Merhaba Aisyah
Permintaan Maaf Raka
Begitu sulit memang jika laki-laki mempunyai sifat gengsi dan dingin, sampai kapan Raka akan mengakui bahwa dirinya juga suka dengan Aisyah.
"Syah, kok gelisah gitu kenapa?" tanya Fatimah melihat raut wajah Aisyah yang tampak sedang memikirkan sesuatu. "Nunggu chat dari Raka ya?" tebaknya.
Aisyah menoleh, dia benar-benar tidak percaya jika Fatimah bisa mengetahui pikirannya.
"Benarkan?" ujar Fatimah lagi karena melihat Aisyah yang masih bengong.
Seketika kepala Aisyah mengangguk pasti, lalu dia meletakkan kembali ponselnya di dalam tas.
"Raka, lo itu kenapa sih gak mau ngaku aja sama perasaan Lo sendiri apa jangan-jangan yang dikatakan sama Hawa itu benar kalau Lo sudah mencintai wanita itu?" gerutu batin Fatimah merasa kesal.
Ingin sekali rasanya Fatimah memaki Raka dengan kata-kata kasar, namun Aisyah melarangnya untuk mengatakan apapun tentang rahasianya, apalagi saat ini dia juga harus menjaga perasaan Hawa.
"Syah, lihat deh status Hawa!" seru Raya menyerahkan ponsel miliknya.
"You are the one I love forever will be mine" Tertulis caption pada foto Raka yang sedang makan.
Aisyah langsung memberikan ponsel Raya kembali, "Aku tidak pernah merasakan sesakit ini, dari awal aku memang salah menaruh hati ini."
Fatimah menepuk-nepuk paha Aisyah dengan tangan kirinya, "Kamu harus kuat ya Syah, sekarang kamu fokus aja belajarnya urusan jodoh serahkan kepada Allah, aku yakin kok 80 persen Raka itu ada rasa sama kamu hanya saja dia tensi dan dingin jadi cowok, dari perhatian dan sikap Raka kepada kamu selama ini aku melihatnya."
"Iya Syah, gak usah sedih-sedih lagi yah, kalau kamu dan Raka jodoh pasti Allah akan takdirkan kalau tidak pun pasti Allah akan kasih yang terbaik untuk kamu misalnya Fahri," ujar Raya dia kadang masih bingung kenapa Aisyah tidak mau dengan Fahri padahal jika dibandingkan dengan Raka mereka berdua sama-sama pintar dan ganteng kok.
Fatimah menoleh memandang Aisyah yang sedang melihat jalanan.
"Aku suka dengan Fahri tapi aku tidak punya perasaan sayang atau cinta kepada dia," sahut Aisyah lirih.
Di dalam hatinya, pikirannya masih tersimpan nama Raka dan bagaimana cowok itu bersikap kepadanya, jadi meskipun Fahri hadir dengan sayang dan perhatiannya itu tidak akan terlihat oleh Aisyah karena tertutup oleh rasa sayang Aisyah terhadap Raka.
Kini motor Raka telah sampai di depan kantor tempat Ilham bekerja yaitu kantor marketing, dia melihat Ilham yang sedang duduk di depan.
"Cepat juga ya Lo bawa motor," kata Ilham melihat kedatangan Raka.
Raka melepaskan helmnya. "Ham, gue mau minta bantuan sama Lo," kata Raka.
"Bantuan apa tumben banget." Ilham mengernyitkan keningnya bingung.
"Kau tahu kan hari ini Aisyah pergi ke Turki kamu bisa tolong kasih kotak ini gak kepada Aisyah," ujar Raka waktu di perjalanan dia mampir terlebih dahulu ke sebuah toko.
"Kenapa gak ngasih langsung?" Ilham semakin bingung dengan sahabatnya yang satu ini.
"Gue malu dan takut akan menambah rasa benci Aisyah nantinya, sekarang Lo buruan naik gue antar ke bandara tapi tolong kasih kotak ini kepada Aisyah ya!" seru Raka seraya memakai kembali helm miliknya.
Ilham pun langsung naik ke atas motor Raka, dia melihat kesempatan yang ada buat Raka dan pastinya akan membuat Aisyah senang.
Perjalanan mereka cukup jauh, Raka mendengar jika pesawat mereka akan terbang pukul 10:25 WIB, ada waktu satu jam lagi untuk mereka tiba di bandara.
Jika ini yang dinamakan perjuangan maka itu adalah cinta, ya tentu saja Raka kini sedangkan memperjuangkan cintanya meskipun terlambat. Dia ingin membuktikan setidaknya perasaan Aisyah selama ini tidak sia-sia.
Sedangkan mobil Haris dan Fatimah kini telah sampai di bandara, Aisyah tersenyum haru melihat pesawat terbang untuk pertama kalinya.
Mereka semua turun dari mobil, Fatimah dan Raya membantu membawakan barang Aisyah.
Peking …
Terdengar notif ponsel Fatimah berbunyi menampilkan pesan dari Ilham. Dengan cepat Fatimah membuka pesan tersebut.
"Fat, gue sama Raka mau ke sana tolong bawa Aisyah jauh dari orangtuanya dulu yah."
Fatimah memandang orang tua Aisyah yang sedang mengobrol dengan Katya.
"Siapa Fat?" tanya Raya penasaran melihat raut wajah sahabatnya itu.
Fatimah berbisik kepada Raya, "Ilham sama Raka mau ke sini kita disuruh bawa Aisyah keluar dulu biar gak kelihatan orangtuanya."
Raya tampak kaget mendengarnya, dia menoleh ke arah Aisyah yang sedang melihat lalu lalang orang-orang.
"Sudah sampai mana Ham? Satu jam lagi pesawat Aisyah akan terbang loh."
Fatimah membalas pesan Ilham, dia merasa lega karena mengetahui jika Ilham dan Raka akan ke sini, setidaknya bisa menyelesaikan permasalah mereka, Fatimah berharap sahabatnya bisa pergi dengan tenang dan bisa segera move on.
Begitu sudah mendapat notif dari Ilham, Fatimah langsung memberi kode kepada Raya untuk mencari ide.
"Syah, anter gue cari kamar mandi yuk!" seru Raya menarik tangan Aisyah.
"Eh sebentar, aku bilang orang tuaku dulu." Aisyah menahan untuk pergi. "Bun, aku mau ke toilet dulu ya," pamit Aisyah.
"Yukk!" ajak Fatimah yang menggandeng lengan Aisyah. "Syah, ada seseorang yang mau bertemu kamu,’ katanya pelan saat sudah jauh dari orangtua Aisyah.
"Siapa?" tanya Aisyah terkejut, dia takut jika itu adalah Fahri.
"Ada deh ikut kita ke keluar ya sebentar," ujar Fatimah seraya tersenyum.
Begitu sampai di luar kebetulan sekali motor Raka telah sampai, membuat Fatimah terkejut melihat kehadiran laki-laki itu.
"Sial, kok Aisyah keluar sih? Ini pasti Ilham yang ngasih tahu," gumam Raka dia kaget saat melihat sosok Aisyah di depan matanya.
"Yuk?" ajak Ilham kepada Raka untuk menghampiri Aisyah.
Betapa terkejutnya Aisyah melihat siapa yang kini berada di depannya, canggung itulah yang Aisyah rasakan, namun dia harus tetap bersikap baik.
"Kalian ngapain kesini?" tanya Aisyah terkejut. “Ilham, ngapain ke sini?"
"Ya ngapain lagi kalau bukan mau ketemu kamu Syah," ujar Ilham seraya terkekeh.
"Kamu ngapain ikut ke sini Rak? Apa cuma nganterin Ilham doang?" tanya Aisyah penasaran.
Raka tersenyum lebar, "Gu-e?" tiba-tiba mulutnya tidak bisa berbicara dengan benar, “Gue mau ketemu sama Lo Syah sekaligus mau minta maaf," katanya gugup.
Fatimah dan Raya saling bertatapan, "Ham, kayaknya kita harus pergi dulu deh," ujar Fatimah.
Ilham yang paham akan maksud Fatimah dia pun mengangguk, "Rak, Syah gue tunggu di lobi ya jangan lama-lama ngomongnya nanti Aisyah ketinggalan pesawat," tukas Ilham seraya menepuk bahu Raka.
"Minta maaf buat apa Rak?" tanya Aisyah bingung.
Hatinya berdesir, dia tidak kuasa menahan rasa rindu yang bergejolak dalam dirinya semakin dia tahan rasa itu semakin besar. Namun Aisyah berusaha menjaga fitrah wanita, bahwasanya dia tidak akan mengejar laki-laki yang tidak mencintainya. Kisah cinta dalam diam Aisyah selama 3 tahun akan berakhir sampai sini.