Kembalinya Magic Assassin
Surat Perintah Operasi Siaga Satu
”Bagas! Kamu mau langsung pulang?” tanya Dandi melihat Bagas sudah berjalan cepat menuju gerbang sekolah.
”Iya, aku akan langsung pulang. Aku masih banyak pekerjaan.”
”Kenapa tidak main game dulu, ayo main satu ronde denganku,” pinta Dandi.
”Aku tidak bisa, bermainlah sendiri. Mungkin kapan-kapan aku bisa menemanimu. Sekarang, aku harus pulang.”
”Baiklah!”
Dandi tidak bisa menahan Bagas, dan Bagas pun pergi ke arah motornya. Namun, saat sedang mengendarai motor, Bagas melihat di sebuah gang. Seorang wanita sedang diganggu, itu adalah Nadia!
Bagas memutar motornya, berbalik arah dengan cepat dan menuju tempat di mana Nadia diganggu oleh beberapa lelaki memakai jaket jeans. Bagas mengerem dengan kuat dan dia sudah berada di depan para preman tersebut. Lima lelaki itu berbalik ke arah Bagas dan melihat pemuda yang memakai seragam sekolah tersebut.
”Mau apa, Bocah! Jangan ganggu kesenangan kami!” kata seorang lelaki berambut botak dan memegang sebuah tongkat di tangan kanannya.
”Lepaskan dia! Jika tidak, kalian semua akan berakhir!”
”Bocah sialan!”
Woossh!
Lelaki botak maju dulu dan menggunakan pemukulnya, Bagas menyandarkan motornya dan melompat. Pukulan kayu melewati sebelah kiri Bagas, dan lutut Bagas menerjang kepala lelaki botak tersebut
Duag! Brush!
Lelaki botak tak lagi bangun, Bagas pun berdiri kembali. Nadia berlari ke arah Bagas dan bersembunyi di belakang Bagas.
”Jangan takut, Nadia.”
Nadia mengangguk dan dia masih memakai baju seragam sekolahnya. Dia sebelumnya pulang dari sekolah, tapi dia dipanggil oleh seorang wanita yang meminta bantuannya. Saat berada di gang tersebut, wanita yang memintanya pertolongan lari dan lima orang sudah mengepungnya.
Empat orang maju bersamaan menyerang Bagas, dan Bagas memutar tubuhnya. Gerakan Bagas meliuk dan menggunakan serangannya untuk menjatuhkan empat penyerang itu secara cepat. Gerakan Bagas dibuat sederhana, dia melakukan hal itu karena tidak mau terlihat mencolok. Dia harus terlihat seperti anak sekolah biasa.
Brush! Duag! Bug!
Lima orang sudah jatuh, Bagas mengajak Nadia untuk naik ke motornya. Bagas akan mengantarkan Nadia pulang. Mereka meninggalkan lima orang yang masih terjatuh di pinggir jalan.
Sepertinya Bagas dan Nadia, seseorang memperhatikan hal itu dari atas jendela gedung. Dia memang mempersiapkan beberapa orang untuk mengganggu wanita itu. Lelaki itu menganggukkan kepalanya, dia ingin memastikan tentang bocah sekolah bernama Bagas. Dia memang memiliki kemampuan bertarung, meskipun cara bertarungnya biasa. Namun, mengalahkan lima orang bayarannya merupakan kemampuan yang bagus sebagai seorang petarung.
Lelaki itu adalah Ricky. Dia memang menyelidiki dengan baik, tentang hubungan Bagas dari setiap kasus yang terjadi. Ricky dan Shadow Eagle, mereka memiliki hubungan khusus. Dan, hal itu sudah diselidiki dengan baik oleh Ricky. Ricky menduga, jalan untuk menemukan siapa di balik Shadow Eagle, ada di tangan anak sekolah bernama Bagas tersebut.
Ricky yakin akan hal itu. Dan, tugasnya memang mencari tahu tentang Shadow Eagle.
***
Kekacauan semakin memuncak, penyerangan terhadap kantor gubernur dan kantor walikota hampir terjadi di seluruh kota. Negara sedang dalam kondisi tidak aman. Rakyat mulai meragukan keseriusan pemerintah dalam mengendalikan kerusuhan yang terjadi di semua tempat.
Presiden sudah membentuk tim khusus untuk menyelidiki dengan bantuan intelejen. Dia sudah mendapatkan beberapa informasi. Semua kekacauan memang pada dasarnya karena faktor ekonomi masyarakat yang mengalami krisis. Namun, di sisi semua itu. Ada kekuatan, dimana ada ikut campur dari organisasi tertentu yang memperkeruh keadaan.
Namun, Presiden tidak bisa menuduh siapapun sebagai dalang masalah yang terjadi di seluruh negara. Dia harus memanggil semua menteri dan juga petinggi pasukan pertahanan. Mereka harus membicarakan, apa yang akan dilakukan negara untuk menyelesaikan krisis berkepanjangan ini.
Rapat tertutup pun dimulai, semua menteri dan juga petinggi keamanan dan militer. Termasuk, Jenderal Bison sebagai petinggi pasukan pertahanan negara. Mereka semua berkumpul untuk mengadakan pembicaraan serius.
Jenderal Bison seperti sebelumnya, dia tetap memilih opsi untuk melakukan Operasi Siaga Satu. Hal itu, untuk menghentikan kekacauan membesar. Maka, diperlukan operasi untuk menangkap siapa saja yang berhubungan dengan pemberontakan. Dan, mereka yang memiliki niat buruk pada negara ini harus ditangkap dan diinterogasi.
”Pak Presiden, kasus kriminal sudah tidak bisa diselesaikan dengan langkah biasa. Semua eksekutif dalam bahaya, mereka semua diincar oleh para pemberontak. Jadi, izinkan kami untuk melakukan penangkapan dan menginterogasi mereka yang dicurigai terlibat.”
Kata-kata Jenderal Bison mampu membuat para Menteri berpikir untuk meyetujui usulan dari Jenderal Bison. Meskipun ada beberapa menteri yang tidak setuju, tapi lebih banyak yang setuju dengan usulan dari Jenderal Bison.
Hal itu karena, kerusuhan semakin menjalar. Para pejabat merasa tidak aman karena setiap hari mereka selalu waspada. Mereka takut menjadi korban dan menjadi target, mereka adalah bagian dari pemerintahan.
Presiden Losara menutup matanya sejenak. Dan, dia pun tidak memiliki alasan lagi untuk menolak. Kekacauan sudah tak bisa dibendung. Bahkan, di depan istana negara. Beberapa orang meninggal dunia dalam bentrok antara polisi dan juga masyarakat. Ada bom yang meledak di gerbang istana negara.
Para pemberontak sudah berani secara terang-terangan.
”Baiklah, dengan ini aku sudah memutuskan. Operasi Siaga Satu, terpaksa harus dilakukan!”
Tak ada jalan lain lagi, menyelamatkan demokrasi lebih sulit daripada yang dikatakan. Banyak nyawa melayang untuk mempertahankan demokrasi. Penyelamatan negara dalam kondisi utuh lebih penting dari segalanya. Dan juga, keamanan untuk semua orang menjadi prioritas saat ini.
Presiden pun menandatangani Dekrit Presiden. Perintah yang diambil presiden hanya pada saat kondisi darurat.
Dan, mandat untuk melakukan Operasi Siaga Satu, diberikan kepada Jenderal Bison. Bison pun menerima tugas tersebut. Dia akan memulai operasi yang sudah disepakati oleh eksekutif. Bison pun undur diri dengan membawa dekrit surat perintah dari Presiden. Bison undur diri karena harus mempersiapkan tugas operasi militernya.
Bison tersenyum, dan kemenangan sudah di depan mata. Misinya semakin dekat, dia tak menduga, para pemimpin eksekutif sedang merancang kuburan mereka sendiri.
Saatnya hampir tiba!
***
”Inspektur Jodi!” suara dari seberang telepon.
Telpon dari Shadow Eagle, Jodi mengiyakan panggilan itu. Dia pun sudah menunggu pesan dari Shadow Eagle. Kekacauan sudah tak bisa dibendung, dan dekrit surat perintah presiden sudah turun.
Perang akan terjadi.
”Apa ada informasi penting, Shadow Eagle?” tanya Jodi, dia masih belum bisa mendapatkan akses apapun tentang Shadow Eagle. Kecuali, hanya menunggu panggilan telepon darinya
”Bersiaplah ..., untuk melawan Jenderal Bison. Kamu akan memilih, apakah melawan kejahatan atau menjadi bagian dari para pemberontaK!”
”Apa ..., apa maksudmu dengan melawan Jenderal Bison?” Inspektur Jodi penasaran.
”Aku akan memberikan detail rencana misi kudeta, jadi kamu bisa memutuskan jalanmu sendiri. Setelah ini, mungkin aku tidak akan menghubungimu lagi. Tugasku selesai, aku sudah membayar apa yang sudah kamu lakukan untukku.”
Dan, Jodi mendengar penjelasan tentang misi kudeta yang direncanakan oleh Jenderal Bison. Mata Jodi mendelik tak percaya dengan semua yang diceritakan Shadow Eagle padanya.
Jadi, apakah yang akan dipilih Jodi saat ini. Negara sebentar lagi, akan menjadi sangat kacau!