Kontrak Pernikahan Hati Tergadaikan
Drama Ngidam
Dua minggu setelah kepulangan mereka, ritme kehidupan Rayhan dan Alya telah kembali, tetapi dengan sentuhan nada yang benar-benar baru. Rayhan kembali tenggelam dalam jadwal operasi yang ketat, sementara Alya harus membagi waktu antara menenggelamkan diri dalam desain gaun "kekuatan diam" untuk Diva Bunga Rinjani, dan mengurus perusahaan yang menuntut perhatiannya. Namun, bukan kesibukan yang mengubah segalanya, melainkan sesuatu yang jauh lebih fundamental, jauh lebih biologis.
Pagi hari, pukul 05.30. Alarm Rayhan berbunyi, tetapi ia sudah terbangun. Ia menoleh ke samping. Alya sudah duduk di tepi tempat tidur, wajahnya pucat pasi, rambutnya sedikit berantakan.
"Alya? Ada apa? Jantungmu sakit?" tanya Rayhan, refleks seorang ahli bedah.
Alya menggeleng cepat, tangan menekan perutnya. "Bukan jantung. Perut. Aku... aku benci aroma parfummu, Rayhan."
Rayhan, yang selalu menggunakan parfum signature-nya yang beraroma kayu cendana dan bergamot—yang selalu dipuja Alya—terkejut. "Apa? Tapi ini yang kau belikan di Paris, Sayang."
"Itu berbau seperti ruang operasi yang dicampur dengan bau mobil jenazah. Aku tidak tahu, Rayhan. Aku mual, sangat mual."
Itu adalah awal dari keanehan yang bertubi-tubi. Beberapa hari kemudian, setelah serangkaian mual pagi yang konsisten, penolakan terhadap kopi (minuman suci Alya), dan kepekaan indra penciuman yang luar biasa, Alya melakukan tes sendiri.
Siang itu, Rayhan kembali dari operasi aorta yang sukses, lelah namun puas. Ia menemukan Alya duduk tenang di sofa, dengan senyum kecil yang misterius. Di tangannya, ada dua alat tes kehamilan. Keduanya menunjukkan dua garis berwarna merah.
Rayhan, sang ahli bedah yang tak pernah bergetar saat memegang jantung pasien, kini merasa jantungnya sendiri berdetak tak karuan. Ia menjatuhkan tas kerjanya dan berlutut di depan Alya.
"Alya... ini... kau serius?"
Alya tertawa, air mata kebahagiaan menggenangi matanya. "Ya, Dokter. Sepertinya Misi Penghilangan Total kita tidak hanya mengarsipkan momen, tetapi juga menciptakan arsip kehidupan baru. Aku hamil."
Keheningan melingkupi mereka, keheningan yang penuh dengan janji dan ketakjuban. Ini adalah babak yang belum pernah mereka rencanakan, namun dengan senang hati mereka terima.
"Di Venesia, kau bilang aku adalah hati yang berhasil kau perbaiki," bisik Alya. "Sekarang, ada dua hati yang harus kau lindungi."
Rayhan memeluknya erat, mencium keningnya berulang kali. Ini adalah diagnosis terbaik dalam hidupnya.
Namun, kejutan dan kebahagiaan itu segera diiringi oleh drama ngidam dan morning sickness yang brutal.
Alya, yang dikenal karena selera makannya yang elegan dan teratur, kini mengembangkan kebiasaan makan yang aneh dan menuntut. Ngidamnya bukan lagi tentang makanan biasa, tetapi tentang sensasi dan lokasi.
Malam pertama, Rayhan terbangun pukul 03.00 pagi karena Alya mengguncang bahunya.
"Rayhan, bangun! Aku ingin nasi goreng."
"Oke, Sayang. Aku bisa membuatkannya."
"Tidak! Bukan sembarang nasi goreng. Aku ingin nasi goreng dari warung Pak Dhe yang ada di tikungan gang Panti Asuhan kita dulu. Nasi gorengnya harus memiliki aroma asap yang kuat dan menggunakan telur bebek!"
Rayhan menghela napas. Panti Asuhan itu jaraknya lebih dari 40 kilometer, dan warung Pak Dhe mungkin sudah tutup. Namun, ia tidak bisa menolak. Ia mengenakan jaketnya dan meluncurkan mobil. Setelah satu jam mencari, menyogok, dan memohon, ia berhasil pulang dengan sebungkus nasi goreng berminyak, persis dengan yang Alya deskripsikan.
Drama itu berlanjut.
Suatu sore, Alya sedang serius mendiskusikan fitting dengan Maya di studio. Tiba-tiba, ia berteriak.
"Aku butuh durian!"
Maya panik. "Durian? Sekarang, Nyonya Alya? Dari mana kita bisa mendapatkan durian yang bagus di tengah kota?"
"Tidak! Bukan durian yang sudah matang di pohon. Aku ingin durian yang belum matang, yang masih menggantung di dahan, dan harus yang terkena embun pagi. Aku ingin mencium aromanya saja!"
Rayhan, yang baru pulang dari rumah sakit, mendapati dirinya sedang mencari petani durian yang bersedia memanjat pohon pada sore hari. Ia kembali dengan dua buah durian hijau yang masih bergetah. Alya hanya menciuminya, tersenyum puas, lalu membuangnya.
"Baunya sempurna. Terima kasih, Dokter."
Rayhan merasa seperti residen yang sedang menjalani ujian terberat. Ia yang terbiasa mengatasi komplikasi di ruang operasi, kini harus mengatasi keinginan irasional istrinya.
Ngidam teraneh terjadi di akhir minggu.
Rayhan sedang menikmati hari libur langka dengan mencoba memperbaiki sketsa yang ditinggalkan Alya (sketsa jantung yang pernah ia gambar di Venesia). Alya mendekat, wajahnya tiba-tiba cerah.
"Rayhan! Aku tahu apa yang aku inginkan."
Rayhan menyiapkan diri. "Apa? Belut dari sawah peninggalan Mataram? Atau mungkin es krim rasa rumput laut yang dibekukan di puncak gunung Alpen?"
Alya menggeleng. "Aku ingin kau melakukan operasi di hadapanku."
Rayhan membeku. "Sayang, itu tidak mungkin. Operasi bukanlah tontonan. Itu melanggar etika rumah sakit dan itu..."
"Bukan operasi sungguhan! Aku ingin kau melakukan simulasi operasi. Aku ingin kau berpura-pura menjahit jantung. Tapi, yang kau jahit adalah... boneka beruang. Dan aku ingin kau menggunakan benang sulam milikku yang paling halus, yang warna emas."
Rayhan menatap Alya, mencoba mencari tanda-tanda akal sehat. Tidak ada.
"Aku perlu merasakan ketenanganmu saat kau bekerja, Rayhan. Aku perlu melihat tangan Golden Hand-mu melakukan presisi, tapi dengan sesuatu yang lembut dan tidak berbahaya. Itu membuatku tenang."
Rayhan tahu, tidak ada argumen yang akan berhasil. Ia memutuskan untuk mengikuti alur Alya. Malam itu, studio desain Alya diubah menjadi ruang operasi dadakan. Rayhan mengenakan scrub bersihnya, sarung tangan steril, dan menggunakan lampu belajar sebagai lampu bedah.
Di hadapan Alya yang duduk di sofa, Rayhan dengan serius dan khidmat mengambil boneka beruang usang milik Alya dari masa kecil. Ia berpura-pura membuat sayatan, lalu dengan presisi seorang dewa, ia menjahit 'luka' di dada beruang itu dengan benang emas Alya yang paling mahal.
Alya menyaksikan dengan mata berbinar. "Benar... lihat betapa tenangnya kau. Begitu fokus. Kehidupan kami ada di tanganmu, Dokter."
Ketika Rayhan menyelesaikan jahitan terakhir—sebuah jahitan sempurna berbentuk hati—Alya bertepuk tangan pelan.
"Sempurna, Rayhan. Masterpiece! Aku sudah tidak ngidam lagi."
Rayhan melepaskan sarung tangan. Ia lelah, tetapi puas. Ia berjalan ke arah Alya, mengambil tangannya.
"Kau tahu, Sayang. Aku bisa menjahit aorta yang robek, memperbaiki katup yang rusak, tetapi aku tidak bisa memprediksi keinginanmu. Kau adalah teka-teki paling rumit yang pernah kutemui."
"Justru itu yang membuatku menarik, Dokter. Kau tidak bisa bosan denganku," balas Alya, bersandar di dada Rayhan sambil terkekeh ringan.
"Tidak akan pernah," Rayhan membalas, mencium puncak kepala Alya. "Aku mencintai semua dramanya. Aku mencintai simfoni ngidam ini. Karena setiap drama ini adalah pengingat bahwa di antara kita, ada jantung kecil baru yang berdetak. Jantung yang akan menjadi arsip kehidupan kita yang paling berharga."
Di tengah malam Jakarta yang bising, mereka berdua berbagi momen tenang. Rayhan tahu, keahliannya sebagai ahli bedah kardiotoraks kini harus disandingkan dengan keahlian baru: menjadi suami siaga yang ahli dalam memenuhi ngidam paling absurd. Dan ia siap. Mereka adalah tim, kini diperkuat oleh detak jantung baru yang perlahan, tetapi pasti, tumbuh dalam diri Alya