KAJA (Agro Secret)

Kaja, Sudah Waktunya

Dunia ini kejam bagi mereka yang lemah. Para pendekar yang kuat terkadang tak peduli dan berbuat keonaran dan merampas hak yang lemah. Organisasi Aflif dibentuk di seluruh dunia untuk menjaga perdamaian, mereka mendapatkan misi untuk menumpas ketidakadilan. Namun, Aflif tak bisa membedakan mana anggota yang baik dan jahat, akhirnya Aflif berjalan begitu saja. Semakin lama, misi yang diperoleh dengan bayaran tinggi adalah misi kebaikan dan kejahatan, hanya saja persatuan para Aflif tetap besar.

Aflif masih diharapkan menjadi penjaga dan pelindung bagi kedamaian dunia.

Perguruan Angin Timur

Boom Boom Brak!

Bam Bam Bam

Tempat latihan di Perguruan Angin Timur terlihat ramai, seorang Master terlihat memberi pengarahan kepada 20an muridnya di dekat pintu masuk atau lapangan perguruan tersebut. Plang besar terlihat megah. Ya, di desa terpencil yang bahkan jauh dari akses kota serta daerah perbukitan yang bisa dibilang terletak di pulau kecil yang tidak teridentifikasi oleh dunia.

Zaman ini, dimana kekuatan adalah segalanya. Mereka yang kuat menjadi tuan dan yang lemah menjadi budak. Perguruan menjadi satu-satunya tujuan anak-anak di sekolahkan, selain belajar ilmu beladiri mereka juga diajari pengetahuan secara umum.

Dan… setiap anak hanya menginginkan satu tujuan untuk masa depan cerah mereka… MENJADI ANGGOTA AFLIF

Aflif adalah sebuah bentukan yang diakui seluruh dunia, mereka mendaftarkan kelompoknya untuk menerima misi dan mendapatkan uang. Ini dunia modern, hidup di daerah terpencil tentu saja harapan untuk menjadi orang besar sangat minim dan juga menjadi cita-cita tertinggi seseorang.

***

Seseorang remaja melewati perguruan Angin Timur, angin menerpa wajahnya yang tenang dan setetes keringat terlihat normal membasahi wajahnya. Seperti biasa, dia akan menerima penghinaan dari murid-murid perguruan, namun dia akan tenang dan melewatinya.

“Bocah kuli air lewat lagi, masa depanmu pasti di bawah kaki !” Baron tertawa ditemani rekan-rekannya.

“Benar Bos! Hidupnya akan sengsara selamanya, menjadi budak si Kakek Noran,” Sahut Bowo yang selalu menjadi tangan kanan Baron.

Remaja itu tanpa ekspresi tetap berjalan, satu kayu pikulannya memikul ember di kanan dan kiri, sedangkan tiap tangannya masih memegang ember berisi air. Jumlahnya jadi 4 ember air. Dia harus membawanya tiap hari dan harus menerima hinaan setiap harinya.

Seorang wanita berumur 12 tahun meminta Baron untuk berhenti menghina, “Sudahlah Kak, Biarkan dia!” Itu adalah Putri, adik kandung dari Baron.

“Membiarkannya? Hahahaha,” Baron mengambil batu sebesar kepalan tangan dan melemparkannya ke salah satu ember remaja tersebut.

Ember sempat limbung namun remaja itu sudah tiap hari membawa ember air itu dan dia sudah bisa menyeimbangkan air jika ada goncangan atau lainnya meskipun dia hampir jatuh dan dia menyangga kuat kaki kanannya sehingga dia dapat mencapai keseimbangannya kembali.

Putri berlari mendekati Remaja itu, “Kaja, maafkan Kakakku,” wajah gadis itu terlihat memohon dan akan membantunya untuk tegak lagi.

KAJA, 13 Tahun. Tanpa Kemampuan, bisa dibilang kemampuan beladiri 0 dan tak pernah berlatih, TINGKATAN TEMBAGA.

“Tidak Perlu Nona, Aku bisa meneruskan jalanku,” Kaja menolak bantuan Puteri, “Aku Pamit Nona, Terimakasih. Oya, terimakasih untuk apelnya, suatu hari aku pasti membalasnya, aku janji itu.”

Kaja melangkah pergi meninggalkan murid-murid perguruan yang masih tertawa.

Putri menatap punggung Kaja, rasa kasihan menyeruak padanya. Dia hanya kasihan pada masa depan remaja itu, terasing tak berteman dan hanya bekerja keras tinggal di gubuk bersama kakeknya.

Sebutir apel, Putri memberikan pada Kaja dari bekalnya saat Kaja berumur 6 tahun dan kelelahan membawa dua ember air dari gunung. Putri melihat Kakek Noran sebagai kakek yang kejam, membiarkan Kaja terus membawa air dari gunung, bukankah di rumah juga ada air. Saat itu, Kaja terjatuh dan airnya tumpah, Kaja kelelahan dan akan kembali ke gunung mengambil air dari sumber di pegunungan itu, Putri memberinya sebutir apel.

Putri, Tingkatan Perunggu Bintang 1

Baron, Tingkatan Perunggu Bintang 2

Dan tingkatan Tembaga, adalah tak ada harapan, Sampah.

Memasuki Tingkatan Perunggu, masa depan seseorang bisa digambar indah, tinggal kerja keras dan berlatih sungguh-sungguh. Ada harapan.

****

Tepat pukul 12.02 siang, Kaja sampai rumahnya. Gubuk sederhana, di depan gubuk itu tanah lapang dan tempat menjemur sesuatu, rempah dan hasil kebun.

“Salam Kakek, aku pulang,” Kaja tersenyum, kakeknya memang terlihat keras padanya dan bahkan memaksanya bekerja keras. Namun, dia tahu Kakeknya sangat menyayanginya karena setiap malam, kakeknya selalu di sampingnya dan mengelus kepalanya. Kaja sadar akan hal itu, dan itu perasaan yang nyaman.

Kaja menaruh ember-embernya pelan ke tanah. Satu untuk minum sehari, dua untuk kakeknya dan satu lagi untuk dirinya. Itulah peraturannya. Kaja membawa satu untuk dituangkan ke bak mandi disana sudah ada rempah yang disiapkan kakeknya.

“Kaja!! Kau telat dua detik lagi, siapkan hukumanmu! Kau berendamlah dan mandilah dulu!” Kakek Noran terlihat memilih rempah-rempah dan juga membiarkan TV menyala.

“Iya Kakek.”

Kaja pun berendam air yang sudah ada rempah disana. Rasanya nyaman dan sejuk, energi yang dilepaskan selama pagi hingga membawa air seolah hilang dan tertinggal hanya kesegaran. Meskipun lelah seperti apapun, jika berendam maka dirinya akan segera pulih, dia tahu kakeknya adalah pembuat obat dan penawar terbaik.

***

37, 38, 39, 40, 41

Kaja terus melakukan Push Up, genap 100. Lanjut Kaja berlari mengelilingi lapangan di depan rumah gubuknya, mungkin luasnya setengah hektar, dan dia pun harus menggenapkan larinya 100 kali putaran. Namun, Kaja sudah terbiasa dan larinya pun sudah sangat teratur, memang berkeringat tapi tak lagi lelah. Staminanya sudah sangat konsisten.

Noran yang merupakan kakeknya melihat sesekali dan tersenyum dari pintu.

Genap 100 Putaran, tubuh atletis Kaja bermandikan keringat. Dia pun membasuh wajahnya dengan kain dan Kakeknya sudah berada di dekatnya.

“Ayo Pergi!”

“Iya Kakek.”

***

Kegiatan Rutin Kaja bersama kakeknya, sekira pukul 15.00, mereka akan ke hutan. Noran akan mengajari Kaja tentang karakteristik tumbuhan, kandungan serta racun tanaman, semua hal. Ramuan, herbal, semua hal sudah dipelajari Kaja dengan baik.

Namun anehnya, Noran tidak menyembuhkan manusia sebagai prakteknya. Noran mengajari Kaja mengobati setiap hewan yang terluka, entah itu sakit karena luka pemburu, bertarung sesame hewan, hingga penyakit bawaan atau bahkan luka lainnya.

Pengobatan Noran sangat manjur, belum pernah Kaja melihat hewan yang tak sembuh apapun penyakitnya dan Kaja pun diajari semua cara pengobatan pada hewan.

Saat mengajari campuran herbal penyembuh, suara auman terdengar begitu keras.

AAAUUUMM AUUMMMM AAAUUMMM !!!

“Bergerak!” Noran meminta Kaja bergegas mengikutinya, tak jauh dari sana Nampak hewan yang besar sebesar gajah dewasa. Kaja membelalakkan matanya, Itu! Itu! ADALAH…

Rakuta, Hewan Jiwa, Hewan Surga atau bahkan disebut Hewan Iblis.

Baru pertama kali ini Kaja melihat Rakuta, mereka adalah hewan yang bisa bertahan hidup lebih lama dari hewan biasa. Mereka mengalami panjangnya kehidupan, anugerah itu membuat mereka menjadi kuat namun sayang, dibalik itu manusia mengincar kekuatan mereka dan menjadikan manusia memiliki kekuatan lebih demi keserakahan dan ambisi mereka.

Rakuta jenis Singa besar dan bersayap, dia terluka dan terlihat sudah kehabisan tenaga. Tiga orang di sekitarnya sudah mati menjadi mayat, sepertinya dia habis bertempur habis-habisan.

Noran meminta Kaja berada di belakangnya dan mendekati Rakuta tersebut, pelan-pelan mendekati namun nampaknya Rakuta jenis Singa Bersayap itu hanya melihat mereka mendekat dan hanya mendesah semata. Sepertinya lukanya serius.

“Racun!”

“Apa dia terkena racun Kek?”

“Ya!”

Noran dan Kaja mendekati Rakuta tersebut, sangat dekat. Noran sangat hati-hati, Rakuta adalah hewan Jiwa yang kekuatannya besar dan jika marah tentu sangat berbahaya. Namun, Noran melihat kaki Rakuta Nampak biru tua dan sisanya seluruhnya pucat membeku biru.

“Racun Big Cobra. Racun yang sangat mematikan. Jika tak tertolong, Rakuta ini tak akan bertahan lebih dari dua jam, dan ini sudah satu jam sejak racunnya menyebar.”

Kaja mendengarkan apa yang dikatakan kakeknya dengan seksama, sepertinya racun itu memang mematikan. Big Cobra sendiri adalah rakuta jenis ular Kobra yang racunnya dikeluarkan dengan menyemburkan air dari mulutnya, yang terkena akan mengalami sekarat hingga dua jam dan akhirnya meninggal.

Jika itu bukan Alkemis hebat, pasti yang terkena racun Big Cobra akan menemui kematiannya.

“MANUSIA…., dengarkanlah Aku.”

Kaja terkaget mendengar suara dari Rakuta tersebut, namun kakeknya Noran seolah tak bergeming.

“Manusia…”

“Kau memanggilku?” Kaja menatap mata sayu Rakuta singa bersayap tersebut.

Noran Nampak keheranan melihat cucunya, “Kamu bicara dengan siapa, jangan-jangan…” Matanya membelalak.

“Ternyata kau bisa mendengarku, aku adalah Bajra. Nyawaku sepertinya tak lama lagi, manusia selalu mengejarku. Aku dilumpuhkan oleh racun mematikan, manusia selalu menginginkan kekuatan kami.”

“Aku mendengar suaranya Kakek,” Kaja menjelaskan pada Kakeknya, Rakuta itu bernama Bajra dan sudah diracuni dengan anak panah.

Noran menepuk pundak Kaja, “Ini adalah takdir, sembuhkan dia aku akan memandumu melakukannya.” Kaja pun mengangguk.

“Aku dan Kakekku akan berusaha menyembuhkanmu. Jadi, tenanglah.”

Bajra pun pasrah.

Kaja sudah belajar banyak, dia mengambil Rumput dan bahan untuk menghentikan peredaran racun. Kaja mengambil pisau menyobek kaki Rakuta yang Nampak rajun, mengoleskan ramuan tumbukan dan mengikat agar racun tak menyebar.

Noran melihat Cucunya itu, “Kaja, ini adalah giliranmu. Aku hanya akan memandumu saja, aku akan mengajarimu Teknik Tertinggi Pengobatan Surgawi.”

“Letakkan tanganmu pada Kaki Rakuta yang terkena racun,” Noran memerintahkan Kaja.

“Rasakanlah seluruh aliran darah dan sel tubuhnya, gunakan konsentrasi penuh dan satukanlah pikiranmu, masuklah ke area dimana pergerakan Rakuta, cobalah.”

Kaja mengikuti apa yang dikatakan kakeknya, terdiam dan merasakan seluruh pergerakan di dalam Rakuta.

Keajaiban terjadi, di dalam pikiran Kaja Nampak bersinar. Dia merasakan pergerakan apapun di tubuh Rakuta, sedetail mungkin. Semakin berkonsentrasi, tubuh Rakuta seperti tembus pandang dan dia melihat seluruh sel dan aliran darah, melihat tulang yang dialiri urat syaraf, melihat gumpalan racun yang menyebar perlahan.

Noran sendiri pun kaget melihat hal itu, Tingkatan Anak ini sudah mencapai taraf menengah Gold Alkemis?

“Kaja pusatkan energimu, paksa seluruh kabut beracuh keluar melalui luka yang kau sobek tadi, keluarkan semuanya”

Kaja mengangguk, dia mengarahkan kedua tangannya, keringat mulai mengucur, konsentrasi dan serpihan-serpihan racun dia dorong dengan energinya, sedikit demi sedikit, hingga bersih dan keluar hitam darah dari luka yang digores tadi.

Kaja kelelahan.

“Terakhir, gunakan Spirit Recovery Sel.” Noran menjadi penasaran dan ingin melihat kemampuan cucunya itu, dulu dia sendiri bisa melakukan Recovery Sel setelah berumur 25 tahun.

Benar saja, Kaja perlahan melakukannya. Luka bekas sobekan dalam kendali Kaja, Recovery Sel adalah penyembuhan total dari luka dan membuat regenerasi sel menjadi fantastis cepat, menyatukan sel-sel rusak, dan mengganti jadi sel-sel baru dalam waktu singkat. Luka Rakuta sembuh total seolah tak pernah ada luka. Noran hanya bisa berdecak kagum dalam hatinya, Luar Biasa!

“Terimakasih Manusia, Siapa namamu?” Rakuta berdiri dengan gagahnya.

“Kaja. Dan ini Kakekku, Noran.”

Bajra si Rakuta pun berpamitan, suatu hari dia akan membalas budi pada Kaja dan Kaja pun tersenyum padanya.

Hari mendekati petang, Noran yang beberapa saat mengajari kembali tentang pengobatan menyuling tanaman herbal hingga klasifikasi setiap tanaman. Noran mengajak Kaja pulang, hari yang cukup melelahkan bagi Kaja, energinya sudah diluapkan namun dia terlihat bahagia bisa mengobati Rakuta. Dia tahu, Rakuta bukanlah Iblis seperti banyak dibicarakan orang, bahkan oranglah yang bisa disebut iblis karena memburu Rakuta demi mendapatkan kekuatan besar.

* * *

Malam itu, langit terlihat cerah dan bintang bertebaran di langit.

Noran berada didekat Kaja yang sudah tertidur lelah sekali. Senyuman indah terukir di bibir Noran, Entah sampai kapan aku dapat menemanimu Kaja

Tuutt Tuuut Tuuutt Tuuttt Tuuuutt Tuuuutt

Suara dari mesin lawas itu mesin puluhan tahun yang lalu berbentuk kotak. Sebuah mesin pesan yang sudah ketinggalan zaman namun masih memiliki sistem energi di dalamnya.

Tidak mungkin, apakah ini waktunya. Atau jangan-jangan ada info penting?

Noran mendekati sebuah kotak rahasia di atas lemari, mesin pesan berukuran handphone itu menyala. Noran membacanya.

WAKTUMU 3 HARI, BERGEGASLAH PERGI. TEMAN LAMAMU.

Noran membelalakkan matanya, sudah waktunya aku pergi. Noran melihat Kaja yang masih terlelap.

Tak kusangka, sebatas ini aku bisa melindungimu. Sisanya, biar kau jalani hidupmu sesuai takdir yang akan membawamu serta. Kau memiliki takdirmu sendiri, jika kau kuat kau akan bertahan dan menemukan jalanmu sendiri.

Noran mematikan mesin pesan kecil itu, mendekati Kaja dan menjulurkan tangan kanannya di atas kepala Kaja, ada cahaya di tangan tersebut dan seolah masuk ke kepala Kaja.

Aku hanya bisa memberikan sedikit aura kepadamu, sisanya kau sudah berlatih selama ini dan semua tergantung padamu dan takdir Tuhan.

 

Sudah waktunya kita berpisah Kaja

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!