Liburan di Dunia Fantasi

Mencari manusia 3

Air yang berada di bawahya telapak kaki Daisy berangsur menghilang dan lenyap di dalam tanah. Hanya bagian di kaki yang terluka agar tubuh bisa berdiri tegak tanpa bantuan. Tangan diturunkan hingga menyentyh tanah, air pun dikeluar di sekelilingnya. Daisy mengangkat beberapa orang hanya dengan sebuah gerakan. Ia mempersempit luas permukaan air untuk menghemat tenaga.

“Amu hih gimana?” protes Skyda, anak lelaki yang memakai celana selutut serta kaos berlengan pendek.

“Kalau gak gini kalau gak bakal caya ma akyu,” alasan Daisy.

“Sudahlah, kamu jangan protes aja. Yang dikatakan Daisy itu ada benarnya.” Karina berjalan di atas air. Kuatnya arus yang mengarah ke atas membuatnya Hanya tenggelam beberapa milimeter saja.

Badon ikut wanita dewasa itu berjalan di atas air. Tubuh bagian bawah yang hanya terdiri dari ekor saja bisa mengembang di tempat itu. Kedua mata digosok untuk memperjelas apakah itu mimpi atau bukan. “Baru kali ini aku menemukan pengendali aura sehebat dirimu. Pantas aja kamu sering disebut calon dev,” pujinya.

Air yang membentuk sebuah lingkaran dikendalikan Daisy dari Tengah. Gadis itu membawa rombongan menuruni air terjun secara perlahan. Sebuah pemandangan yang indah pun dilihatnya dari sana. Inilah yang membuat ketahanan energinya sedikit goyah. Namun ia kembali saja dan mengendalikan Aura dengan semestinya sehingga sampai ke bawah dengan aman. Air yang dikendalikannya dibuang jauh, Gadis kecil itu pun berlari ke benda yang berkilau. Sayang, Dia lupa kalau Kakinya masih sakit. Daisy pun terjatuh di sana.

Benda yang berkilauan indah dari atas hanyalah sebuah bongkahan batu kecil yang warnanya mulai menghilang. Daisy memukulkan tangannya ke benda itu beberapa kali. Batuan kecil yang tajam menyentuh kulitnya, Tangan pun terluka. “Argh!” teriaknya.

“Kamu kecewa ya, Emang ini tempat pembuangan batu yang dipotong. Dari atas kelihatan indah Dan membuat siapa saja ingin memilikinya.” Badon mengangkat Gadis itu dan kembali memberikan kepada Karina.

“Ngapain Om gak bilang sejak tadi?” tanya Daisy.

“Om sudah bilang sejak tadi. Amu aja gak ingat,” kata Skyda.

“Kapan? Aku aja gak ingat,” bantah Daisy.

“Tadi, amu aja payah soal ingatan, Sisi.” Skyda berpegang teguh dengan pendiriannya.

“Hei, akyu bukan Sisi pi Daisy. Ingat ya, Sisi gak ada di mari. Sisi tuh kami jika berdua, Daisy ama Insian.” Mata Daisy yang berwarna merah semakin menyala.

“Anak-anak, kalian jangan kelahi. Masalah sepele itu gak perlu diperbesar. Sekarang cari cara naik ke atas.” Karina berbalik arah agar kedua anak itu tak saling bertatap mata dan berhenti bertengkar.

Di seberang dinding dasar jurang, tak ada air yang mengalir dari atas. Di sana hanya ada sebuah tanah yang berdiri tegak.

“Waduh, akyu gak kuat kalau ngangkat sampai ke atas. Gimana nih?” Daisy kebingungan menghadapi situasi di sana.

“Mudah aja, amu ngamuk.” Skyda menarik kaki Daisy yang terluka.

Rasa perih membuat gadis itu menendang beberapa kali. Rasa tak hilang juga, ia mulai meneteskan air mata. Beruntung, Karina memisahkannya dengan Skyda. Aura yang sudah berada di tangan tertahankan.

“Bukan begitu, Sayang. Yang ada kita semua akan tenggelam. Kita pikirkan cara untuk naik ke atas saja.

“Jangan dipikirkan saja, ayo kita lakukan sekarang. Gunakan pisaumu untuk mendaki.” Badon mengambil anak laki-laki manusia. Cakar di kedua tangannya mencengkeram erat tanah di sana. Dia mulai merangkat naik.

“Tunggu dulu, aku gak bisa manjat tebing. Gak ada cara lain?” tanya Karina.

“Aku tak pernah menggendong istriku sendiri, malah aku harus menggendong mantan istri orang. Naiklah ke tubuhku,” tawar Badon.

“Gimana kalau akyu turun aja, Bu. Akyu masih bisa ngendaliin air tuk naik lewat sana.” Gadis yang berada di gendongan Karina menunjuk pada sebuah tebing yang paling rendah. Memang jaraknya agak jauh tetapi lebih mudah untuk di daki.

Rombongan yang dipimpin Badon menelusuri sungai kecil menuju ke tebing terdekat. Badon sang pemimpin menggunakan cakr untuk naik sambil menggendong Karina. Tekstur tanah yang ideal membuatnya bisa mendaki dengan kecepatan tinggi. Hanya butuh waktu singkat baginya untuk sampai ke atas sana.

Daisy telah bersiap dengan air yang membentuk sebuah pusaran. Ia mengendalikan aura untuk membuat arus kuat sehingga bisa menerbangkan Skyda. Tak lupa juga ia memusatkan pusaran air hingga tinggi. Daisy pun hingga menyamai tinggi tempat Badon berdiri.

Energi yang digunakan terlalu banyak. Hal ini membuata aura unsur yang berada di dalam tubuh Daisy goyah. Gadis kecil itu kehilangan ketinggian. Aura unsur air menghilang, pusaran pun pudar. Beruntung Badon masih sempat menangkapnya dengan ukur ekor berwarna merah.

“Huh, hampir aja.” badon menaikkan ekor ke atas dan melepaskan Daisy di tempat yang aman.

Gadis yang sudah kelelahan itu berbaring menghadap ke awan yang menutupi birunya langit. Air matanya keluar dengan pernapasan yang tak teratur.

“Jangan nangis, Sayang. Kami ada untukmu.” Karina menggendong gadis itu pada punggunnya. Kaki dan tangan diatur sedemikian rupa sehingga anak manusia yang dibawanya tidak terjatuh.

Perjalanan yanag harus mereka lalui tak mulus seperti yangg diharapkan. Mereka harus menjadi akar besar yang muncul ke permukaan tanah. Badon naik terlebih dahulu untuk memberitahu jalan yang bisa dilewati.

Mereka telah sampai di puncak tertinggi gundukan tanah itu. Pandangan menjadi luas ke segala arah. Namun, di sana juga terdapat kengerian bagi anak-anak, terutama bagi Daisy dan Skyda yang tak pernah berada di tempat setinggi itu. Tanpa terasa, air hanyat berbau keluar dari dalam tubuh.

“Kau kenapa?” tanya Karina.

“Akyu gak pernah setinggi ini. Gimana kalau jatuh?” tanya Daisy balik.

“Apa yang perlu kau takutkan? Gunakan air biar dirimu gak jatuh. Lagian, tempat nih lembab,” jawab Karian.

Sebuah perkataan yang membuat gadis menjadi lebih waspada. Air yang berada di sekitar dikumpulkan pada telapak tangan kiri serta kaki tanpa alas. Dengan demikian, hatinya menjadi tenang.

Dari ketinggian itu, Badon menemukan sebuah tempat bekas pertarungan. Dia mengajak semua rombongan itu ke sana. Medan dengan jalan terjal pun dilaluinya bersama Karina yang terkenal tangguh. Sedangkan anak-anak tetap di dalam gendongan. Kedua orang itu melompat dari ketinggi sepuluh meter.

“Bu, nih bahaya?” gimana kalau Skyda jatuh?” protes Daisy yang diturunkan di sebuah pohon bekas terkena cakaran.

“jangan khawatirkan itu. Wiwera sepertiku berpengalaman dari menjelah hutan ini.” Badon menyandingkan Skyda dengan Daisy.

Di tengah hutan yang porak poranda itu, terdapat bebrapa senjata yang tergeletak di tanah. Daisy mengambil salah satunya. Bentuk yang tak asing dikenalnya. Itulah anak panah yang pernah diajarkan sang pada sewaktu ia masih kecil. Namun ada senjata lain di sana. “Nih milk capa ya?”

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!