Liburan di Dunia Fantasi

Persiapan Lomba 2

Kesepian di dalam ruang tertutup nan gelap membuat Daisy larut dalam keterpurukan. Gadis itu melihat ke area yang bisa dijangkau mata. Hanya ada dua boneka dan sisa menu makanan yang tak habi. “Suta ama Tasu, akyu harap kalian tuh bisa gerak kayak akyu. Andai aja ada air,” katanya pada diri sendiri.

Tanpa terasa air mata menetes membasahi pipi yang kenal seperti agar-agar. Sebuah ide tercetuskan. Daisy membuka paksa tabung tumbuhan yang berisi air. Sedikit dimasukkan ke dalam tubuh, sisanya disiramkan untuk membasahi boneka.

Daisy menyalurkan aura unsur pada masing-masing boneka. Benda yang terbuat dari kayu tersebut bisa dimainkan dengan leluasa. Bahkan ia bisa menggerakkan setiap anggota gerak dari benda itu. Daisy mengendalikannya seolah mainan dengan kendali jarak jauh.

“Suta, pa amu ayang akyu?” tanyanya dengan suara lembut seperti bayi kecil.

“Hus, kita masih anak-anak. Gak pantas tuk bilang ayang-ayangan, palagi kita saudara,” jawabnya sendiri dengan membesarkan suara selayak laki-laki.

“Maksud akyu tuh kita ayang-ayangan ama saudara. Jangan ngeres deh amu.”

“Kirain yang gituan, hehehe,” tawa Daisy sendirian.

Bermain boneka sendirian dalam waktu lama membuat Daisy merasakan kebosanan luar biasa. Terlebih lagi energi yang digunakan sudah terlalu banyak dan ia tak sanggup lagi mengendalikan boneka seperti yang dimau. Hawa kantuk telah menerpa tubuhnya di dalam tempat yang semakin gelap. Ia menutup kedua mata dan beralih ke dunia lain.

***

Waktu itu bunga sudah tak lagi bercahaya. Daisy tak mampu lagi melihat keadaan sekitar dengan jelas. Ia meraba kain yang dikenakan. Tersisa sepasang anting yang dibungkus dan diikat menjadi sebuah liontin kalung. Pembungkus dibuka, ia memasang perhiasan itu dengan sangat hati-hati di kedua daun telinganya.

Cahaya yang menyinari tempat itu menunjukkan jika ia tak sengaja membasahi tempat itu. Beruntung tak ada bau aneh di sana. Kedua boneka pun diambil dan dimainkan kembali.

Air yang tersisa di tempat itu diserap dengan menggunakan aura untuk hingga kering. Daisy hendak menyalurkan air ke boneka tetapi diurungkan karena ada cahaya lain yanng menerangi tempat itu.

“Sy, bangun!” teriak Sukma sang tetua narasima. Wadah yang berisi air dilemparkan pada gadis yang tinggal di sana.

Sejumlah air yang menuju ke Daisy dikendalikan dengan kekuatan aura unsur. Gadis kecil itumembuat sebuah kolam apung dan diisi dengan dua boneka yang berenang selayaknya manusia. “Makasih, Nek. Akyu karang bisa main lebih seru,” ucapnya.

Rasa marah sempat tumbuh di dalam hati Sukma. Keceriaan Daisy meluluhkan hati sang tetua itu. Terlebih lagi dia sendiri takut akan kemarahan Daisy yang dianggap berbahaya baginya. Raut wajah diubah seketika sambil berkata, “Lombanya akan segera dimulai. Cepat mandi dan sarapan.”

“Tuk mandi, airnya masih kurang. Bisa gak tambah air lagi?” tanya Daisy.

“Ikut aku.”

Daisy diantarkan ke sebuah kamar yang terdapat kamar mandi pribadi, tepatnya di kasar sang tetua sendiri. Ia masuk dan segera mengendalikan air untuk menyelubungi tubuhnya sendiri.

Setelah sekian lama, Daisy keluar dalam keadaan kering, bersih dan segar. Baju yang dikenak pun bertambah koyak walaupun bersih dan kering. Beberapa kain menuju kepadanya, Daisy dengan sigap menangkap semua itu. “Paan nih?” tanyanya.

“Kamu pakai itu semua.” Sukma memilah lagi pakaian berwarna putih.

Kain serba panjang berwarna putih menutup hampir seluruh bagian tubuh Daisy. Hanya bagian ujung kaki, tangan dan kepala yang tak tertutupi kain yang hampir mengikuti setiap bentuk tubuhnya itu. Pita dengan warna serupa diikat pada kepalanya. Perhiasan dengan warna serupa pun menghiasi telinga serta leher.

“Manis, mau lebih cantik lagi?” tanya Sukma.

Daisy menganggukkan kepala.

Rok panjang berwarna putih dipasangkan pada kaki Daisy. Meskipun terlalu panjang, tidak menjadi sebuah masalah. Kain lain yang berwarna merah muda disematkan pada tubuh gadis itu. Tak hanya satu lembar saja, tetapi sebanyak sepuluh lembar hingga berat tubuh gadis itu bertambah drastis. Sebuah kalung berwarna merah muda diikatkan pada leher Daisy. Motif seperti sekuntum bunga mempercantik hiasan pada anak manusia itersebut.

Tak hanya kepala yang dihiasi dengan bunga imitasi, pergelangan tangan dan kaki pun mendapatkan pelakuan yang sama. Bunga imitasi terbesar malah menghiasi punggung gadis itu. Selain itu, masih ditambah lembaran kain serta kaos kaki dan tangan. Sepatu nan berat pun turut menjadi pelindung kakinya.

“Bagaimana, Sayang?” tanya Sukma.

“Cantik sih, pi lebay gak?” Daisy memutar tubuhnya di depan sebuah cermin.

“Menurut Nenek malah kurang. Badanmu akan lebih bagus jika terisi sarapan. Sebelum itu, Nenek rias sedikit agar lebih cantik lagi.”

rambut panjang Daisy diikat dengan sebuah pola dan diikat karet alami yang berhiaskan batu berkilau. Sang tetua dengan cekatan menata rambut tersebut hingga lebih rapi dan indah. Bagian yang dirasakan kurang perlu dibuangnya. Hiasan lain digantikan sehingga gadis muda itu semakin cantik. Namun Sukma tak menaburkan beda pada wajah Daisy, mengingat jika anak manusia itu akan mengendalikan air.

Lagi dan lagi, Daisy dirempatkan secara khusus berbeda dengan anggota keluar Sukma maupun nara yang lain. Ia duduk di sebuah kursi yang menghadap pada meja berisikan hidangan lezat. Beberapa terasa kurang enak, Daisy tak mengambilnya. Ia hanya memasukkan sesuai dengan kemampuan tubuh menampung makanan tersebut.

***

Daisy tak bisa menemui para penonton karena di tempatkan pada ruangan khusus. Ia hanya bisa melihat peserta lain sembari membawa kedua mainan kesayangannya tersebut. Tangan bergerak mengumpulkan aura unsur. Namun niat itu tak terlaksana dikarenakan sang tetua memegang tangannya.

“Daisy, kamu gak boleh bermain curang dan menggunakan aura sembarangan,” kata Gusti si minagiri merah.

“Akyu cuma mau main boneka aja,” tepis Daisy.

“Itu lebih tidak boleh. Perhatikanlah lawanmu.”

Gadis itu melihat pada anak yang sedang menunjukkan kebolehannya dalam ilmu bela diri. Pergerakannya begitu lincah dan cepat walaupun tanpa menggunakan aura unsur. Ia mengagumi nara setinggi tiga meter itu. Tepuk tangan pun dilakukan dengan meriah. “Bagus kawan, aku suka padamu!” terikanya penuh kegembiraan.

“Mengapa kamu memberikan selamat pada lawanmu?” Gusti dan beberapa nara memandang ke gadis yang menggunakan pakai berat beberapa lapis sekaligus.

“Gak boleh ya? Pi, doi bagus dan akyu suka. Trus gimana?” Daisy merundukkan kepala dan memegang rambut sebelah belakang.

“Boleh saja.”

Pertunjukan yang dilakukan anak paling besar itu telah berakhir, tepuk tangan para penonton pun semakin meriah. Lelaki muda itu memberikan salam penghormatan ke berbagai arah, terutama kepada para dewan juri yang terdiri dari semua nara yang ada di sana.

Para dewan juri menuliskan skor terhadap usaha yang dilakukan peserta pertama tersebut. Setiap pena digoreskan dengan penuh kehati-hatian. Mereka segera menjumlahkan nilai yang didapatka peserta dan mengangkat papan penilaian secara serentah.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!