Merhaba Aisyah
Detak Jantung Yang Tak Biasa
Koridor kampus terasa panjang sore itu, Aisyah berjalan dengan langkah yang tidak benar-benar tergesa, tapi juga tidak santai, tangannya memegang map dan buku, bukan untuk dibuka hanya agar ada sesuatu yang bisa ia genggam, kepalanya penuh oleh daftar hal yang belum selesai kelas, rapat, janji yang tak bisa dibatalkan.
Di ujung koridor, Arman berdiri bersama ketiga temannya, mereka membicarakan agenda organisasi dan kehidupan mereka dengan nada bercanda, sesekali tertawa kecil, Arman mendengarkan setengah hati. Pandangannya lebih sering jatuh ke lantai, hingga sebuah siluet membuatnya mengangkat kepala.
“Aisyah?” batin Arman bergumam, dalam diam dia memperhatikan gadis itu yang sedang berjalan.
Arman menegakkan tubuh tanpa sadar, saat langkah Aisyah mulai mendekat ke arahnya.
“Eh, itu Aisyah,” ujar Fahri salah satu temannya.
“Dia sering sendirian, ya?” tanya Hamzah penasaran
“Anaknya rajin,” sahut Alvin. “Tapi dingin.” Cowok yang selalu update tentang Maba di kampusnya yang satu organisasi.
Mereka tertawa kecil, salah satunya menaikkan suaranya sedikit bukan berteriak, tapi cukup untuk terdengar.
“Aisyah.”
Langkah Aisyah melambat, ia menoleh sekilas, memastikan arah suara lalu berhenti tepat di depan mereka. Ekspresinya tetap netral tapi bahunya mengeras tipis.
“Kamu dari mana?” tanya Alvin temannya Arman, nada bicaranya dibuat ringan.
Aisyah menjawab singkat. “Kelas.” Jantungnya berdegup kencang, dia tidak biasa dihadang oleh para lelaki blasteran ini.
“Lagi sibuk ya?” lanjut Alvin. “Anak organisasi juga, kan?”
Sebelum Aisyah menjawab, Arman melangkah maju setengah langkah. “Sudah,” katanya pendek.
Nada suaranya datar tidak keras tapi cukup membuat ketiga temannya berhenti bicara.
“Kenapa?” salah satu dari mereka menoleh. “Kami cuma nanya.”
“Kalian terlalu banyak tanya,” jawab Arman. “Dia lagi jalan, jangan diganggu.”
Ada jeda kecil, temannya mendecak pelan mereka saling pandang, seakan bingung karena tidak biasanya Arman ikut campur urusan cewek.
Alvin mengangkat bahu. “Ya udah,” katanya
Mereka mundur kembali ke posisi semula, berpura-pura melanjutkan obrolan yang tadi terputus.
Arman berbalik ke arah Aisyah. “Maaf,” katanya. “Mereka sudah ganggu kamu.”
Aisyah menggeleng pelan. “Oh ya, nggak apa.”
Ia ingin melanjutkan langkah, tapi ragu sepersekian detik. Arman menangkap itu.
“Kamu mau ke arah mana?” tanyanya, tanpa nada basa-basi.
“Perpustakaan,” jawab Aisyah gugup.
“Arah yang sama,” jawab Arman. “Kalau kamu nggak keberatan, sampai belokan sana.”
Aisyah mengangguk kecil.
Mereka berjalan berdampingan, tidak ada jarak yang canggung tapi juga tidak ada usaha untuk mendekat, hanya suara sepatu yang sesekali bergema di lantai koridor.
“Akhir-akhir ini jadwalmu padat,” kata Arman setelah beberapa langkah. Bukan pertanyaan.
Aisyah menghembuskan napas. “Iya.”
“Kelihatan,” sahut Arman pelan.
“Dari mana?” Aisyah melirik sekilas.
“Cara kamu jalan,” jawab Arman singkat. “Kayak lagi nyusun waktu di kepala.”
Aisyah tersenyum tipis, bukan senyum penuh, hanya lengkungan kecil di sudut bibir. “Kadang aku bingung sendiri,” katanya. “Semua merasa penting.”
Arman mengangguk. “Kamu nggak harus selalu tersedia, jangan diforsir nanti sakit.”
Kalimat itu diucapkan pelan, seperti ada perhatian di dalamnya membuat Aisyah terdiam, kata-kata itu terasa tepat mengenai pikirannya.
“Aku masih belajar,” ujarnya akhirnya.
“Kelihatan juga,” kata Arman. “Belajarnya serius.”
Obrolan mereka terus mengalir sampai di belokan koridor. “Sampai sini,” kata Arman. “Habis ini aku belok kanan.”
“Iya.” Aisyah berhenti, ada jeda singkat, cukup lama untuk terasa tapi tidak canggung.
“Terima kasih tadi,” katanya akhirnya. “Bukan karena dibela, tapi karena… kakak menghentikannya.”
Arman menatapnya sebentar, lalu mengangguk. “Itu hal biasa.”
Aisyah menatap lantai sesaat. “Buatku, nggak selalu,” katanya lalu melangkah pergi.
Arman berdiri beberapa detik, menatap koridor yang kembali ramai, ada sesuatu yang tertinggal di dadanya bukan euforia, bukan degup berlebihan, hanya kesadaran tenang bahwa ia ingin menjaga jarak yang cukup… agar Aisyah merasa aman bukan terikat.
Sementara Aisyah, di dalam perpustakaan yang sunyi, menyadari satu hal sederhana hari ini ia tidak merasa sendirian, meski tidak ada janji apa pun yang terucap.
****
Hari-hari Aisyah di Turki tak lagi berjalan perlahan seperti awal kedatangannya, waktu kini terasa bergerak lebih cepat, seolah bersekongkol dengan tanggung jawab yang datang silih berganti, kalender kecil yang ia tempel di dinding kamar mulai dipenuhi coretan jam kuliah, agenda organisasi, jadwal rapat, waktu kajian hingga pengingat salat dan murojaah.
Pagi itu, Aisyah bangun sebelum azan subuh berkumandang, udara dingin menyusup dari celah jendela, membuatnya menarik selimut lebih erat sejenak sebelum akhirnya bangkit, setelah berwudu dan salat, ia duduk bersila dengan mushaf terbuka di pangkuan. Ayat-ayat Al-Qur’an mengalir pelan dari bibirnya, menenangkan hati yang semalam terasa penuh namun ketenangan itu hanya bertahan sebentar.
Begitu matahari mulai naik, pikirannya kembali dipenuhi daftar kegiatan yang menunggu. Kuliah metodologi siang nanti, rapat organisasi sore hari, dan tugas esai yang tenggatnya semakin dekat. Belum lagi kewajibannya menjaga ibadah agar tetap teratur di tengah kesibukan.
Aisyah menghela napas panjang. “Ya Allah, mudahkanlah,” lirihnya sebelum menutup mushaf.
Di kampus, suasana tak kalah padat, lorong-lorong dipenuhi mahasiswa yang berjalan cepat sebagian sibuk dengan ponsel, sebagian lain berdiskusi sambil membuka catatan, Aisyah melangkah menuju ruang kelas dengan buku di pelukan. Ia duduk di bangku tengah, membuka laptop dan berusaha memusatkan perhatian pada penjelasan dosen.
Namun pikirannya terpecah, ponselnya bergetar pelan. Sebuah pesan masuk di grup organisasi.
“Rapat divisi dimajukan jam 14.00. Wajib hadir.”
Aisyah menatap layar cukup lama, jam itu persis bersamaan dengan kelas pengantar riset yang tidak bisa ditinggalkan, dadanya terasa sesak, ia menghitung ulang jadwal di kepalanya, berharap ada celah yang terlewat.
‘Tidak ada.’
Selama kelas berlangsung, Aisyah merasa cemas dan kurang fokus, ia mencatat seadanya sesekali melirik jam, dalam benaknya terjadi tarik-menarik antara tanggung jawab akademik dan komitmen organisasi, keduanya sama penting, keduanya menuntut kehadirannya.
Usai kelas, Aisyah duduk di bangku taman kampus dengan wajah letih. Zehra menghampirinya, membawa dua gelas minuman hangat.
“Kamu kelihatan capek,” kata Zehra sambil menyerahkan satu gelas.
“Jadwalku bentrok,” jawab Aisyah jujur. “Kelas dan rapat di jam yang sama.”
Zehra duduk di sampingnya. “Kamu sudah bilang ke koordinator?”
“Belum,” sahut Aisyah pelan. “Aku takut dianggap tidak komitmen.”
Tak lama kemudian, Mariam ikut bergabung. Ia duduk tenang, mendengarkan tanpa menyela. Setelah Aisyah selesai bercerita, Mariam baru membuka suara.
“Aisyah,” katanya lembut, “kamu tidak bisa hadir di semua tempat dalam waktu bersamaan. Itu bukan salahmu.”
“Tapi aku merasa bersalah,” Aisyah menunduk. “Aku baru bergabung, aku tidak ingin mengecewakan siapapun.”
Zehra menghela napas. “Aku dulu juga begitu, selalu bilang iya, sampai akhirnya kelelahan sendiri.”
Mariam mengangguk setuju. “Belajar berkata tidak bukan berarti tidak bertanggung jawab. Justru itu bentuk kejujuran.”
Kata-kata itu menancap di benak Aisyah, ia terdiam mencerna perlahan, selama ini, ia selalu berusaha menjadi pribadi yang bisa diandalkan namun ia lupa bahwa tubuh dan hatinya memiliki batas.
Dengan ragu, Aisyah membuka ponselnya, jarinya sempat berhenti beberapa kali sebelum akhirnya mengetik pesan ke koordinator divisi.
“Maaf, saya tidak bisa hadir rapat hari ini karena ada kelas yang wajib diikuti. Saya siap membaca notulen dan membantu tugas susulan.”
Pesan terkirim.
Aisyah menutup mata sejenak, menunggu perasaan bersalah yang ia kira akan datang. Namun yang muncul justru rasa lega, meski tipis.
“Bagaimana, sudah?” tanya Zehra.
“Iya, sudah kukirim,” jawab Aisyah. “Dan aku takut.”
Mariam tersenyum. “Takut itu wajar tapi kamu baru saja menjaga dirimu sendiri.”
Aisyah memilih tetap berada di kampus untuk menyelesaikan tugas, ia duduk di perpustakaan hingga menjelang magrib. Saat azan berkumandang, ia menutup laptop dan bergegas ke mushola kecil di sudut gedung.
Di sana, Aisyah berdiri dalam salat dengan perasaan yang berbeda, ia tidak lagi tergesa-gesa, tidak lagi merasa dikejar, untuk pertama kalinya setelah beberapa hari, ia benar-benar hadir dalam setiap rakaat.
Setelah itu, dia langsung pulang dan mengambil makan karena perutnya sudah sangat lapar, ia membuka buku agenda dan mulai menata ulang jadwalnya, ia memberi jeda waktu istirahat, menandai prioritas dan menghapus beberapa kegiatan yang sebenarnya bisa ditunda.
Ia menulis satu kalimat kecil di pojok halaman:
‘Tidak semua hal harus dihadiri yang penting, dilakukan dengan penuh kesadaran.’
Malam semakin larut, Aisyah menutup agenda dan merebahkan tubuhnya, kepalanya masih dipenuhi pikiran tetapi hatinya terasa lebih ringan.