Kontrak Pernikahan Hati Tergadaikan

Buku Besar

"Alya, cepat! Jaga sudah datang! Dia datang untuk buku besar itu!" teriak Soni.

Alya menarik Ratna keluar. Mereka melihat Jaga, tanpa topeng, wajahnya penuh tekad brutal. Dia memegang pistol besar, mengincar Soni.

"Serahkan buku besar itu, Alya! Atau pria ini mati!" raung Jaga.

Alya menatap buku besar di balik jaketnya.

"Santoso tidak pernah peduli dengan buku besar ini, Jaga," kata Alya, suaranya lantang, memecah keheningan Gudang Timur. "Dia hanya peduli pada warisannya. Dia hanya peduli pada Ratna."

Jaga terkejut. Matanya melirik ke belakang Alya, ke arah Ratna yang meringkuk ketakutan.

"Serahkan Ratna! Dan buku besar itu akan menjadi milikku!" tawar Jaga.

Alya tersenyum dingin. "Tidak ada kesepakatan, Jaga. Permainan ini sudah berakhir. Kami sudah menang."

Tiba-tiba, suara sirene polisi meraung di luar gudang. Lampu sorot biru dan merah berputar, menyinari kegelapan.

Jaga terkejut. Dia menoleh ke pintu.

"Itu kejutan yang tidak kamu duga, bukan?" Soni tersenyum sinis, pistolnya diarahkan ke Jaga. "Andra... dia tidak mati. Dia menelepon polisi sebelum kau menusuknya."

Jaga panik. Dia melihat ke arah Alya dan Ratna. Dia tahu dia kalah.

"Santoso akan membunuhmu, Alya! Kalian semua!" teriak Jaga, melepaskan tembakan terakhirnya ke langit-langit, dan melarikan diri ke dalam labirin peti kemas.

Alya tidak mengejar. Dia memeluk Ratna, melihat ke arah pintu. Polisi memasuki gudang, senjata terhunus.

Alya mengangkat tangannya. Di tangannya, buku besar itu terasa sangat berat.

"Aku menyerah," kata Alya. "Tapi aku punya bukti. Dan sekarang, aku punya adikku."

Soni mendekat, memeluk Alya dan Ratna.

Di dalam keheningan yang menyesakkan, Alya tahu: Panti Asuhan Bayangan telah runtuh. Dan di Gudang Timur, di balik pintu baja rahasia, keluarga yang hilang akhirnya ditemukan. Itu adalah akhir dari kegelapan mereka, dan awal dari fajar yang baru.

Sirene polisi meraung tanpa henti, membelah keheningan malam yang sunyi. Gudang Timur yang tadinya gelap dan mencekam kini bermandikan cahaya sorot lampu kendaraan kepolisian. Peti-peti kemas, tumpukan karung goni, dan bahkan debu yang melayang di udara, semuanya menjadi saksi bisu dari akhir sebuah perburuan yang kejam.

Alya berdiri di bawah cahaya yang menyorot, tangannya masih memegang erat Ratna, adiknya yang baru ditemukan. Di tangannya yang lain, buku besar bersampul kulit tua itu terasa seperti batu pemberat. Buku itu adalah simbol keadilan yang telah lama ditunda, namun juga bukti bahwa Alya adalah putri seorang kriminal kejam.

Petugas berseragam mendekati mereka. Soni, dengan darah di sekujur tubuh dan luka tusuk Andra yang sempat ia coba tangani, adalah yang pertama berbicara.

"Kami adalah korban," kata Soni, mengangkat tangannya. "Pria yang baru saja melarikan diri, Jaga, dia adalah salah satu kaki tangan Santoso. Dan pria yang terluka di sana, Andra, adalah saksi kuncinya."

Alya melangkah maju. Dia menyerahkan buku besar itu kepada seorang komisaris yang tampak berwibawa.

"Ini," ujar Alya, suaranya mantap, "adalah catatan kriminal terperinci milik Santoso. Catatan yang dicuri oleh ibu angkat saya, Ratna, dua puluh tahun lalu, dan menjadi alasan utama mengapa dia mengejar kami. Semua yang dia lakukan, dari Panti Asuhan, gudang umpan, sampai upaya pembunuhan, tujuannya adalah buku ini."

Komisaris itu membuka buku besar itu dengan hati-hati. Saat matanya menyapu beberapa halaman pertama, ekspresinya berubah. Dari kehati-hatian menjadi keterkejutan yang dingin. Ia segera memberi isyarat kepada petugas lain untuk mengamankan area.

"Panggil tim medis secepatnya untuk dua korban yang terluka," perintah Komisaris itu, menunjuk ke Andra dan Soni. "Dan bentuk tim penyergapan gabungan. Prioritas: Penangkapan Santoso, hidup atau mati. Informasi yang ada di sini... ini lebih besar dari yang kita duga."

Beberapa jam berlalu. Gudang Timur berubah menjadi pusat operasi kepolisian. Alya duduk di bangku lipat di ambulans, Ratna di sampingnya. Petugas medis dengan tenang membersihkan luka di betis Alya, sementara Ratna, meskipun masih terguncang, tampak lebih tenang. Aroma antiseptik dan salep memenuhi udara, menggantikan bau mesiu dan debu.

Soni dan Andra—yang untungnya hanya mengalami luka serius namun tidak mengancam jiwa—sudah dibawa ke rumah sakit terdekat.

Ratna, adik kandung Alya, menatap kakaknya dengan mata yang penuh rasa ingin tahu dan kekaguman.

"Kau benar-benar Kakakku," bisik Ratna, suaranya kini terdengar lebih jelas. "Ibu selalu bilang, 'Alya adalah bintang paling terang di kegelapan. Dia akan kembali untukmu.'"

Alya memeluk Ratna, memejamkan mata, merasakan kehangatan dan koneksi yang hilang selama dua dekade. "Kau aman sekarang, Ratna. Kau tidak perlu bersembunyi lagi."

"Ratna yang lain," kata Ratna, mengoreksi, "Ibu angkat kita. Dia... dia berani sekali, Kak. Dia mencintai kita berdua. Dia tahu Ayah adalah monster, dan dia menentangnya sendirian, hanya untuk kita."

Alya mengangguk. Dia teringat kata-kata di surat adopsi rahasianya: 'Ratna mencuri sesuatu yang sangat berharga dariku.' Bukan hanya buku besar, tetapi juga Alya, putri yang dibesarkan Ratna dengan cinta untuk melindunginya dari Santoso.

"Aku harus menjenguk Rayhan," kata Alya, menarik napas dalam.

Komisaris yang tadi menerima buku besar itu mendekati ambulans. Wajahnya tegang, tetapi ada nada penyelesaian di suaranya.

"Nona Alya, kami telah meninjau buku besar ini. Ini adalah bukti tak terbantahkan. Santoso adalah inti dari jaringan kriminal transnasional. Dengan bukti ini, kami bisa membongkar semuanya."

Alya menatapnya. "Bagaimana dengan Santoso? Dan Nyonya Wiryawan?"

"Kami berhasil melacak mobil yang digunakan Nyonya Wiryawan untuk melarikan diri dari Panti Asuhan," jawab Komisaris itu. "Dia ditemukan... tewas. Bunuh diri."

Alya terkesiap. Nyonya Wiryawan, wanita yang telah menjadi sandera Santoso, wanita yang diselamatkan oleh Soni, memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri.

"Dia meninggalkan sebuah surat," lanjut Komisaris itu, suaranya melunak. "Dia mengakui perannya dalam membantu Santoso selama bertahun-tahun, termasuk dalam penipuan di Panti Asuhan. Tapi dia bilang, dia melakukan itu karena Santoso mengancam nyawa anaknya. Dia juga... dia bilang dialah yang meninggalkan cincin itu untuk Anda, Nona Alya. Dia ingin Anda selamat."

Alya hanya bisa terdiam. Nyonya Wiryawan adalah korban sekaligus pelaku, terperangkap dalam jaringan yang ditenun Santoso. Pengorbanan terakhirnya adalah bentuk penebusan.

"Dan Santoso?" tanya Alya, jantungnya berdegup kencang.

"Kami mengepung seluruh kawasan Panti Asuhan. Helikopter dan tim kami bergerak cepat setelah tembakan terakhir di sana. Dia tidak ada di lokasi. Namun, kami menemukan Jaga bersembunyi di sebuah rumah kosong tidak jauh dari sini. Dia mengalami luka tembak yang serius dan sekarang ditahan."

"Dan Santoso?" Alya mendesak.

Komisaris itu menghela napas. "Menurut pengakuan Jaga, Santoso melarikan diri ke pelabuhan. Dia memiliki kapal pribadi yang sudah disiapkan. Tim kami sudah berada di sana, tetapi... dia berhasil kabur. Namun, pelarian ini tidak akan lama. Setiap pelabuhan internasional dan bandara sudah dikunci. Tanpa aset dan jaringan yang sudah hancur oleh buku besar ini, dia hanya tinggal menunggu waktu. Dunia sudah menjadi penjara bagi Santoso."

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!