Merhaba Aisyah

Goodbye Jakarta

Raka yang dikenal Aisyah sejak anak baru, kini mereka telah tumbuh dewasa dan mengapa rasa itu masih ada, padahal waktu SMP Aisyah tidak pernah menyadarinya, rasa itu kembali tumbuh saat dia mulai bergabung menjadi anggota OSIS. 

"Maaf untuk semua yang kulakukan kepadamu," ujar Raka pelan dia menatap wajah Aisyah yang begitu teduh.

Untuk saat ini Raka akan menyimpan perasaannya dan berpura-pura tidak tahu apa-apa karena dia tahu betul jika Aisyah tidak membutuhkan pacaran.

"Baiklah aku maafkan, yaudah ada yang ingin dikatakan lagi?" Aisyah berpikir bahwa dirinya memang bodoh berharap Raka akan mengungkapkan perasaannya disaat dia akan pergi.

Karena nyatanya Raka tidak pernah mempunyai rasa yang sama dengan Aisyah, hal itu membuat Aisyah memang harus mengikhlaskan cinta dalam diamnya untuk sahabatnya sendiri.

Raka menyodorkan kotak, "Kamu adalah partner terbaikku, jadi aku mau ngasih ini tolong terima ya dan aku mau kamu buka kotak ini saat kamu kangen kebersamaan kita," tukasnya.

"Aduh aku jadi penasaran deh, thank ya Rak." Aisyah tersenyum hangat kepada Raka.

"Syah, mana ponselmu?" Raka mengangkat telapak tangannya.

Aisyah mengernyitkan keningnya, "Untuk apa?" 

"Sini berikan padaku sebentar saja." Raka memohon sudah hampir satu bulan setelah pergantian ketua OSIS, Aisyah tidak pernah membalas pesannya.

Seketika Aisyah curiga, "Apa jangan-jangan Raka mau ngecek nomorku ya?" batinnya.

Akhirnya Aisyah pun memberikan ponselnya yang sudah dibuka.

Terlihat jelas Raka yang sedang mengecek ponselnya membuat Aisyah penasaran.

"Kenapa sih Rak?" gerutu Aisyah bingung.

Kemudian Raka menatap mata Aisyah yang tepat di depannya. "Syah, kenapa kamu tidak menyimpan nomorku disaat ganti nomor? Bukankah aku selalu memberikanmu apabila ganti kartu?" 

Mati, Aisyah menundukan kepalanya dia bingung harus jawab apa tidak mungkin dia berkata jujur jika Raka lah alasannya untuk mengganti kartu hp nya.

Semenjak hari kelulusan dan perpisahan anak OSIS, Aisyah mulai mengganti kartu kini di gawainya hanya tersimpan kontak perempuan hanya Ilham seorang yang laki-lakinya.

"Kalau gak mau jawab yaudah gak apa-apa, nih ponselnya aku tidak akan memaksamu menyimpan nomorku," jelas Raka seraya memberikan kembali ponsel milik Aisyah.

"Maaf Rak, aku memang sengaja tidak menyimpan nomor laki-laki di ponselku," jawab Aisyah jujur, selama dia belum menemukan laki-laki yang akan melamarnya dia tidak akan menyimpan nomor siapapun yang berjenis kelamin laki-laki kecuali Ilham sahabat sekaligus Abang untuknya.

Fatimah pun datang menghampiri Aisyah, "Rak, maaf ya waktunya sudah habis Aisyah harus segera berangkat karena pesawatnya sudah tiba." 

Raka menganggukkan kepalanya mengerti, "Semangat ya Syah, jaga diri baik-baik di sana dan jangan lupa berdoa agar selamat sampai tujuan."

"Makasih Rak, kamu juga jaga diri ya semoga kita bisa bertemu kembali," kata Aisyah sebelum ditarik untuk pergi oleh Fatimah.

Raka memasukan tangannya di dalam kantong celana menatap kepergian Aisyah.

Dengan buru-buru Aisyah kembali ke keluarganya karena sudah pergi terlalu lama. Hatinya masih begitu sakit, kenapa harus berakhir seperti ini? Setiap malam Aisyah selalu menyelipkan nama Raka dalam doanya, apa ini jawabannya yang Tuhan berikan? Jika benar, semoga semuanya segera berlalu.

"Astaghfirullah Syah, kamu lama sekali dari kamar mandi." Katya mengomel melihat kedatangan adiknya.

"Maaf ka," sahut Aisyah pelan, mengakui kesalahannya.

"Sudah-sudah yuk berangkat, Nak tas kamu jangan lupa dibawa takut ketinggalan," pesan Adiba kepada Aisyah sebelum berjalan menuju pesawat.

"Syah, ini dari Raka?" tanya Raya ketika Aisyah memasukan kotak ke dalam kopernya.

Aisyah langsung mengangguk pasti, "Iya, yuk gays!" 

Katya dan Aisyah bersalaman sambil berpelukan kepada kedua orang tuanya serta sahabatnya.

"Bun, Yah kita pamit ya doakan kami agar menjadi anak-anak sukses," kata Katya sambil tersenyum.

Adiba tak kuasa menahan bendungan air matanya, begitu Aisyah memeluk dirinya air matanya langsung menetes belum siap melepaskan putrinya yang manja ini berada jauh darinya.

"Bunda jangan menangis nanti Aisyah akan sedih," kata Aisyah seraya mengusap air mata Bundanya.

"Iya sayang Bunda tidak akan menangis, kalian hati-hati yah!" ujar Adiba yang langsung dirangkul oleh Haris.

"Fatimah, Raya, aku pamit ya kalian jaga diri baik-baik disini sampaikan salamku untuk Hawa juga yah." Aisyah memeluk kedua sahabatnya yang juga meneteskan air matanya.

"Hiks hiks … Aku pasti sangat merindukanmu Syah," tukas Fatimah merasa kehilangan teman curhatnya.

Sedangkan dari kejauhan tampak Ilham dan Raka yang sedang memperhatikan mereka, kedua laki-laki itu tidak mau menampakkan diri langsung di depan orang tua Aisyah. 

Ilham juga mengirim gambar Aisyah dan Katya kepada Aqila yang bertanya mengenai keberangkatan saudaranya.

"Rak, kok Hawa gak ikut nganter Aisyah ke bandara?" tanya Ilham mengingat jika Raka sangat dekat dengan Hawa.

Raka berlalu duduk, "Gue gak tahu Ham, kemarin sih katanya dia mau pergi ke luar kota ikut Uminya," ungkapnya.

"Bro, gue penasaran deh sama perasaan Lo yang sebenarnya kepada Hawa dan Aisyah bagaimana?" Ilham merangkul bahu Raka seraya menatap tajam cowok itu.

Raka menoleh merasa diinterogasi oleh Ilham, "Sudahlah gue juga bingung, sepertinya gue gak bisa lepasin salah satunya.

"GILA, ISTIGHFAR LO!!” teriak Ilham seraya menepuk bahu Raka. 

***

"Hallo Ayah ada apa ya?" tanya Aisyah saat mengangkat telepon dari sang Ayahnya.

"Nak jangan lupa jaga diri ya di sana kalau ada apa-apa usahakan menghubungi kakakmu ya!" Haris begitu khawatir melepaskan kepergian sang putri bungsunya meski dia selama ini telah keras dalam mendidik Aisyah tetap saja ada rasa cinta dan sayang dalam hatinya kepada Aisyah.

 

"Baik Ayah, Ayah tidak perlu mengkhawatirkan aku di Turki aku tidak sendiri kok kan ada kakak jadi semuanya aman Ayah dan Bunda hanya cukup mendoakanku saja semoga aku bisa sukses di kemudian hari," kata Aisyah dengan tersenyum dia tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum di saat hatinya sedang bahagia.

 

"Ayah dan Bunda selalu mendoakanmu Nak, belajar yang rajin di sana dan jagalah salat serta akhlakmu!" Haris memberikan nasehat kepada putrinya.

 

Nasehat sang Ayah akan selalu Aisyah ingat apalagi mengenai hubungannya dengan sang pencipta, "Siap Ayah aku akan selalu mengingatnya."

 

"Ya sudah, Ayah tutup ya teleponnya, assalamualaikum."

 

Sambungan pun terputus secara sepihak, Haris sangat bangga kepada anak bungsunya ini yang ternyata diam-diam dia menulis karya lalu mengirimnya ke pos dan diterbitkan ke majalah dan putrinya itu akan menerima uang dari tulisannya.

 

Subhanallah, banget Aisyah tumbuh menjadi gadis yang cerdas dan cantik Adiba ikut merasa senang karena berhasil mendidik anaknya itu hingga tumbuh dengan baik.

 

"Semoga perjalanan ini lancar hingga sampai pada tujuan." Aisyah melantunkan doa dengan terpejam saat perjalanannya ke Turki dimulai.

 

Selama perjalanan Aisyah juga membaca tulisannya yang sudah terpublish di majalah digital sungguh senangnya dia andaikan Raka tahu jika tulisannya ini sebagian untuk cowok itu dan Aisyah termotivasi dari kisah cintanya dengan Raka.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!