Merhaba Aisyah
Mulai Menjauh
Kelas pun mendadak menjadi haru, terlintas semuanya dalam pikiran Aisyah saat itu juga banyak kenangan yang tidak mudah dia lupakan begitu saja di sekolah ini, kelas pun berakhir pada hari itu sebab Guru akan mengadakan rapat untuk ujian yang akan datang.
Dengan langkah gontai Aisyah berjalan pergi meninggalkan kelas namun karena begitu ramai Aisyah pun memilih untuk duduk dulu sebentar Raya dan Fatimah pun menghampiri Aisyah berniat mau mengajak pulang bersama.
"Syah, pulang bareng kita yuk!" kata Fatimah seraya merangkul bahu sahabatnya itu.
"Iya Syah gue pulang gak ada temannya ini Syah sekalian gue mau ajak kamu makan Mamahku buka restoran di jalan Grida 04 anggap saja aku akan mentraktir kalian semua," ujar Raya dengan senangnya.
Jujur saja sebenarnya Aisyah ingin menolak ajakan ke dua sahabatnya itu tetapi dia harus menghargai Raya apalagi di restoran Mamahnya Raya yang baru buka itu sih membuat Aisyah tidak bisa menolaknya.
"Bagaimana Syah, kamu tidak mau ya?" ujar Raya saat tidak ada jawaban dari Aisyah dia pun melirik Fatimah yang dijawab dengan gerakan dari ke dua bahunya yang diangkat.
Aisyah menoleh menatap ke dua sahabatnya itu, "Baiklah aku akan ikut kalian," ujar Aisyah seraya tersenyum.
"Tak ada usur paksaan kan nih?" ejek Raya dia takut akan terkesan memaksa Aisyah yang sebenarnya dia sendiri sudah mengetahui semuanya.
"Tidak ada aku ikhlas yuk lets goo!" kata Aisyah dan langsung bangkit dari duduknya.
Fatimah pun langsung menggengam tangan ke dua sahabatnya itu karena dia berada di tengah, tetapi saat di lorong kelas langkah mereka mendadak berhenti saat melihat Raka sedang berbicara dengan Hawa dan Amel.
Cemburu? Itu tidak lagi Aisyah rasakan saat ini dia sendiri begitu yakin bahwa Raka memiliki perasaan khusus terhadapnya hanya saja meski memang benar untuk apa? kan dia sama-sama tidak ingin menjalin suatu hubungan, jadi biarkan semuanya berlalu dengan sendirinya.
Sebelumnya Raka sudah mengajak Hawa untuk ikut pulang bersama namun sahabatnya itu menolak dengan alasan dia ingin pulang sendiri jika memang Raka tidak bisa menghantarkannya.
"Eh aku jadi heran deh, kenapa ya Raka mau anter jemput Hawa bukankah itu hal yang tak wajar?" seru Raya dengan memincingkan matanya menatap mereka yang sedang asik berbincang-bincang.
"Kan Hawa bilang ada hubungan dekat dengan ke dua orangtuanya, sudahlah tidak usah bahas itu kan kasihan Aisyah kita pasti akan bersedih, maaf ya Syah!" tukas Fatimah seraya menepuk bahu Aisyah berkali-kali.
Tak ada kata yang ingin Aisyah ucapkan untuk menanggapi perkataan sahabat-sahabatnya itu melainkan hanya senyuman yang terukir di wajahnya, saat ke dua mata Raka bertemu dengannya Aisyah pun langsung menunduk dan menarik sahabatnya untuk pergi.
Saat itu juga Raka ingin sekali berlari mengejar Aisyah tetapi dia merasa berat untuk melakukan itu apalagi di dekatnya ada Hawa dia tidak bisa menyakiti hati perempuan.
"Aisyah bagaimana dengan kegiatanmu akhir-akhir ini?" Raya kembali membuka obrolan tidak asik baginya jika tidak berbicara.
"Hemmm ya seperti yang kau ketahui aku sibuk dengan mengajar anak-anak TPA dan bimbinganku, sedikit demi sedikit aku sudah bisa bahasa Turky," ungkap Aisyah dengan senang ya tentu saja dia bahagia melihat perkembangan dirinya sendiri selama ikut bimbingan dengan Guru lesnya itu.
Fatimah pun merasa senang mendengar kabar itu, "Aku turut senang Syah mendengarnya, oh ya aku mau nanya dong waktu itu aku berwudhu di sumur Nenek aku dan airnya itu bau Syah lantas hukumnya bagaimana ya?" tanya Fatimah dengan mengerutkan keningnya.
"Kesimpulannya jika air sumur atau semacamnya berubah dan terbukti atau diperkirakan bahwa yang merubahnya adalah termasuk yang menghilangkan kesuciannya karena letaknya yang dekat dengan tempat pembuangan kotoran serta tanahnya yang lembek maka perubahan ini berpengaruh buruk, jika terbukti atau diperkirakan bahwa yang merubahnya termasuk hal yang tidak menghilangkan kesucian maka air tersebut suci dan mensucikan," jelas Aisyah yang masih mengingat pertanyaan yang Raka ajukan dulu saat melakukan khitbah jumat.
"Oh gitu ya Syah, satu pertanyaan lagi ini dari Reyhan Syah tapi kau harus merahasiakannya, kau juga ya Ray tak boleh Reyhan tahu jika aku bertanya pada Aisyah," ancam Fatimah sambil menuding Raya dengan telunjuknya.
Aisyah terkekeh melihatnya, "Baik aku akan jaga rahasianya apa memang pertanyaannya?" katanya.
Sedangkan Raya memutarkan bola matanya, "Kau masih ragu denganku Fat?" tanyanya dengan nelangsa.
"Gak, aku mau nanya mengenai hukum wanita yang melaksanakan salat jumat itu bagaimana Syah penjelasannya?" katanya dengan antusias.
"Umumnya salat Jumat di sebagian besar masjid hanya diikuti oleh jamaah laki-laki saja. Tapi di beberapa masjid juga bisa kita dapati jamaah perempuan yang ikut melaksanakan salat Jumat. Meski begitu, juga tidak ada larangan bagi wanita untuk melaksanakan salat Jumat. Boleh-boleh saja kamu melaksanakannya," jelas Aisyah dengan panjang lebar hingga mereka sampai ke tempat restoran Mamahnya Raya.
"Thanks ya Syah intinya sunnah ya hukumnya, awas saja bila Reyhan nanya lagi akan pukul wajahnya beraninya dia meremehkan aku untung saja aku punya sahabat yang pintar fiqih hehehe," ujar Fatimah seraya merangkul Aisyah dan menyandarkan kepalanya di bahu sahabatnya itu.
"Sudah ish jangan gitu malu dilihatin orang tuh," tegur Raya sembari menarik tangan Fatimah yang terus menggandeng tangan Aisyah.
"Kenapa sih emang, biarin ah gue gak peduli." Fatimah memang cuek dia tidak pernah peduli apa kata orang tentang dirinya katanya biarkan kita hidup sesuka hati kita.
Mobil angkot pun sudah datang dengan cepat mereka pun langsung naik ke mobil jarak antara sekolah dan restoran Mamahnya Raya tidak jauh tetapi jika jalan kaki tentu saja akan menghabiskan 19 menit untuk sampai ke sana.
Ponsel Aisyah berdering menampilkan nama Raka di sana melihat sekilas lalu Aisyah langsung menggeser tombol merah dan memasukan ponselnya ke dalam tas.
"Kenapa tidak diangkat Syah?" celetuk Raya pelan, tidak sengaja dia melihat nama yang tertera di layar ponsel 'Raka' tak ada embel-embel dalam namanya.
Begitu pun dengan Fatimah yang juga sempat melihat nama itu, "Kamu benar-benar menjauhinya Syah? apa gara-gara Hawa kamu bersikap seperti ini?"
Aisyah hanya tersenyum dia yakin ke dua sahabatnya ini pasti tahu yang sebenarnya, jadi dia tidak perlu menjelaskannya lagi, jika kalian tidak setuju dengan sikap Aisyah yang seperti itu ketahuilah sebetulnya Aisyah sendiri harus melakukannya sesuai rencananya dia tidak ingin melukai hatinya sendiri dan sahabatnya, jika ingat dulu Aisyah yang selalu mengirim pesan duluan kepada Raka dan saat cowok itu membalasnya rasanya senang banget tetapi kini dia menolak panggilan dari Raka, begitukah rumitnya cinta?
Raka masih saja menelpon membuat Aisyah langsung mematikan ponselnya, "Aku akan ganti nomor jadi jangan kaget kalau nomor baru atas namaku yang minta di save."
"Kenapa ganti?" tanya Raya penasaran.
"Gak apa-apa pengen ganti aja," jawab Aisyah jika Raya dan Fatimah tahu apa alasannya ingin mengganti nomor maka dia tidak perlu bertanya lebih lanjut.
"Aku sih setuju kamu ganti nomor asalkan jangan lupa chat aku ya, aku gak mau denger kamu gak ada kabar." Fatimah menatap Aisyah tajam.
"Tapi kan di Turki juga aku gak bakal aktif megang ponsel terus," kata Aisyah dia ingin pokus dengan studynya.
"Iya gak apa-apa setidaknya aku bisa lihat status kamu nantinya, btw besok gue juga mau tes wawancara doain ya semoga lolos," ungkap Fatimah sambil mengulum senyum.
"Aamiin, sukses ya buat kalian berdua," sahut Raya matanya memancarkan kebahagiaan meski hatinya sangat sedih karena akan kehilangan kedua sahabatnya.