Kontrak Pernikahan Hati Tergadaikan
Bayangan Masa Lalu
Dini hari. Udara dingin membeku, tetapi rasa dingin yang menjalari tulang Rayhan jauh lebih menusuk. Ponsel yang teronggok remuk di lantai terasa seperti bom waktu yang baru saja meledak. Ia berdiri di samping tempat tidur ibunya, sorot matanya yang biasanya tajam kini dipenuhi bayangan gelap. Santoso tahu. Itu adalah kebenaran yang kejam, sebuah jerat yang kini mencekik leher mereka.
Alya terbangun oleh suara dentuman ponsel. Ia bangkit, matanya setengah terpejam, dan melihat punggung Rayhan yang tegang, seperti busur yang siap ditembakkan. Ia mendekat, tangannya menyentuh lengan berotot suaminya.
“Rayhan, ada apa?” bisiknya.
Rayhan menoleh, matanya yang merah menyiratkan malam tanpa tidur. Ia tidak menjawab, tetapi genggamannya pada tangan Alya mengeras.
“Santoso,” katanya, suaranya serak dan rendah, “dia tahu tentang Ibu.”
Ketenangan palsu yang mereka bangun di rumah kecil itu seketika runtuh. Alya merasakan perutnya melilit. “Bagaimana? Bagaimana dia bisa—”
“Jejak yang terlupakan,” potong Rayhan pahit. Ia menunjuk ke teras belakang. “Aku terlalu ceroboh. Aku terlalu percaya diri bahwa tempat ini adalah lubang hitam yang tak terjamah. Kita harus pergi. Sekarang.”
Alya tidak membantah. Mereka berdua bergerak cepat, tanpa suara. Rayhan membangunkan Ibu Wiryawan dengan hati-hati. Meskipun masih lemah, wanita tua itu mengangguk paham saat Rayhan menjelaskan situasi genting mereka. Ia adalah wanita yang kuat, seorang dokter yang terbiasa dengan keputusan cepat.
Rio tiba 15 menit kemudian dengan sebuah van hitam tanpa tanda. Ia tidak lagi menggunakan jaketnya yang biasa; ia berpakaian seperti pengantar barang, topinya ditarik rendah menutupi mata.
“Tempat penampungan baru sudah siap, Bos,” lapor Rio, napasnya tersengal. “Lokasinya di luar kota, peternakan tua di kaki gunung. Butuh tiga jam perjalanan.”
Mereka memapah Ibu Wiryawan ke dalam van. Sebelum masuk, Rayhan menatap rumah itu untuk yang terakhir kalinya—sebuah jejak kehangatan yang singkat, yang kini harus mereka tinggalkan. Ia berbisik kepada Alya, “Ini salahku. Aku membiarkan kehangatan sesaat membuatku lengah.”
Di sisi lain kota, di bawah langit subuh yang memucat, gerbang baja Lembaga Pemasyarakatan terbuka dengan bunyi berderit yang menyerupai raungan buas.
Ratna melangkah keluar, wajahnya yang tirus kini dihiasi seringai dingin yang tajam. Di sampingnya, Soni menggosok-gosok tangannya yang besar, matanya yang kecil berbinar-binar penuh keserakahan. Udara bebas terasa manis, tetapi bukan kebebasan yang mereka cari, melainkan kekuasaan baru.
Di luar gerbang, sebuah mobil sedan mewah hitam menunggu. Santoso tidak datang sendiri. Yang menyambut mereka adalah Hadi, tangan kanan Santoso yang berwajah datar, membawa sebuah koper perak.
“Selamat datang kembali,” kata Hadi, suaranya tanpa emosi.
Ratna tertawa kecil, suara seraknya memecah kesunyian. “Penjara tidak cocok untuk kecantikan seperti diriku, Nak.” Ia menoleh ke Soni. “Kau mau menyentuh Alya lagi, Soni? Aku pastikan kau akan mendapatkan hadiahmu.”
Mata Soni melebar, air liurnya seolah menetes. “Aku akan membuatnya berlutut, Ratna. Aku akan membuatnya menyesali penolakannya.”
Hadi membuka koper itu. Di dalamnya, tumpukan uang tunai tebal dan dua lembar dokumen. Ratna mengambil tumpukan uang tunai, menghirup aromanya yang tajam, seperti parfum termahal.
“Ini adalah pembayaran awal,” kata Hadi. “Bos hanya ingin satu hal. Kalian harus membuat hidup Alya sengsara. Hancurkan ketenangannya. Buat dia menjadi titik terlemah Rayhan.”
Ratna mengangguk. “Rencana sudah kupikirkan sejak di dalam sel. Tidak ada yang lebih mengenal Alya selain aku, ibunya. Dia rapuh di balik penampilan luarnya.”
“Dan kau, Soni?” tanya Hadi.
Soni menyeringai. “Aku akan mengawali dengan permainan lama. Bisnis. Rayhan adalah seorang dokter, tapi dia juga seorang pengusaha. Uang selalu menjadi pintu masuk terbaik.”
Hadi menutup koper itu. “Bos ingin laporan setiap langkah. Dan satu hal lagi. Bos tidak suka kegagalan. Kali ini, tidak ada lagi main-main.”
Ratna dan Soni mengangguk serempak, mata mereka memancarkan janji kejahatan yang baru. Mereka kini bukan lagi kriminal rendahan. Mereka adalah pion dalam permainan catur Santoso, diizinkan untuk memuaskan dendam pribadi mereka dengan imbalan menghancurkan dua orang yang paling Santoso benci: Alya dan Rayhan.
Di dalam van hitam, Rayhan mengemudi dengan kecepatan tinggi yang tidak stabil. Ibu Wiryawan tertidur pulas di kursi belakang. Alya duduk di sebelahnya, matanya terpaku pada jalan.
“Kita harus berpisah, Alya,” ujar Rayhan tiba-tiba. Suaranya terdengar seperti pasir yang bergesekan.
Alya menoleh, terkejut. “Apa katamu?”
“Santoso sekarang memfokuskan serangannya padaku, melalui Ibu. Tapi dia juga akan mengincar orang terdekatku yang lain. Dia akan mengincarmu, melalui kelemahanmu.” Rayhan mengambil napas dalam-dalam. “Aku tahu kau sangat mencintai Ratna, meskipun dia selalu menyakitimu. Ratna adalah kartu As yang selama ini dia simpan.”
“Tidak, Rayhan,” bisik Alya, air mata menggenang di matanya. “Aku tidak akan meninggalkanmu. Kita sudah melewati begitu banyak hal. Kita akan menghadapinya bersama.”
“Justru karena kita telah melewati banyak hal, aku harus memastikan kau selamat.” Rayhan memelankan laju mobil dan menatap Alya. “Kau adalah segalanya bagiku. Aku tidak bisa mengambil risiko kehilanganmu.”
Saat itu, ponsel Rio berdering. Rio mengangkatnya, wajahnya yang tegang tiba-tiba memutih. Ia mematikan telepon dan menoleh ke belakang.
“Bos… ada berita,” katanya, suaranya nyaris tidak terdengar. “Ratna dan Soni… mereka dibebaskan dari penjara. Jaminan dari pihak yang tak dikenal.”
Sebuah keheningan yang mematikan menyelimuti mobil. Ratna dan Soni. Dua bayangan tergelap dari masa lalu Alya, kini menjadi nyata dan hidup. Rayhan mengepalkan setir, buku-buku jarinya memutih. Ini bukan lagi ancaman dari satu sisi. Ini adalah serangan multi-dimensi.
Alya merasakan semua darahnya seolah ditarik keluar. Tatapannya kosong, kembali ke masa-masa penyiksaan mental dan ancaman fisik yang dilakukan Ratna dan Soni.
“Mereka datang untukku,” kata Alya, suaranya bergetar.
Rayhan menoleh ke arah Alya. Di matanya, ia melihat kejatuhan benteng terakhirnya. Ketakutan yang dialami Alya adalah ketakutan yang paling Rayhan hindari.
Tiba-tiba, van itu bergetar hebat. Ban mobil terasa seperti pecah. Rayhan segera menghentikan mobil di tepi jalan yang sepi, di tengah hutan pinus yang gelap.
“Apa yang terjadi?” tanya Alya, panik.
Rio keluar untuk memeriksa ban, sementara Rayhan memeriksa Ibu Wiryawan.
“Ban bocor, Bos. Kena ranjau paku. Ini bukan kebetulan,” kata Rio setelah kembali, wajahnya gelap.
Saat Rayhan hendak menghubungi bantuan, ponsel Rio berdering lagi. Kali ini, Rio mengangkatnya dengan ragu. Wajahnya semakin tegang.
“Bos, ini dari rekaman CCTV rumah Ibu Wiryawan. Ada sebuah mobil hitam mencurigakan. Dan… dan Soni terlihat di rekaman itu.”
Jantung Rayhan mencelos. Soni sudah bergerak.
Tiba-tiba, di tengah kegelapan hutan, mereka mendengar suara batuk yang parau. Batuk Ibu Wiryawan.
Rayhan bergegas ke belakang. Ibu Wiryawan menggeliat, tubuhnya demam tinggi. Napasnya tersengal-sengal.
“Rayhan… aku tidak… sanggup lagi…” bisik wanita tua itu, matanya memohon.
Rayhan memeriksa nadinya. Terlalu cepat dan lemah.
“Rio, kita harus membawanya ke rumah sakit, sekarang!” teriak Rayhan. Ia mencium kening ibunya.
“Tidak bisa, Bos. Terlalu jauh.”
Saat itu, di kejauhan, melalui celah-celah pohon, Alya melihat seberkas cahaya terang yang mendekat dengan cepat, diikuti oleh raungan mesin mobil yang semakin keras. Bukan satu, melainkan tiga mobil.
Alya menggenggam erat tangan Rayhan. “Mereka datang!”
Rayhan menoleh ke arah cahaya yang semakin mendekat, lalu ke arah ibunya yang sedang sekarat, lalu ke arah istrinya yang ketakutan. Ia terjebak di antara dua pilihan yang mematikan. Melindungi Ibu Wiryawan yang sakit parah, atau menyelamatkan Alya dari bayangan masa lalunya.
Kepala Rayhan terasa berputar. Ia tidak bisa menyelamatkan keduanya.
Cahaya itu menyilaukan mata. Mobil-mobil itu berhenti mendadak, puluhan meter dari van. Pintu mobil terbuka, puluhan bayangan hitam melangkah keluar, wajah mereka tertutup topeng. Para pemburu telah menemukan mangsanya.