Merhaba Aisyah
Ujian Pertama di Turki
Cahaya matahari masuk melalui jendela kelas dengan lembut, memantul di lantai dan meja-meja kayu yang sudah sedikit pudar warnanya, seolah ingin menenangkan siapapun yang duduk di dalam ruangan itu namun bagi Aisyah, ketenangan itu terasa semu, jantungnya tetap berdetak lebih cepat dari biasanya, meskipun wajahnya berusaha terlihat biasa saja.
Ia duduk di bangku barisan tengah, punggungnya tegak, ransel tersusun rapi di samping kaki. Buku catatan terbuka di hadapannya, meski sejak lima menit lalu tak lagi ia baca. Ujian kampus pertamanya di Turki akan segera dimulai ujian yang selama ini hanya ia bayangkan dari cerita-cerita senior dan pengalaman kakaknya.
Meski telah belajar berhari-hari, bahkan mengurangi waktu istirahat demi memahami materi, rasa gugup tetap hadir. Bukan karena ia merasa tidak siap, melainkan karena ia sadar: inilah awal dari perjalanan akademik yang sesungguhnya. Tidak ada lagi masa adaptasi. Tidak ada alasan “mahasiswa baru dari luar negeri”.
Beberapa mahasiswa di sekitarnya saling bertukar senyum dan bisikan singkat. Ada yang masih membaca catatan terakhir dengan wajah tegang, ada pula yang menatap kosong ke arah papan tulis, seakan menyerahkan segalanya pada nasib. Aisyah memilih menarik napas perlahan, mengatur ritmenya sendiri.
Ia menunduk sejenak, berdoa dalam hati.
“Bismillah, aku sudah berusaha,” batinnya.
Tak lama kemudian, dosen masuk ke kelas. Suasana berubah hening dalam hitungan detik. Langkah kaki dosen terdengar tegas di lantai, disusul suara lembar soal yang dibagikan satu per satu. Ketika kertas ujian sampai di mejanya, Aisyah menerimanya dengan tangan mantap, tanpa ragu.
Ia menunggu instruksi dengan tenang. Begitu aba-aba diberikan, ia membuka halaman pertama.
Soal pertama terbaca jelas. Alis Aisyah sedikit terangkat, lalu bibirnya membentuk senyum tipis. Ia mengenal soal itu. Materinya pernah ia diskusikan panjang lebar bersama Zehra dan Mariam di perpustakaan, lengkap dengan catatan kecil yang ia tulis sendiri di pinggir buku.
Tangannya mulai bergerak. Pena menari dengan yakin di atas kertas.
Soal demi soal ia lewati dengan ritme yang stabil. Ada beberapa pertanyaan yang menuntut analisis mendalam, tetapi Aisyah tidak panik. Ia membaca setiap kalimat dengan perlahan, memahami maksudnya, lalu menjawab sesuai pemahaman terbaik yang ia miliki. Sesekali ia berhenti, menatap ke depan, mengingat kembali penjelasan dosen atau referensi buku yang pernah ia baca.
Waktu berjalan tanpa terasa.
Di tengah ujian, Aisyah menyadari sesuatu yang tidak ia duga sebelumnya, ia menikmati proses ini, bukan menikmati ujian itu sendiri melainkan menikmati rasa percaya yang tumbuh di dalam dirinya. Untuk pertama kalinya sejak menjadi mahasiswa di negeri asing, ia merasa benar-benar berada di tempat yang tepat bukan sebagai tamu, bukan sebagai orang asing, melainkan sebagai seseorang yang layak berada di sana.
Ketika dosen mengumumkan waktu hampir habis, Aisyah telah menyelesaikan seluruh soal. Ia memeriksa kembali jawabannya dengan teliti, memastikan tidak ada yang terlewat. Hatinya terasa ringan, seolah beban yang sejak pagi ia bawa perlahan terlepas.
“Waktu selesai,” ucap dosen.
Aisyah menutup lembar jawabannya dan menyerahkannya dengan senyum kecil. Bukan senyum kemenangan, melainkan senyum lega senyum seseorang yang tahu ia telah melakukan yang terbaik.
Saat keluar kelas, langkahnya mantap, udara koridor terasa lebih segar, Zehra langsung menghampirinya dengan ekspresi penasaran.
“Gimana?” tanya Zehra, matanya berbinar.
Aisyah menghela napas panjang, lalu tersenyum. “Alhamdulillah… lancar.”
Mariam ikut bergabung, menyelipkan tas ke bahunya. “Aku lihat kamu tenang banget tadi.”
Aisyah tertawa pelan. “Karena aku berhenti meragukan diriku sendiri.”
Siang itu mereka makan bersama di kantin kampus. Percakapan mengalir ringan, diselingi tawa kecil dan cerita tentang soal-soal yang terasa menjebak. Aisyah menyadari betapa berbeda perasaannya dibanding minggu-minggu awal kedatangannya di Turki, tidak ada lagi kecemasan berlebihan, tidak ada perasaan tertinggal yang ada hanyalah lelah yang wajar dan hati yang bersyukur.
Malam harinya di apartemen, Aisyah membantu Katya membereskan meja makan sederhana, Katya terlihat kelelahan sepulang kerja, wajahnya sedikit pucat namun tetap menyimpan senyum hangat.
“Dek, Minggu ini kamu masuk ujian kan, ujian kamu gimana?” tanya Katya sambil menuangkan teh ke dalam dua cangkir.
Aisyah duduk di seberangnya. “Iya, lebih baik dari yang aku kira.”
Katya mengangguk pelan. “Kakak tahu kamu bisa, dari cara kamu belajar aja, kakak sudah yakin.”
Aisyah terdiam sejenak, kata-kata kakaknya selalu sederhana, tapi entah bagaimana selalu sampai ke hatinya.
“Tapi ingat, jangan merasa bangga disini kamu harus lebih belajar lagi apalagi bahasanya kamu belum sepenuhnya tahu," kata Kak Katya memberikan nasehat.
Di awal bulan Aisyah datang ke Turki dia sudah ikut les belajar bahasa Turki beserta bahasa arab, kini bahasanya sudah mulai banyak yang tahu dan sehari-harinya pun di kampus menggunakan bahasa inggris dan turki.
****
Malam itu, sebelum tidur, Aisyah menunaikan salat dengan lebih khusyuk dari biasanya. Ia mengucap syukur bukan hanya karena ujian berjalan lancar, tetapi karena hatinya tidak lagi dipenuhi ketakutan, beberapa hari berlalu.
Pengumuman hasil ujian akhirnya ditempel di papan informasi fakultas. Lorong kampus dipenuhi mahasiswa yang berkerumun, saling mendahului mencari nomor induk masing-masing. Aisyah berdiri agak di belakang, menarik napas dalam sebelum mendekat.
Matanya menyusuri daftar nama, baris demi baris dan di sana namanya tertulis jelas, dengan nilai yang membuat langkahnya terhenti, bukan sempurna tetapi sangat baik.
Aisyah menutup mulutnya dengan tangan, matanya berkaca-kaca, aa perasaan hangat yang menjalar di dadanya campuran antara bangga, lega dan haru.
Semua jam belajar, semua rasa lelah, semua doa yang ia panjatkan di sepertiga malam, ternyata tidak sia-sia.
Zehra memeluknya dari samping. “Aku bilang juga apa!”
Mariam tersenyum lembut. “Ini baru awal.”
Aisyah mengangguk. Ia tahu, perjalanan ini masih panjang. Akan ada ujian yang lebih sulit, tantangan yang lebih berat. Namun hari itu, ia belajar satu hal penting: dirinya mampu.
Sore harinya, Aisyah duduk sendiri di taman kampus, secangkir kopi hangat ada di tangannya, ia membuka buku catatan kecilnya dan menulis:
‘Aku pernah ragu, tapi aku memilih melangkah dan hari ini, langkah itu berhasil.’
Ia menutup buku, menatap langit Istanbul yang mulai berubah warna, untuk pertama kalinya sejak jauh dari rumah, Aisyah merasa benar-benar percaya pada dirinya sendiri.
Ponselnya tiba-tiba bergetar, nama yang muncul di layar membuat senyumnya melebar.
“Assalamu’alaikum,” ucap Aisyah saat panggilan tersambung.
“Wa’alaikum salam,” suara di seberang terdengar hangat. “Syah… akhirnya bisa nelpon.”
Sahabatnya di Jakarta mahasiswi Universitas Indonesia, baru saja selesai ujian juga, suaranya terdengar lelah tapi penuh rindu.
“Fatimah, kamu gimana? Ujian pertama di Turki lancar?” tanya Fatimah.
Aisyah tersenyum, menahan haru. “Alhamdulillah, deg-degan tapi selesai dengan baik.”
Di seberang sana terdengar tawa kecil. “Aku kebayang kamu sekarang, pasti duduk rapi, tenang tapi dalam hati jungkir balik.”
Aisyah tertawa. “Haha, kamu juga, kan ngalamin? UI nggak kalah serem.”
“Doain ya, kita sama-sama berjuang di tempat masing-masing,” ucap sahabatnya pelan.
“Iya,” jawab Aisyah mantap. “Kita pasti bisa, aku selalu mendukungmu meski jauh.”
Panggilan itu berakhir dengan doa dan janji untuk saling menyemangati, Aisyah menatap layar ponselnya sejenak sebelum menyimpannya kembali.
Di taman itu, dengan langit senja sebagai saksi, Aisyah menyadari satu hal meski terpisah jarak dan waktu, ia tidak pernah benar-benar sendiri.
Dan kepercayaan pada diri sendiri ditambah dukungan orang-orang tercinta menjadi hadiah terindah dari ujian pertamanya.