Liburan di Dunia Fantasi

Pertemuan Dengan Archid

Seminggu yang lalu

Satu jam lebih waktu menantian Utari yang terus memperhatikan anak yang terjatuh. Dia tak berani turun ke bawah tetapi juga tak tega membiarkan begitu saja. Orang yang diutus belum datang, dia berdiri mendekat pada si anak. “Zain, bantu Mama cari tali,” katanya.

“Siap, Ma.” Zain berlari ke beberapa pohon untuk mencari sesuatu yang bisa digunakan sebagai tali. Namun ia sendiri tak tahu jenis tanaman apa itu. Tumbuhan yang merambat diambil, ternyata itu sebuah jebakan. Ia masuk ke dalam jaring dan tertarik ke atas. “Ma!” teriaknya.

Teriak demi teriak dilakukan Zain hingga suara habis. Namun tiada satu pun yang menolongnya. Air mata pun menetes meratapi kesedihan di dalam hati. Terlebih lagi ia merasa sendirian ditinggal sang ibu. “Ma,” tangisnya pelan.

Tak lama kemudian, seorang perempuan menghampiri tempat Zain berada. Dia memukul tali dengan sebuah batu. Namun, benda itu tak lekas putus. Utari sang ibu Zain memudarkan tali helai sekecil rambut satu per satu.

Tali sudah tak kuat membawa beban akhirnya terputus. Zain jatuh ke lantai hutan, beberapa bagian tubuh mengalami kelecetan. Sang ibu berlari ke tempat tersebut dan membuka jaring yang menyelumuti tubuh si anak. Jaring dibuang, dia pun memberikan sebuah pelukan. “Sayang, amu gapapa?” tanyanya sambil menghapus air mata si anak.

“A-kyu akut, huhuhu!” tangis Zain semakin seru.

“Gapapa, Mama ada di mari.” Utari melepaskan pelukan kepada si anak dan segera membersihkan tubuh Zain dengan kain yang melekat pada tubuh. Beberapa lembar daun dilumatkan sebagai obat penutup. Pelepah tumbuhan yang lunak diikatkan untuk mengencangkan pelekatan pada kulit.

Sang ibu membantu Zain berdiri dan melangkahkan kaki. Mereka berjalan bersama kembali ke tempat sekiranya Skyda terjatuh dengan langkah nan pelan, menyesuaikan kemampuan si anak berjalan. Namun sejumlah makhluk setinggi dua kaki menghadang perjalanan mereka. Utari langsung menggendong si anak dan berlri ke arah lain.

“Ma, tadi tuh apa?” tanya Zain.

“Mama gak tau, Sayang. Lebih baik lari aja dulu,” Utari berbelok ke kiri dan menuruni bekas aliran air sebelum mendaki ke sebuah bukit.

Jalan menanjak menguras energi lebih banyak. Terlebih lagi Utari harus membawa beban lebih dari dua puluh kilogram. Dia berhenti menurunkan si anak di bawah sebuah pohon. Batang sepanjang satu meter digenggam dengan sekuat tenaga. Kedua mata mewaspadai pada apa saja yang mendekat.

Zain mundur beberapa langkah. Tanah yang dipijak dengan kaki kiri runtuh, ia pun kehilangan keseimbangan. Beruntung tangan kanan masih bisa memegang sebuah ranting. “Huh, ampir aja,” katanya sedikit lega.

Seekor hewan berbentuk seperti cacing berjumpai mendekat pada Zain. Ketidaktahuan membuat lelaki itu ketakutan. Tangan kanan berusaha mengusir hewan itu, tetapi pergerakannya malah membuat ranting menjadi lecet. Bagian pohon yang dipegangnya terlepas, Zain pun masuk ke dalam sebuah lubang. “Argh!” teriaknya saat bergelundung.

Zain sampai di dasar sebuah terowongan. Tubuh dipenuhi dengan debu, luka di kaki pun semakin melebar. Sakit yang dirasakan sudah tak tertahankan lagi. Hu!” tangisnya dengan suara tertinggi. Ia meringkuh sambil meneteskan air mata.

“Sayang, jangan nangis!” Utari melompat ke dalam terowongan itu. Tongkat di tangan menghambat lajunya tetapi menimbulkan debu yang beterbangan mengganggu penglihatan. Tangan kanan menggosok mata beberapa kali untuk memastikan kejernihan penglihatannya.

Utari telah sampai ke dasar terowongan dan langsung memeluk si anak. Sayang, di sanalah dia harus menghadapi makhluk yang mengejarnya. “Hus, pergi saja,” usirnya.

“Wow, ada hewan berbicara. Pasti mereka akan mahal,” kata seorang makhluk bercakar besar.

“Kaulah yang hewan bisa berbicara. Mundurlah,” Utari mengayunkan tongkat beberapa kali. Kedua kaki melangkah menelusuri terowongan. Sedangkan si anak berada di depannya.

“Tunggu dulu, kalian nara apa? Kami nara archid alias si menggali lubang,” kata makhluk berkuku patah tetapi memliki bulu paling panjang dengan warna jingga dan putih.

“Nara archid? Nama yang imut untuk makhluk cerdas. Kami manusia, ada apa?” Utari mundur hingga tersudut pada dinding terowongan.

“Manusia?” para makhluk berkuku tebal dan besar saling menoleh satu sama lain. Mereka saling membicarakan perihal tentang makhluk yang menerobos terowongan tersebut.

“Hentikan! Kita tidak ada niat untuk berperang ke nara lainnya. Nara manusia bukan penghuni pulau ini. Kita berikan sambutan untuk kedatangannya.” Archid yang terlihat paling tua melangkahkan kaki dengan santai. Salah satu tangannya berada di punggung.

Utari merasa tersudut dan telah kalah dalam segala hal. Dia melirik ke kanan dan kiri, terlihat beberapa archid keluar dari lubang yang baru terbentuk. Tongkat pun diletakkan di lantai terowongan dan dia mengangkat tangan sambil berkata, “Ok, akyu nyerah. Pi jangan bunuh anak akyu, doi masih imut.”

“Hahaha, kami bukan pemakan daging. Kami hanya pemakan tumbuhan dan serangga. Namaku Masura, pemimpin archid di sini.” Sang tetua makhluk bermata bulat itu memajukan tangan berkuku selayak batu besar.

“Namaku Utari dan anakku Zain. Kami tak sengaja terdampar di sini. Mohon maaf jika mengganggu kalian.” Utari meletakkan tangan kanan pada telapak tangan berkuku besar. Awalnya ada rasa wawas. Namun, ketika telapak tangan telah bersentuhan baru dia sadar jika tangan itu tidak berbahaya sama sekali. Utari memegang kuku archid erat-erat.

Terowongan semakin dalam semakin gelap hingga mencapai ambang batas kemampuan manusia melihat. Utari dan Zain hanya bisa melihat mata para nara bersinar kehijauan. Mereka pun mengikuti arah setiap para nara itu pergi.

Beberapa jam telah dilalui Zain bersama rombongan di dalam tanah. Si kecil itu kelelahan berjalan, terlebih lagi luka di kaki memberikan gangguan serius di dalam setiap pergerakannya. “Ma, capek,” keluhnya.

“Sini sayang, Mama gendong.” Utari merunduk di depan Zain.

Kedua tangan Zain berada di bahu sang ibu. Ia menggandeng tangannya sendiri yang berada di depan leher Utari. Sang ibu berdiri, ia terangkat dan segera memajukan kedua kaki yang terluka. Bagian belakang bawah tubuh Zain ditopang oleh sang ibu.

“Kakek, apakah masih jauh?” tanya Zain.

“Tidak, hanya beberapa ratus meter lagi,” jawab Masura.

Semangat Zain langsung luntur seketika. Apalagi perutnya sudah mulai keroncongan minta untuk diisi. Ia bersandar pada bahu sang ibu sebelah kiri.

“Zain, bersemangatlah sedikit. Udah gak jauh lagi kok. Tuh aja cahaya,” tunjuk sang ibu pada sebuah lubang bercahaya.

“Maaf, Anda salah. Itu bukan pintu keluar ke pemukiman kami. Di sana tempat lawan kami sedang berkumpul. Ikutilah kami,” Masura berbelok ke kiri beberapa langkah, kemudian sedikit belok ke kanan.

“Emangnya di situ ada apa aja? Akyu jadi penasaran.” Utari mengikuti cahaya berwarna hijau yang merupakan mata para archid. Lubang cahaya lain pun dilihatnya. Tidak besar tetapi terang hingga bisa menyinar area di sekitar. Penglihatannya kembali seperti semula.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!