Jatuh Cinta Dengan Pengawalku

Retakan Pertama

Pagi itu datang seperti biasa tenang, rapi, dan terlalu sunyi untuk rumah sebesar itu, cahaya matahari masuk dari jendela tinggi, menyentuh lantai marmer yang dingin, tidak ada suara riuh, tidak ada percakapan panjang, hanya langkah pelan para pembantu dan sesekali suara pintu yang terbuka lalu tertutup kembali.

 

Claudia sudah berdiri di depan jendela sejak beberapa menit lalu, tangannya bertumpu ringan pada kaca, matanya menatap ke luar tanpa benar-benar fokus pada satu titik.

 

“Ayah, aku rindu…” bisiknya pelan.

Kalimat itu keluar begitu saja, seperti kebiasaan yang sudah lama ia lakukan, ia sendiri tidak tahu apakah ia benar-benar berharap jawaban atau hanya ingin suaranya tidak terpendam sendirian.

 

Ia menarik napas dalam lalu menghembuskannya perlahan, pikirannya masih teringat pada hari itu jalanan yang ramai, suara kendaraan, gedung-gedung tinggi, dan rasa takut yang datang bersamaan dengan rasa kagum.

 

Dunia luar ternyata tidak sesederhana bayangannya namun justru itu… Membuatnya semakin ingin tahu.

 

Claudia memejamkan mata sebentar, lalu berbalik menjauh dari jendela, hari ini ia tidak ingin hanya diam di kamar, ia mengambil cardigan tipisnya, lalu keluar dengan langkah pelan menuju taman belakang.

 

Udara pagi terasa lebih segar di taman. Embun masih menempel di daun-daun kecil dan cahaya matahari belum terlalu terik, Claudia berjalan perlahan di antara bunga-bunga yang ia rawat bersama Bibi, tangannya sesekali menyentuh daun atau kelopak bunga seperti memastikan semuanya masih ada di tempatnya.

 

Ia berhenti di dekat semak mawar, matanya sempat menatap ke arah pagar tinggi di kejauhan lalu ke sisi lain taman, ia tahu, seseorang ada di sana.

 

Claudia tidak langsung menoleh, ia hanya diam beberapa detik, seolah mengumpulkan keberanian sampai akhirnya, ia menoleh pelan.

 

Adrian berdiri di sana. Seperti biasa tegap, diam dan menjaga jarak. Namun kali ini, Claudia tidak menunduk, ia justru berjalan mendekat. Langkahnya pelan, tidak terburu-buru. Bahkan sedikit ragu di awal, tapi tetap maju.

 

Adrian memperhatikannya, sedikit heran biasanya, gadis itu hanya lewat tanpa bicara atau memilih menjauh namun pagi ini berbeda.

 

Claudia berhenti beberapa langkah darinya, tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh.

 

“Pagi,” ucap Claudia pelan.

Suaranya lembut, hampir seperti sapaan yang belum terbiasa ia ucapkan.

 

Adrian sedikit terdiam, lalu mengangguk kecil. “Pagi, Tuan putri.”

 

Claudia tidak langsung menjawab, ia justru menoleh ke arah taman lalu kembali menatap Adrian.

 

“Di luar… pagi juga seperti ini?” tanyanya.

Nada suaranya tidak memaksa, lebih seperti seseorang yang benar-benar ingin tahu.

 

Adrian sempat mengernyit. “Seperti apa maksudnya?”

 

Claudia berpikir sejenak. “Udara… cahaya… suasananya,” jelasnya pelan. “Apakah terasa sama?”

 

Adrian tidak langsung menjawab, ia melirik sekilas ke arah luar pagar, lalu kembali ke Claudia. “Mirip,” katanya singkat. “Tapi tidak sama.”

 

Claudia sedikit memiringkan kepala. “Bedanya?”

 

“Di luar lebih ramai,” jawab Adrian. “Lebih berisik, tidak setenang di sini.”

 

Claudia mengangguk kecil. “Aku sempat merasakannya,” gumamnya.

 

Adrian menatapnya, Claudia tersenyum tipis, tapi tidak sepenuhnya ceria. “Waktu aku… keluar,” lanjutnya.

Nada suaranya pelan, seperti menyadari bahwa itu bukan sesuatu yang seharusnya ia lakukan.

 

Adrian tidak langsung menanggapi, ia memang sudah tahu namun mendengarnya langsung dari Claudia tetap terasa berbeda.

 

“Awalnya aku senang,” kata Claudia lagi. “Aku pikir… akhirnya aku bisa lihat semuanya.” Ia berhenti sebentar.

 

Lalu melanjutkan, lebih pelan. “Tapi ternyata… aku takut.”

 

Adrian tetap diam, mendengarkan. “Semua terlalu cepat,” lanjut Claudia. “Orang-orang, kendaraan… aku tidak tahu harus lihat kemana.” Ia menunduk sedikit.

“Rasanya seperti… aku kecil sekali di sana.”

 

Adrian menghela napas pelan. “Itu wajar,” ucapnya. 

 

Claudia mengangkat wajahnya lagi. “Semua orang juga merasa begitu?”

 

Adrian berpikir sejenak. “Pertama kali… iya.”

 

Claudia terlihat sedikit lega, seolah perasaannya tidak aneh. Mereka terdiam beberapa saat, angin pagi berhembus pelan, membuat beberapa helai rambut Claudia bergerak menutupi wajahnya.

 

Claudia mencoba merapikannya tapi rambut itu kembali jatuh. Adrian memperhatikan. Ia sempat ragu namun akhirnya, ia melangkah setengah langkah lebih dekat.

 

Tangannya terangkat, lalu dengan hati-hati menyelipkan rambut itu ke belakang telinga Claudia, gerakannya cepat tidak berlebihan.

 

Begitu selesai, ia langsung menarik tangannya kembali. “Maaf,” ucapnya singkat.

 

Claudia terlihat sedikit terkejut, bukan karena takut tapi karena tidak terbiasa. Ia menyentuh rambutnya sendiri, memastikan helai itu benar-benar sudah rapi. “Tidak apa-apa…” jawabnya pelan.

 

Beberapa detik mereka sama-sama diam, Claudia menatap ke arah lain, lalu kembali ke Adrian. “Boleh tanya sesuatu?” katanya ragu.

 

Adrian mengangguk kecil, Claudia terlihat berpikir cukup lama, seolah memilih kata yang tepat.

 

“Kalau di luar… orang-orang bisa pergi ke mana saja?” tanyanya akhirnya.

Adrian tidak langsung menjawab. “Tidak selalu,” katanya.

Claudia mengernyit. “Kenapa?”

“Karena setiap orang punya batasnya sendiri,” jelas Adrian. “Ada yang karena pekerjaan, ada yang karena keadaan… atau hal lain.”

 

Claudia menatapnya cukup lama. “Berarti… bukan cuma aku yang punya batasan?”

Adrian menggeleng pelan. “Bukan.”

 

Claudia menarik napas pelan. Entah kenapa, jawaban itu membuatnya merasa sedikit lebih ringan, mereka kembali diam. Namun kali ini, suasananya tidak canggung. Lebih… tenang.

 

Claudia melangkah sedikit ke samping, melihat bunga yang tadi ia rapikan. “Aku pikir… cuma aku yang seperti ini,” katanya pelan.

 

Adrian menatapnya, Claudia tersenyum kecil. “Ternyata tidak juga.”

 

Adrian tidak menjawab, tapi dia sangat mendengarkan dan bagi Claudia itu sudah cukup.

 

Sejak pagi itu, ada sesuatu yang berubah. Claudia tidak lagi hanya diam di kamar atau menatap jendela. Ia mulai lebih sering ke taman, lebih sering bergerak dan sesekali mencoba berbicara. Tidak banyak, tidak panjang namun cukup untuk membuat hari-harinya tidak terasa terlalu sunyi.

 

Claudia masih penurut, masih lembut, masih selalu berhati-hati namun di dalam dirinya, perlahan muncul sesuatu yang baru.

 

Keberanian kecil, keinginan untuk mengerti dan tekad yang tidak lagi sekadar keinginan sesaat.

 

Sementara itu, Adrian tetap menjalankan tugasnya seperti biasa. Ia tidak banyak bicara, tidak banyak bereaksi. Namun kini, ia lebih memperhatikan.

 

Bukan hanya pergerakan Claudia tapi juga perubahan kecil dalam dirinya, gadis itu tidak lagi sekadar diam, dan itu berarti ia harus lebih waspada.

 

Malam hari, rumah kembali sunyi, lampu-lampu menyala redup dan suasana terasa lebih tenang dari siang tadi.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!