Liburan di Dunia Fantasi

Akibat Kecurangan

Daisy tak percaya atas apa yang dilihatnya. Nilai tertinggi dari hasil akumulasi semua juri jatuh kepadanya tetapi yang mendapatkan gelar juara malah Bajra. Gadis itu mengangkat tangan kanan sambil bertanya, “Maaf sebelumnya, kok doi yang menang? Bukannya akyu yang piling banyak nilainya?”

Sang juri dari narasima membuka selembaran kertas dan berkata, “Kau manusia, tak ada di daftar ini.”

“Pa amu gak ingat? Marin aja akyu dibolehin ikut lomba,” tanya Daisy lagi.

“Iya benar, para tetua setuju atas usulan jika manusia diikut sertakan,” imbuh Gusti sang tetua minagiri.

Kekisruhan hampir saja terjadi di sana karena terjadi ketidaksamaan antara para dewan juri dan tetua. Mereka pun mempertahankan pendapat masing-masing. Perundingan kecil pun dilakukan secara bersama.

Hasil dari perun dingan telah selesai, Gusti mengambil pengeras sura dan berkata, “Keputusan sudah diambil. Daisy diperbolehkan itu walaupun dari nara manusia. Tapi didiskualifikasi karena banyak melakukan kecurangan. Pakaian yang dikenakan sebagai alat bantu yang berlebihan dan dia memanipulasi aura unsur. Pihaknya juga melakukan pengancaman serta merayu para tetua.”

“Apa? Kalian anggap akyu ini apa?Akyu udah nurutin kemauan amu, malah akyu dituduh macam-macam. Lomba paan yang jurinya macam ini. Nyesel banget latihan ama amu.” Daisy menuding menuding pada Gusti.

“Bocah, yang sopan pada orang tua. Apa ibumu gak pernah ngajarin itu?” kesal Sukma sang tetua narasima.

“Trus ibumu ngajarin ngurung anak kecil? Amu gak pantes dipanggil Nenek, nara busuk.” Kedua mata Daisy sudah mulai memerah. Aura unsur yang tak sengaja dikeluarkan membuat air di sekiitar sana menjadi bergejolak.

“Dasar bocah gak bisa diatur!” Sukma mengalirkan aura ke udara sehingga datanglah sepasang kalamekar dan siap meneram Daisy.

Gadis yang polos tanpa pernah bertarung itu hanya terdiam diri menyaksikan hewan besar menerjanng dirinya. Beruntung, ia masih diselamatkan Garis sang ayah Rikma yang merupakan narasega yang pernah menolongnya. Walaupun begitu, mereka berdua dikepung oleh kalamekar.

Daisy tak mengalami apa-apa, tetapi Bajra dan Rikma yang hendak memihak padanya terkena cakar. Ia mendatangi kedua temannya itu walaupun hewan peliharaan Sukma berkeliling di sekitar sana.

Ingatan Daisy kembali terbuka di saat ia dan rombongan harus menghadapi sekumpulan kala meter. Air mata menetes membasahi pipi, Daisy berteriak sekencang mungkin, “Huhuhu.”

Gadis itu kembali berdiri melotot pada Sukma dan para tetua yang lain. Kenangan akan kehilangan sang paman membuatnya marah dan gelap mata. “Argh!” teriaknya dengan suara sangat keras sehingga beberapa nara terganggu.

“Bagaimana mungkin dia bisa menggunakan ini semua? Aku sudah mengunci beberapa bagian tubuhnya agar tak bisa menggunakan kemampuannya dengan penuh,” tanya Sukma.

“Amu nih!” Aura yang dikeluarkan Daisy semakin besar hingga terbentuklah sebuhan gelombang yang menggoyangkan panggung kompetisi. Beberapa perhiasan yang membentuk pergerakan aura terlepas dan terlempar ke udara.

Gelombang besar menuju ke tengah arena kompetisi. Gusti dan para pengguna unsur lain tak bisa menahan itu. Mereka memilih untuk menyelamatkan anak-anak yang terjebak di dalam sebuah kepanikan. Gusti berisiatif untuk menghentikan pergerakan pergerakan itu dengan membuat tembok air setinggi sepuluh meter. Dia bergerak mengelilingi gadis yang sedang berdiri di atas air yang berputar.

Usaha yang dilakukan Gusti kurang efektif. Sarita pun turuti membantu dengan membekukan air di sekitar sana. Para pengguna unsur air yang lain pun melakukan hal yang sama hingga seluruh arena kompotesi.

Daisy berpikir jika mereka semua mau melawannya. Amarah di dalam hati pun semakin memuncak. Aura yang ada di dalam tubuh mengalir hingga menutupi arena pertandingan. Es yang dibentuk Sarita dan para pengguna unsur es lain retak dan ikut tersedot ke dalam pusaran air. Panggung pun hancur seketika.

Keadaan di sekitar sana menjadi begitu berbahaya. Gusti mundur ke daratan terdekat bersama dengan para tetua yang lain.

“Inilah akibatnya jika memasukkan anak manusia. Kalian tak pernah dengarkan aku,” kata sang byaka.

“Kita diskusikan nanti saja .Yang paling penting bagaimana caranya menghentikan anak itu,” kata Gusti.

“Anak itu sudah tidak bisa dikendalikan. Hanya ada satu caranya, menghabisinya,” kata tetua archid.

Para tetua telah siap dengan aura unsur masing-masing. Mereka juga mengisyaratkan para prajurit dan petarung lainnya untuk menyerang anak yang sedang gelap hati tersebut.

Di saat itulah muncul lelaki dewasa dengan tubuh sedang. Senjata yang dibawanya digeletakkan pada tanah di tepi sungai. “Biar akyu aja yang hentiin nih semua,” katanya sambil menatap gadis yang sedang mengamuk. Dia merunduk menghindari sabetan aliran air.

“Manusia, urusan kita belum selesai. Kau jangan campuri urusan ini.” Sukma melotot pada lelaki dewasa itu sambil mengarahkan aura unsur tumbuhan. Hewan peliharaannya juga bersiap menerkam manusia itu. Sebuah tembok tumbuhan pun dibuat untuk menghadang terjangan air yang mengarah ke sana.

“Jika doi tak dihentiin, kalian gak bakalan selamat. Cuma akyu di sini yang bisa hentiin doi.” Lelaki itu melihat Sukma dengan santai.

“Silahkan hentikan dia. Kesempatanmu hanya sekali saja,” kata Gusti.

Beberapa tetua setuju dengan yang diutarakan Gusti. Mereka pun menyerahkan masalah ini pada manusia itu.

Beberapa bagian otot direnggangkan, manusia berambut hitam pendek itu melompat pada sebuah bongkaran es. Suhu yang terlalu dingin membuatnya tak bisa mengedalikan benda yang mengapung itu. Dia pun melompat ke benda yang lain.

Gelombang air yang berlawanan arah menuju kepada lelaki tersebut. Dia melompat ke dalam air. Aliran yang menuju ke pusaran telah diikuti sambil mengambil benda yang bisa digunakan. Lelaki itu sudah dekat dengan Daisy, dia pun memunculkan diri ke permukaan.

Papan yang berhasil diraih digunakan untuk berdiri. Si gadis yang mengamuk sudah sampai ke dalam jangkauannya, dia melompat meraih tubuh wanita muda itu.

Daisy tak melakukan perlawanan sama sekali. Air matanya semakin menetes walaupun suara tak lagi terdengar. Ia berfokus pada orang yang menerjangnya sambil berkata, “Om.”

Lelaki yang menerkam Daisy itu membalukkan tubuhnya hingga menjadi sebuah tameng. Dia melindungi Daisy dari sebuah benturan. “Iya, nih Om Centarian. Maafin Oom yang ninggalin amu,” katanya.

“Akyu, gak mimpi kan?” tanyanya pelan.

“Gak, Sayang. Om kan slalu ada buat amu.” Centarian memeluk gadis itu. Air mata yang dialirkan Daisy dihapus.

Kasih sayang dan perhatian sang paman selama ini membuat Daisy kembali tersadar. Gadis itu memeluk sang paman dengan sangat erat. Air mata pun bercucuran ikut membasahi pakaian yang belum sempat kering. “Om,” katanya dengan sangat pelan.

Aura unsur yang keluar dari tubuh Daisy memudar. Pusaran air yang dibuatnya pun memudar. Di saat itulah para pengguna aura unsur serta prajurit berkumpul di tempat Daisy dan sang paman terjadi.

“Tamat sudah riwayatmu, manusia.” Wajah Sukma menunjukkan keinginan memangsa yang sangat besar. Dia meletakkan tangan di tanah, muncullah tanaman yang siap mengikat tubuh lawannya.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!