Kontrak Pernikahan Hati Tergadaikan

Titik Nol

Mobil sedan hitam itu melesat membelah rimbunnya hutan pinus, suara mesinnya bergaung di jalan pegunungan yang sunyi. Udara dingin dari luar menusuk ke dalam kabin, membawa aroma tanah basah dan daun-daun kering. Di kursi belakang, keheningan antara Rayhan dan Alya terasa begitu padat, hampir menyesakkan. Mereka adalah dua pion yang tersisa di papan catur yang dikuasai lawan, baru saja menyerahkan "ratu" yang ternyata hanyalah umpan, sambil diam-diam menyembunyikan "raja" di balik garis pertahanan.

Jaga, yang sekarang fokus mengemudi, terlihat puas. Surat berdarah itu terselip rapi di saku dalam jas kulitnya, sebuah piala kecil yang meyakinkan Santoso bahwa jebakan mereka berjalan sesuai rencana. Rayhan memperhatikan Jaga dari kaca spion. Pria itu tidak lagi menunjukkan seringai. Wajahnya kembali sedingin marmer, tetapi ada ketegasan di cengkeramannya pada setir, menunjukkan konsentrasi yang luar biasa.

"Kita harus memverifikasi koordinat itu," bisik Rayhan, suaranya nyaris hilang di tengah deru mobil. Dia membungkuk sedikit, menutupi mulutnya dengan tangan agar Jaga tidak bisa membaca gerak bibirnya dari spion.

Alya mengangguk, matanya menatap tajam ke depan. Jemarinya meremas tepi roknya, memastikan potongan kertas kecil di sepatu botnya tetap aman. "Kita tidak punya ponsel, tidak ada peta. Dan pria di depan itu," Alya berhenti sejenak, menggerakkan matanya ke arah Jaga, "dia adalah mesin. Kita tidak bisa menghadapinya dalam jarak sedekat ini."

Rayhan memejamkan mata sesaat, menyusun strategi. "Kita tidak akan melawannya secara fisik. Kita harus memanipulasi rencana mereka. Jika Santoso ingin 'mengakhiri permainan' di Gudang Timur, itu berarti Gudang itu adalah panggung utama. Mereka mengharapkan kita datang tanpa perlawanan, tanpa rencana cadangan."

"Dan mereka salah," sela Alya, senyum tipis, dingin, muncul di bibirnya. "Gudang Timur adalah penyesalan terbesarku, kata Santoso. Itu yang membuatnya yakin kita akan datang. Tapi sekarang, dengan koordinat ini, kita punya pilihan lain. Kita harus keluar dari mobil ini."

Jaga tiba-tiba mengerem mendadak. Kepala Rayhan hampir terantuk kursi depan.

"Tolong, Nyonya Alya," suara Jaga terdengar tajam. "Jika kalian harus berkomunikasi, lakukanlah dengan suara normal. Aku tidak tuli, dan aku benci bisikan di telingaku." Ia menoleh sekilas, matanya seperti es. "Kita hampir sampai. Jalanan di depan terlalu kecil untuk mobil ini. Kita harus berjalan kaki sebentar."

Rayhan dan Alya saling pandang. Terlalu cepat. Gudang Timur seharusnya berada di pinggiran kota, bukan jauh di dalam pegunungan seperti ini. Ini adalah bagian dari rencana Santoso untuk mengisolasi mereka.

Jaga mematikan mesin. Keheningan hutan tiba-tiba menyelimuti mereka. "Keluar," perintah Jaga, seraya membuka pintu mobilnya.

Rayhan dan Alya keluar, merasakan udara pegunungan yang menusuk tulang. Mereka berdiri di tepi jalan setapak yang sempit, dikelilingi oleh pepohonan raksasa dan kabut tipis yang mulai turun. Di ujung jalan setapak, tampak sebuah bangunan tua yang ditelan semak belukar. Atapnya sebagian besar runtuh, dan dinding batunya ditutupi lumut.

"Selamat datang di Titik Nol," kata Jaga.

"Titik Nol?" ulang Alya, tatapannya menyapu bangunan yang bobrok itu. Tempat itu terasa sangat asing baginya, namun ada getaran aneh, rasa sakit yang samar, yang menjalari dirinya.

Jaga berjalan di depan, mengabaikan pertanyaan Alya. "Gudang Timur. Tempat ini menyimpan lebih banyak kenangan buruk daripada yang kalian kira. Ini adalah tempat Santoso memulai semuanya. Dan di sinilah dia akan mengakhirinya."

Saat mereka melangkah lebih dekat, Rayhan merasakan instingnya berteriak bahaya. Tidak ada mobil lain, tidak ada pengawal tambahan, hanya mereka bertiga dan keheningan yang menyesatkan. Jaga terlalu percaya diri.

"Di mana Ibuku?" tanya Rayhan, suaranya tegas.

Jaga berhenti di depan pintu kayu besar yang tertutup rapat, dipenuhi jaring laba-laba tebal. "Di dalam. Bersama dengan 'teman' lama Santoso."

"Dan siapa adik Andra?" Alya menyusul, memaksakan diri agar terlihat lebih berani dari yang dia rasakan.

Jaga tertawa pelan, tanpa suara. Tawanya hanya berupa getaran di bahunya. "Adik Andra... dia hanya sebuah legenda. Sebuah hantu di dalam kotak. Dia ada di sana, di suatu tempat, di antara tumpukan besi tua. Tapi jangan khawatir, Nona. Santoso hanya tertarik pada Nyonya Wiryawan. Dan surat merah."

Rayhan mengepalkan tangan, menyadari bahwa adik Soni hanyalah pengalihan perhatian yang ditanamkan Santoso sejak awal untuk membuat mereka panik dan gegabah.

Saat Jaga mendorong pintu kayu tua itu, Rayhan melihat celah, sebuah kesempatan tipis.

"Tunggu!" seru Rayhan. "Di surat itu... ada pesan lain. Surat yang kami dapatkan tidak berbohong. Ada petunjuk tersembunyi. Andra bilang, 'Kunci gudang timur.' Di mana kuncinya?"

Jaga berbalik, alisnya terangkat sedikit, menunjukkan kejengkelan. "Kuncinya ada di tanganku, Dokter. Dan kau tidak akan pernah menyentuhnya."

"Bukan kunci gudang ini," Rayhan menekankan, otaknya bekerja keras untuk mengalihkan perhatian Jaga. "Kunci gudang yang berisi adik Andra. Dia sudah memperkirakan kau akan mengambil umpan ini. Dia tidak sebodoh itu. Dia meninggalkan pesan tersembunyi. Koordinat."

Jaga memandang Rayhan dengan pandangan menilai. Rasa ingin tahu di matanya menghapus ekspresi dinginnya sejenak. "Koordinat? Omong kosong."

"6^{\circ} 12' Lintang Selatan, 106^{\circ} 48' Bujur Timur," Rayhan mengucapkan koordinat yang baru ia hapal itu. "Ini bukan gudang timur. Ini lokasi rahasia. Lokasi sandera yang sebenarnya."

Ekspresi Jaga berubah. Dari rasa ingin tahu menjadi kemarahan dingin. Jaga tahu betul betapa terorganisirnya Andra.

"Kau berbohong. Kau mencoba membuang waktu," geram Jaga, tangannya secara refleks bergerak ke pinggangnya, tempat senjatanya tersimpan.

"Kau bisa memeriksa surat itu sekarang," tantang Rayhan. "Di baliknya. Sudut kiri bawah. Tulisan yang nyaris tak terlihat. Noda darah yang sengaja dihapus."

Jaga tidak menunggu lagi. Dia dengan cepat merogoh saku dalamnya dan mengeluarkan surat berdarah itu. Dengan tergesa-gesa, dia membukanya, membaliknya, matanya menyapu kertas yang kini kaku itu.

Saat perhatian Jaga terfokus penuh pada surat itu—saat dia melihat celah robekan Alya yang terpotong rapi—Alya bertindak.

"Sekarang, Rayhan!"

Alya mengeluarkan sebotol kecil cairan dari saku jaketnya—sejenis parfum kuat yang ia simpan sebagai pertahanan diri—dan menyemprotkannya tepat ke wajah Jaga. Bau tajam langsung menusuk indra penciuman Jaga.

Jaga berteriak, matanya terpejam karena perih. Dia menjatuhkan surat itu dan tangannya naik menutupi wajah. Senjata di pinggangnya terabaikan.

Rayhan bergerak cepat. Dia mendorong Jaga dengan seluruh kekuatannya, membuat pria itu terhuyung-huyung dan jatuh tersungkur di tanah berbatu di depan pintu gudang. Rayhan segera mengambil surat yang jatuh itu dan melemparnya kembali ke Alya.

"Lari! Sembunyikan suratnya dan ikuti koordinat itu!" perintah Rayhan, suaranya bergetar.

Alya tidak ragu. Dia tahu jika mereka berdua lari, Jaga akan dengan mudah mengejar mereka. Satu-satunya cara adalah berpisah. Dia berbalik dan berlari secepat mungkin menembus kabut, kembali ke jalan setapak yang sempit.

Jaga menggeram, matanya setengah terbuka, dipenuhi air mata dan amarah. Dia bangkit, tetapi tidak mengejar Alya. Dia tahu dia hanya perlu satu sandera, dan Rayhan lebih berharga.

"Pilihan yang buruk, Dokter!" raung Jaga, suaranya bergema di hutan. "Kau tidak akan pernah lari dariku!"

Jaga melompat maju, memutar tubuhnya, dan melemparkan pukulan brutal ke rahang Rayhan. Rayhan merasakan sakit yang luar biasa, kepalanya berputar, dan dia terlempar ke dinding gudang yang ditumbuhi lumut. Darah mengalir dari bibirnya.

"Sandera utamaku ada di dalam," kata Jaga, mencengkeram kerah jas Rayhan. "Dan kau tidak akan pergi ke mana-mana sebelum dia bebas."

Jaga kemudian menarik Rayhan yang setengah sadar ke dalam kegelapan Gudang Timur. Pintu kayu itu tertutup kembali dengan bunyi berderit yang menyeramkan.

Di sisi lain hutan, Alya berlari tanpa henti, jantungnya berdegup kencang. Dia merasakan sakit dan ketakutan karena meninggalkan Rayhan. Tapi dia tahu, Rayhan mengorbankan diri agar misi utama mereka berhasil. Dia menyentuh bagian kertas yang tersembunyi di sepatu botnya. Koordinat itu kini adalah satu-satunya harapan mereka.

Alya berhenti sejenak untuk menarik napas di balik pohon pinus yang menjulang tinggi, ia mengeluarkan potongan kertas kecil itu dan melihat koordinatnya lagi. 6^{\circ} 12' Lintang Selatan, 106^{\circ} 48' Bujur Timur.

Dia harus pergi ke sana. Dia harus menemukan sandera yang sesungguhnya. Sandera yang akan mengakhiri permainan Santoso selamanya.

Dia merasakan getaran di dadanya. Sebuah ponsel berdering. Alya mencari-cari di saku jas kulit Jaga yang tergeletak di jalanan berbatu di depan gudang, ternyata ponsel kuno itu tertinggal, ia mencurinya saat Jaga tersungkur.

Alya menjawab panggilan itu, suaranya sedikit gemetar.

"Halo?"

"Alya, Tante Ratna ada bersamamu?" Suara di ujung sana terasa asing, namun ada kekhawatiran yang mendalam.

"Siapa ini?" tanya Alya.

"Aku Andra. Aku sedang dalam perjalanan ke Gudang Timur. Aku mendengar Rayhan dan kamu dalam bahaya. Katakan padaku, apa isinya surat itu?"

Alya menggigit bibirnya, dia tidak punya waktu untuk menjelaskan semuanya. Dia harus percaya pada Andra, meskipun Rayhan dan Santoso melarangnya.

"Surat itu hanya umpan, Ndra. Rayhan ada di Gudang Timur. Tapi sandera yang sebenarnya ada di koordinat ini. 6^{\circ} 12' Lintang Selatan, 106^{\circ} 48' Bujur Timur."

Keheningan sesaat melanda.

"Itu... Panti asuhan lama kita," bisik Andra. "Titik awal dari segalanya. Kita bertemu di sana, Alya. Cepatlah. Aku akan pergi ke sana sekarang. Selamatkan adikmu. Dan aku akan menyelamatkan Rayhan."

Alya mengangguk. Dia mematikan telepon, rasa takut di dadanya tergantikan oleh determinasi. Andra tahu tempat itu. Dan dia akan menyelamatkan Rayhan. Sekarang, dia harus menyelamatkan adik yang tidak dia ketahui.

Alya mulai berlari lagi, kakinya menginjak tanah berlumpur. Dia berlari menuju jalan raya, mencari tumpangan, berharap bisa mencapai Panti Asuhan, Titik Nol dari kehidupan masa lalunya. Babak baru telah dimulai.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!