Liburan di Dunia Fantasi

Mencari Manusia 2

“Mau tahu kenapa? Manusia yang bernama Centarian itu sangatlah ganas. Gara-gara dia, dua sayapku hilang.” Raut wajah sang pemilik penginapan berubah begitu menyeramkan dengan telinga berwarna merah menyala.

“Oom akyu tuh. Kapan Bibi temuan ama Om?” tanya Daisy.

“Oh, jadi kau keponakannya.” Kemarahan wanita bersayap dua semakin memuncak. Gadis yang dibawanya dibanting dengan sangat keras.

Terbentur dengan tanah basah menambah rasa sakit yangg diderita Daisy. Gadis kecil itu menangis dengan keras bersamaan munculnya sumber air dari dalam tanah. Pakaian yang berlubang empat yang dikenakan diangkat wanita terdekat, tubuhnya itu terbawa.

Karina berlari mengambil Daisy secara paksa. Perebutan itu membuat pakaian yang dikenakan Daisy robek dan terlepas dari tubuh. Dia melepaskan pakaian luar untuk dikenakan pada anak manusia itu.

“Hei, jangan ikut campur urusan ini,” kata wanita bersayap dengan nada tinggi.

Badon si nara yang memiliki bentuk mirip dengan naga bertangan dua itu menghadang laju wanita bersayap sepasang. “Ingat temanku, ia itu masih anak-anak. Jika mau melawan manusia maka carilah lawan yang pantas. Jangan kau beraninya sama anak-anak,” katanya.

“Cari lawan yang pantas? Ia tuh pengguna aura,” kata wanita bersayap sepasang. Kain robek yang berada di tangannya dibuang.

“Anak-anak tetaplah anak-anak. Jika masalah dewasa, lawanlah yang dewasa. Tetap akan melindungi,” imbuh karina sang rinasa.

“Kalian?” Wanita yang kehilangan sayap itu meruntuhkan kepalanya menghadap ke tanah basah. Sesekali ia memandang dua nara dewasa yang berbeda. Pandangan kembali menghadap ke depan, tetapi ia memalingkan tubuh. “Aku nggak mau lihat wajah kalian lagi. Pergi!” usirnya dengan sangat kasar.

Karina dan rombongan kembali ke kamar masing-masing untuk mengambil benda yang ditinggalkan di sana. Sebuah lemari dibuka wanita berkulit hitam tebal itu, sepasang pakaian dikeluarkan. Ia mengenakan pada tubuh Daisy. Ukurannya sangat pas walau terdapat lubang di punggung gadis kecil itu.

“Makasih Bu, udah mau nolongin akyu. Kalau nggak, akyu tadi udah ngamuk lagi.” Gadis yang menggunakan celana setengah kaki bagian atas itu meruntuhkan tubuh kepada rinasa. Sebuah ranjang digunakan sebagai tempat duduk karena tak tahan berdiri lama.

“Bukan masalah besar. Tapi apakah kau yakin bisa menang melawan orang dewasa?” Karina mendekat kepada gadis kecil itu. Bagian kepala anak manusia diraba, Perhiasan pun dilepas dan dibuangnya. Sebuah pita panjang diikatkan untuk menata rambut gadis yang mengenakan baju tanpa lengan.

“Kata kakek minagiri, aura akyu itu amat bahaya. Sebab itu, akyu kudu bisa ngatur kekuatan.” Daisy berdiri dengan bantuan dari Karina.

“Seperti itu ya, pantes aja kamu disebut calon dev.” Karina menuntun anak manusia itu sampai di depan sebuah kaca. Ia merias wajah gadis itu hingga terlihat lebih cantik.

Dikarenakan hanya membawa barang sedikit, Karina dengan sukarela menggendong Daisy. Ia keluar dari penginapan bersama dengan Badon dan anak manusia lain, Skyda. Namun angka mereka dicegah oleh sang pemilik penginapan.

“Badan, oh salah satu pekerja di sini. Aku memberimu kesempatan untuk bisa kembali bekerja,” Kata wanita berbaju tanpa lengan itu. Rok yang digunakan hanya menutupi ujung kaki sebelah atas saja.

“Maaf, prioritas utama aku sekarang adalah mencari manusia. Ini sudah kesepakatanku dengan istriku. Jika ada kesempatan Maka aku akan hampir ke sini lagi,” tolak Badon.

“Baiklah aku terima keputusanmu. Tapi aku tak bisa menjaminmu bekerja sebagai pengembang lagi di sini,” kata sang pemilik penginapan.

“Anak ini telah menyelamatkan hidupku. Jadi aku akan mengembalikannya kepada manusia. Ini sudah menjadi keputusanku, mohon engkau mengertilah. Jika ini resikonya, silakan cari yang lain.” Badon berjalan menghindari wanita bersayap dua itu.

“Tunggu sebentar,” wanita itu menghadap ke rombongan yang hendak meninggalkan penginapan.

“Apalagi? Takkan saja terus terang dan cepatlah.” Badon menghentikan langkahnya dan berbalik badan ke arah pemilik penginapan.

“Aku menemukan manusia di balik bukit Mataraki. Berhati-hatilah dalam melepaskan anak manusia itu. Tunggulah sebentar, akan kupersiapkan bekal dan senjata untukmu.” Wanita bersayap sepasang itu masih bisa terbang tinggi hingga sampai ke langit-langit. Sebuah kamar yang tak terjamah dimasuki. Sejumlah senjata pun dibawa.

Wanita yang ditunggu rombongan Badon telah kembali. Ia meletakkan barang bawaannya di sebuah meja. Salah satu senjata terbesar dipamerkan, Pedang sepanjang satu setengah meter.

“Untuk apa ini?” Karina memegang sebuah belati.

“Berjaga-jaga jika kalian diserang Manusia. Gunakan kedua anak itu sebagai tameng,” kata sang pemilik penginapan.

“Idemu licik juga. Tapi aku tak mau melakukan itu.” Badan mengambil sebuah pedang sepanjang satu setengah meter. Senjata yang lain pun diberikan kepada Karina. Untuk anak-anak, tidak mendapatkan senjata apapun.

Tak hanya senjata saja, rombongan itu juga diberikan lembaran uang yang menjadi bayaran untuk kerja keras yang dilakukan oleh Badon. Rombongan itu pun keluar dari penginapan.

Badon tetap menjadi pemimpin rombongan untuk membawa kedua anak manusia itu. Ia masih hafal di mana letak bukit Mataraki yang menjadi informasi terakhir tentang manusia. Namun, ia Sedikit lupa jika di sana terdapat sebuah jurang yang menganga lebar. Kedalamannya lebih dari seratus meter tanpa adanya pepohonan yang bisa digunakan untuk turun ke dasarnya. Lebarnya juga tidak bisa dijaungkau oleh lompatan manusia, bahkan sulira si nara yang paling besar.

“Oh indahnya, Nih bukit Taraki?” Gak isi yang berada di gendongan Karina menatap ke bawah. Sebuah pemandangan menakjubkan dengan dihiasi bebatuan warna-warni terasa sedap di mata.

“Bukan, Ini tuh ini tempat pembuangan batu yang tak berguna. Bukitnya ada di seberang sana,” tunjuk Badon pada sebuah gundukan tanah yang tinggi.

“ Ayolah, kita nggak boleh bercanda,” keluh Karina.

“Siapa yang bercanda, memang itu bukitnya. Ayo kita memutar,” ajak lelaki yang berbadan seperti gabungan antara ular dan naga.

“Kalau muter kejauhan Om. Selagi ada air, akyu bisa gerak ke mana aja.” Tangan kanan Daisy menunjuk pada sebuah aliran air kecil.

Gadis kecil itu didekatkan pada saluran air. Karina menurunkannya secara perlahan sehingga Daisy bisa menyentuh permukaan air. Warna yang sedikit kerus tidak menjadi masalah.

Aura yang dikendalikan anak manusia itu menyadap begitu banyak air yang berada di sekitar sana. Ia mengendalikannya sehingga membentuk sebuah pusaran yang sangat besar. Dari si pun berdiri di tengah pusaran itu. Tidak lupa juga air dialirkan pada kaki yang sakit sehingga ia tak terjatuh kalau tiada pegangan sama sekali.

Buahnya pusaran air Badan dan teman-temannya merasa ketakutan. Tangan kiri menyentuh pusaran itu, arusnya terlalu deras. Mereka pun memilih untuk menjauh dari sana.

“Kok mundur sih? Jadi turun ke jurang nggak?” tanya Daisy.

“Sebelumnya, apakah ini aman untuk kami? Wiwera tak ada yang bisa berenaang seperti yang lain,” tanya balik Badon.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!