Kontrak Pernikahan Hati Tergadaikan
Janji
Enam bulan berlalu. Dio telah menjalani pemulihan yang menakjubkan dan kini berada dalam daftar tunggu untuk transplantasi. Alya sukses besar di pekan mode Jakarta, butiknya kebanjiran pesanan, dan namanya kini sejajar dengan desainer papan atas. Rayhan, meskipun harus berhadapan dengan dewan rumah sakit lagi terkait kasus Dio, tetap menjadi ahli bedah andal yang paling dicari.
Pada suatu Minggu sore yang langka, di mana rumah terasa sunyi karena Ratna sedang menjalani kegiatan magang hukumnya dan Rendra menginap di rumah Soni, Rayhan dan Alya akhirnya mendapatkan momen untuk diri mereka sendiri.
Mereka duduk di kebun, di bawah pohon sakura mini yang baru ditanam Rayhan, yang melambangkan awal yang baru. Aroma melati berpadu dengan wangi tanah yang segar.
"Lihat ini, Sayang," kata Alya, membolak-balik majalah travel mewah. Ia menunjuk gambar sebuah ryokan tradisional di Kyoto. "Pemandian air panas pribadi, taman zen, dan bunga sakura yang mekar penuh. April mendatang."
Rayhan, yang sedang mengedit proposal penelitian tentang teknik bedah inovatif, mengangkat kepalanya. Matanya yang biru berbinar saat melihat gambar itu. "Indah. Benar-benar indah. Kita tidak pernah mengambil cuti yang benar-benar utuh sejak... well, sejak kita berhenti dikejar-kejar."
"Itulah masalahnya," kata Alya, menyandarkan kepalanya di bahu Rayhan. "Kita sudah melewati neraka, tetapi sekarang kita terjebak dalam surga yang terlalu sibuk. Kapan terakhir kali kita menghabiskan waktu lebih dari 48 jam tanpa panggilan darurat—entah dari ruang operasi, atau dari klien yang panik karena jahitan miring?"
Rayhan tertawa. "Kau benar. Jadwal kita seperti balapan lari maraton yang tidak ada garis akhirnya. Aku punya tiga operasi besar dalam minggu ini, dan rumah sakit sedang mempersiapkan akreditasi internasional. Aku tidak bisa meninggalkan jantung yang membutuhkan."
"Dan aku," desah Alya, mengambil tabletnya yang memuat jadwal produksi. "Aku harus menyelesaikan koleksi musim panas untuk klien dari Singapura. Kalau aku pergi di bulan April, aku akan melanggar tenggat waktu yang sudah kubuat sendiri."
Mereka terdiam sejenak, menatap bunga sakura kecil yang baru bertunas. Janji liburan itu terasa seperti fatamorgana yang indah.
"Dengar," kata Rayhan, membalik halaman proposalnya. "Kita harus serius. Kita pantas mendapatkannya. Kita butuh istirahat. Kita perlu mengisi ulang, sebelum kita kelelahan dan mulai membuat kesalahan bodoh—seperti menjahit arteri koroner dengan benang sutra atau membuat gaun dengan scrub operasi."
Alya tersenyum dan mencium pipi Rayhan. "Ide yang bagus. Aku akan menyusun 'Misi Liburan'. Kita akan menerapkan semua keahlian intel kita untuk mencapai Kyoto."
Mereka mulai menyusun strategi. Rayhan akan mendelegasikan beberapa prosedur elektifnya kepada Dokter Muda yang berbakat. Alya akan meminta asisten studio terbaiknya, Mira, untuk mengambil alih pengawasan produksi.
"Kita akan melakukannya," kata Rayhan, meraih tangan Alya. "Dua minggu penuh. Tanpa ponsel kantor. Tanpa beep operasi. Tanpa panggilan dari desainer gaun pengantin yang panik."
Satu bulan kemudian. Pagi hari di kamar mereka, yang seharusnya menjadi pagi damai, dimulai dengan dering telepon jam lima.
Rayhan, yang baru akan masuk ke kamar mandi, mengangkat telepon itu. Wajahnya langsung tegang.
"Ya, Sus. Segera. Pasienku? Jantungnya kembali mengalami fibrilasi? Aku akan datang sekarang."
Ia memutus panggilan. "Alya, aku minta maaf. Pasien yang baru kuoperasi minggu lalu. Kondisinya kritis lagi."
"Pergilah, Sayang," kata Alya, meskipun kekecewaan terpancar di matanya. "Hati-hati."
Rayhan mencium kening Alya, dan dalam sepuluh menit, ia sudah meninggalkan rumah dengan kecepatan tinggi.
Alya kembali berbaring, mencoba tidur lagi, tetapi ponselnya bergetar. Itu dari Mira.
"Nyonya Alya, maaf mengganggu. Tapi klien dari Singapura baru saja mengirim email. Mereka menuntut agar kita mengubah keseluruhan pola sulaman gaun utama. Mereka ingin motif naga Tiongkok, bukan burung phoenix. Kalau ini tidak diselesaikan pagi ini, kita akan kehilangan kontrak besar!"
Alya menghela napas panjang. Ia bangkit dari tempat tidur. Ryokan di Kyoto terasa seperti mimpi yang sangat jauh. Ia mengenakan robe dan bergegas ke studio.
Seharian itu, Rayhan berada di ruang operasi, berjuang keras untuk menstabilkan pasiennya yang kritis. Dia harus membuka kembali area yang baru saja ia jahit, menghadapi jaringan parut yang sulit, dan bekerja di bawah tekanan waktu yang mengerikan. Ia melewatkan makan siang, melewatkan panggilan telepon dari Alya.
Sementara itu, Alya berada dalam 'perang' yang sama di studionya. Mengubah motif sulaman adalah bencana besar, mengharuskan ia membatalkan pesanan benang sutra dan mencarikan benang emas khusus yang lain. Ia harus bernegosiasi dengan klien melalui konferensi video, menggunakan semua keahlian diplomasi yang ia pelajari dari dunia spionase, hanya untuk meyakinkan mereka bahwa motif fusion akan lebih elegan.
Sore menjelang. Rayhan akhirnya menyelesaikan prosedur darurat. Pasiennya stabil, tetapi ia kelelahan hingga ke tulang. Ia duduk di ruang istirahat, meraih ponselnya, dan melihat pesan dari Alya.
> Perang naga versus phoenix berakhir imbang. Klien setuju dengan desain fusion. Kehilangan dua jam tidur, tapi kontrak terselamatkan. Bagaimana dengan jantungmu?
>
Rayhan membalas:
> Jantungnya berdetak lagi. Tapi aku kelelahan. Aku merindukanmu.
>
Rayhan tiba di rumah setelah gelap. Ia menemukan Alya sedang duduk di teras, wajahnya ditutupi oleh masker lumpur, memegang segelas anggur.
"Lihat ini," kata Alya, menunjuk ke ryokan di majalah travel yang kini tampak kusut dan penuh coretan. "Aku baru saja membatalkan reservasi. Mereka bilang, mereka tidak bisa menahan kamar lagi karena kita menunda-nunda."
Rayhan duduk di sampingnya, memeluk Alya. Ia merasa sangat bersalah. "Maafkan aku, Alya. Aku benar-benar ingin pergi. Tapi aku tidak bisa membiarkan orang itu meninggal."
"Aku tahu, Rayhan. Dan aku bangga padamu. Aku juga tidak bisa melepaskan kontrak besar itu setelah semua kerja keras kita. Tapi lihatlah kita," kata Alya, mencopot masker lumpurnya. "Kita adalah orang-orang yang bebas, yang sukses, yang punya cukup uang untuk pergi ke mana saja di dunia, tetapi kita terjebak oleh tanggung jawab yang kita pilih."
"Ini adalah harga dari kebebasan yang kita ciptakan," kata Rayhan, membelai rambut Alya. "Kita tidak lagi hidup di bawah bayangan ketakutan, tetapi di bawah bayangan tanggung jawab yang kita cintai."
Alya menoleh, matanya berkaca-kaca. "Aku hanya merindukanmu. Aku merindukan kita, Rayhan. Tanpa perlu khawatir tentang Ratna, Rendra, butik, atau pasienmu."
Rayhan menatap matanya dalam-dalam. "Kita akan melakukannya, Sayang. Kita hanya perlu strategi yang lebih baik. Kita harus membuat rencana yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapa pun, bahkan oleh diri kita sendiri."
"Bagaimana caranya?" tanya Alya, skeptis.
Rayhan tersenyum, senyum sang perencana ulung. "Kau tahu, ada alasan mengapa para mata-mata dan agen rahasia mengambil cuti yang benar-benar diam-diam."
"Maksudmu?"
"Kita akan memesan tiket ke tempat yang tidak ada sinyal. Tempat yang tidak akan bisa dijangkau oleh ponsel rumah sakit atau klien Singapura. Sebuah tempat di mana kita bisa benar-benar menghilang, hanya untuk dua minggu. Dan kita tidak akan memberi tahu siapa pun kecuali Andra dan Soni, yang akan menjadi tim support darurat kita."
Alya menatap suaminya. Ide itu gila, tidak bertanggung jawab, dan sangat mendebarkan.
"Misi Penghilangan Total," kata Alya, matanya bersinar. "Aku suka itu. Tapi ke mana?"
Rayhan mengeluarkan ponselnya, membuka peta. Dia menunjuk ke sebuah pulau kecil yang terisolasi di Pasifik Selatan, di mana tidak ada jaringan seluler dan hanya ada satu resort kecil.
"Kita akan pergi ke sana," kata Rayhan, mencium Alya. "Dan kita tidak akan kembali sampai kita benar-benar bosan hanya melihat lautan."
Alya tertawa, tawa yang penuh janji. Mereka berpelukan, merencanakan pelarian mereka yang paling berani—pelarian dari kesibukan yang mereka ciptakan sendiri. Mereka telah merangkai masa depan yang indah, dan kini saatnya mereka menikmatinya, dengan cara seorang agen rahasia: menghilang tanpa jejak.