Jatuh Cinta Dengan Pengawalku
Tatapan yang Berbeda
Sejak kejadian Claudia kabur dari rumah, suasana berubah drastis, penjagaan diperketat di setiap sudut, para pengawal kini tidak hanya berjaga di titik tertentu tetapi juga rutin berpatroli di dalam rumah, tidak ada lagi celah, tidak ada lagi kelengahan.
Claudia merasakannya, setiap langkahnya kini seperti diawasi bahkan saat ia hanya berjalan dari kamar ke taman, tatapan para pengawal selalu mengikuti, hal itu membuatnya semakin tidak nyaman, rasa takut yang selama ini ia pendam kembali muncul, membuatnya semakin menarik diri.
Ia kembali berdiri di depan jendela kamarnya, menatap dunia luar yang terasa begitu dekat namun tidak terjangkau, tangannya menyentuh kaca dingin itu.
“Ayah, aku rindu…” lirihnya pelan. Ia tidak tahu seperti apa sebenarnya sosok ayahnya di luar sana, yang ia tahu hanya satu ayahnya selalu datang dengan pengawal, selalu pergi tanpa penjelasan dan selalu meninggalkannya dalam kesunyian.
Rumah ini, tetap terasa seperti sangkar meski Bibi selalu mengajarkan banyak hal menyulam, memasak, merawat tanaman semuanya tidak bisa menggantikan kebebasan yang ia inginkan.
Claudia menghela napas panjang lalu berbalik menjauh dari jendela.
Hari itu ia memilih menghabiskan waktu di taman belakang, ia menyiram tanaman, merapikan bunga dan mencoba menyibukkan diri namun pikirannya tetap tidak bisa diam.
Ia sempat menoleh ke arah pengawal yang berjaga, sekilas saja lalu cepat-cepat mengalihkan pandangannya ia masih takut selalu takut.
Malam hari, rumah kembali sunyi lampu-lampu menyala redup, langkah kaki pengawal terdengar samar di lorong. Claudia duduk di tempat tidurnya, menatap langit-langit kamar..
Ia tidak bisa tidur, perutnya terasa lapar tapi ia enggan memanggil siapa pun.
Setelah beberapa saat berpikir, ia akhirnya bangkit pelan, ia membuka pintu kamar dengan hati-hati, memastikan tidak ada yang memperhatikan lalu ia berjalan pelan menuju dapur.
Langkahnya ringan hampir tanpa suara, ia sudah sering melihat Bibi memasak, jadi malam itu, untuk pertama kalinya, ia mencoba sendiri.
Claudia membuka lemari, mengambil mie instan, merakannya masih sedikit ragu, namun ia tetap melanjutkan, ia menuangkan air kedalam panci, menyalakan kompor dengan hati-hati.
Api menyala kecil, Claudia tersenyum tipis. Ia mulai memasak tanpa sadar, ia bersenandung pelan, lagu sederhana yang sering ia dengar dari Bibi. Suaranya lembut, hampir seperti bisikan.
Sesekali, ia menggoyangkan tubuhnya pelan mengikuti irama, sederhana, terlihat natural. Dan… sangat berbeda dari sosoknya yang biasanya diam dan penuh tekanan.
Di ruang kontrol, Adrian sedang duduk di depan monitor CCTV, seperti biasa ia mengecek setiap sudut rumah.
Satu layar, layar berikutnya, semua terlihat normal. Hingga ia berhenti, keningnya sedikit berkerut.
“Dapur?” gumamnya pelan, Andrian memperbesar tampilan layar.
Dan di sana, ia melihat Claudia sedang berdiri di depan kompor. Memasak?
Adrian terdiam, ini pertama kalinya ia melihat Claudia melakukan sesuatu di luar rutinitas yang biasa, tidak ada Bibi, tidak ada pembantu, hanya dia sendiri.
Adrian menyandarkan punggungnya ke kursi, matanya tetap fokus ke layar.
Claudia terlihat sibuk mengaduk mie di dalam panci. Wajahnya serius, seolah takut melakukan kesalahan namun beberapa detik kemudian, ia kembali bersenandung, lalu sedikit bergoyang.
Adrian menghela napas pelan, bukan kesal, bukan marah, lebih ke… heran.
“Sisi seperti ini…” gumamnya, ia memperhatikan lebih lama.
Claudia tersenyum kecil saat mencicipi masakannya. Wajahnya terlihat puas, meski mungkin rasanya belum tentu sempurna.
Gerakannya polos, tanpa beban, tanpa tekanan. Sangat berbeda dari gadis yang ia lihat siang hari yang selalu terlihat tegang di bawah pengawasan.
Adrian tetap diam, matanya tidak lepas dari layar namun tidak ada emosi berlebihan.
Ia hanya mengamati, seperti tugasnya, memastikan Claudia aman, tidak melakukan hal berbahaya namun entah kenapa, malam itu terasa berbeda.
Rumah yang biasanya sunyi dan kaku, kini terasa sedikit lebih hidup. Hanya karena satu orang gadis yang diam-diam memasak mie di tengah malam.
Beberapa menit kemudian, Claudia selesai memasak. Ia menuangkan mie ke dalam mangkuk, lalu duduk di kursi dapur.
Ia meniup pelan mie itu sebelum memakannya, wajahnya sedikit berubah, seperti sedang menilai rasa, lalu Ia tersenyum.
“Kayaknya enak…” bisiknya pelan.
Ia melanjutkan makan dengan tenang, sesekali masih bersenandung kecil.
Tidak tahu bahwa ada seseorang yang memperhatikannya dari kejauhan, melalui layar.
Adrian akhirnya mengalihkan pandangannya sejenak lalu kembali ke layar lain namun sebelum itu, ia sempat berkata pelan. “Selama dia di dalam… masih aman.”
Tiba-tiba Claudia menyadari sesuatu, dia menatap layar CCTV membuat Andrian terkejut, Claudia lupa jika di setiap sudut rumah ini selalu dipantau.
Claudia naik ke atas bangku untuk menutupi layar CCTV dapur dengan tisu, hal itu tingkah laku Claudia membuat Andrian terkejut.
“Eh, eh jangan ditutup dong. Yahh." Andrian memukul meja dengan gemas, ternyata perempuan itu sadar jika dirinya sedang dipantau.