus mengakhiri hubungan asmara dengan pacarnya (Sevgi) yang sudah beberapa tahun mendampinginya. Iskender dipertemukan dengan Aysel oleh kedua sahabatnya, sepasang suami istri bernama Ziyadh dan Beelah. Pada pertemuan pertama dengan Aysel, Iskender masih merasa canggung dan tidak tau apa yang harus ia perbuat untuk menghabiskan waktu bersama Aysel. Hingga akhirnya ia meminta bantuan sahabatnya yang lain, Adem.

 

Beberapa hari berlalu, kedekatan Iskender dan Aysel pun mulai terjalin. Bahkan tanpa dibantu oleh Adem pun, ternyata Aysel mampu membuka hati Iskender untuk menjadi seorang lelaki yang lebih perasa, menjadi seorang lelaki yang sadar bahwa dirinya memiliki rasa sayang yang besar terhadap seorang perempuan suatu rasa yang sudah lama tidak Iskender miliki walaupun sebelumnya ia memiliki seorang kekasih. Ketika tiba saatnya Aysel harus kembali meninggalkan Iskender, ada rasa sedih yang begitu besar dirasakan oleh Iskender. Belum sampai ia merelakan Aysel yang harus pergi, rasa rindu akan kehadiran sosok Aysel dalam hidupnya sudah sangat dirasakan oleh Iskender.

 

Sampai ketika Aysel benar-benar harus pergi, frustasi akan rasa rindu dan kehilangan seseorang membuat hidup Iskender mulai kacau. Iskender menangis. Kehadiran Aysel dalam dirinya telah membuat Iskender mampu melihat kenyataan. Seorang lelaki yang tangguh menjadi begitu rapuh hatinya karena perkenalannya dengan Aysel, seorang gadis yang berhati besar, yang bijak dan berpikiran dewasa, seorang gadis yang tidak memiliki orang tua namun tidak pernah kehilangan kasih sayang, seorang gadis yang menyadarkan Iskender tentang banyak hal." Begitulah ringkasan cerita dari novel yang berjudul 'Aysel' yang membuat turut bersedih minggu lalu Aisyah membaca novel ini karena ada tugas lain dia berhenti membaca dan baru kali ini dia melanjutkannya lagi.

 

"Assalamualaikum," ujar Adiba saat memasuki rumahnya yang sudah terbuka, dia berjalan mencari keberadaan Aisyah yang kata Pak Ujang anaknya itu sedang menunggu dirinya di ruang santai atau ruang baca. "Aisyah!" panggilnya saat menemukan anaknya itu.

 

Mendengar seseorang memanggil namanya lantas Aisyah langsung menoleh ke sumber suara, "Ah Bunda!" teriaknya yang langsung berlari memeluk Bundanya itu. "Bunda baru pulang?"

 

"Iya ini baru saja sampai, apakah kakakmu sudah menelpon?" Tentu saja Adiba tahu tentang kepulangan anak pertamanya, dia juga sangat rindu dan ingin mendengar kabarnya.

 

"Belum Bun, seperti akan sampai malam ini apa Ayah mengakatan sesuatu pada Bunda?" tanya Aisyah yang begitu penasaran dia mendengar bahwa Ayah sudah mendaftarkan dirinya agar bisa kuliyah di Turky dari Pak Ujang tetapi selama ini Bundanya tidak pernah mengatakan apapun mengenai kuliyahnya.

 

Adiba mengerti ke mana arah bicara Aisyah, "Tidak ayahmu tidak mengatakan apa-apa ya sudah Bunda ingin membuat rendang menyambut kedatangan kakakmu dia kan sangat suka."

 

"Wahh, aku boleh bantu masak Bun? aku ingin menyiapkannya untuk kakak," seru Aisyah dengan nada yang begitu bahagia.

 

Melihat semangat Aisyah tidak bisa membuat Adiba menolaknya namun dia juga punya pekerjaan lain untuk putri bungsunya itu, "Gini saja sayang, kamu rapihkan kamar kamu nanti kan kakak kamu bakal tidur di sana sekalian kamu siapkan lemari baju untuknya okey!"

 

Aisyah mengembuskan napasnya pelan dia ingin memasak tetapi dia berikan tugas lain, "Baik deh Bun aku bereskan kamar saja tapi kalau sudah rapi aku bisa kan bantuin Bunda masak di dapur?"

 

Dengan senang hati Adiba langsung menganggukan kepalanya, "Ya sudah sana!"

 

Karena jam sudah menunjukan pukul empat sore Aisyah tidak bisa berlama-lama dia harus bergegas untuk membereskan tempat tidurnya di dalam kamarnya yang cukup luar dia memang tidur berdua dengan kakaknya namun sejak kakaknya pergi dia jadi sendiri.

 

"Duh baju aku kan banyak bagaimana caranya ya agar lemari ini muat masa aku buang sih bajuku, ini kan baju kesayanganku semua," gumam Aisyah menatapi pakaiannya yang telah memenuhi lemari kayu miliknya dan kakaknya itu.

 

Karena bingung Aisyah pun bertanya kepada Bundanya mencari solusi atas masalah yang telah dihadapinya, "Bunda, bisakah Ayah membelikan aku lemari lagi?" ujarnya dengan mengigit bibir bawahnya.

 

Lama Adiba tidak langsung menjawabnya karena sedang memotong sayuran, "Ya sudah coba kamu hubungi Ayah kamu dulu sana!"

 

Aisyah langsung mencari nama Ayahnya pada kontak telepon sambil berjalan menuju kamarnya biasanya Ayahnya pulang menjelang magrib jadi masih ada waktu untuk mampir membeli lemari pakaian untuknya.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!