Kembalinya Magic Assassin
Rencana Bison, Operasi Siaga Satu
Televisi di rumah tuan Mahmud menyala.
Mahmud sedang melihat televisi, pertarungan politik dan keadaan negara sedang memanas. Banyak sekali kasus kriminal, terutama itu dilakukan oleh separatis. Mereka ingin merdeka dengan kota tertentu. Keadaan yang kacau ini membuat perekonomian mengalami masalah, dan tentu saja bisnis semua pengusaha menjadi terganggu.
”Kakek sedang melihat berita apa?” tanya Bagas, dia baru saja pulang dari sekolah. Dia ikut duduk di sebelah kakeknya.
”Negara ini sedang dalam kondisi kekacauan, dimana-mana pekerja berdemonstrasi dan buruh menagih janji para pemimpin.”
Bagas melihat tayangan berita di televisi, dia juga memahami cerita kakeknya. Bagas sudah mengetahui hal itu, tapi pada dasarnya semua itu adalah cara agar mempermudah misi mengambil alih negara. Semua itu karena Bison, jenderal yang merencanakan mengkudeta para pemimpin negara. Dia ingin menguasai negara ini, maka dia membuat rencana kegagalan pemerintahan dalam mengurus semua rakyatnya.
Ini adalah bagian dari skenario yang dibuat oleh Jenderal Bison. Dia bekerjasama dengan para pembunuh untuk menjalankan dan mempermudah rencananya. Kekacauan di negara ini, semua atas kehendak dan rencana Bison.
”Apa hal itu juga berimbas untuk usaha Kakek?” tanya Bagas.
”Sangat berpengaruh, Bagas. Bahkan, semua usaha kakek mengalami penurunan dan tentu saja, Kakek bingung dengan kondisi ini.”
Mahmud menceritakan bahwa, para pekerja yang bekerja di bawah usaha Mahmud seharusnya ada pengurangan karyawan. Namun, tuan Mahmud mempertahankan mereka semua. Dalam kondisi sulit seperti ini, mempertahankan karyawan dan tetap memberi mereka gaji tentu saja tidak akan sesuai dengan pendapatan perusahaan.
”Pemirsa, keadaan memang sulit. Jadi, kita akan dengarkan penjelasan dari jenderal tertinggi, yaitu Jenderal Bison.”
Pembawa acara di televisi sedang menyiarkan secara langsung, saat itu juga Mahmud berhenti bercerita dan mengajak Bagas untuk melihat siaran langsung. Hari itu, konferensi pers yang dilakukan oleh Jenderal Bison untuk mengatasi persoalan negara dalam kondisi yang sedang buruk.
”Bagaimana anda mengatasi semua resesi dan kriminalitas tinggi ini, Jenderal Bison?”
Pertanyaan itu mewakili semua wartawan yang sudah mempersiapkan kamera menyala, semua menyorot pada wajah kokoh Jenderal Bison. Dia terkenal dengan kekuatannya, dan dia terkenal dengan ketegasannya. Dia dipilih sebagai jenderal tertinggi, tentu saja dengan pengangkatan dari banyak petinggi pasukan pertahanan. Bison dipilih melalui pemilihan yang panjang, dia dipercaya akan membawa perubahan besar dengan kekacauan di negeri ini.
Jenderal Bison memulainya dengan beberapa kejadian kejahatan besar, terjadi dalam waktu hampir berbarengan. Ini menandakan, bahwa resesi yang terjadi sudah menjalar ke semua kota di negera ini. Butuh operasi siaga satu, hal ini merupakan tindakan pencegahan tertinggi karena tindakan kriminal begitu intensif. Tidak ada jalan lain.
”Dan, saya sebagai seorang Jenderal pertahanan tingkat tertinggi. Sedang menunggu keputusan Bapak Presiden dan juga para menteri. Jika tidak ada tandatangan dari pemerintah, kami tidak bisa melakukan operasi siaga satu!”
Para wartawan menganggukkan kepalanya. Kejadian kriminal mencapai tingkat tertinggi dalam hari-hari terakhir. Kejadian bom dan juga kriminal karena meminta pembebasan dan merdeka, atau bahkan penyerangan pada beberapa tempat ibadah pun terjadi. Ini semua karena pemberontak mengambil jalan pintas, mereka sudah tidak bisa bersabar untuk bisa merdeka dan terpisah dengan negara.
Pemberontakan semakin menjadi-jadi, dan butuh kekuatan besar untuk melakukan operasi siaga satu. Meskipun, hal itu akan memakan korban dari kedua belah pihak. Baik itu dari tentara negara maupun separatis para pemberontak.
Ditambah terjadi kemerosotan ekonomi yang tinggi, rakyat biasa yang menjadi korban dan tidak mendapatkan pekerjaan. Mereka semua kecewa dengan pemerintah, dan mereka melakukan kejahatan untuk bisa mendapatkan uang. Semua ini harus dihentikan.
Cara satu-satunya, menurut Jenderal Bison adalah operasi siaga satu.
Jadi, kini masyarakat yang melihat tayangan tersebut. Mereka mendukung Jenderal Bison, mereka meminta pemerintah untuk segera mengeluarkan perintah siaga satu. Jadi, permasalahan ini kemudian meruncing. Masalahnya adalah, pemerintah tidak tegas untuk segera menyelesaikan banyak masalah di negara ini.
Kekacauan ini membutuhkan keputusan yang cepat. Dan, pemerintah terkesan lambat untuk memutuskan segala hal demi hajat hidup masyarakat banyak. Kini, setelah melihat televisi dan siaran dari Bison. Mereka mendukung Bison dengan dukungan penuh.
”Lelaki itu sangat pintar mengambil hati masyarakat!” suara itu dari tuan Mahmud. Dia paham, bagaimana sikap Bison di belakang layar. Semua pengusaha yang sudah menjadi para pengusaha kaya. Mereka paham, di balik sifat baiknya untuk rakyat. Itu semuanya hanyalah untuk tujuannya semata.
”Kakek tahu hal itu darimana?” tanya Bagas penasaran, bagaimana kakeknya paham tentang karakter jenderal Bison.
”Dia adalah tipikal orang yang tidak mau berkorban untuk orang lain. Kakek sudah mengenalnya dengan baik.”
Bagas hanya menganggukkan kepalanya.
”Sudahlah, belum saatnya kamu memahami hal serumit itu, Bagas. Kamu akan mengalaminya nanti ketika dewasa. Betapa, tidak semua orang memiliki kebaikan seperti yang ditampilkan dalam fisik luarnya. Segala sesuatu itu dinilai dari hati dan bukan dari tampilan. Kamu akan memahaminya nanti, dan selalu waspada pada siapapun. Sangat sulit mencari orang yang tulus di dunia ini.”
Senyuman Mahmud terukir, dia ingin mengajarkan kebaikan hikmah dan waspada pada orang lain. Karena, bisa jadi orang yang kita anggap baik, dia akan menusuk kita dari belakang.
”Terima kasih nasehatnya, Kakek.”
[Title anda, Mesin Pembunuh para Assassin. Waktu anda di dunia tersisa, 10 hari]
Bagas paham, waktunya tidak lama lagi. Entah kenapa waktu yang tertulis dari awal adalah 60 hari dan terus berkurang. Bagas belum memahami, apakah setelah waktu sepuluh hari itu habis. Maka, dia akan kembali ke langit dan akan menghilang dari dunia ini?
Apapun itu, Bagas akan segera menyelesaikan tugasnya. Dark Head! Tunggulah!
***
Inspektur Jenderal Polisi Jodi sedang berada di kursinya, kejahatan terus meningkat secara drastis. Dia memegangi kepalanya dengan kedua tangannya.
Dia teringat beberapa hari yang lalu, dia memilih untuk tidak mengambil kenaikan jabatannya menjadi kepala polisi kota. Jabatan itu terlalu besar untuknya. Dia masih harus banyak belajar untuk dapat menata sebuah kota besar dan bahkan ibukota untuk negara ini.
HAAHHH!
Jodi menggeliat dengan mendorong kedua tangannya ke atas, matanya terpejam sejenak.
Irjen Jodi, dia mengingat kenapa sebenarnya dia menolak jabatan kepala polisi kota. Jauh dari berita yang menyiarkan bahwa Jodi belum mampu mengemban posisi tinggi tersebut. Jaduh dari itu semua, Jodi tidak ingin menjual jiwanya untuk keserakahan. Dia tahu bobroknya para polisi dan para pejabat tinggi.
Semua di tatanan petinggi, semua mengikuti perintah Jenderal tertinggi yaitu Jenderal Bison. Entah kenapa, Bison menjadi pusat dari semua pasukan inti di pasukan kepolisian. Mereka yang memegang kekuasaan sebagai kepala polisi kota. Mereka semua adalah orang kepercayaan dan harus tunduk pada Bison.
Hal itu tidak diketahui secara publik, dan hanya beberapa orang yang paham. Dan, mereka yang paham dan tidak suka pada Jenderal Bison akan disingkirkan dengan dimutasi di daerah terpencil atau diturunkan pangkat jabatannya.
Jodi adalah salah satu yang tidak ingin menjadi penjilat bagi Jenderal Bison. Dia memilih untuk menjadi Irjen Polisi biasa. Itu semua lebih tenang bagi Jodi, dia tidak ingin memperebutkan kekuasaan. Dan akhirnya, jabatan kepala polisi kota diberikan kepada rekan Jodi yaitu Bisma.
Jodi tak peduli hal itu, dia memilih jalannya sebagai polisi yang baik.
KRIIINNNNGG!
Telepon kantor di mana Jodi bertugas berbunyi, jika bukan nomor handphone pribadi, artinya ini telepon penting untuk tugasnya sebagai polisi. Hari sudah mulai gelap, Jodi belum pulang dan masih melihat banyak kasus dan menyelidikinya.
”Halo, ada yang bisa kami bantu?” tanya Ijren Jodi.
Hening sejenak, hanya ada suara lirih sepertinya penelpon sedang menunggu. Jodi pun diam, dia merasakan pasti ini penting.
”Aku, Shadow Eagle. Jenderal Bison sudah merencanakan untuk mengambil alih negara ini. Aku tahu kamu adalah polisi yang jujur. Bison bekerjasama dengan para pembunuh dan mereka merencanakan sesuatu yang besar.”
Tangan Jodi gemetar, dia tak berani bersuara dan terus mendengarkan suara di balik telepon.
”Kamu akan percaya padaku, ikuti arahanku.”
Suara dari seberang, meminta Jodi melakukan sesuatu. Jodi pun menyimaknya.