Liburan di Dunia Fantasi

Persiapan Kompetisi Antar Nara

“Gimana kalau kita buktiin ke sungai aja,” Daisy tersenyum kepada Rikma.

“Nanti sore aja. Perlombaannya tinggal dua hari lagi, tolong bantu aku,” kata Rikma.

“Lomba apa dan bantu ngapain? Aku gak bisa gelud,” tanya Daisy.

“Ikut aja.” Rikma menarik tangan Daisy sedikit memaksa.

Daisy menuruti ajakan dari Rikma walaupun tak tahu apa yang akan dilakukan anak narasega itu. Kaki melangkah menyesuaikan kecepatan Rikma agar ubuhnya tak tersakiti. Mau bertanya juga ia tak sempat.

Setelah melewati beberapa ruangan, mereka tiba di sebuah gudang. Di sana terdapat berbagai jenis benda serta arena yang cocok untuk latihan ketangkasan gadis narasega.

“Akyu ngapain?” Daisy menunjuk pada diri sendiri.

“Duduk di situ dan lihat dulu.” Kedua kaki Rikma ditekuk dengan sudut tertentu. Sejumlah energi dipusatkan pada kedua telapak kaki. Sebuah hentakan dilakukan, energi yang keluar menciptakan gaya pantul sehingga dia bisa melompat sangat jauh dan tinggi. Rikma melakukan berkali-kali sehingga bisa melewati trek yang begitu terlihat sulit menjadi seperti mudah. Dia mendarat sempurna di tempat semula. “Gimana?”

Daisy memberikan tepuk tangan, “Mbak hebat juga. Pi, akyu ngapain?”

“Lempar bola itu ke mari.” Rikma mengeluarkan satu cakar tangan kiri dan mengisyaratkan untuk melemparkan sesuatu kepadanya.

“Gini?” Daisy melemparkan bola dengan penuh kelembutan sehingga bola itu tak sampai ke tempat Rikma.

“Sy, yang serius dong. Kamu nih ngapain?” Rikma menepuk jidatnya sendiri.

“Akyu akut Kakak akit, hehehe,” tawa kecil Daisy.

“Nggak bakalan, justru harus keras dan cepat. Kalau begini terus, aku bisa kalah.”

“Baik, Kak. Akyu serius mulai kini.” Daisy mengambil beberapa bola dan melemparkan kepada Rikma sekuat tenaga.

Satu bola terbang ke wajah Rikma. Gadis narasega itu dengan mudah menghindarinya. Tak hanya satu bola saja, tetapi beberapa bola yang dilemparkan Daisy dengan mudah dilewati. Bahkan dia menyemparkan diri untuk membelah bola berikutnya dengan segala cakar yang dimiliki. Tangan kanan mencengkeram bola terakhir yang memecahkannya hanya dengan satu tangan saja.

Bola dikumpulkan lagi dan dilemparkan ke Rikma. Namun Daisy tak diam di tempat saja. Gadis itu terus bergerak mendekat sambil mengambil bola tak terjatuh dan tak sempat tertusuk cakar narasega.

Berlatih begitu lama membuat tenaga kedua gadis beda spesies terkuras banyak. Mereka beristirahat sambil memandangi langit-langit berhiaskan jaring hewan kecil.

“Kak, lusa ada lomba apa?” Daisy menoleh pada Rikma yang berada di samping kiri.

“Ketangkasan antar nara. Siapa nara yang terhebat maka berhak mendapatkan hadiah dan berkesempatan menjadi penjaga pulau ini. Satu jenis nara cuma boleh ngirim satu saja. Kebetulan aku yang terpilih untuk kategori anak-anak.” Rikma menegakkan badan sambil memandang ke Daisy yang mengeluarkan banyak air dari pori-pori tubuh. “Kamu sakit?”

“Gak kok. Ni cuma keringat aja,” Anak manusia itu mengusap air di kening.

“Rikma!” suara keras dari sang ibu memanggil anak narasega itu. Gadis yang baru selesai beristirahat itu berlari ke sumber suara dan menemui sang ibu.

“Bu, ada apa?” tanya Rikma.

“Ada apa ada apa? Kamu tak lihat lantai yang kotor ini? Calon juara pulau harus bersih.” Sang ibu menghentakkan sapu ke lantai.

“Maaf, aku lupa,” kata Rikma sambil menundukkan kepala.

Satu di tangan sang ibu berpindah ke tangan anak. Rikma menggerakkan ujung sapu untuk menyingkirkan benda yang ada di lantai itu.

“Kak, akyu bantu ya,” Daisy yang baru saja tiba menyodorkan tangan kanan.

“Apa kamu nggak keberatan? Ini murni kesalahanku,” tanya Rikma.

“Gak papa. Nanti kan cepet selesai dan kita bisa lama di sungai,” jawab Daisy.

“Ya udah.” Rikma mengambil sapu lain dan diberikan kepada Daisy. Mereka membersihkan lantai secara bersama.

Sesuai dengan janji yang telah dibuat, Daisy diantar ke sebuah sungai yang agak jauh dari tempat pemukiman narasega. Bukan sungai yang pertama di datangi Daisy, melainkan sungai lain yang beraliran tenang sejauh beberapa kilometer dengan lebar lebih dari dua puluh meter. Di tepi sungai itu juga tumbuh pohon besar yang menakjubkan.

Daisy berada di bawah salah satu pohon berbuah ungu. Ujung pakaian ditarik ke atas, tetapi dibatalkan karena dia melihat sosok makhluk lain yang bergender laki-laki. Kedua tangan direntangkan dan ia menoleh ke Rikma, “Kak, liat nih.”

“Kau berenang dengan pakaian seperti itu? Pikir dikitlah, Adinda,” ejek Rikma.

“Gak masalah.” Daisy meluruskan tangan ke depan atas dan segera masuk ke dalam sungai.

Air yang menyentuh kulit terasa sangat menyegarkan walaupun suhu masih normal. Segala kelebihan panas di dalam tubuh sirna seketika. Daisy menggerakkan kedua tangan dan kaki begitu lincah hiingga bisa mendorong tubuh melewati aliran air yang tenang. Pakaian panjang nan ribet tak menghalangi manuver gerakan nan indah.

“Ha!” mulut Rikma terbuka lebar memperlihatkan segala taring berujung seperti belati. Mata diusap beberapa kali memastikan jika penglihatannya masih baik-baik saja. “Kau jenis duyung atau apa?”

“Doi kin duyung.” Daisy melompat sambil menunjuk ke Rikma.

“Aku narasega sejak lahir lah, kau ini ada-ada aja.” Rikma duduk menggerakkan kakinya di tepi sungai.

“Kan Kakak, pi tuh.” Daisy menggerakkan kedua kaki dan tangan sehingga bisa melompat di atas permukaan air.

“Gadis kecil, kau salah. Aku bukan duyung tetapi minagiri, namaku Gusti.” Seorang berambut merah duduk di sebelah Rikma. Kedua kaki yang berbentuk seperti dayung bercakar digerakkan seperti Rikma tetapi menimbulkan gelombang yang lebih besar.

“Wa!” Rikma terkejut melihat seseorang bersisik besar di dekatnya. Keseimbangan hilang dan dia masuk ke dalam air. Entah kenapa dia tak tenggelam walaupun tak bisa berenang.

“Agiri-iri? Anda seperti seorang kakek?” Daisy mendekat bermaksud menolong narasega yang masuk ke dalam air. Malah ia terkejut ketika melihat tubuh Rikma terangkat oleh air dan mendarat di tepi sungai. “Tuh?” tunjuknya.

“Pengguna aura unsur air. Siapa yang bisa menggunakan unsur ini maka akan bisa mengarahkan air ke tempat sesuai dengan yang dimau. Sangat jarang yang bisa ini, bahkan untuk kalangan nara air.” Nara yang sudah beranjak tua tersebut menggerakkan tangan yang menyala sehingga air mengalir sesuai dengan yang dimau.

“Aura unsur air? Apaan tuh?” tanya Daisy.

“Setiap benda mengikuti sesuatu yang disebut dengan aura. Nara mengikuti aura yang terpancarkan pada lawan jenis atau yang dianggap bisa memimpin dan kuat. Ini berlaku padamu, nara manusia,” jawab sang kakek.

“Nara apa pula?” Walaupun bingung, Daisy tertarik pada perkataan minagiri.

“Nara tuh aku, kamu dan kita semua yang memiliki akal dan kecerdasaan. Selain itu disebut hewan dan tumbuhan.” Rikma menggerakkan tubuh sehingga air berpencar dari bulu nan lebat. Kaki kembali bergerak mendekat pada sang kakek.

“Berarti kita semua manusia? Kok gak ada yang bilang kalau ada manusia macam kakek?” tanya Daisy.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!