Kembalinya Magic Assassin

Siapa yang Akan Bertahan?

”Cepat masuk!” suara salah satu polisi, dia mendorong punggung Bagas hingga masuk dalam mobil. Bagas mengikuti saja, dua mobil satuan khusus itu pergi meninggalkan sekolah. Semua orang di sekolah memiliki persepsi sendiri-sendiri.

Para siswa, banyak yang kehilangan sosok Bagas. Dia adalah penyelamat, sejak dirinya di sekolah. Tidak ada lagi siswa nakal yang berani berbuat nakal. Ada juga sebagian kecil yang senang, akhirnya pengganggu itu menghilang. Kali ini, pasti Bagas tidak akan kembali. Begitu pikiran para siswa nakal.

Tentu saja, karena Bagas telah berani memprovokasi Wakil Kepala Sekolah. Bahkan, dia dihajar hingga cacat oleh Bagas. Adik dari Wakil Kepala adalah seorang pemimpin polisi di kota ini. Siapa yang tidak mengenal Jenderal Kota Daren. Kepala polisi tertinggi di kota ini.

Kali ini, Bagas pasti habis.

Nadia ketakutan, Bagas menyelamatkannya dari Wakil Kepala Sekolah. Semua itu demi dirinya, Nadia tidak mau Bagas terluka karena hal itu. Bagas tidak bersalah, dia adalah pahlawan baginya. Nadia pun meminta izin. Dia pulang lebih awal, dan mengabarkan kabar penangkapan Bagas pada Tuan Mahmud. Kakek dari Bagas harus tahu soal ini, dia pasti bisa menyelamatkan Bagas dalam situasi ini.

***

Inspektur Jodi memejamkan matanya sejenak. Kasus kejahatan meningkat, ditambah anggota kepolisian banyak yang melakukan tindak korupsi. Hukum seperti pisau, tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Jika pejabat yang ketahuan korupsi, maka hukum bertindak tidak adil. Hukum berubah ketika ada uang dan kekuasaan.

Sungguh, hidup untuk menjadi polisi yang jujur di saat seperti ini sangat sulit. Dan, itulah dilema yang dihadapi Jodi. Dia harus tetap jujur. Negara ini butuh diselamatkan. Dia tidak akan melakukan hal buruk dengan melakukan tindakan korupsi.

Jika semua orang tahu apa yang diketahuinya, sungguh negara ini bisa dalam kegoncangan. Dan, terakhir informasi dari Shadow Eagle tentang misi gabungan para pembunuh. Mereka  ingin mengambil alih kekuasaan negera ini.

Ah! Kepala Inspektur Jodi terasa sakit.

Knock! Knock!

Suara pintu diketuk, Jodi mempersilakan masuk. Itu adalah salah satu bawahannya di kantor.

”Pak Inspektur,” polisi itu memberikan laporan, ”Anak yang anda lindungi sudah ditangkap satuan khusus.”

Inspektur Jodi kaget. Satuan khusus yang dimiliki kepala polisi Daren. Sudah pasti itu benar. Apa yang ditakutkan Jodi akhirnya terjadi. Dia sudah memperingatkan anak sekolah itu. Namun, dia begitu percaya diri bahwa jika terjadi sesuatu padanya. Maka, Shadow Eagle pasti menolongnya.

Ada hubungan spesial di antara mereka. Jodi hanya mendapatkan kabar dari bocah itu, dia pernah menyelamatkan Shadow Eagle saat dia sekarat. Informasi itu memang terkesan aneh, tapi Jodi akhirnya harus mempercayai hal itu. Karena, tidak ada bukti keterlibatan anak itu dalam hal kejahatan sama sekali sebelumnya.

”Terimakasih, Sersan.”

Inspektur Jodi harus bergerak, dia tidak ingin kehilangan akses informasi dari Shadow Eagle. Dia harus bisa menyelamatkan anak itu. Dia harus mengungkap kasus yang terjadi tentang pengambil alihan kekuasaan negara. Hal itu sangat penting bagi negara ini. Apapun akan dilakukan inspektur Jodi untuk menyelamatkan negara ini.

Bahkan, jika nyawanya menjadi taruhan. Jodi tetap akan berjuang, seperti para pahlawan negara dahulu memerdekakan negara ini dengan darah dan perjuangan.

Bagas pasti disekap, dan dia tahu betul. Tempat seperti apa yang akan digunakan untuk menyiksa Bagas. Hal itu karena, dalang penangkapan itu adalah pemimpin Daren. Dia pasti ingin balas dendam!

***

Nadia bergegas pulang, dia naik motor. Sampai di rumah mewah keluarga Mahmud. Dia disambut oleh ayahnya yang masih bertugas di sana.

”Ada apa, Puteriku cantik?” Morgan khawatir melihat puterinya yang terlihat terburu-buru. Dia kaget, ini masih jam sekolah. Apakah dia datang untuk menjemputnya?

”Aku harus bertemu Tuan Mahmud, Ayah. Ini penting, ini soal Bagas.”

Morgan tidak berani bertanya lagi, dia segera mengikuti Nadia hingga ke ruang tamu. Di sana, Mahmud sedang duduk dan meminum teh. Dia memegang tongkat seperti biasa di tangan kirinya.

”Nadia ..., ada apa kamu terburu-buru?” Mahmud melihat wajah Nadia.

”Tuan, Bagas dalam bahaya. Tuan harus bertindak sekarang juga.”

”Ada apa dengan Bagas?”

”Dia ditangkap satuan khusus polisi. Ini pasti karena ulah wakil kepala sekolah.”

Mahmud mendapatkan detail cerita dari Nadia. Dan, Mahmud menggelengkan kepalanya. Kemarin, Bagas hampir saja berurusan dengan kepala pasukan pertahanan pusat. Dan sekarang, dia berurusan dengan Kepala polisi kota. Dan, kepala polisi kota itu adalah adik dari Wakil Kepala Sekolah.

Ini benar-benar sial!

Mahmud bergerak, dia segera memerintahkan beberapa pengawal dan juga Khalid untuk pergi bersamanya. Dia harus cepat, dia harus menyelamatkan Bagas. Apapun taruhannya, bahkan jika harus menebus Bagas dengan uang. Berapapun akan dibayar oleh Mahmud. Dia tahu, Daren sang kepala polisi kota sangat menyukai uang.

”Ayo berangkat!”

Khalid mengikuti Mahmud di belakang, mereka menaiki mobil mereka dan menuju kediaman kepala polisi kota.

***

Ruangan yang cukup luas, itu adalah ruangan rahasia yang khusus digunakan oleh Kepala Polisi Kota untuk interogasi. Dan, lebih jauh secara rahasia, itu adalah rumah khusus untuk hukuman tanpa pengadilan.

Mereka yang di bawah ke rumah itu, biasanya tidak akan melalui proses pengadilan. Mereka yang mengetahui hal ini, hanyalah para polisi dan juga pengusaha. Tempat hukuman yang tidak melalui proses peradilan.

Target kali ini adalah, seorang siswa yang masih muda. Dia hanya melakukan kesalahan dengan menghajar seorang Wakil Kepala Sekolah. Namun, wakil kepala sekolah itu adalah kakak dari kepala polisi kota. Jadi, dia hanya sedang sial. Dan, sialnya adalah, bisa jadi dia hanya akan tinggal nama setelah masuk ke rumah itu.

Bagas didorong, keluar dari mobil dan masuk dalam rumah itu. Ruangan yang sangat luas di dalamnya. Di sana, terdapat beberapa orang yang masih diikat, ada yang tidak sadarkan diri dan kedua tangannya diikat dengan menggantung di atas.

Penyiksaan demi penyiksaan, selama James bertugas sebagai pembunuh. Dia belum mengetahui tempat seperti ini ada. Dia mulai paham, ini adalah tempat penyiksaan yang tidak melalui proses hukum.

Bagas digiring ke salah satu sudut. Di sebuah dinding, Bagas diikat dengan tali dan mengikat tubuhnya pada tiang itu. Satuan khusus itu selesai melakukan tugasnya, sebagian keluar dari ruangan besar itu. Sebagian lagi berjaga, mereka seperti menunggu seseorang datang.

Seorang polisi memegang laras panjang, dia melihat ke arah Bagas dan memicingkan matanya.

”Sungguh malang nasibmu, Bocah. Kami bahkan tidak mengira harus menangkap seorang bocah sepertimu dan membutuhkan dua kompi pasukan.”

”Aku tidak bersalah, dan kenapa aku ditangkap tanpa surat penangkapan?” tanya Bagas balik bertanya.

”Ha.. ha.. ha..!” Polisi itu tertawa keras, dia merasa itu adalah lelucon lucu bocah yang lugu. Berlagak berani, padahal nyawanya sudah di ujung tanduk.

”Kamu jangan bertanya soal hukum di sini, Bocah! Karena, aku tidak yakin kamu masih bisa melihat matahari esok hari!” suara polisi itu tegas. Polisi yang lain tidak terlalu peduli dan membiarkan hal itu.

”He.. he.. he..!” suara Bagas tertawa kecil. Polisi itu tersinggung dan kini semua polisi di sana kaget karena bocah itu masih bisa tertawa dalam situasi seperti ini.

”Kenapa kamu masih bisa tertawa, Bocah?” Polisi itu penasaran.

”Kamu pikir, kamu adalah Tuhan? Matahari itu diciptakan oleh Tuhan, Dia yang berhak untuk setiap manusia melihat matahari. Dan, kamu pikir percaya bahwa aku tidak bisa melihat matahari besok. Sungguh naif!”

Polisi itu kaget, matanya terbelalak. Bagaimana seorang anak SMA yang masih kecil itu, berani berkata padanya.

”Kamu benar-benar membuatku marah!”

Bug!

Sebuah tendangan dengan sepatu khas tentara itu  mendarat di perut Bagas. Bagas meringis, dia merasakan rasa sakit. Namun, dia mengatur napasnya kembali. Menahan siksaan itu. Belum waktunya untuk bertindak! Dia adalah seorang pembunuh yang kejam dan cepat. Jika dia mau, dia bisa melakukan apapun. Bahkan, dalam keadaan diikat dan diborgol. Namun, dia masih bersabar.

”Polisi pecundang! Kamu bahkan berani pada bocah yang diikat. Mental seperti apa yang anda miliki.”

”Apa katamu?” polisi itu semakin murka.

”Buka ikatan taliku, biarkan aku tetap diborgol. Kita bertarung satu lawan satu. Aku tak akan lari. Aku ingin lihat kesombonganmu saat bertarung sungguhan!”

Gila! Bocah ini benar-benar gila. Polisi yang lain melihat rekannya yang ditantang bocah itu. Itu adalah gertakan yang menghancurkan mental seorang prajurit. Dia ditantang seorang anak sekolah. Bahkan, dia meminta hanya dilepaskan talinya dan biarkan borgolnya tetap mengikat kedua pergelangan tangannya.

Itu sangat mudah!

Polisi yang ditantang itu bernama, Donald. Dia tidak mau diremehkan oleh rekan-rekannya. Dia juga merasa direndahkan pemuda itu.

”Baiklah, kita satu lawan satu. Kamu akan tetap diborgol. Dan, aku hanya akan menggunakan satu tanganku biar adil!”

HUUOOOOOOOO!

Semua prajurit di sana meneriaki. Ini akan menjadi pertandingan yang menyenangkan sambil menunggu kepala polisi pusat datang. Mereka ingin melihat, sehebat apa bocah yang bermulut besar bernama Bagas itu. Namun, dia juga pernah menghajar kakak dari kepala polisi kota. Jadi, mereka penasaran dengan Bocah itu.

”Ayo! Aku ingin melihat pertandingannya!” seorang polisi memberikan semangat.

”Bagaiman kalau kita bertaruh!” seorang polisi memberikan usul.

”Baik, ayo tebakannya bukan siapa yang menang dan kalah! Namun, apakah bocah itu bisa bertahan dalam satu menit atau tidak!”

Itu bagus!

Bagas tersenyum, mereka semua adalah para polisi yang menjadi bagian dari ketidakjujuran negara ini. Dia paham betul, polisi seperti mereka sudah banyak ditemui dahulu oleh James. Bagas yang sekarang, sudah memahami itu semua.

Tali Bagas dilepaskan, tapi tangannya masih dengan ikatan borgol. Bagas bergerak, dia kini berhadapan dengan Donald. Mereka berjarak lima meter dan saling melihat. Donald melepaskan rompi kebesaran dan hanya kaos khusus pasukan unit polisi.

”Aku hanya akan menggunakan satu tangan kanan saja, jadi ini cukup adil bukan?” kata Donald meremehkan Bagas.

”Siapa yang bertaruh satu di atas satu menit untuk Bocah itu, pasang taruhan kalian untuk Bocah itu bertahan. Kurang dari satu menit atau lebih dari satu menit!”

Seorang polisi berteriak, dan mereka pun mengeluarkan uang mereka. Delapan puluh persen dari mereka, memasang bahwa Bagas tidak akan bertahan lebih dari satu menit.

Taruhan ditetapkan. Bagas tersenyum. Mereka harus diberi pelajaran!

”Lima detik! Hanya butuh lima detik hingga kamu akan pingsan!”

”Bocah sialan!” Donald marah, matanya menyala.

HIIIIIIAAAAAAA!

Woooossshhh!

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!