Liburan di Dunia Fantasi

Penyelamatan 3

Akhirnya Garis sampai juga di sebuah sungai di tengah hutan.Dia segera menurunkan gadis yang dibawanya menuju ke tempat air mengalir. Kedua telapak tangan disatukan untuk menikmati segarnya cairan yang masuk ke dalam tubuh setelah lama berlari melompati pohon.

Antusias besar malah ditunjukkan gadis yang memakai pakaian serba panjang. Ia menyelupkan tangan kanan guna menarik segala cairan yang ada di sana dengan aura unsur yang dihasilkan. Sungai pun kering seketika saat ia membuat sebuah pusaran air.

“Manis, jangan serakah. Sisakan sedikit buat kami,” pinta Saciwa.

“Silahkan,” Daisy mengarahkan air ke mulut Saciwa.

Gadis itu tak lagi walaupun angin semakin dekat. Malah ia memperbesar pusaran air. Sebuah dinding air bening dibentuk untuk menahan terpaan. Badai yang begitu besar pun berhasil ditahannya.

“Sy, kenapa kita menghadapinya? Bukankah kau harus lari?” tanya Saciwa.

“Yang dilakukan Daisy sudah benar. Lari dengan cara begini malah menyusahkan saja. Saciwa, bersiaplah untuk bertarung,” Garis memasang kuda-kuda.

Sang pengguna unsur telah terlihat. Rupanya itu seorang remaja dari nara byaka. Ingatan Daisy pun langsung pulih. Ia mengendalikan air untuk mendekat kepada lelaki itu. “Amu, ngapain ngejar akyu?” tanyanya.

“Kau ynag menyebabkan ini semua. Gara-gara kamu, aku dijauhi teman-temanku.” Sang byaka muda mengamuk dengan mengarahkan angin besar kepada Daisy.

Tembok air yan dibuat Daisy terkikis sedikit demi sedikit akibat hempasan angin itu. Gadis itu langsung menghilangkan air dan bersembunyi di balik sebuah pohon. Air yang tersisa sitembakkan ke arah byaka tetapi meleset.

“Kenapa kau tak ikut menolong kami? Suamiku terjebak di sebuah terowongan,” Saciwa berusaha mengalihkan perhatian sang pengendali angin.

“Bohong!” amarah lelaki itu semakin besar. Ia bergerak cepat mencari Daisy yang dianggap sebagai sumber masalah. Gadis kecil itu sudah ketemu, ia pun menggerakkan anin sebesar-besarnya. Efek yang ditumbulkan hampir membuat pohon tumbang.

Anak manusia itu masih beruntung karena Garis dengan sigap menerjam Daisy. Angin besar sempat dirasakan, bahkan rambutnya yang indarh ikut terbawa arus. Ia pun diamankan di balik sebuah pohon.

Gadis kecil itu masih saja dikejar sang byaka sang semakin mengamuk. Ia kembali kesungai dan membuat sebuah bola air. Ukurannya ditambah sesuai dengan air yang mengalir di tempat itu. “Mari Sayang, capa antara kita yang paling kuat? Akyu pa amu?” tantang Daisy.

“Ayo!” Byaka mengumpulkan angin dan mengalihkan menuju ke Daisy.

Adu kekuatan kedua anak itu tak terhindarkan lagi. Daisy dan remaja byaka mengendalikan unsur sebanyak mungkin untuk menjatuhkan satu sama lain. Hempasan energi pun mengakibatkan daerah di sekitar sana menjadi basah. Sebuah pelangi pun terbentuk walaupun tiada hujan yang turun membasahi hutan.

Saciwa yang tidak dalam pengawasi merambat ke sebuah pohon. Posisi tubuhnya disesuaikan dengan letak si byaka yang sedang mengamuk hebat. Dia langsung melompat ke tubuh remaja itu. Ekor yang besar melilit tubuh byaka, sedangkan kedua tangannya mencegah aliran energi. Anin pun berhenti di saat dia dan byaka terjatuh ke tanah.

“Saciwa, kamu hebat juga. Sebaiknya kita ikat saja dia,” Garis mendekat sambil membawa seutas tali.

Rupanya masih ada aura di mulut Byaka. Lelaki itu penyemburkan angin dengan sangat kuat sehingga tubuh keduanya melayang tinggi. Tubuhnya yanag lebih ringan membuat posisi terjatuh terbalik. Sang wiwea kesakitan, dia meloloskan diri ketika pegangan telah longgar. Sayang, dia terkena semburan air yang dibuat Daisy.

“Tante gapapa, kan?” senyum gadis itu walaupun tangan masih mengalirkan aura.

“Sedikit sakit saja,” Saciwa menerima bantuan dari narasega berupa gengaman tangan.

Di saat Daisy berupanya menyemburkan air, Garis dan Saciwa mengikatkan tali ke tubuh byaka. Awal mula mereka mengikat tangan sang pengendali angin itu. Selanjutnya tali dililitkan ke sebagian anggopta gerak hingga lelaki itu tak bisa bergerak.

“Hei, ini namanya curang!” teriaknya sambil menyemburkan angin.

“Emangnya akyu peduli ama amu?” Daisy menghentikan semburan air. Ia segera menghindar dari semburan byaka. Namun, sebuah daun menutupi wajahnya.

Tanah yang dipijak Daisy bergerak. Ia mengira jika itu gempa bumi. Daisy pun beralih ke tanah terbuka. Sebuah jebakan dipijak, ia pun terperosok ke dalam lubang. “Hu!” tangisnya.

“Nak!” Saciwa berlari ke gadis yang mengeluarkan air mata itu. Dia berhenti mendadak karena dihadang beberapa archid yang keluar dari dalam tanah. “Kita memang berselisih, tapi aku ingin menyelamtkan suamiku yang terjebak di dalam sebuah terowongan. Dan jangan lepaskan byaka muda itu,” tunjuknya pada sumber angin yanng terus mengamuk.

“Kita memang berselisih, tetapi tidak dengan anak itu. Lakukan saja yang kalian suka dan kami akan melakukan hal yang sama.” para archid menghilang di bawah tanah, Pergerakan mereka pun tak bisa dideteksi.

Saciwa mengambil anak yang terjebak itu. Bagian tuubuh yang kotor dibersihkaan, air mata pu dihapus dengan tangan kanan.

Ketiga orang itu kembali bergerak menelusuri hutan. Sungai sungai beralirkan deras didatangi. Garis memimpin rombongan itu hingga dekat di sebuah hutan dengan vegetasi penuh jebakan. Dia membuka akses bagi Sawica agar bisa lewat tanpa terkena jebakan.

Di tepi sungai, Garis berdiri menunjukkan lokasi di mana dia dan Daisy saling bertemu. “Sy, edi mana kau menemukan wiwera yang terjebak?” tanyanya.

“Akyu nemuin di gua kali. Kalau gak salah nembus sampai ke rumahnya merikusuma,” Daisy menuding ke terowongan bawah air yan bisa dilihat dari permukaannya.

“Kamu gak salah? Seingatku suamiku pergi mencari artefak bersama archid. Tapi dia dijebak dan gak kembali,” kata Saciwa.

“Di sana tuh ada lubang ngarah ke atas. Akyu gak tahu tuh ada di demensi mana. Pi akyu masih ingat kalau di situ ada naga mirip bibi, maksudnya wiwera,” kata Daisy.

“Jarak ke rumah merikusuma kalau hak salah sepuluh kilometer. Gimana kamu bisa ke sini? Makhluk seperti kita cuma bisa nahan napas paling lama enam menit? Jarak sekilo aja kamu udah tamat.” Garis duduk di tepi sungai itu.

“Gak tahu uga, hehehe. Pi, akyu ambil napas di tengah terowongan, trus lanjut sampai di mari.” Daisy itu duduk di tepi sungai. Kedua tangannya dicelupkan ke air untuk mengendalikan cairan yang terdapat di sungai itu. “Kalau sekarang, akyu bisa buktiin kalau akyu gak boleh, mau ikut akyu?” ajaknya sambil berjalan di atas air.

“Dia itu calon dev, pasti bisa melakukan semua ini. Aman gak?” Saciwa mencelupkan ejung ekor berwarna merah. Dia merasakan ada tekanan menuju ke atas. Tempat itu dianggap aman, dia bergerak walaupun tubuh basah dan sedikit tenggelam.

“Akyu usahain aman buah kita semua,” jawab Dasiy.

“Tapi bagaimana caranya kau membawa kita masuk ke dalam sana?” tanya Garis.



 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!