Kontrak Pernikahan Hati Tergadaikan
Kesepakatan di Atas Kopi
"Ki-kita akan k-kemana?"
Rayhan tidak langsung menjawab. Ia menunggu hingga lampu lalu lintas berubah hijau, lalu melaju. “Ke apartemen saya. Ada yang harus kita bicarakan.”
Jantung Alya berdegup kencang. Ia merasa sedikit takut. Apartemen? Berdua? Ia tidak tahu apa niat pria ini. Seketika wanita berjilbab itu mulai menyesali keputusannya, tetapi ia kembali teringat Pak Soni. Rasa takut terhadap Pak Soni jauh lebih besar daripada rasa curiga terhadap dr. Rayhan.
Tidak lama kemudian, mobil Rayhan memasuki sebuah gedung apartemen megah. Rayhan memarkirkan mobilnya di area VIP. Mereka keluar dari mobil, dan Rayhan berjalan menuju lift tanpa menoleh ke belakang. Alya mengikutinya, memasuki lift yang di dalamnya hanya mereka berdua. Alya menunduk, mencoba menyembunyikan wajahnya. Ia bisa merasakan tatapan Rayhan, dan hal itu membuatnya merasa canggung.
Lift berhenti di lantai paling atas. Pintu terbuka, memperlihatkan sebuah unit apartemen yang luas. Rayhan membuka pintu dengan kartu khusus, lalu mempersilakan Alya masuk. Alya melangkah masuk dengan ragu. Apartemen itu sangat mewah, dengan pemandangan kota Jakarta yang gemerlap dari jendela kaca yang membentang dari lantai hingga langit-langit. Alya terkesima. Seumur hidupnya, ia tidak pernah membayangkan tempat seperti ini.
“Duduk,” kata Rayhan sambil menunjuk sofa. “Saya akan buatkan kopi. Kita harus bicara.”
Alya duduk di sofa, tangannya mencengkeram erat ranselnya. Ia merasa tidak nyaman berada di sini. Rayhan menghilang ke dapur. Tak lama kemudian, ia kembali membawa dua cangkir kopi. Rayhan meletakkan salah satu cangkir di hadapan Alya, lalu duduk di sofa seberangnya. Alya menunduk, tidak berani menatapnya.
“Minum,” perintah Rayhan.
Alya mengambil cangkir kopi itu. Hangatnya menjalar ke tangannya, sedikit menghalau rasa dingin yang masih menempel di tubuhnya. Kemudian menyesap kopi itu perlahan. Rasanya nikmat, jauh lebih enak dari kopi instan yang biasa ia minum.
“Sekarang, kita bicara,” kata Rayhan. “Dengarkan baik-baik. Saya tidak suka mengulang.”
Alya mengangguk pelan.
“Saya butuh istri untuk menenangkan Ibu saya,” jelas Rayhan, suaranya datar. “Beliau menderita penyakit jantung, dan saya tidak mau beliau stres memikirkan saya yang belum menikah. Namun, saya tidak ingin pernikahan yang sebenarnya. Saya trauma dengan wanita matre yang hanya mengejar harta. Oleh karena itu, saya butuh seorang wanita yang tidak akan jatuh cinta pada saya, dan tidak akan menuntut apa pun dari saya.”
Rayhan menatap mata Alya, tatapannya tajam. “Melihat penampilan Anda, saya yakin Anda tidak akan menarik perhatian wanita yang haus harta. Dan dari cerita Anda, Anda hanya butuh tempat berlindung, bukan cinta. Anda… sempurna untuk peran ini.”
Kata-kata itu terdengar seperti penghinaan, tetapi Alya tahu Rayhan tidak bermaksud demikian. Ia hanya jujur, blak-blakan, dan dingin. Dan Alya menyukai kejujuran itu meskipun sedikit menggores harga dirinya. Pria berwajah tampan itu tidak peduli dengan perasaan Alya, yang penting masalahnya selesai.
“Perjanjiannya adalah ini,” lanjut Rayhan. Ia mengangkat satu jarinya. “Satu, ini adalah pernikahan kontrak. Masa berlakunya hanya satu tahun, atau sampai Ibu saya sehat. Setelah itu, kita berpisah. Tidak ada ikatan, tidak ada tuntutan.”
Rayhan menaikkan jari kedua. “Dua, Anda tidak boleh jatuh cinta pada saya. Saya tidak akan pernah jatuh cinta pada Anda. Kita hanya sepasang suami istri di depan Ibu saya dan orang-orang, di belakang mereka, kita adalah orang asing. Anda tidak boleh mengganggu hidup saya. Saya juga tidak akan mengganggu hidup Anda.”
Jari ketiga. “Tiga, Anda akan tinggal di apartemen ini, di kamar yang berbeda dengan saya. Anda akan mendapatkan uang saku, kartu kredit, dan semua yang Anda butuhkan. Anda boleh melakukan apa pun yang Anda mau, asalkan tidak melanggar perjanjian ini dan tidak mencoreng nama baik saya.”
Rayhan mengakhiri penjelasannya. Ia menatap Alya, menunggu jawaban. “Bagaimana? Setuju atau tidak?”
Alya terdiam. Ia memikirkan semua poin yang disebutkan Rayhan dan merasa ini adalah jalan keluar terbaik. Dirinya bisa melarikan diri dari Pak Soni dan ibu angkatnya yang kejam, mendapatkan tempat tinggal yang aman, dan yang terpenting, ia tidak perlu takut akan jatuh cinta. Hatinya sudah terlalu lelah untuk itu.
“Bagaimana dengan identitas saya?” tanya Alya. “Bagaimana jika Pak Soni menemukan saya?”
Rayhan mendengus, seperti pertanyaan itu tidak penting. “Saya akan urus itu. Besok pagi, kita akan ke kantor hukum. Kita akan membuat akta pernikahan palsu untuk berjaga-jaga. Dan saya akan mengurus dokumen baru untuk Anda. Tidak ada yang akan tahu Anda Alya yang dulu.”
Alya menelan ludah. Ia tidak tahu mengapa, tetapi ia percaya pada pria ini. Mungkin karena ia tidak punya pilihan lain.
“Saya setuju,” jawab Alya, suaranya mantap.
Rayhan mengangguk, tanpa senyum. “Bagus. Mulai sekarang, Anda adalah istri kontrak saya. Kita akan bertemu dengan Ibu saya besok. Ingat, jangan pernah ceroboh. Ibu saya sangat sensitif.”
“Baik,” jawab Alya.
Rayhan berdiri, mengambil cangkir kopi Alya yang sudah kosong. “Sekarang, ikuti saya. Saya akan tunjukkan kamar Anda.”
Alya bangkit, mengikuti Rayhan. Mereka berjalan menyusuri koridor panjang, melewati beberapa pintu, hingga akhirnya tiba di sebuah kamar. Rayhan membuka pintu, mempersilakan Alya masuk. Kamar itu besar dan mewah, dengan ranjang berukuran besar, meja rias, dan lemari pakaian. Alya terkesima.
“Ini kamar Anda. Ada kamar mandi di dalam,” kata Rayhan. “Pakaian ada di lemari. Ada beberapa pasang piyama. Anda bisa pakai. Dan besok kita akan belanja.”
Rayhan berbalik, hendak pergi. “Saya akan berada di kamar saya. Jangan ganggu saya, kecuali ada hal yang sangat penting. Paham?”
Alya mengangguk.
“Selamat tidur, Alya,” kata Rayhan tanpa menoleh, lalu menutup pintu.
Alya berdiri di tengah-tengah kamar, menatap sekeliling. Ia tidak bisa percaya. Beberapa jam yang lalu, dirinya adalah seorang gadis yang lari dari rumah, ketakutan, dan putus asa. Sekarang, ia berada di sebuah apartemen mewah, menjadi ‘istri kontrak’ dari seorang dokter muda yang kaya dan tampan. Kehidupan barunya dimulai. Sebuah kehidupan yang ia tidak tahu akan membawanya ke mana.
Alya berjalan ke arah ranjang, duduk di pinggirnya. Ia merasa seperti bermimpi. Ia menyentuh wajahnya, merasakan bedak tebal dan riasan anehnya. Ia melihat ke cermin, menatap bayangan dirinya yang culun. Ia menyentuh tahi lalat palsu di pipinya. Perlahan, ia tersenyum. Senyum itu tulus, datang dari hati. Ia berhasil. Ia berhasil melarikan diri.
Alya merasa ada beban yang terangkat dari pundaknya. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, tetapi ia tahu, ia akan menghadapi semuanya. Ia akan menghadapi Rayhan, Ibu Rayhan, dan semua yang akan terjadi. Ia akan tetap kuat, demi dirinya sendiri. Ia berjanji, ia tidak akan pernah menyerah lagi.
Sementara itu, di sebuah rumah mewah, Pak Soni duduk di sofa, memegang ponsel. Ia melihat foto Alya yang baru saja ia terima. Foto itu diambil dari jarak jauh, memperlihatkan Alya yang berjalan di belakang dr. Rayhan. Sebuah senyum mengerikan terukir di bibirnya.
“Jadi, kau pikir kau bisa lari dariku, Alya?” gumamnya. “Kau pikir kau bisa bersembunyi di balik nama dr. Rayhan? Kau salah besar.”
Pak Soni menekan sebuah nomor, lalu menunggu. “Hallo? Cari informasi tentang dr. Rayhan. Cari tahu kelemahannya. Aku akan pastikan, Alya… kau akan kembali padaku. Dan kau akan membayar mahal atas apa yang sudah kau lakukan.”
Malam itu, Alya tertidur dengan nyenyak, merasa aman. Namun, ia tidak tahu bahwa di luar sana, bahaya lain sedang mengintai, menunggu saat yang tepat untuk menerkam. Bahaya yang lebih mengerikan daripada yang pernah ia bayangkan.