Jatuh Cinta di Tanah Lada

Peta Ini Akan Menuntunmu Kepadaku 2

Mereka mulai merencanakan apa yang akan mereka lakukan setelah lulus kuliah. Pada bagian rencana ini, Atikah lebih sering diam. Abak sama amak sudah sangat jelas menyuruh Atikah pulang ke Solok—tepatnya di Lipek Pageh—ketika sudah lulus kuliah.

Anak perempuan adalah milik keluarganya. Itu yang selalu digaungkan di telinga Atikah. Garis keturunan yang dipakai pun garis keturunan ibunya. Masalah yang dihadapi Atikah mungkin tidak akan serumit ini andai dia memiliki kakak atau adik perempuan. Sayangnya, Atikah adalah anak sulung dari tiga bersaudara dan satu-satunya perempuan. Pilihannya sudah jelas, dia harus menikah dengan lelaki yang bisa dia ajak pulang alias tinggal di Lipek Pageh mengikuti dirinya.

Amak memiliki satu adik laki-laki yang biasa Atikah panggil dengan sebutan Engku. Semua alur hidup Atikah pasti melibatkan Engku. Pun halnya dengan pernikahan.

Tidak ada yang bisa menggantikan Atikah menjaga rumah dan harta pusaka keluarga yang bisa dikatakan cukup banyak untuk ukuran orang kampung. Atikah adalah perempuan penerus keluarga. Hal itu sudah tertanam sejak usianya sepuluh tahun. Bertepatan dengan pengangkatan rahim yang harus dilakukan amak. Atikah tak bisa membantah saat amak bertitah. Satu-satunya kesempatan dia pergi adalah ketika kuliah di Jatinangor.

Dan akhirnya, Atikah tahu bahwa laki-laki itu bukan Nursan. Rasanya mustahil mengharapkan Nursan mau ikut tinggal di Lipek Pageh bersama keluarga Atikah.

Sebagai anak laki-laki paling tua, Nursan sendiri diharuskan untuk pulang dan mengurusi keluarganya. Mau tidak mau, perempuan yang nantinya menjadi istri Nursan, harus dibawa oleh Nursan tinggal di kampungnya.

Dua tahun setelahnya, Nursan benar-benar pulang ke Bandar Lampung. Dia diterima sebagai dosen di Universitas Teknokrat. Di pertengahan tahun 2000-an itu, Teknokrat sedang berkembang. Dengan kemampuannya, Nursan diterima nyaris tanpa kesulitan.

Hingga Nursan melanjutkan pendidikan ke Negeri Jiran, mereka masih percaya bahwa di satu waktu nanti mereka akan menemukan titik temu. Entah jalan seperti apa yang harus mereka tempuh terlebih dahulu. Bertahun-tahun Atikah memupuk harapan semoga amak dan abak berubah pikiran.

Setelah lulus kuliah, Atikah akhirnya pulang kampung memenuhi keinginan abak dan amak. Mengabdi sebagai guru di sebuah SMA Negeri di Solok. Bagi amak dan abak, guru adalah profesi terhormat yang sangat cocok untuk seorang perempuan. Amak tak peduli berapa biaya yang harus dikeluarkannya saat Atikah kuliah. Menurut amak, perempuan itu harus berpendidikan. Sekolah setinggi mungkin selama ada kesempatan. Kepulangan Atikah dan keberhasilannya lulus tes menjadi guru SMA Negeri merupakan kebanggaan tak terhingga bagi amak.

Kuliah hingga mendapat gelar sarjana sudah, menjadi guru pun sudah. Fase hidup selanjutnya yang ditanyakan amak dan abak tentu saja calon suami.

“Tidak bisa. Abak dan amak tidak akan memberikan restu kalau kamu ingin menikah dengan Nursan. Kamu mau dibawa sama laki-laki itu? Pergi meninggalkan rumah dan tanah pusaka? Amak putuskan, tidak bisa. Kamu satu-satunya pewaris yang harus menjaga keturunan kita. Menjaga rumah dan tanah pusaka. Amak sudah tua, abak juga. Siapa yang akan meneruskan keluarga kita kalau bukan kamu?” Meski pelan, ketegasan nada bicara amak sudah jelas tidak bisa dibantah.

Atikah tak menyerah. Dia meminta Nursan untuk berjuang bersama. Gayung pun bersambut. Sebagai bukti dari kesungguhan niatnya ingin hidup bersama Atikah, di tahun kelima dan ketujuh hubungan mereka, Nursan memberanikan diri datang menemui orang tua Atikah. Meski saat itu Nursan sendiri masih berjibaku menyelesaikan kuliahnya di Malaysia.

Nursan diterima dengan sangat baik. Layaknya tamu yang harus dimuliakan. Dalam dua kali kedatangannya, tak sedikit pun Nursan merasa tidak diterima di keluarga Atikah.

Sayangnya, tujuan perjalanan tak sesuai seperti yang mereka harapkan. Ketika niat meminang Atikah diutarakan, jawaban pihak keluarga Atikah selalu sama. Nursan hanya bisa menikahi Atikah jika mau pindah dan tinggal di Lipek Pageh. Di pertemuan kedua, Engku menjelaskan panjang lebar keputusan keluarga besar mereka terhadap calon suami Atikah.

Malam itu, tak ada lengkung bulan sabit yang menjadi ciri khas senyum Atikah. Nursan tahu, semuanya telah berakhir. Lima belas menit terakhir sebelum Nursan berpamitan, Atikah hanya bisa menatap tanpa harap. Menggenggam tangan Nursan, menyampaikan sesal dan maaf yang mungkin tak akan pernah bisa dilupakannya.

“Keluargaku petani. Ada beberapa hektar kebun yang menjadi tanah pusaka keluarga. Sebagai anak perempuan satu-satunya, aku harus menunggu rumah dan menjaga tanah pusaka dengan baik. Jika aku pergi, garis keturunan keluarga kami bisa terancam habis. Karena di sini garis keturunan itu mengikuti ibu atau pihak perempuan. Bukan pihak laki-laki. Jika aku pergi, anak keturunanku otomatis akan ikut suamiku,” ujar Atikah lirih.

“Kalau aku menawarkan sebuah solusi yang mengharuskan kamu menentang abak dan amak, apakah kamu mau?” Nursan mulai kehilangan pikiran jernihnya.

“Maksudmu?”

“Malam ini, aku bisa membawamu pergi dari sini. Kita menikah meski tanpa restu abak dan amak. Kalau di tempatku, biasa disebut larian.”

“Kawin lari?”

“Bisa dibilang begitu.”

“Enggak, San. Aku masih cukup waras untuk melakukan hal itu. Bagiku, restu abak dan amak jauh lebih penting. Tanpa restu dan doa mereka, aku yakin kehidupan yang akan kujalani tidak mungkin berjalan dengan baik.”

“Kita bisa berjuang bersama, Tik.”

“Langkah kita cukup sampai di sini. Kita akhiri ini dengan indah. Entah bersama maupun ketika harus berpisah. Semoga kita akan menemukan bahagia meski dengan cara yang berbeda.”

Nursan pamit membawa rasa sakit yang terasa begitu menghimpit. Langkahnya terseok menuju mobil yang dia sewa selama ada di Solok.

“Kamu benar-benar mencintainya?” suara abak mengejutkan Atikah. Lelaki paruh baya itu seolah sedang memandang lekat putri kecilnya. Abak mendengar semua pembicaraan Nursan dan Atikah. Ada nyeri dalam dada abak ketika Nursan mengajak kawin lari namun Atikah menolaknya. Bakti pada orang tua membuat Atikah harus menggadaikan kebahagiaannya sendiri. Bukan ini yang menjadi keinginan abak.

Atikah menunduk. Tak berani menjawab pertanyaan abak. Apa pun jawaban yang diberikannya, Atikah yakin jawaban itu tidak akan mengubah keadaan. Dia dan Nursan tetap harus berpisah.

“Kejarlah kalau kamu yakin bahagiamu adalah bersamanya. Abak merestui.”

Atikah hampir terlonjak. Dia mengangkat wajah dan memandang abak. “Abak tidak sedang bercanda, kan?”

“Kapan kamu melihat abak bercanda untuk urusan sebesar ini?”

“Tapi… Amak…”

“Kita pikirkan nanti,” tukas abak. “Hubungi Nursan. Abak memberikan restu.”

Setelah itu, Atikah melanjutkan kuliahnya ke jenjang S2 di Bandung. Sebenarnya langkah ini diambil oleh Atikah untuk menghindari amak dan keluarga besarnya. Rencananya, Nursan dan Atikah akan menikah di Bandung. Tentu saja, abak yang mengatur rencana ini. abak akan menjadi wali nikah sah bagi Atikah.

Semua berjalan sesuai rencana. Hingga lima bulan kemudian, entah bagaimana caranya, engku mengetahui kabar pernikahan Atikah dan Nursan. Engku datang ke Bandung bersama amak. Saat itu juga, Atikah dibawa pulang. Sebulan kemudian, Nursan menerima surat dari pengadilan agama yang isinya gugatan cerai dari Atikah. Kapal mereka harus karam tanpa bisa dipertahankan lagi.

***

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!