Kontrak Pernikahan Hati Tergadaikan
Ruang ICU
Dua hari setelah operasi dramatis Dio, fokus Rayhan bergeser dari pisau bedah ke meja rapat. Meskipun Dio kini stabil berkat VAD yang berdetak di dadanya, masalah pendanaan dan pelanggaran protokol yang dilakukan Rayhan masih menggantung seperti pedang Damocles di atas kariernya.
Pagi itu, Rayhan berjalan menyusuri koridor marmer Rumah Sakit Pusat, bukan dengan scrub operasi, melainkan dengan setelan jas rapi yang terasa asing. Ia menuju Ruang Komite Etik dan Administrasi, tempat Dr. Haris dan empat anggota dewan lainnya menanti.
Aura di ruangan itu dingin dan formal. Dr. Haris duduk di tengah, ekspresinya kaku. "Dokter Rayhan, mari kita ulangi. Anda menyadari sepenuhnya bahwa prosedur pemasangan VAD pada pasien Dio melanggar Protokol Keuangan Gawat Darurat rumah sakit, bukan?"
Rayhan berdiri tegak. Ia tidak gentar, mengingat ia telah melalui interogasi yang jauh lebih mengancam di masa lalu. "Saya menyadari protokolnya, Dr. Haris. Dan saya menyadari, lebih dari itu, bahwa Kode Etik Kedokteran mengharuskan saya untuk bertindak segera guna mencegah kematian yang dapat dihindari."
"Tetapi tindakan Anda menciptakan preseden berbahaya!" salah satu anggota dewan menyela, seorang wanita tua yang merupakan bendahara rumah sakit. "Jika setiap dokter memutuskan untuk menghabiskan ratusan juta tanpa persetujuan komite untuk setiap pasien kurang mampu, rumah sakit ini akan bangkrut dalam hitungan bulan!"
"Bukankah tugas kita untuk mencari cara agar pasien tidak mati, bukan mencari cara agar rumah sakit tidak rugi?" balas Rayhan, suaranya naik satu oktaf. Ia tidak berteriak, tetapi ketegasannya memotong udara.
"Kami tahu Anda memiliki koneksi, Dokter. Kami tahu istri Anda mengadakan acara penggalangan dana yang sangat sukses kemarin. Tapi itu tidak mengubah fakta bahwa Anda bertindak tanpa otoritas!" tambah Dr. Haris.
Rayhan menarik napas, mengatur emosinya. "Saya bertindak dengan otoritas tertinggi: tanggung jawab moral dan profesional saya. Keluarga Dio miskin, tetapi nyawa anak mereka tidak kurang berharga daripada anak dari donatur terbesar rumah sakit ini."
Ia melanjutkan, nadanya kini melunak, tetapi penuh keyakinan. "Saya bukan hanya seorang ahli bedah, saya juga bagian dari keluarga. Saya pernah berada di Panti Asuhan, Dr. Haris. Saya tahu apa artinya hidup di garis batas. Jika saya bisa melakukan sesuatu untuk memberikan kesempatan hidup kepada seorang anak yang tidak punya daya tawar, saya akan melakukannya, bahkan jika itu harus mengorbankan karier saya."
Sesi itu berlangsung selama dua jam yang melelahkan. Akhirnya, dewan memutuskan untuk tidak memberikan sanksi berat, tetapi memberikan "peringatan keras" dan memotong bonus Rayhan selama enam bulan. Keputusan ini sebagian besar didorong oleh intervensi cepat Andra di belakang layar dan publisitas positif yang diciptakan oleh acara amal Alya, yang berhasil mengumpulkan dana melebihi biaya VAD.
Rayhan keluar dari ruangan dengan bahu yang terasa sedikit lebih ringan. Ia mungkin kalah dalam hal uang, tetapi ia menang dalam hal prinsip.
Sore itu, Rayhan mengunjungi Dio di Ruang Perawatan Intensif Jantung Anak (PICU).
Dio terbaring di tempat tidur, tampak kecil di tengah semua peralatan medis yang berkedip. VAD yang terhubung ke dadanya berdetak dengan ritme yang stabil dan monoton—sebuah lagu mekanis yang kini menjaga kehidupan anak itu.
Rayhan menarik kursi, duduk di samping ranjang. "Hai, jagoan. Bagaimana perasaanmu hari ini?"
Dio, yang sudah sadar penuh, tersenyum tipis. "Sakit sedikit di dada. Tapi... aku dengar ada mesin di dalam diriku yang menari," bisiknya, suaranya lemah.
"Ya, mesin penari yang kuat. Mesin itu akan membantumu sampai jantung aslimu siap. Kau harus kuat, Dio. Harus terus berjuang."
Ibu Dio, seorang wanita sederhana dengan mata sembap karena cemas dan kurang tidur, duduk di sudut ruangan.
"Dokter Rayhan," bisiknya. "Saya tidak tahu harus berkata apa. Saya dengar apa yang Anda lakukan di komite. Saya dengar Anda hampir dipecat karena anak saya. Dan Nyonya Alya... dia mengumpulkan begitu banyak uang. Kami... kami tidak akan pernah bisa membalasnya."
Rayhan menoleh, menatap ibu Dio lurus-lurus. "Nyonya, tidak ada yang perlu dibalas. Hidup itu adalah hadiah. Kami—saya dan istri saya—hanya memastikan bahwa hadiah itu tidak diambil sebelum waktunya. Tugas Anda sekarang adalah merawatnya kembali ke sekolah, kembali ke teman-temannya."
Ia kembali menatap Dio. "Kau harus berjanji padaku, jagoan. Setelah kau sembuh total, setelah transplantasi, kau harus hidup dengan baik. Kau harus belajar keras, bermain keras. Kau punya kesempatan kedua. Jangan sia-siakan."
Dio mengangguk. "Aku janji, Dokter Rayhan. Aku akan jadi dokter seperti Paman. Aku akan menyelamatkan jantung."
Rayhan tersenyum, menyentuh rambut Dio. Janji itu, diucapkan di tengah hembusan napas mesin dan detak VAD, terasa lebih berharga daripada semua uang di dunia.
Malam tiba. Rayhan kembali ke rumah, disambut oleh aroma melati dan bau masakan dari dapur. Alya sedang memasak makan malam, Ratna membantunya, dan Rendra membaca di meja makan. Pemandangan itu adalah kebahagiaan yang nyata, kehangatan yang telah ia perjuangkan dengan darah, peluh, dan sekarang, dengan gajinya.
Alya menoleh, melihat Rayhan. Ia segera melepaskan celemeknya dan berjalan memeluk suaminya.
"Peringatan keras," Rayhan berbisik, memeluk Alya erat. "Dan pemotongan bonus. Haris tidak senang aku menang."
"Uang bisa dicari, Sayang," kata Alya, menepuk lembut punggung Rayhan. "Jantung kecil itu berdetak karena kau. Itulah yang terpenting. Dan kau tahu kabar baiknya? Acara amal kita berhasil mengumpulkan dana yang cukup untuk Dio dan dua anak lain yang membutuhkan VAD. Keberanianmu tidak hanya menyelamatkan satu nyawa."
Rayhan mundur sedikit, menatap mata Alya. "Kau adalah penyelamat yang paling efisien, Alya. Kau menggerakkan gunung hanya dengan beberapa panggilan telepon dan gaun cantik."
"Aku hanya memanfaatkan apa yang kumiliki, sama sepertimu," balas Alya. "Kau menggunakan pisau bedah dan keahlianmu. Aku menggunakan benang emas dan koneksi. Kita adalah tim, Rayhan. Tim yang tidak akan pernah kalah dalam memperjuangkan yang benar."
Makan malam malam itu terasa lezat. Ratna bercerita tentang kasus hukum yang ia pelajari, dan Rendra dengan antusias menceritakan tentang pelajaran Sains. Di mata Rayhan, semua ini adalah kemenangan.
Setelah anak-anak tidur, Rayhan dan Alya duduk di teras, di bawah bintang-bintang.
"Aku merasa... seperti aku akhirnya menjalani hidup yang seharusnya, Alya," kata Rayhan, memegang tangan Alya. "Aku adalah dokter, aku adalah ayah, aku adalah suamimu. Tidak ada lagi operator, tidak ada lagi misi."
"Ya," bisik Alya. "Tapi jiwamu, Rayhan, masih membawa naluri sang operator. Naluri yang memilih untuk mempertaruhkan segalanya untuk satu nyawa. Itulah yang membuatmu begitu istimewa."
Rayhan mencium kening Alya, menghirup aroma manis dari bunga melati yang mekar subur di kebun mereka. Aroma itu, bagi Rayhan, kini adalah aroma dari janji yang ditepati. Janji untuk menjalani hidup yang berharga, bebas dari bayangan, dan selalu berjuang untuk kebenaran, seberapa pun besarnya biaya yang harus dibayar.