Kontrak Pernikahan Hati Tergadaikan
Diambang Bahaya
Pintu apartemen itu tertutup dengan bunyi berdebam yang memekakkan telinga. Namun, suara itu tak mampu menutupi kenyataan yang membeku di depan mata Alya. Ayah angkat Rayhan, pria yang selama ini hanya ia dengar namanya, kini berdiri di sana dengan tatapan yang lebih dingin dari hujan yang mengguyur di luar. Aura kekuasaan dan ancaman memancar kuat darinya, membanjiri ruangan kecil yang baru saja menjadi saksi pertempuran.
“Akhirnya… aku menemukanmu, Nak. Dan juga… perempuan yang membuatmu berani melawan.”
Kata-kata itu bagai bisikan maut. Alya merasakan setiap sendi di tubuhnya menegang. Tangan Rayhan menggapai tangan Alya, meremasnya erat, seolah ingin meyakinkan Alya—dan dirinya sendiri—bahwa mereka akan baik-baik saja.
Pria tua itu, yang dipanggil Bos oleh anak buahnya, melangkah perlahan ke depan. Setiap langkahnya terasa berat, menekan keberanian yang tersisa pada Rayhan dan Alya. Anak buahnya, dengan laras senjata yang mengarah lurus, mengepung ruangan itu. Rio, yang masih memegang tongkat besinya, tampak pucat pasi. Ia tahu, mereka sudah kalah.
“Kau pikir bisa lari dari takdirmu, Rayhan?” suara pria tua itu terdengar tenang, namun penuh dengan bahaya yang tersembunyi. “Aku memberimu segalanya. Pendidikan, status, bahkan nama keluarga. Dan balasanmu adalah… menjadi pengkhianat?”
Rayhan melepaskan tangan Alya, melangkah maju. Darah yang menetes dari bahu lawannya membuat garis merah di lantai. Ia menatap ayah angkatnya dengan kebencian yang mendalam. “Aku bukan pengkhianat. Aku hanya ingin hidup normal. Tanpa kebohongan, tanpa darah.”
Pria tua itu tertawa, tawa yang kering dan tanpa emosi. “Normal? Hidupmu tidak pernah normal sejak aku menyelamatkanmu dari selokan, Nak. Kau adalah bagian dari diriku. Dan setiap bagian dari diriku, harus tunduk padaku.” Tatapannya beralih pada Alya. “Termasuk… gadis ini.”
Alya merasa hatinya menciut. Seolah nasibnya, yang ia kira sudah bebas dari cengkeraman Soni dan Bu Ratna, kini kembali terperangkap dalam jerat yang jauh lebih mematikan. Ayah angkat Rayhan adalah monster yang sesungguhnya. Bu Ratna dan Soni, dibandingkan dengan pria ini, hanyalah pemain catur di papan kecil. Ia adalah pemain utama, dalang di balik semua kekacauan ini.
“Lepaskan dia,” suara Rayhan bergetar, “dia tidak ada hubungannya dengan semua ini.”
“Tidak ada hubungannya?” Pria itu mengangkat alisnya. “Tentu saja ada. Kehadirannya membuatmu lemah. Membuatmu bodoh. Ia adalah virus yang harus dibasmi.”
Saat itu juga, dua anak buah pria tua itu melangkah maju, laras senjata mereka diarahkan ke Alya. Napas Alya tercekat. Ia menutup mata, menunggu rasa sakit itu datang.
Tapi Rayhan bergerak lebih cepat. Ia menabrak salah satu anak buah, mendorongnya hingga terjatuh dan menembak dinding. Suara tembakan itu menggelegar, diikuti jeritan Alya. Kekacauan kembali pecah. Rio ikut bertarung, melempar tongkat besinya ke arah anak buah yang lain.
Rayhan, dengan insting yang tak Alya ketahui ia miliki, menarik tangan Alya, membawanya ke jendela. “Lari, Alya! Sekarang!”
“Tidak! Aku tidak akan meninggalkanmu!” Alya berteriak, air mata mengalir deras.
“Dengarkan aku!” Rayhan membalikkan tubuhnya, menangkup wajah Alya dengan kedua tangan. Matanya memancarkan tekad yang membara. “Aku akan menyusul. Aku janji. Tapi kau harus lari sekarang. Aku tidak bisa melindungimu kalau kau di sini.”
Suara tembakan kembali terdengar. Ayah angkat Rayhan berteriak, “Tangkap gadis itu! Jangan biarkan dia kabur!”
Alya tidak punya pilihan. Dengan satu tarikan napas, ia membuka jendela. Rayhan mendorongnya keluar, lalu dengan sigap melompat setelahnya. Mereka berdua mendarat di atap bangunan sebelah.
Hujan terus turun, menyelimuti mereka. Mereka berlari, melompat dari satu atap ke atap lainnya. Rayhan tidak memegang tangannya lagi. Ia hanya berlari di depannya, sesekali menoleh untuk memastikan Alya ada di belakangnya. Suara tembakan dan teriakan mengejar mereka dari bawah, dari kejauhan.
Di tengah kebingungan dan kengerian, satu hal yang Alya sadari: Rayhan yang ia kenal sebagai dokter pendiam dan lembut, ternyata memiliki sisi lain yang tersembunyi. Sisi yang terlatih untuk bertarung, sisi yang penuh dengan rahasia gelap. Ia tidak tahu dari mana Rayhan belajar semua ini, tapi satu hal yang ia tahu: Rayhan adalah bagian dari dunia itu. Dan Alya, tanpa sengaja, sudah terjebak di dalamnya.
Mereka akhirnya berhasil melarikan diri dari atap-atap gedung. Rayhan menarik Alya masuk ke sebuah gang sempit, di antara tumpukan tong sampah yang basah. Mereka bersembunyi, terengah-engah, jantung mereka berdebar kencang.
Rayhan bersandar di dinding, napasnya memburu. Ia melirik bahunya yang tertusuk pisau saat berkelahi tadi. Luka itu tidak terlalu dalam, tapi cukup untuk membuat kemejanya basah oleh darah. Alya menatapnya cemas, tangannya gemetar.
“Kau… kau tidak apa-apa?” bisiknya.
Rayhan menggeleng. “Tidak apa-apa.” Ia merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah kunci kecil. “Ini kuncinya. Ikuti aku.”
Mereka berjalan menyusuri gang-gang kecil yang gelap dan licin. Rayhan berjalan di depan, sesekali menoleh ke belakang, memastikan tidak ada yang mengikuti mereka. Alya mengikutinya dalam diam, kakinya terasa lemas. Ia tidak bisa lagi membedakan mana realita dan mana mimpi buruk. Semua yang terjadi terasa seperti adegan dalam film yang tak pernah Alya bayangkan akan ia alami.
Akhirnya, mereka sampai di sebuah bangunan tua yang terlihat sepi. Rayhan membuka pintu kecil di samping. Mereka masuk ke dalam, dan Rayhan kembali mengunci pintu di belakang mereka.
Di dalam, suasananya jauh lebih tenang. Bangunan itu adalah sebuah gudang kosong. Debu tebal menutupi semua benda di dalamnya. Di salah satu sudut, tergeletak sebuah mobil tua yang berkarat. Di depannya, ada beberapa kardus dan koper yang sudah usang.
Rayhan membuka salah satu koper. Di dalamnya, ada beberapa tumpukan uang, dokumen-dokumen yang sudah dipersiapkan, dan dua tas ransel yang sudah terisi penuh.
“Ini… apa ini?” tanya Alya, keheranan.
“Ini rencana cadangan,” kata Rayhan. Ia mengangkat salah satu ransel, melemparkannya ke Alya. “Ambil. Kita harus segera pergi.”
Alya menatapnya bingung. “Pergi ke mana?”
Rayhan menatapnya, matanya terlihat lelah namun masih memancarkan tekad yang kuat. “Jauh. Sangat jauh. Ke tempat yang tidak akan pernah bisa mereka temukan.”
Mereka berdua masuk ke dalam mobil tua itu. Mesinnya berbunyi berisik, tapi akhirnya menyala. Rayhan mengemudikan mobil itu keluar dari gudang. Malam itu, di tengah hujan yang belum juga reda, mereka melaju, meninggalkan kota dan semua kenangan buruk di belakang.
Alya menatap keluar jendela. Langit di luar tampak gelap, seolah menelan semua cahaya. Ia kembali memikirkan semua yang terjadi. Ia lari dari pernikahan yang mengancam, bertemu dengan Rayhan yang ia kira adalah penyelamat. Ia merasa sudah terbebas, hanya untuk menyadari bahwa ia telah masuk ke dalam jerat yang lebih besar, jerat yang dibangun oleh tangan dingin ayah angkat Rayhan, seorang mafia yang memiliki kekuasaan mutlak.
Alya menyadari, selama ini ia hanya berada di sangkar yang berbeda. Sangkar yang satu berusaha menjualnya, sangkar yang lain ingin membunuhnya. Ia tidak tahu mana yang lebih buruk.