Liburan di Dunia Fantasi
Tabir di Balik Sungai
Tubuh gadis muda masuk ke dalam sungai berair jernih. Gerakan kaki nan indah mengingatkan pada makhluk air bernama duyung. Daisy menenggelamkan tubuh ke dasar sungai menghindari derasnya kejatuhan air dari sebuah tebing.
Kepala sempat muncul dipermukaan saat Daisy berada di balik air terjun. Segenap udara dimasukkan ke dalam paru-paru. Persiapan telah selesai, ia kembali menenggelamkan tubuh.
Di dalam terowongan air, Daisy menggerakkan kedua tangan dan kaki mendorong tubuh lebih cepat. Dinding gua bukanlah sebuah halangan, justru itulah mempercepat gerak laju di dalam ruang nan sempit. Cahaya dari tongkat pemberian merikusuma turut membantu menerangi kegelapan di tempat itu.
Sebuah lorong menuju ke atas, Daisy penasaran atas yang ada di atas sana. Ia beranjak merambat naik dengan penuh kehati-hatian. Tongkat cahaya diangkat, tempat itu langsung terang benderang. Daisy semakin mempercepat gerakan tubuh.
Tempat yang disangka daratan terbuka ternyata gua yang dipenuhi kristal berbagai warna, bentuk serta ukuran. Ia sempat shock melihat itu semua. Tubuh dikeluarkan dari air, Daisy memandang ke atas. “Kalau nih punya akyu semua, pasti Tante suka. Pi, Om pasti gak ngizinin,” katanya pada diri sendiri.
Tongkat cahaya diarahkan ke tempat lain. Terlihat sebuah benda yang berbentuk berlainan disertai sebuah tulisan aksara asing. Daisy berjalan mendekat dan mengambil buku tersebut.
“Insian pasti bisa bantu akyu. Walau akyu juga gak bisa ngarep banget sih dari orang lemah macam doi,” katanya.
Niat mengambil buku diurungkan, Daisy mengarahkan pelita ke tempat lain. Sebuah kristal berbentuk bulat memiliki lensa di bagian tengah. Sedangkan di tepi terdapat kilau yang berbentuk sisik. Bagian lain dilihat, ia terkejut dan melemparkan tongkat cahaya. “Naga!” teriaknya ketakutan.
Daisy langsung masuk ke dalam lubang berair. Kedua tangan dan kaki begitu cepat memaksakan tubuh agar melaju lebih cepat. Keadaan gelap tak ditakuti, asal bisa keluar dari tempat yang berbahaya itu.
Arus yang bergerak serah dengan gadis kecil itu membantunya melewati sebuah terowongan kegelapan. Secercah cahaya dilihat, Daisy semakin melajukan tubuh di dalam air. Ia melompat bersamaan dengan air yang terpancar ke udara. Pendaratan dilakukan tepat di tepi sebuah sungai dengan indah.
Vegetasi di tempat itu berbeda dari tempat merikusuma bermukim. Berbagai jenis bunga berukuran raksasa dengan corak memikat hati tumbuh dengan subur. Sebagian ada yang sudah layu, sebagian lain masih berupa kuncup.
Salah satu bunga baru mekar, Daisy berlari ke tempat itu. Akar penjebak diinjak, dia masuk ke dalam sebuah perangkap. “Tolong!”teriaknya sekencang mungkin.
Tempat yang begitu strategis didatangi banyak hewan yang belum pernah dilihat Daisy. Sebagaian dari mereka menari di udara, sebagian yang lain berjalan di atas air. Ada juga yang menarik di antara pepohonan. Namun tak ada satu pun dari mereka yang peduli terhadap Daisy walaupun air mata terus mengalir tiada henti.
“Sring!” sesuatu telah memotong tumbuhan penjebat Daisy. Gerakan senjata nan cepat itu menghancurkan pengekang tubuh anak manusia hingga gadis itu bisa terbebas.
“Terima kasih,” Daisy memandang ke depan. Sesosok makhluk berbulu perak perak berdiri di depannya. Mata merah menyala dipadukan dengan gigi sepanjang jari orang dewasa menambah kesan mengerikan hewan berkepala mirip dengan serigala itu.
Daisy shock, tubuhnya tidak bisa digerakkan kaki. Hanya air mata menjadi penanda kesedihan sambil berkata, “Tolong! Jangan makan aku!”
“Makan kau? Seperti di sini tidak ada makanan saja. Kenapa duyung sepertimu memiliki dua kaki?” Makhluk seperti serigala itu berkeliling mengamati setiap detail gadis berambut hitam.
“Anak manusia? Bagaimana mungkin bisa ke sini?” Makhluk serupa berbulu abu-abu melompat dari atas sebuah pohon. “Tenang Nak, kita bukan pemangsa manusia. Siapa namamu?”
“Nama-ku Da-isy, huhuhu.” Air mata di pipi gadis kering terus mengalir deras. Usapan tangan tak bisa menghentikan aliran itu.
“Manusia? Bercanda kamu Garis. Gak mungkin ada makhluk terlicik ada di sini. Mari kita bunuh aja.” Makhluk berbulu perak mengeluarkan segala carakr serta memamerkan gigi yang menyeramkan.
“Tidak, dia masih anak-anak. Jika jalannya benar maka akan menjadi penyelamat. Aku dengar dari sepupuku, dia bercerita jika anaknya diselamatkan manusia.” Garis menghadang laju sahabatnya.
“Baiklah, aku percaya padamu. Namaku Wiyana.” makhluk berbulu lebih gelap memilih membalikkan badan.
Garis menjulurkan tangan tersembunyi cakar tajam. Berkali dia memberikan sebuah senyuman tanpa gigi tetapi tak bisa membujuk anak manusia. “Manis, apa kamu takut narasega? Kami tidak akan menyakitimu. Kami pemakan tumbuhan dan hewan laut.”
Daisy bisa tenang terhadap makhluk asing yang menyeramkan itu. Terlebih lagi setelah dia mendengarkan penjelasan dari makhluk itu. Dia memberanikan diri menjabat dengan tangan kanan, bahkan memeluk makhluk itu.
Sempat terjadi pertengkaran antara kedua narasega tentang Daisy. Mereka saling beradu argumentasi tentang manusia. Namun akhirnya Wiyana mau mengalah setelah mendengar kisah kebaikan manusia yang lain. Keduanya membawa Daisy ke sebuah rumah yang tak jauh dari sungai itu.
Tidak hanya diberi makanan saja, Daisy juga diberikan aneka ragam buah yang sangat mengagumkan. Ia juga ditempatkan pada sebuah kasur yang lembut, entah terbuat dari apa.
“Sayang, lain kali jangan keluyuran di hutan. Bahaya kalau nemuin hewan garang,” seorang narasega beranting menurunkan minuman berwarna putih di depan Daisy.
“Akyu gak ndiri kok. Tiga hari lalu akyu pisah ama Oom akyu sebab diserang macan.” Daisy meneguk minuman itu. Sensasi rasa manis dan kenikmatan membuatnya langsung suka dan menghabiskan dalam waktu singkat.
“Oh, gitu. Macan itu apa?” Sang ibu dari narasega berbulu hitam dan putih kebingungan.
“Macan tuh hewan ganas raja hutan. Tubuhnya loreng-loreng gak karuan.”
“Aku bingung cerita kamu.”
Setelah mendapat perjamuan, Daisy di sebuah tempat dipertemukan dengan anak narasega yang seusia dengannya. Mereka berdua saling bertatap mata dengan penuh kecurigaan. Namun keduanya bisa saling akur setelah diperkenalkan satu sama lain.
“Daisy, kamu bisa begini gak?” Si anak narasega memanjat dinding sangat cepat dan melompat sambil menebaskan cakar. Sejumlah buah pun tergores dan jatuh di lantai tak jauh dari tempat pendaratan.
Tepuk tangan dilakukan Daisy sebagai ungkapan kekaguman atas yang dilakukan teman barunya itu. “Amu hebat juga, Kak Rikma.”
“Sekarang giliranmu,” Rikma menunjuk ke Daisy.
“Akyu gak punya cakar macam amu. Kin butuh waktu enam bulan, hehehe,” Anak manusia menunjukkan jari berkuku pendek.
“Kamu bisa apa? Penasaran aku dengan manusia.” Ritma mengambil buah yang tercecer di lantai.
“Renang gaya bebas. Akyu nomor atu loh, di desa akyu.” Daisy mengambil salah satu buah dan memasukkan ke dalam mulut.
“Masak sih? Gak percaya aku. Mana mungkin makhluk sepertimu bisa berenang kaya duyung?” Rikma melemparkan buah ke udara dan menebaskan cakar beberapa kali.