KAJA (Agro Secret)

Pilihan Kaja - 4

Bintang bertaburan,

“Kaja, kau sudah besar. Jalanilah hidupmu dengan keberanian, jika kau bisa memilih dalam perjalanan hidupmu, maka pilihlah menjadi sosok bertanggungjawab.”

“Iya Kakek,” Kaja tersenyum pada Kakeknya.

“Dunia ini semakin kacau, yang kuat menindas yang lemah. Jika saatnya tiba, kau akan berpetualang membuka cakrawala dunia. Kakek ingin tahu, di masa depan kau ingin menjadi apa?”

Kaja Nampak berpikir sejenak, dengan kekuatan yang seolah muncul tiba-tiba siang tadi, Kaja merasa dirinya kuat sekarang, “Kakek, aku ingin melindungi siapapun yang harus dilindungi, selama aku mampu aku akan melindungi siapapun.”

“Bagus Cucuku. Oya, aku akan mengajarimu Teknik rahasia, di luar sana orang yang kuat sangat banyak jumlahnya. Agar kau bisa bertahan hidup, aku akan mengajarimu cara menyembunyikan energi, sehingga orang akan sulit menemukanmu jika kau ingin kabur.”

Keduanya terlihat obrolan dan belajar Teknik ringan itu, lalu saatnya tidur. Noran mengelus kepala cucunya itu dan akhirnya mereka masuk ke rumah untuk istirahat.

Malam terlihat sunyi, dan siapa sangka kejadian besar akan terjadi di desa Pertiwi.

  *****

Kaja membuka matanya, hari mulai sedikit terang tanda pagi mulai datang, Kaja teringat sejenak apa yang dikatakan kakeknya semalam. Samar-samar dan masih gelap, Kaja mulai berdiri dan membasuh wajahnya dengan air. Namun, dia tak menemukan Kakeknya sama sekali. Biasanya, Noran sudah duduk di dipan tengah untuk memilih beberapa rempah.

Kaja memanggil Kakeknya, nihil.

Namun, di meja makan terdapat buah dan makanan, serta secarik kertas di bawah makanan tersebut. Kaja melihat sekeliling rumah gubuk kecil itu, semuanya telah rapi dibersihkan seperti rumah yang tak pernah dihuni. Semua perabot rumah sudah hilang dan itu seperti rumah yang tidak pernah dihuni oleh siapapun.

Artinya Noran semalam membersihkan perkakas seluruh rumah itu dan membersihkannya.

Kaja penasaran dan membaca surat itu.

Kaja, waktu Kakek habis.

Ingatlah, Kau harus kuat dan berpetualang sendiri.

Jika kau memiliki takdir Tuhan, maka carilah Kakekmu ini dan temukan Ayah dan Ibumu.

5 Tahun dari sekarang, Kami memiliki janji bertemu. Kau akan mengetahui rahasia kami, jika memang kamu sanggup bertahan di dunia yang kejam ini.

Bakar kertas ini setelah membacanya, maafkan Kakek pergi tanpa pamit.

Berhati-hatilah dan segera bersembunyi, bahaya mengancammu.

Noran/Bunto

Kaja benar-benar bingung, apa yang sebenarnya terjadi. Kakek menghilang dan pesan ini seperti sangat rahasia. Apalagi soal, Orangtuanya? Selama ini, Kaja tak pernah bertanya sama sekali soal orangtuanya, dan dia tak berani bertanya pada Noran Kakeknya. Dan, Bunto, nama itu seolah baru didengarnya sekali ini.

Tanpa ragu lagi, Kaja langsung membakar kertas itu dan makan makanan yang dihidangkan oleh Kakeknya untuk yang terakhir kalinya.

Kaja harus pergi, dia merasakan ada fluktuasi energi yang cukup banyak memasuki Desa Pertiwi. Kaja bersiap, membawa bekal seperlunya dan mempersiapkan petualangannya.

Namun, belum sempat menuju pintu depan. Kaja sudah merasakan ada aura yang begitu besar dan beberapa orang yang hendak menuju rumahnya.

Kaja masuk ke dalam bunker bawah tanah dengan cepat, ruangan tersebut dibuatnya bersama Noran saat membuat ruang rahasia di rumah itu dulu.

Teknik menyembunyikan energi yang semalam diajarkan Noran langsung dipraktekkan Kaja, dia menyembunyikan energinya dan menghapus keberadaannya. Betapa kagetnya Kaja mengetahui ruang rahasia di bawah lantai itu ternyata kini digunakan Noran untuk menampung semua perkakas rumahnya. Tv, alat masak dan seluruh perabot hampir memenuhi ruang rahasia itu.

BRAAKKK!

Pintu didobrak keras. Beberapa orang masuk, Kaja melihat dari celah lubang kecil dan membuat pernapasannya setenang mungkin hingga tak disadari oleh siapapun.

Lelaki kekar dari bahunya dan ada armor megah dibahunya mencari di sekeliling sudut, terlihat marah dan memukul tiang hingga hancur.

“Bonto sudah kabur! Sepertinya Raid ini sudah bocor.”

“Tenanglah Sento, Setidaknya kita tahu bahwa dia benar disini, itu artinya dia masih hidup. Kita masih memiliki kesempatan untuk menemukan AGRO,” Lelaki berjubah dan menutupi kepalanya itu adalah Bayu, pemimpin Aflif Trigger.

Seorang lagi terlihat lebih santai, dia mengenakan pedang di tangan kirinya, “Benar kata Bayu, aku sudah tahu kalau Bonto pasti sudah tahu akan raid ini. Dia bukanlah orang yang mudah ditemukan tentunya karena memiliki link ke Aflif pusat. Setidaknya, meski gagal kita sudah mendapatkan bayaran kita karena menerima misi ini,” Gara tampak tenang sambil meletakkan pedangnya di dada dengan tangan kirinya.

Sento berbalik kea rah pintu keluar, “Lalu, bagaimana dengan Aflif yang lainnya? Apakah mereka langsung pergi”

Bayu mengikuti langkah Sento, “Sepertinya mereka bersenang-senang dengan penduduk desa karena kecewa tak menemukan Bonto. Penduduk Desa tentunya menjadi bulan-bulanan mereka.”

“Apa kita akan pergi begitu saja dan membiarkannya?” Sento mulai melangkah meninggalkan rumah.

“Tentu saja, itu bukan urusan kita,” Bayu pun ikut keluar.

Garra hendak pergi juga, namun matanya sempat menoleh dan memperhatikan kearah Kaja bersembunyi, dia merasakan ada sedikit energi yang terpancar tadi, namun kemudian menghilang kembali.

Garra tersenyum dan menggerakkan tangannya ke meja dan mengeluarkan sedikit kekuatan energinya untuk mengukir sesuatu. Kemudian dia pergi meninggalkan rumah itu.

Beberapa saat kemudian, Kaja merasakan mereka sudah pergi menjauh, dia keluar dari persembunyian dan melihat ke meja yang diukir oleh Garra tersebut. Kaja merasakan kalau Orang tersebut merasakan kehadirannya sebentar, namun tak melakukan apapun.

Kaja melihat ada ukiran seperti pahatan di atas meja, disana tertulis

PERGI ATAU SELAMATKAN DESAMU

Kaja memusatkan energinya, dia ingin merasakan apakah ada aura yang bertabrakan atau saling bertempur. Kaja merasakannya, ada pertarungan yang dirasakannya, dan itu pertarungan yang cukup banyak. Artinya, penduduk desa dan perguruan Angin Timur mungkin benar sedang bertarung mempertahankan desa mereka dari para pengganggu.

 

Kaja terheran melihat tulisan tersebut. Apakah benar desa Pertiwi dalam bahaya? Bukankah mereka punya anggota Aflif yang mengajar perguruan Angin Timur? Kaja punya pilihan, antara pergi dan menyelamatkan diri atau ikut berjuang bersama dengan para penduduk.

Kaja sudah berjanji pada Kakeknya Noran, bahwa cita-citanya adalah melindungi kehidupan dan orang lain yang kesusahan. Apapun yang terjadi, Kaja akan berjuang sebisa mungkin melindungi penduduk desa, meskipun apapun taruhannya.

Kaja memilih berjuang, dan segera melesat pergi dan menuju pertempuran. Kaja merasakan ada aura yang sangat kuat, aura demi aura yang saling bertabrakan dirasakannya. Kaja terus meliuk diantar pepohonan dan sesekali mendorongkan kakinya dari pohon ke pohon untuk mempercepat lajunya. Semoga belum terlambat.

Seseorang di atas pohon memperhatikannya, Lelaki itu adalah Garra. Dugaannya benar, pasti akan ada tontonan yang cukup menarik nantinya. Garra menantikannya. Lelaki itu kemudian tersenyum kecil dan kemudian mengikuti Kaja dari kejauhan.

Bersembunyi

Aflif sudah mulai ada awalnya untuk membawa kedamaian dan agar setiap seniman beladiri berada di bawah naungan peraturan sehingga tidak saling menghancurkan. Aflif didirikan dengan tujuan dan perdamaian.

Sayangnya, kelompok yang kuat pada akhirnya yang menjadi pemegang kekuasaan, jika dipegang oleh orang yang jahat tentu saja ketamakan akan membuatnya lupa pada tujuan awal didirikannya Aflif.

Dalam dunia ini, ada 5 tingkatan beladiri yang umum diketahui

Tembaga, Perunggu, Perak, Emas dan Kristal.

Manusia biasa bisa dianggap mereka berada pada level Tembaga, atau bahkan Besi karena tak memiliki kemampuan bertarung sama sekali.

Hanya sedikit para seniman beladiri yang mencapai Emas maupun Kristal yang tentunya akan menjadi orang yang sangat dihormati dan disanjung.

Ada 3 cara memperoleh kekuatan di seluruh benua ini

Pertama : Dengan berlatih keras

Kedua : Dengan memakan Buah Syurga

Ketiga : Dengan menyerap energi, yaitu menyerap energi core dari Rakuta

Kebanyakan orang berlatih dengan giat sehingga mendapatkan poin pertama, harapan untuk mendapatkan buah surga menjadi perebutan, hanya segelintir orang yang memperolehnya. Sedangkan menyerap core Rakuta pun harus berani bertempur dengan Rakuta dan mempertaruhkan nyawanya.

Biasanya untuk mendapatkan core Rakuta, mereka melakukan raid dengan tim Aflif mereka bahkan meminta bantuan Aflif lainnya.

***

Aflif ‘True Demon’ sudah mendapatkan kabar dari Trigger soal keberadaan Bunto yang sudah meninggalkan tempat raid. Mereka pun tak mengambil pikir panjang dan meninggalkan tempat itu, meski gagal, uang job sudah masuk karena misi mereka menangkap hidup-hidup Bunto, meski gagal mereka sudah menerima misi sehingga uang muka sudah masuk.

Malah, beberapa dari tim True Demon merasa lega karena tak berhadapan dengan Bunto yang pastinya merupakan praktisi yang kini tentu sudah melebihi rank Emas karena 10 tahun yang lalu sudah berada di puncak Emas.

Untuk raid ini sendiri dibutuhkan empat Aflif yang memang sudah direncanakan untuk mengepung Bunto dan setidaknya membuat Bunto kewalahan. Mereka segera kembali dari Misi, kecuali dua tim Aflif, ‘Mayapada dan Bumi Langit’

Perseteruan diantara Aflif memang sudah lumrah terjadi, bahkan pembunuhan diantara Aflif yang bersaing tak lagi dihiraukan. Itu urusan mereka. Yang kuat akan menjadi raja dan yang lemah akan disingkirkan.

Banyak yang sudah siap menggantikan dan mendaftar Aflif, jika ada anggota atau tim Aflif sendiri yang musnah karena perselisihan akan langsung dicoret dan dianggap tak pernah ada oleh aliansi Aflif.

* * *

KLANG! KLANG! KLANG!

Pertarungan terjadi demikian ganas. Perguruan Angin Timur harus mati-matian menghadapi dua kekuatan besar dari aliansi Aflif.

Pertarungan tak imbang, Bumi Langit dan Mayapada mengumpulkan penduduk desa dan menyeret mereka semua ke lapangan meski ada beberapa yang melarikan diri. Perguruan Angin Timur pun awalnya sudah menjelaskan kalau Bunto yang mereka cari tak ada di pulau itu bahkan mendengar namanya pun mereka belum pernah.

Aflif Mayapada yang dipimpin oleh Ranggi masih belum puas akan jawaban para guru di Perguruan Angin Timur sehingga terjadi perselisihan, ditambah dengan Aflif Bumi Langit yang memang terkenal bengis.

Pertarungan tak imbang terjadi, para guru yang juga Aflif itu hanya berada di rank Perak sehingga tak mampu bertarung imbang dengan Mayapada yang terdiri dari 5 orang yang Ketuanya Ranggi berada di rank awal Emas sedangkan sisanya ada di rank Perak.

Sedangkan di Aflif Bumi Langit ada Nagin sebagai pemimpin berada di puncak Perak dan sisanya enam anggotanya berada di pertengahan rank perak.

Setiap tingkatan rank memiliki tiga tingkatan; Awal, tengah dan puncak.

Hanya sepuluh menit pertarungan itu terjadi, meski sempat ada perlawanan, perguruan Angin Timur takluk dengan cepat. Para guru perguruan mengaku menyerah dan mereka menderita luka-luka. Bahkan beberapa murid yang mereka ajari pun hanya sekali kibasan saja sudah terluka, termasuk Baron dan Bowo yang terpental dengan sekali kibasan tangan Nagin dan rekan-rekannya.

BUK!

Akhir pertarungan Nagin terjadi saat dia menendang Guru perguruan Angin Timur dan menyebabkan sang Guru itu terpental beberapa meter ke belakang dan jatuh diantara para penduduk dan murid-muridnya.

Ranggi mengeluarkan sebuah foto lebar tentang wajah Bonto dan memperlihatkan kepada penduduk dan juga perguruan Angin Timur, “Perhatikan baik-baik! Pernah kalian melihat orang di gambar ini!” Suaranya menggelegar sambil membentak.

Semua orang disana mulai ingat, tentu saja mereka sedikit tahu, namun namanya adalah….

Andi yang merupakan pemimpin perguruan Angin Timur pun memberanikan diri menjawab, “Itu… itu adalah kakek Noran!”

Nagin segera mendekati Andi dan mencengkeram kerah baju itu, “Noran katamu! Dia adalah Bonto, buronan yang dicari Aflif selama 10 tahun! Katakan sekarang, dimana dia tinggal!” Membentak marah.

“Ru… Rumahnya di tengah hutan sebelah barat.”

Nagin melepaskan cengkeramannya itu kuat.

“Bagaimana ini? Apakah kita langsung kesana?” Nagin bertanya pada Ranggi.

“Sial! Kau pikir kau bisa sejajar dengan kami?” Ranggi menepuk pundak Ketua Aflif Bumi Langit itu dan menyalurkan energinya, Nagin sedikit menahan sakit. Di dalam hatinya, dia ingin membalas tapi kemampuannya tentu jauh berbeda.

Nagin paham, Tim Aflifnya hanyalah tim sapu bersih, bahkan mungkin dikorbankan oleh Aflif lainnya karena mereka masih terlalu lemah.

“Aku mau bekerjasama dengan kalian, hanya untuk memanfaatkan kalian saja! Hahahahaha…, jangan pernah menganggap kita sejajar Brengsek!”

Nagin pun tak berani melawan, ada rasa sakit di pundaknya hingga Ranggi melepaskannya.

“Tiga orang berjaga disini, yang lain kita akan segera ke rumah Bonto” Perintah Ranggi.

Belum sempat mereka bergerak, jam alat telekomunikasi mereka berbunyi. Pesan dari Aflif True Demon yang sejak awal memang sudah bergerak, pesan itu terdengar dari ketuanya, Cukra Mamba, “Raid telah gagal, Bonto sudah mengetahui raid ini.”

Ranggi nampak sedikit kesal, dia memerintahkan pada penduduk desa untuk mengambil harta mereka semua kalau nyawa ingin selamat. Selain masih mendapatkan uang dari Asosiasi Aflif, mereka tak ingin mubazir dan merampas harta penduduk desa dan juga milik perguruan Angin Timur.

Semua bergerak mengumpulkan harta yang mereka miliki, nyawa lebih berharga tentunya, dan mereka juga semakin sadar bahwa Aflif tidak seperti yang mereka dengar sebagai pasukan yang melindungi, melainkan para penjahat yang bersembunyi dari topeng kebenaran.

Setelah harta terkumpul, Ranggi tersenyum. Ada baiknya Aflif True Demon sudah pergi, mereka bisa bersenang-senang. Ranggi pun melihat harta yang bertumpuk, dia mengambil hampir seluruhnya dan hanya menyisakan sedikit untuk Aflif Bumi Langit. Nagin dan keenam rekannya harus pasrah karena mereka lemah, mungkin hanya 1/10 bagian yang ditinggalkan untuk mereka.

Ranggi tersenyum, “Nagin! Aku masih berbelas kasih, itu bagianmu dan rekan-rekanmu, Hahahaha! Kita pergi dari sini!” Empat orang dari timnya mengikutinya sambil tertawa lirih dan meludah, mereka pergi meninggalkan Nagin dan rekan-rekannya.

Penduduk Desa ketakutan dan masih berkumpul, sedangkan murid dan Guru perguruan Angin Timur sudah terluka semua dan masih terduduk dan merawat luka sesamanya.

“Sial! Sungguh Sial!” Nagin berteriak tak karuan setelah Aflif Mayapada hilang dari pandangan dan melesat pergi. Nagin masih kesetanan sambil memegang bahunya yang terluka akibat energi Ranggi tadi, rasanya masih pegal dan ngilu.

 

Sementara, Kaja masih bersembunyi di pepohonan kecil rimbun di bawah pohon besar sambil menyembunyikan keberadaan energinya. Seseorang pun masih mengawasinya dari jauh dan menunggu pertunjukkan yang menarik lainnya. 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!