Merhaba Aisyah
Duduk di Taman Kampus
Malamnya, setelah salat Isya, Aisyah kembali duduk di atas sajadah. Ia melanjutkan murojaah dengan suara lirih, ayat demi ayat mengalir perlahan, menenangkan pikirannya setelah hari yang panjang.
Selesai murojaah, ia melipat sajadah lalu melangkah ke ruang tengah. Katya sedang duduk di sofa, menonton televisi sambil menyandarkan kepala pada bantal kecil.
“Sudah selesai murojaah?” tanya Katya sambil melirik.
“Sudah, Kak,” jawab Aisyah sambil duduk di sampingnya.
Katya mematikan televisi dan menoleh penuh perhatian. “Gimana kuliahmu sekarang? Udah mulai terbiasa?”
Aisyah mengangguk. “Capek, tapi seru. Banyak hal baru.”
Katya tersenyum tipis. “Pantesan kamu kelihatan lebih semangat. Ada cerita?”
Aisyah tersenyum kecil. “Aku ikut open meeting organisasi kampus hari ini.”
“Oh ya?” Katya tampak tertarik. “Terus?”
“Aku masuk divisi literasi dan media,” lanjut Aisyah. “Kegiatannya tentang menulis, diskusi budaya, sama acara kampus.”
Katya tersenyum lebar. “Dari dulu kamu emang cocok di situ.”
Aisyah tertawa pelan. “Awalnya aku ragu, takut nggak bisa bagi waktu. Tapi ternyata malah bikin aku lebih teratur.”
Katya menepuk bahu Aisyah lembut. “Selama kamu ingat prioritas dan tetap jaga ibadah, Kakak dukung penuh.”
Aisyah mengangguk. “Doain aku ya, Kak. Semoga aku bisa konsisten.”
“Pasti,” jawab Katya mantap. “Kakak bangga sama kamu.”
Aisyah tersenyum hangat. Malam itu, ia merasa tenang, di negeri yang jauh dari rumah, ia menemukan ritme baru belajar, bertumbuh, dan perlahan menyembuhkan dirinya sendiri, ditemani kakak dan langkah-langkah kecil yang mulai ia yakini.
****
Taman kecil di sudut kampus itu selalu menjadi tempat favorit Aisyah, letaknya tidak terlalu mencolok, tersembunyi di balik deretan pohon maple yang daunnya mulai menguning, bangku-bangku kayu tersusun rapi menghadap jalur pejalan kaki, sementara aroma tanah lembap bercampur udara dingin khas Istanbul menguar pelan, menenangkan siapa pun yang singgah.
Aisyah duduk di bangku paling ujung, membawa sebuah novel tebal berbahasa Inggris yang sejak pagi belum sempat ia tuntaskan, di tangan kanannya, segelas kopi hangat mengepulkan uap tipis. Kopi itu adalah pesanannya yang paling sering dibelinya, tanpa gula berlebih dengan aroma pahit yang lembut di lidah, ia menyukainya bukan karena rasanya semata, tetapi karena kopi selalu membuat pikirannya lebih jernih.
Ia membuka halaman buku, matanya menyusuri baris demi baris kalimat dengan penuh perhatian, sesekali ia berhenti, menarik napas panjang lalu meneguk kopinya perlahan, waktu seolah berjalan lebih lambat di tempat itu, tidak ada tuntutan, tidak ada kebisingan rapat, tidak ada jadwal yang mendesak.
Hanya Aisyah, buku dan pikirannya sendiri.
Angin berembus ringan, menggerakkan ujung kerudung krem yang dikenakannya, ia merapikannya sebentar, lalu kembali tenggelam dalam bacaan, di kejauhan beberapa mahasiswa terlihat berlalu-lalang ada yang bercakap santai, ada pula yang berjalan cepat dengan wajah serius.
Tanpa disadari Aisyah, sepasang langkah berhenti tak jauh darinya.
“Permisi,” suara seorang lelaki terdengar pelan namun jelas.
Aisyah mengangkat kepalanya, di hadapannya berdiri seorang mahasiswa laki-laki yang ia kenal, wajahnya tidak asing teman sekelas satu angkatan yang sering duduk beberapa baris di depannya saat perkuliahan, rambutnya hitam rapi, wajahnya bersih dan ia mengenakan jaket gelap yang tampak sederhana.
“Oh, iya?” jawab Aisyah sopan sambil menutup bukunya.
Lelaki itu tersenyum kecil, sedikit canggung. “Aku lihat kamu sering di taman ini. Kebetulan aku habis beli makan.”
Ia menyodorkan sebuah kotak kertas cokelat, aroma khas daging panggang dan rempah langsung tercium.
“Kebab,” lanjutnya singkat. “Aku beli dua, tapi sepertinya satu terlalu banyak buatku. Kalau kamu mau.”
Aisyah terdiam sejenak. Ia tidak menyangka. Refleks ia melirik kotak itu, lalu kembali menatap wajah lelaki tersebut.
“Oh, terima kasih,” ucapnya akhirnya. “Tapi… kamu yakin?”
“Iya,” jawabnya ringan. “Daripada tidak habis.”
Aisyah menerima kotak itu dengan kedua tangan. “Terima kasih banyak.”
Lelaki itu mengangguk singkat, lalu melangkah mundur. “Selamat membaca,” katanya sebelum berlalu meninggalkan taman.
Aisyah memperhatikan punggungnya yang menjauh hingga menghilang di balik pepohonan, ia menurunkan pandangannya kembali pada kotak kebab di pangkuannya, senyum kecil tersungging tanpa sadar.
Bukan karena isi kotak itu, melainkan karena kesederhanaan momen tersebut.
Ia membuka tutupnya perlahan, kebab itu masih hangat Aisyah menutup kembali kotaknya, berniat menyantapnya nanti setelah selesai membaca. Ia kembali membuka buku, mencoba melanjutkan cerita yang sempat terhenti namun belum satu halaman ia baca, suara langkah kembali terdengar.
“Syah!”
Aisyah menoleh, seorang perempuan dengan kerudung abu-abu muda melambaikan tangan sambil tersenyum lebar, itu adalah Naila teman dekat yang belakangan sering bersamanya di kampus.
“Ke sini,” ujar Aisyah sambil bergeser memberi ruang.
Perempuan itu duduk di sampingnya, meletakkan tas di kaki bangku. “Kamu selalu di sini ya kalau ada waktu luang.”
Aisyah terkekeh pelan. “Tempat ini tenang. Aku bisa membaca tanpa terganggu.”
Naila mengangguk setuju, lalu melirik kopi di tangan Aisyah. “Kopi lagi?”
“Selalu,” jawab Aisyah singkat, tersenyum.
Perempuan itu kemudian memperhatikan kotak kebab di samping Aisyah. “Wah, kamu jajan?”
“Bukan,” jawab Aisyah sambil menggeleng. “Tadi ada teman sekelas, dia memberi.”
“Oh ya?” Naila menaikkan alis, nada suaranya terdengar menggoda.
Aisyah menatapnya sekilas. “Jangan mulai.”
Mereka tertawa kecil.
Setelah suasana kembali tenang, Naila menyandarkan punggung ke bangku. “Ngomong-ngomong, jadwal kamu hari ini apa?”
Aisyah berpikir sejenak. “Pagi tadi kelas metodologi, siang ini aku mau menyelesaikan bacaan ini, sore ada rapat organisasi.”
“Rapat lagi?” Naila menghela napas. “Kamu tidak capek?”
“Capek,” jawab Aisyah jujur. “Tapi aku menikmati kesibukan ini.”
Ia menatap ke depan, memperhatikan dedaunan yang berguguran perlahan. “Setidaknya pikiranku tidak kosong.”
Naila terdiam, seolah memahami maksud kalimat itu. “Kalau aku hari ini cuma kelas pagi, setelah ini mau ke perpustakaan. Besok baru banyak agenda.”
Aisyah mengangguk. “Kita benar-benar hidup dengan ritme yang berbeda sekarang.”
“Dan itu tidak apa-apa,” sahut Naila lembut. “Yang penting kita tahu tujuan kita.”
Aisyah tersenyum. Ia membuka kembali bukunya, lalu berhenti sejenak. “Kamu mau kebab?”
Naila tertawa. “Kalau kamu tidak keberatan.”
Aisyah membuka kotak itu dan membaginya, mereka makan sambil duduk berdampingan tanpa banyak bicara, keheningan di antara mereka tidak terasa canggung justru menenangkan.
Sesekali, Aisyah melirik jam di pergelangan tangannya, waktu bergerak pelan namun pasti.
Ia menutup bukunya setelah menyelesaikan satu bab, lalu menghela napas puas, hari ini tidak istimewa tidak pula penuh kejadian besar namun Aisyah merasa cukup.
Di taman kecil itu, ia belajar menikmati hal-hal sederhana seperti buku yang ia sukai, kopi hangat, makanan yang dibagi tanpa pamrih dan percakapan ringan dengan sahabat.
Ia sadar, hidup tidak selalu harus berisik untuk terasa berarti.
Kadang, cukup dengan duduk diam, membaca, dan berbagi waktu dengan orang-orang di sekitar itu sudah lebih dari cukup.
Aisyah berdiri, merapikan tasnya. “Aku harus ke rapat.”
Naila ikut bangkit. “Semangat.”
Aisyah mengangguk, lalu melangkah pergi dari taman dengan perasaan ringan. Di balik langkahnya, taman itu tetap tenang menjadi saksi hari sederhana yang perlahan menguatkan hatinya.
Dan Aisyah tahu, ia sedang berjalan ke arah yang benar.