Liburan di Dunia Fantasi
Ada Apa di Dalam Sungai
“Nggak apa-apa, kakimu saja masih sakit. Kami nggak mungkin meracuni orang yang kami tolong.” Rasti mengumpulkan pakaian yang dibuang Daisy.
Daisy menggeserkan tubuh hingga bisa menjangkau makanan. Tangan kiri mengambil sajian di atas meja dan langsung dimasukkan ke dalam mulut. “Huek, paan nih?” Dia membuang benda berbentuk bulat yang baru masuk ke dalam mulut.
“Buah getir, kesukaan merikusuma. Kalau tidak suka jangan dimakan, aku tak tahu selera manusia.” Rasti terbang ke kamar lain yang lantainya sejajar dengan lantai tempat Daisy duduk.
Dua hari dilalui Daisy di tempat dengan ketinggian lebih dari tiga puluh meter di atas permukaan tanah. Dia sudah bisa berjalan mengelilingi rumah. Namun Daisy tak bisa meninggalkan tempat itu walaupun keadaan sepi tanpa ada penghuni yang lain.
Di tepi pohon, dia duduk sendiri. Pandangan tak berani di arahkan ke bawah, Daisy sangat takut akan ketinggian. Terlebih lagi ingatan saat bergelinding menuruni bukit masih belum bisa dilupakan. Tangan menggenggam erat di saat angin besar berhembus.
Seorang merikusuma terbang dengan begitu indah di hadapan anak perempuan manusia. Keempat sayap berkepal sehingga gadis yang beranjak dewasa itu menari di udara. “Adinda, kau sedang apa?’ tanyanya.
“Kak Rin, jangan panggil akyu adinda. Akyu bukan adik amu.” Daisy menjauh dari tepi pohon.
“Aku senang kamu jadi adik perempuanku. Kaulah yang paling cantik di antara semua adikku.” Gadis bernama Rinaya terbang ke tempat Daisy.
Anak perempuan yang tidak bisa terbang memandang ke wajah si penerbang yang baru saja hinggap di sana. “Kak, mau antar akyu ke sungai tuk mandi? Soalnya akyu gak bisa memanjat,” pintanya.
“Tentu.” Sang merikusuma memegang erat tubuh Daisy. Keempat sayap mengegak dengan sangat kuat, kedua orang itu melayang di sela ranting pepohonan.
Rinaya membawa Daisy ke sebuah air terjun. Tak hanya indah secara pemandangan di tengah vegetasi hutan berwarna cerah, tetapi juga bebatuan yang menghiasi tempat tersebut. Terpaan pantulan cahaya mentari semakin memperindah air yang jauh dari atas. Di tambah lagi banyak makhluk eksotis yang turun bermain di atas permukaan air. Gadis yang mengenakan pakaian bawah panjang itu menurunkan Daisy di tepi sungai dekat air terjun.
“Kak, makasih udah bawa akyu ke mari.” Daisy melepaskan pakaian luar. Anak perempuan itu langsung masuk ke dalam air.
“Sama-sama.” Rinaya hanya membasuh tubuh di tepi sungai.
Daisy berenang begitu lincah di dalam sungai berair jerih. Tubuh setinggi empat kaki menyelam sangat dalam hingga bisa menggapai dasar sungai. Berbagai makhluk indah penghuni sungai dilihatnya. Bahkan dia sempat mencabut salah satu vegetasi yang ada di dalam sana. Daisy menepi dengan membawa bagian tanaman air itu. “Nih, bisa dimakan gak?” tanyanya.
“Kamu suka makanan duyung ya, hahaha.” Rinaya menggerakkan kedua kaki yang masuk ke dalam air.
“Duyung? Dimana rumahnya?” Daisy bersemangat dan berenang lebih cepat lagi. Beberapa kawanan pejalan sungai dibubarkan.
“Tuh, di balik air terjun.” Jari Rinaya menunjuk pada aliran air yang jatuh dari tebing.
Daisy langsung menenggelamgkan seluruh bagian tubuh. Kaki bergerak cepat mendorong tubuh ke depan, tangan mengarah seatu dengan kemauanya. Keadaan air yang jernih membuatnya bisa memandang hingga jauh. Dia mendorong tubuh sampai ke belakang air jatuh dari tepi.
Sebuah akar menjadi tempat bersandar sementara. Kepala muncul di permukaan menghirup udara sebanyak mungkin. Daisy kembali masuk ke dalam air. Sebuah lubang besar dimasuk secepat mungkin. Tangan meraba dinding batuan mempercepat gerakan tubuh.
Keadaan di dalam terowongan air semakin dalam semakin gelap. Ketakutan akan makhluk tak terduga membuatnya mengurungkan niat. Terlebih lagi tiada keyakinan bisa bertahan menggapai tempat mengambilan udara selanjutnya. Daisy berenang melewati air terjun dan menepi ke tempat sang merikusuma sedang bermain air.
“Kau tadi ngapain saja? Kok lama amat?” tanya gadis bersayap empat.
“Akyu sedang masuk ke gua. Pi di sana gelap dan akyu takut, hehehe.” Anak perempuan itu mendaratkan tubuh yang sudah lama asuk ke dalam air. Kepala digerakkan, butiran air keluar dari sela rambut.
“Kau temukan duyung?” Rinaya membersihkan sayap yang terkena cipratan air.
“Gak, akyu takutnya kalau itu rumah naga. Sebab tuh akyu balik aja.”
“Hahaha.”
Di malam hari, pemandangan hutan malah semakin indah. Jutaaan cahaya terpancarkan darri pohon yang tumbuh menjulang tinggi. Daisy duduk menyaksikan pemandangan yang tak mungkin bisa ditemui di tempat asalnya. Dia duduk di tepi dahan pohon sambil menggoyangkan kaki di udara. Kedua tangan melindar pada sebuah pegangan.
Di belakang gadis itu, muncul Rasti sang ibu bersayap empat. Kedua antena yang berada di kepala menyala sebagai sebuah bantuan dalam melakukan aktifitas di malam yang bermandikan cahaya. Si anak manusia didekatinya. “Sayang, kamu sedang apa?” tanyanya.
“Bi, akyu kangen ama Om dan Tante. Empat hari lalu kami masih bersama. Karang kita dah gak tau atu ama lain.” Tak terasa air mata berlinang membasahi pipi Daisy.
Rasti terbang di hadapan gadis yang sedang menangis. Keempat jari membersihkan air yang berada di wajah Daisy. “Besok kita cari lagi,” katanya.
Daisy mendorong tubuh menjauhi tepi dahan sambil menggerakkan kedua tangan menjauh dari pegangan. “Baik, Bi.”
“Tadi kakakmu bilang kamu pandai berenang seperti duyung. Apa kau mau bertemu duyung?” sang ibu merikusuma mendarat di dekat Daisy.
“Ntu aja. Akyu tadi tuh nemui gua pi gelap. Akyu takut ada naga.” Daisy melenggangkan kaki menuju ke akses masuk ke rumah.
“Hahaha, gak ada naga di sini. Adanya di laut selatan. Apa mau kami pinjamin tingkat cahaya?” Rasti ikut memasuki rumah bersama dengan Daisy. Pintu di tutup rapat-rapat kala angin dingin datang menerjang.
Daisy duduk di kursi panjang. Segelas air bercahaya diminum. “Trus, pan kyu balikin?”
“Gak usah dibalikin, kami bisa buat yang baru. Anggap saja sebagai bantuan dari kami,” Sang ibu merikusuma mengelus rambut anak manusia satu-satunya di sana.
Malam telah berganti dengan pagi. Cahaya dari para merikusuma telah padam tergantikan cahaya mentari yang menghangatkan suasana di dalam hutan nan lebat. Saat itulah para penghuni keluar dari sarang masing-masing.
Disaksikan segenap kerabat Rasti, Daisy berdiri di tepi sungai dengan mengenakan pakaian yang dibawa dari dunia asal. Rok mini hampir menutupi bagian lutut, baju terlengan pendek dengan penutup kepala dibuka menjadi atribut menutupi kulit mulus nan ranum. Sebuah tongkat pemancar cahaya berada di tangan kiri. Segenap makanan pun tersedia di tas kecil yang berada di punggung.
“Semuanya, terima kasih telah menolongku selama ini. Aku tak akan melupakan kebaikan kalian semua,” ucapnya sambil meneteskan mata.
“Daisy, jika ada kesempatan mampirlah ke sini. Senang bisa berjumpa denganmu.” Rasti melampaikan tangan sebagai tanda perpisahan. Merikusuma yang lain pun mengikutinya.
Daisy membalas lambaian dengan cara yang sama sebelum dia menjadtuhkan diri ke dalam sungai.