Kontrak Pernikahan Hati Tergadaikan

Adik Aliya

"Tinggalkan dia, Alya! Tinggalkan anak cacat itu, dan aku akan membiarkanmu pergi!"

Anak cacat. Kata-kata itu mengiris hati Alya.

Alya tidak menjawab. Dia memanjat tangga dengan satu tangan, sementara tangan yang lain memeluk erat tubuh itu. Setiap anak tangga berderit, setiap gerakan adalah siksaan.

Di bawah, Santoso membidik. Ia mengangkat pistolnya, mengarahkannya ke Alya.

"Selamat tinggal, Putriku yang tidak pernah kuakui."

DOR!

Tembakan itu bergema memekakkan telinga di ruang drainase.

Alya tersentak. Dia menunggu rasa sakit yang menusuk. Tapi tidak ada.

Tiba-tiba, Santoso tersungkur ke belakang. Darah menyembur dari bahunya, dan pistol peraknya terlempar ke lantai.

"AARRRGGGHHH!" raungnya.

Di atas, Soni berteriak. "Aku bilang, permainannya selesai, Santoso!"

Saat Santoso jatuh, Nyonya Wiryawan, yang selama ini diikat, bergerak cepat. Dengan kakinya, dia menendang pistol perak itu ke dalam lubang pembuangan air yang deras. Lalu, dengan kepala tertunduk, ia berlari sekencang-kencangnya ke lorong di mana Alya baru saja berlari, menghilang di dalam kegelapan.

Alya kini berada di tepi lubang. Dia meraih tali tambang itu, melingkarkannya di pergelangan tangannya.

"Tarik, Soni!" teriak Alya. 

Soni menarik tali itu dengan sekuat tenaga. Alya dan tubuh kecil di pelukannya terangkat. Mereka keluar dari kegelapan yang lembap itu, ke udara malam yang dingin dan bebas.

Soni, dengan wajah penuh luka, memegang pistol di tangan kirinya, dan tali di tangan kanannya. Di sebelahnya, terparkir mobil bak terbuka yang dicuri Alya.

"Rayhan... di mana Rayhan?" tanya Alya, napasnya terputus-putus.

Soni menunjuk ke jok mobil belakang. Di sana, berbaring Rayhan yang pucat, mata terpejam, dan bahunya diperban seadanya.

Alya menahan air matanya. Dia melihat kembali ke lubang itu. Suara raungan Santoso memanggil namanya menggema dari bawah.

"Siapa ini?" tanya Soni, menunjuk tubuh kecil yang dipegang Alya.

Alya menyingkirkan kain kasa di wajah orang itu. Di bawah kain itu, ada seorang gadis muda, berusia sekitar tujuh belas tahun, dengan rambut hitam panjang, dan mata yang tertutup. Wajahnya... seperti cerminan dirinya yang lebih muda.

Tiba-tiba, mata gadis itu terbuka. Mereka tidak menatap Alya, melainkan menatap ke atas, ke arah langit malam yang bertabur bintang, yang baru saja ia lihat setelah sekian lama.

"Kakak..." bisik gadis itu, suaranya sangat lemah. "Aku... bukan adikmu."

Alya terkesiap.

"Aku adalah kunci terakhir, Kak," bisik gadis itu, air mata mengalir di pipinya yang kotor. "Kunci gudang yang sesungguhnya. Santoso... Ayah kita... dia membuatku menjadi boneka..."

Alya terhuyung mundur. Gadis itu... putrinya Santoso?

"Dia berbohong," gadis itu batuk. "Adikmu... dia adalah Ratna. Namanya... adalah Ratna Santoso."

Mata Alya melebar. Dia melihat cincin di tangannya—cincin dengan ukiran yang sama persis dengan yang ada di peti mati.

"Dia adalah ibumu, Alya. Dia mengadopsimu untuk menjagamu. Dan dia menyembunyikan adik kandungmu, adik yang sebenarnya kau cari, di tempat yang tidak pernah bisa Santoso temukan."

"Di mana?" Alya mencengkeram bahu gadis itu.

Gadis itu tersenyum lemah. "Di... Gudang Timur... di balik peti... di balik gudang..."

Dia menutup matanya. Napasnya berhenti.

Alya meraung. Itu adalah raungan seorang wanita yang telah menemukan kebenaran, tetapi dengan harga yang paling mahal.

Soni memeluknya erat-erat. "Kita harus pergi, Alya. Sekarang!"

Alya mengangguk. Dia dengan hati-hati meletakkan tubuh gadis itu di tanah. Lalu, ia melompat ke kursi penumpang mobil bak terbuka. Soni melompat ke kursi pengemudi.

Mesin mobil tua itu meraung sekali lagi, kali ini bukan protes, melainkan teriakan perang. Mobil itu melaju kencang, meninggalkan panti asuhan yang kini menjadi saksi bisu kebenaran berdarah.

Di belakang mereka, di ambang lubang, Santoso merangkak keluar dari kegelapan. Wajahnya pucat, tetapi matanya berkilat gila. Dia melihat ke arah Nyonya Wiryawan yang melarikan diri, lalu ke tubuh gadis yang tergeletak di tanah.

"Kau tidak akan ke mana-mana, Ratna!" teriaknya. "Aku akan menemukanmu! Aku akan menemukan kalian semua!"

Di saat yang sama, sebuah helikopter hitam, berputar di atas langit-langit panti asuhan, memancarkan cahaya sorot yang kuat.

"Tim Alfa sudah di sini, Santoso!"

Santoso tersenyum, senyuman yang mengerikan. "Permainan baru saja dimulai."

Mobil bak terbuka yang usang itu melaju dengan kecepatan tinggi, membelah kegelapan yang kini terasa berbeda—lebih dingin, lebih menekan. Alya duduk di kursi penumpang, memeluk lututnya, berusaha menenangkan pikiran yang baru saja dihempaskan oleh badai kebenaran. Ia bukan anak haram Ratna, melainkan putri biologis Santoso yang diselundupkan dan diadopsi Ratna untuk menjaganya. Dan gadis yang baru saja meninggal dalam pelukannya, gadis yang seharusnya menjadi 'Adik Andra', ternyata adalah kunci terakhir, bukan adiknya.

Adik kandung Alya yang sebenarnya, Ratna Santoso, disembunyikan di "Gudang Timur."

Semua teka-teki, semua rasa sakit, tiba-tiba masuk akal, membentuk sebuah pola yang mengerikan. Panti Asuhan Harapan Jaya adalah panggung; Alya adalah umpan; Rayhan dan Andra adalah pion; dan Santoso adalah dalang yang menghendaki pertumpahan darah demi ‘keadilan’ pribadinya.

Di sampingnya, Soni mengemudi dengan agresif, sesekali melirik Alya, wajahnya yang berlumuran darah kini tampak lelah dan cemas. Rayhan di belakang, diam tak bergerak, adalah pengingat yang menyakitkan akan harga yang harus mereka bayar.

"Soni, kita harus kembali," kata Alya, suaranya pelan dan serak.

Soni menginjak rem, membuat mobil itu terhenti di pinggir jalanan pedesaan yang sepi. "Kembali? Ke Panti Asuhan Bayangan itu? Kita baru saja melarikan diri dari neraka, Alya. Santoso—dan sekarang ada helikopter itu—mereka pasti sudah mengepung area itu."

Alya menggeleng. Dia mengeluarkan kotak perak kecil dari jaketnya. Di dalamnya, cincin kunci yang diberikan gadis itu terasa dingin.

"Bukan ke Panti. Ke Gudang Timur. Itu gudang di mana Andra bilang dia akan mengalihkan perhatian Jaga." Alya membalikkan cincin itu, memperlihatkan cetakan kunci kecil. "Gadis itu... dia bilang adikku yang sebenarnya, adik kandungku, Ratna, disembunyikan Ratna yang pertama di Gudang Timur. Dan ini," dia mengangkat cincin itu, "adalah kunci yang sebenarnya."

Soni menatap cincin itu, lalu ke mata Alya. Matanya, meski lelah, kini memancarkan api tekad yang sama seperti mata Alya. "Jadi, selama ini Santoso tidak hanya memburu kita. Dia juga memburu adiknya sendiri yang disembunyikan Ratna. Dan dia membuat Rayhan mempertaruhkan nyawanya hanya untuk sebuah umpan di Panti Asuhan."

Soni membanting setir. "Kita pergi ke Gudang Timur. Tapi kita harus cepat. Kita tidak punya waktu untuk Rayhan dan luka-lukanya. Aku sudah menghubungi salah satu kontakku. Mereka akan menunggu kita di perbatasan kota. Kita akan menjatuhkan Rayhan di sana dan segera kembali."

Mereka meninggalkan Rayhan di bawah perawatan kontak Soni yang terpercaya—seorang wanita paruh baya mantan perawat militer di sebuah rumah pertanian tersembunyi—hanya sepuluh menit kemudian. Alya mencium kening Rayhan yang masih tidak sadarkan diri.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!