Merhaba Aisyah

Cerita Raya dan Rafael

Aisyah pun memberikan bukunya kepada Fatimah untuk dibacanya, ya Aisyah sungguh malu jika ceritanya dibaca oleh orang lain apalagi jika orang itu mengetahui kisah sebenarnya itu akan sangat memalukan baginya.

 

"Jangan diberikan kepada siapapun ya!" kata Aisyah memberikan penekanan dalam kalimatnya.

 

"Oke siap," sahut Fatimah seraya tersenyum.

 

Raya dan Hawa pun kembali dari kamar mandi, mereka terlihat begitu baik-baik saja setelah semuanya terjadi, Aisyah merasa senang karena tidak ada lagi masalah atau kebohongan diantara mereka

 

"Gays, Rafael ngajakin aku pergi masa, terus aku harus jawab apa ya?" Raya meringis kebingungan, dia sekarang berada di keadaan yang serba salah.

 

"Yaudah gas, masa ditolak sih Ray?" celetuk Fatimah, jelas salah jika Raya menolak ajakan seorang Rafael.

 

Karena hampir semua cewek menyukai Rafael jika bukan karena dia non muslim pasti pada ngantri rebutin tuh cowok.

 

"Aku malu, gak punya baju bagus loh," kata Raya lirih.

 

"Astaga Ray, kamu mau pake baju aku buat jalan sama dia?" tawar Aisyah dengan senang hati.

 

Raya tersenyum, "Aahh makasih ayang aku baik banget sih, nanti aku ke rumah kamu yah," katanya sumringah.

 

"Gimana ceritanya sih Ray, kok kamu bisa deket sama Rafael? Hebat loh kamu bisa luluhin hati sedingin batu es itu," tukas Hawa memuji Raya.

 

Raya emang cantik, dia selalu tampil natural dan berpakaian sederhana namun enak dipandang jadi siapapun yang melihatnya pasti akan suka, cuma satu kekurangan Raya yaitu Lola jika diajak ngomong pasti telat terus responnya padahal itu penting.

 

Dan mengenai pertemuan Raya sama Rafael dia memang belum cerita kepada sahabatnya ini dia sangat malu dan belum siap untuk cerita kata dia tunggu waktu yang tepat.

 

Raya menggaruk tengkuknya pelan. Ia tersenyum kikuk melihat tatapan tiga sahabatnya yang penuh rasa ingin tahu. Sebenarnya ia belum ingin bercerita panjang, tapi sepertinya tidak mungkin menghindar.

 

“Sebenernya… aku ketemu Rafael itu pas acara lomba antar sekolah bulan lalu,” ucap Raya akhirnya. “Yang di aula kota itu.”

 

“Ohhh, yang kamu jadi panitia konsumsi itu?” Aisyah mengangguk, baru teringat.

 

Raya mengiyakan. “Iya. Waktu itu aku lagi bawa dus minuman ke belakang aula, terus hampir jatuh. Rafael tiba-tiba nolongin.”

 

Fatimah langsung menyeringai. “Fix, itu takdir.”

 

“Enggak juga,” sangkal Raya cepat. “Dia cuma kebetulan lewat.”

 

“Tapi dari sekian banyak cowok, kenapa dia yang nolong?” Hawa mengangkat alisnya.

 

Raya diam sesaat, lalu berkata pelan, “Abis itu kami sempat ngobrol dikit. Soal sekolah, soal lomba. Terus ya… udah.”

 

“Udah?” Fatimah mendengus. “Mana mungkin cowok kayak Rafael ngajak kamu pergi cuma karena ngobrol dikit.”

 

Raya tersenyum kecil. “Beberapa hari setelah lomba, dia follow aku di Instagram. Terus kadang bales story. Nanya PR, nanya tugas.”

 

Aisyah menepuk tangan kecil. “Lucu banget sih fase-fase gini.”

 

Raya tertawa lirih. “Makanya aku bingung. Ini cuma temenan atau apaan.”

 

Hawa yang sejak tadi diam akhirnya bersuara, “Ray, kamu seneng nggak sih kalau chat sama dia?”

 

Raya terdiam. Pertanyaan itu sederhana, tapi membuatnya berpikir. Ia menunduk, lalu mengangguk pelan. “Seneng… tapi juga takut.”

 

“Takut kenapa?” tanya Aisyah lembut.

 

“Takut kegeeran,” jawab Raya jujur. “Takut salah nangkep.” Tiba-tiba dia terdiam, ada sesuatu yang ingin dia ceritakan kepada para sahabatnya. 

 

“Gaes, au mau jujur,” ucap Raya akhirnya, suaranya pelan tapi serius. “Aku sebenarnya bingung sama perasaanku sendiri.”

 

Aisyah mendekat lalu duduk di sampingnya. “Bingung kenapa, Ray?”

 

Raya menunduk, menatap lantai. “Aku seneng ngobrol sama Rafael. Aku nyaman. Tapi setiap kali aku ngerasa seneng, kepalaku langsung penuh sama rasa takut.”

 

“Takut apa?” tanya Hawa lembut.

 

Raya menarik napas panjang. “Dia non muslim.”

 

Ucapan itu membuat suasana hening sejenak. Tidak ada yang terkejut, tapi semua paham betul arti kalimat itu bagi Raya.

 

“Aku bukan masalahin sekarang,” lanjut Raya cepat, seolah takut disalahpahami. “Kami juga belum pacaran atau apa. Tapi aku mikir jauh ke depan.”

 

Fatimah mengangguk pelan, kali ini tanpa bercanda. “Kamu mikir ujungnya?”

 

“Iya,” jawab Raya lirih. “Aku takut kalau aku keterusan, nanti malah makin sakit. Takut ujungnya harus berpisah.”

 

Aisyah menggenggam tangan Raya. “Kamu takut karena kamu serius sama prinsip kamu.”

 

Raya mengangguk. “Aku diajarin dari kecil buat jaga perasaan, bukan cuma sekarang tapi juga masa depan. Aku nggak mau main-main.”

 

Hawa menatap Raya dengan mata penuh empati. “Perasaan kamu itu wajar, Ray. Apalagi kita masih sekolah, masih panjang jalannya.”

 

Raya menghela napas berat. “Makanya aku bingung. Aku nggak mau nyakitin dia. Tapi aku juga nggak mau nyakitin diri sendiri.”

 

Fatimah bersandar ke sandaran kursi. “Jujur ya, Ray. Aku salut. Banyak orang milih seneng sekarang tanpa mikir nanti.”

 

Raya tersenyum tipis. “Tapi susah, Mah. Perasaan tuh nggak bisa disuruh berhenti.”

 

Aisyah mengangguk. “Bener. Tapi perasaan bisa diarahkan.”

 

Hening kembali menyelimuti kamar itu. Hanya suara kipas angin yang berputar pelan.

 

“Aku juga takut,” lanjut Raya, suaranya hampir berbisik. “Kalau aku terlalu dekat, aku jadi berharap. Padahal aku tahu harapan itu bisa jadi luka.”

 

Hawa menepuk pundaknya. “Kamu nggak sendirian. Kita ada.”

 

Fatimah tersenyum lembut. “Dan kamu nggak harus mutusin apa-apa sekarang.”

 

Raya mengangkat wajahnya. “Iya ya?”

 

“Iya,” jawab Aisyah mantap. “Kamu masih harus lanjut kuliah. Fokus kamu sekarang itu kejar mimpi dan jadi versi terbaik dari diri kamu.”

 

Raya terdiam, lalu mengangguk pelan. Percakapan mereka terhenti ketika ponsel Raya bergetar. Nama Rafael muncul di layar. Raya refleks menutup layar itu cepat-cepat, wajahnya langsung memerah.

 

“ITU DIA YA?” teriak Fatimah setengah berbisik.

 

Raya mengangguk gugup. “Aku belum jawab.”

 

Aisyah menarik ponsel Raya dengan lembut. “Sini aku bantuin jawab.”

 

“JANGAN!” Raya langsung merebut kembali. “Aku bisa sendiri.” Ia membaca ulang pesan cowok itu 

 

*Rafael 

Ray, besok sore kamu free nggak? Aku mau ngajak kamu ke tempat yang tenang, nggak rame.

 

Raya menggigit bibir. “Tenang tapi nggak rame tuh maksudnya apa sih?”

 

“Yang jelas bukan warung seblak pinggir jalan,” jawab Fatimah santai.

 

“Bisa jadi kafe kecil,” sambung Hawa. “Atau taman.”

 

Aisyah menepuk pundak Raya. “Jawab aja jujur, bilang kamu free tapi jangan berlebihan.”

 

Raya mengangguk, lalu mengetik dengan hati-hati.

 

*Raya 

InsyaAllah free. Tapi aku nggak biasa pergi ke tempat yang terlalu fancy.

 

Beberapa detik kemudian, balasan masuk.

 

*Rafael 

Tenang aja, aku juga nggak suka tempat rame dan ribet.

 

Raya tersenyum tanpa sadar, membuat Fatimah dan Aisyah tersenyum memandang wajah Raya yang tampak bahagia tidak seperti biasanya.

 

“CIEEE,” sahut ketiganya kompak.

 

Malam itu, Raya pulang ke rumah dengan perasaan campur aduk. Senang, gugup dan takut dalam waktu yang sama. Ia berbaring menatap langit-langit kamarnya, pikirannya dipenuhi pertanyaan yang tak henti berdatangan.

 

Ia sadar betul, Rafael berbeda. Bukan hanya karena sikapnya, tapi juga karena keyakinan mereka. Raya tidak ingin melangkah terlalu jauh tanpa arah. Ia perempuan yang memegang prinsip, dan ia tahu, perasaan tanpa batas bisa melukai banyak hal.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!