Merhaba Aisyah
Terlambat Menyadari Semuanya
Raka terkejut melihat kehadiran adiknya dia membenarkan duduknya berpura-pura tegar dan tidak terjadi apa-apa dengan dirinya.
"Kamu bicara apa sih dek?" kata Raka dia pura-pura gak mendengar apa yang diucapkan adiknya.
Ameera akhirnya berjalan mendekat, "Ka Raka sedih kan gara-gara hari ini ka Aisyah pergi ke turki? Terus kenapa diam saja disini, gengsi? Kan aku udah bilang kalau ka Aisyah itu sayang sama ka Raka tapi kakak malah nyakitin perasaan dia terus dengan meladeni wanita itu," sungutnya dengan penuh kekesalan.
Raka terpaku mendengar semua yang dikatakan adiknya. "Kamu kata siapa kalau Aisyah itu sayang sama kakak?"
"Ya Allah, aku punya kakak kok gak peka banget ya? Aku itu cewek ka, aku melihat senyuman dan tatapan ka Aisyah itu berbeda dengan kakak," jelas Aisyah dia terduduk di ranjang tempat tidur Raka.
Raka semakin terkejut mendengarnya, "Kenapa gue begitu bodoh tidak pernah menyadari kalau Aisyah itu sebenarnya punya rasa ke gue?" batinnya.
"Ka, kok malah bengong sih?" tegur Ameera melihat Raka yang melamun.
Tiba-tiba Raka bergegas mengambil kunci motornya dia pergi tanpa berkata apapun kepada Ameera.
"Yahh malah ditinggal pergi, padahal kan aku bilang kayak gitu biar aku juga diajak," tukas Ameera kesal sendiri dengan sikap Raka yang begitu cuek dan dingin.
"Tapi aku ragu deh sebenarnya ka Raka suka gak sih sama ka Aisyah? Ah biarin lah itu kan urusan dia," kata Ameera seraya bangkit dari duduknya dan pergi keluar dari kamar Raka.
"Rak, Lo itu punya perasaan gak sih sama Aisyah?" tanya Ilham waktu mereka sedang duduk rooftop sekolah.
"Gak, emangnya kenapa?" jawab Raka kala ditanya perasaannya.
Detik itu juga Ilham langsung emosi, "Enak banget ya lo mempermainkan perasaan sahabat gue, selama ini kan Aisyah itu kagum sama sosok lo tapi kayaknya Aisyah telah salah menaruh perasaan sayangnya, untuk cowok sialan kayak Lo," celetuknya, setelah itu Ilham pergi begitu saja.
Bahkan saat Raka mencoba meminta maaf Ilham malah melarangnya untuk mendekati Aisyah lagi.
"Kan aku udah bilang kalau ka Aisyah itu sayang sama ka Raka tapi kakak malah nyakitin perasaan dia terus dengan meladeni wanita itu." Perkataan Ameera tadi masih terbayang-bayang di pikirannya.
Tiba-tiba Raka membawa motor dengan kecepatan tinggi, dia terlihat begitu kesal dan emosi karena menjadi orang yang dingin dan cuek sampai dia tidak tahu jika sikapnya selama ini telah menyakiti hati seorang Aisyah.
"Bodoh banget gue, kenapa gue gak pernah tahu kalau selama ini Aisyah punya perasaan ke gue?" Wajah Raka terlihat mengeras penuh emosi.
Selama ini Raka melihat jika sikap Aisyah kepadanya itu selalu cuek tapi nyatanya dia bersikap cuek karena untuk menyembunyikan perasaannya saja.
"Rak, tangan kamu kenapa?" tanya Aisyah saat di ruang OSIS.
"Tadi aku lagi beres-beres lemari terus kena paku," jelas Raka sambil menahan rasa sakit.
"Aku obatin ya," ujar Aisyah seraya pergi mengambil kotak P3K.
Bayangan mengenai perhatian Aisyah yang tak pernah Raka sadari kembali melintas di pikirannya, cewek itu dengan pandai menyimpan perasaannya selama ini sampai dia tidak menyadarinya.
"Aisyah!!" panggil Raya dan Fatimah yang datang ke rumah Aisyah untuk ikut menghantarkan sahabatnya sampai bandara.
"Kalian kenapa ke sini gak jadi latihan?" tanya Aisyah terkejut saat melihat kedatangan kedua sahabatnya.
Raya mendekat, "Kita hanya berbohong kemarin karena kita ingin memberikan surprise buat kamu," katanya
"Iya benar Syah, hari ini kita akan ikut mengantar kamu sampai bandara, kalau Hawa dia tidak bisa ikut katanya," jelas Fatimah sambil tersenyum.
"Ya ampun kalian makasih banyak yah tapi gak usah repot-repot loh mau nganterin segala," kata Aisyah merasa tidak enak hati.
"Tidak apa-apa Syah, lagipula aku ingin jadi saksi kesuksesan sahabatku ini," sahut Fatimah sambil menyenggol lengan Aisyah.
"Anak-anak kalian sudah sarapan?" tanya Adiba melihat kedatangan sahabat Aisyah.
Raya tersenyum, "Sudah Bun."
"Kita langsung berangkat saja ya?" seru Haris setelah memasukan semua koper milik Aisyah dan Katya.
"Sayang, kamu mau ikut mobil Ayah apa Fatimah?" ujar Adiba dia menawarkan takut jika putrinya masih ingin melepaskan rindu kepada sahabatnya.
Aisyah menoleh ke arah Fatimah dan Raya, terlihat mata mereka yang seakan-akan memohon untuk ikut bersama dengannya.
"Sudah kamu ikut mobil Fatimah aja nak, ayo Bun masuk nanti kita ketinggalan pesawat," seru Haris memutuskan setelah melihat ketulusan sahabat putrinya.
"Yess, yuk Syah kita naik!" ajak Raya seraya menggandeng tangan Aisyah.
Adiba pun tersenyum melihat kebersamaan Aisyah dengan sahabatnya betapa beruntungnya Aisyah mempunyai sahabat seperti Fatimah dan Raya.
****
Saat sampai di gerbang rumah Aisyah, Raka melihat ada Raya dan Fatimah di sana, dia jadi terpaku di depan gerbang karena tidak berani memunculkan wajahnya di depan Aisyah.
"Pak, maaf mau nanya Aisyah mau berangkat ke mana ya?" tanya Raka pada satpam yang menjaga gerbang.
"Oh neng Aisyah sama neng mau berangkat ke luar negeri, neng Aisyah itu Masya Allah banget A, dia itu orangnya aktif banget meski tidak terlalu pintar tapi hafalannya luar biasa," jelas pak Ujang.
"Iya pak, kalau gitu makasih ya saya harus pergi," kata Raka dia melihat jika mobil orangtua Aisyah akan keluar gerbang.
Sejak tadi Aisyah menunggu pesan dari Raka tapi tak kunjung datang, dia jadi ingat perkataan Ali bin Abi Thalib yang mengatakan berharap kepada manusia itu adalah hal yang paling menyakitkan, begitulah sakitnya.
"Syah, Aqila kok gak ikut nganterin kamu?" tanya Raya yang duduk di belakang.
Aisyah teringat akan saudaranya itu, "Dia lagi ke Bandung sama Nyokapnya katanya sih mau nyari kuliahan," jawabnya.
"Oh pantesan," sahut Raya mengangguk mengerti.
Melihat mobil yang ditumpangi oleh Aisyah dan sahabatnya melintas di jalan raya, Raka hendak mengejar tapi dia urungkan niatnya.
"Untuk apa aku mengejarnya, yang ada nantinya rasa benci Aisyah akan semakin bertambah melihatku menyusulnya," ujar Raka frustasi dia ada di posisi yang serba salah.
Dering ponsel berbunyi dari kantong celana milik Raka.
"Ilham?" pekik laki-laki itu terkejut.
"Assalamualaikum, ada apa Ham?" ujar Raka yang ternyata mereka berdua sama-sama mengucap salam.
"Lo dimana sekarang?" tanya Ilham diiringi suara bising kendaraan.
Raka mulai berpikir, dia tidak mungkin mengatakan jika sedang di rumah Aisyah saat ini. "Lagi dijalan memangnya kenapa?"
"Bisa jemput gue di kantor nanti alamatnya gue sherlock," kata Ilham terdengar tergesa-gesah
"Oke." Raka menjawab dengan singkat, padat dan jelas.
Laki-laki tampan itu segera menuju lokasi yang dikirim Ilham, ternyata sampai detik ini Raka masih gengsi terhadap perasaannya sendiri padahal sudah jelas dia juga mempunyai perasaan yang sama dengan Aisyah.