Jatuh Cinta Dengan Pengawalku

Teguran dan Peraturan

Tubuhnya langsung membeku, matanya membesar saat mengetahui pemilik tangan tersebut. 

 

“Jangan teriak.” Suara itu terdengar rendah di telinganya, Claudia langsung mengenalinya.

 

Adrian??

Ia berusaha melepaskan diri, namun Adrian menahannya dengan kuat tidak kasar tapi tegas.

 

“Tenang,” bisiknya lagi. “Saya tidak akan menyakiti tuan putri”

 

Claudia berhenti meronta, meski napasnya masih cepat. Adrian perlahan menurunkan tangannya, tapi tetap berdiri di belakangnya, memastikan ia tidak membuat keributan.

 

“Kenapa tuan putri ada di sini?” tanya Adrian pelan, nadanya terdengar lebih khawatir daripada marah.

 

Claudia menoleh, matanya masih berkaca-kaca. “Itu Ayah…” ucapnya lirih.

 

Adrian mengikuti arah pandangannya, ia melihat Mr Jackson yang sedang berbicara dengan beberapa orang di depan gedung.

 

Adrian menghela napas pelan. “Ya. Itu Tuan.”

 

“Aku harus menemuinya,” kata Claudia cepat. “Aku ingin bicara.” Ia melangkah maju lagi.

 

Namun Adrian langsung menahannya. “Tidak sekarang.”

 

Claudia menatapnya. “Kenapa?”

Nada suaranya tidak tinggi, tapi penuh dengan perasaan yang selama ini ia pendam.

 

“Aku hanya ingin bicara dengan ayahku… itu saja.”

 

Adrian terdiam sejenak, tatapannya melembut, namun tetap tegas. “Situasinya tidak aman untuk Anda.”

 

“Aman?” Claudia tersenyum tipis, pahit. “Sejak kapan hidupku pernah terasa aman?”

 

Kalimat itu membuat Adrian terdiam, Claudia menunduk.

“Aku sudah sejauh ini… hanya untuk melihatnya,” lanjutnya pelan. “Apa aku tidak boleh… mendekat sedikit saja?”

 

Adrian mengepalkan tangannya pelan, ia mengerti, benar-benar mengerti namun tugasnya… “Maaf,” ucapnya akhirnya.

 

Claudia tidak menjawab, ia hanya menatap ayahnya dari kejauhan, begitu dekat namun terasa sangat jauh.

 

Matanya kembali berkaca-kaca, untuk beberapa detik, mereka berdua hanya diam. 

 

Hingga akhirnya Adrian berbicara lagi, suaranya lebih lembut. “Kita pulang.”

 

Claudia tidak langsung bergerak, ia masih menatap ke arah pria itu.

 

Sosok yang selama ini ia rindukan yang kini berada tepat di depan matanya namun tetap tidak bisa ia gapai.

 

Perlahan, Claudia mengangguk kecil, langkahnya mundur satu per satu. Menjauh namun kali ini, bukan hanya tubuhnya yang pergi melainkan juga harapan kecil yang sempat tumbuh di hatinya.

 

***

 

Mobil hitam itu akhirnya berhenti di halaman rumah yang megah dan sunyi seperti biasa. Begitu pintu terbuka, Claudia masih terlelap di kursinya, wajahnya terlihat tenang, kontras dengan apa yang baru saja ia alami. Rambut panjangnya sedikit berantakan, beberapa helai menutupi wajahnya.

 

Adrian menatapnya sejenak, ada rasa iba yang sulit ia jelaskan. Perlahan, tanpa membangunkannya, ia merapikan rambut itu, menyelipkannya ke belakang telinga Claudia dengan hati-hati, gerakannya sangat pelan, seolah takut mengganggu.

 

“Kenapa harus sejauh ini…” gumamnya pelan.

Namun tidak ada jawaban, Claudia tetap tertidur.

 

Adrian akhirnya membuka pintu mobil dan memberi isyarat kepada pembantu untuk membantu. Namun sebelum siapapun bergerak, Bibi sudah berlari keluar dari dalam rumah.

 

Wajahnya panik. “Claudia!”

Ia langsung menghampiri, hampir tersandung langkahnya sendiri, begitu melihat gadis itu dalam keadaan utuh, Bibi langsung memeluknya erat saat Claudia mulai terbangun.

 

“Tuan putri… jangan lakukan itu lagi…” suaranya bergetar.

Claudia yang masih setengah sadar hanya diam, membalas pelukan itu pelan, ia bisa merasakan tubuh Bibi yang gemetar.

 

Bukan hanya karena takut kehilangan tapi karena konsekuensi yang mungkin terjadi.

 

“Aku… tidak apa-apa, Bi,” bisik Claudia pelan namun Bibi menggeleng.

 

“Kamu tidak tahu… kalau sampai Tuan tahu…” Kalimat itu menggantung, tidak selesai namun cukup untuk dimengerti.

 

Adrian berdiri tidak jauh dari mereka, memperhatikan tanpa ikut campur. Wajahnya kembali dingin, profesional namun matanya tidak bisa sepenuhnya menyembunyikan apa yang ia rasakan.

 

Ia berbalik ke arah para pengawal. “Mulai sekarang, penjagaan diperketat,” ucapnya tegas. “Tidak ada celah. Tidak ada kelalaian.”

 

Para pengawal langsung mengangguk. “Baik.”

 

“Area dalam juga saya ambil alih,” lanjut Adrian. “Tidak ada yang bergerak tanpa izin.”

 

Nada suaranya tegas, tidak bisa dibantah ia tahu kesalahan sudah terjadi dan itu tidak boleh terulang.

 

Beberapa jam kemudian, suasana rumah berubah drastis, lebih tegang, sunyi dan lebih mencekam.

 

Claudia sudah kembali ke kamarnya, ia duduk di depan meja rias, ditemani Bibi yang dengan hati-hati menyisir rambutnya, tidak ada banyak percakapan hanya suara halus sisir yang menyentuh rambut panjang itu.

 

Claudia menatap bayangannya di cermin, kosong, pikirannya masih tertinggal di luar sana. 

 

Di jalanan, di gedung tinggi itu dan… pada sosok ayahnya. “Mr. Jackson…” gumamnya pelan.

 

Ia mengingat bagaimana orang-orang memanggil ayahnya dengan hormat dan takut. 

 

“Ternyata… dia benar-benar bukan orang biasa…” bisiknya.

 

Bibi menghentikan tangannya sejenak namun tidak berkata apa-apa. Ia tahu, beberapa hal tidak bisa dijawab olehnya.

 

Sementara itu, di tempat lain seseorang telah melaporkan semuanya kepada Jackson.

 

Dan saat rapat yang sedang berlangsung berakhir pria itu langsung berdiri, wajahnya dingin lebih dingin dari biasanya. “Akhiri di sini,” ucapnya singkat.

Tanpa menunggu siapapun, ia langsung pergi.

 

Tak lama kemudian, mobil hitam itu kembali memasuki halaman rumah, semua pengawal langsung berdiri tegap, suasana berubah dalam sekejap.

 

Jackson keluar dari mobil dengan langkah cepat, wajahnya tidak menunjukkan emosi, namun auranya cukup untuk membuat siapa pun merasa tertekan.

 

Ia berhenti di tengah halaman, menatap satu per satu pengawal di depannya. “Siapa yang bertugas hari ini?”

 

Tidak ada yang menjawab, keheningan itu justru membuat suasana semakin menegangkan.

 

Jackson melangkah mendekat. Tamparan keras terdengar.

Satu.

Dua.

Tiga.

Satu per satu pengawal menerima hukuman tanpa bisa melawan.

 

Tidak ada yang berani menghindar, tidak ada yang berani bersuara.

“Ini yang kalian sebut menjaga?” suara Jackson rendah, namun penuh tekanan.

Tidak ada jawaban.

 

Hingga akhirnya ia berhenti di depan Adrian, tatapan mereka bertemu. Hening untuk sesaat.

“Kamu ikut bertanggung jawab,” ucap Jackson.

 

Adrian menunduk. “Ya, Tuan.”

Namun tidak ada tamparan, Jackson menghela napas pelan.

 

“Dan kamu juga yang menemukannya.”

Adrian tetap diam.

“Bagus, sudah membawanya pulang.” Nada itu… sedikit berbeda, tidak sepenuhnya dingin.

 

Adrian mengangguk. “Itu sudah menjadi tugas saya.”

 

“Jangan sampai lalai, 5 hari lagi akan ada pres di depan publik kalau sampai terjadi kekacauan kalian akan tanggung resikonya." 

 

Semuanya mengangguk mengerti, Jackson tidak berkata apa-apa lagi. Ia langsung berjalan masuk ke dalam rumah.

 

Di kamar, Claudia masih duduk di depan cermin saat pintu terbuka, bibi langsung menoleh. “Tuan…”

 

Claudia membeku. Refleks, ia langsung berdiri menyambut ayahnya.

 

Jackson melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya, tatapannya langsung tertuju pada Claudia.

 

Hening, beberapa detik Claudia tidak berani bergerak, tidak berani berbicara jantungnya berdetak cepat.

Jackson mendekat. Langkahnya tenang namun terasa berat.

 

Claudia menunduk, seperti biasa. “Lihat aku.” Suaranya rendah.

 

Claudia perlahan mengangkat wajahnya, tatapan mereka bertemu.

Ada banyak hal di mata Claudia, takut, rindu dan sesuatu yang tidak bisa ia ungkapkan namun Jackson tetap sama, sulit dibaca.

 

“Jangan pernah keluar dari rumah ini lagi,” ucapnya tegas. 

 

Tidak ada nada tinggi namun cukup untuk membuat siapa pun mengerti. “Kalau kamu melanggar lagi…” Ia berhenti sejenak.

 

Tatapannya sedikit mengeras. “…kamu akan kehilangan ayah.”

 

Kalimat itu jatuh begitu saja tanpa penjelasan, tanpa penegasan lebih lanjut namun terasa berat.

 

Sangat berat, Claudia terdiam matanya sedikit membesar namun ia tidak bertanya, tidak membantah. Ia hanya mengangguk pelan. 

 

“Iya… Ayah.” Jawaban itu keluar begitu saja, lembut dan latuh.

 

Jackson menatapnya beberapa detik lagi. “Untuk beberapa hari ini ayah tidak akan pulang, kamu harus ingat perkataan ayah." Setelah berkata itu ia langsung berbalik.

 

Tanpa mengatakan apa-apa lagi, ia berjalan keluar dari kamar. Pintu tertutup.

 

Hening kembali memenuhi ruangan, Claudia masih berdiri di tempatnya, tubuhnya tidak bergerak namun pikirannya… penuh.

 

“Kehilangan ayah…” bisiknya pelan.

Air matanya jatuh tanpa suara namun kali ini bukan karena takut melainkan karena ia mulai menyadari bahwa hidupnya tidak hanya dikurung oleh tembok tapi juga oleh sesuatu yang jauh lebih besar.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!