Jatuh Cinta Dengan Pengawalku

Percobaan Kabur

Udara luar langsung menyentuh wajahnya.

Dingin, tapi terasa hidup.

 

Claudia menarik napas dalam-dalam, seolah mengisi paru-parunya dengan sesuatu yang baru, sesuatu yang selama ini hanya ia bayangkan dari balik jendela, ia tidak berhenti lama.

 

Matanya langsung mencari sosok Bibi, wanita itu sudah berjalan beberapa meter di depan, menuju jalan kecil di balik rumah. Claudia segera mengikuti, tetap menjaga jarak agar tidak ketahuan.

 

Awalnya, semuanya terasa tenang, jalan sempit, pepohonan di sisi kanan kiri, pagar tinggi yang perlahan menjauh dari pandangannya. Claudia merasa seperti sedang berjalan di dunia yang berbeda, meski masih dalam jangkauan rumahnya.

 

Namun beberapa menit kemudian, semuanya berubah, jalan mulai melebar, bangunan mulai muncul, suara mulai terdengar, Claudia memperlambat langkahnya, matanya membesar.

 

Di depannya terbentang jalan kota yang ramai, kendaraan berlalu lalang tanpa henti, suara klakson saling bersahutan, orang-orang berjalan cepat dengan ekspresi sibuk di wajah mereka.

 

Gedung-gedung tinggi berdiri menjulang, seolah menutupi langit. Claudia terdiam. Ini… dunia luar.

 

Bukan sekadar bayangan dari jendela. Ini nyata, ia melangkah pelan, hampir ragu. Segalanya terasa terlalu cepat, terlalu penuh, terlalu asing, ia berusaha tetap fokus pada Bibi yang berjalan di depannya.

 

Namun hanya sesaat. Seseorang melewati Claudia dari samping, membuatnya sedikit terdorong. Ia kehilangan fokus.

 

Dan saat ia kembali menoleh Bibi sudah tidak ada.

 

Claudia langsung panik, matanya bergerak cepat ke segala arah.

 

“Bi?” panggilnya pelan.

Tidak ada jawaban.

Ia melangkah lebih cepat. “Bibi?” teriaknya. 

 

Orang-orang di sekitarnya tetap berjalan, tidak memperhatikannya, Claudia mulai merasa napasnya tidak teratur.

 

Ia mencoba mengingat arah namun semua terlihat sama, jlan bercabang. Gedung-gedung berdiri tanpa ciri yang bisa ia kenali.

 

“Bibi!” kali ini suaranya lebih keras.

Namun suaranya tenggelam di antara kebisingan kota.

 

Claudia mulai berlari kecil, langkahnya tidak terarah.

 

Ia hanya mengikuti insting, namun justru itu membuatnya semakin tersesat. Jantungnya berdetak semakin cepat, tangannya mulai dingin.

 

Matanya mulai berkaca-kaca. “Aku… di mana…” gumamnya panik.

 

Ia berhenti di sebuah persimpangan, mencoba menenangkan diri namun suara kendaraan, orang-orang yang berlalu lalang dan gedung tinggi yang mengelilinginya membuat semuanya terasa semakin menekan.

 

Claudia menutup telinganya sebentar, dunia luar terlalu ramai, asing, ia tidak siap tanpa sadar, air mata mulai jatuh.

 

Ia kembali berlari, kali ini lebih cepat, lebih panik namun semakin ia berlari, semakin ia merasa tersesat.

Hingga akhirnya, kakinya berhenti, napasnya terengah.

 

Ia melihat sebuah bangunan besar di samping jalan, dengan tangga kecil di bagian sampingnya yang tampak sepi, tanpa berpikir panjang, Claudia berjalan ke sana dan duduk di anak tangga itu.

 

Tubuhnya gemetar, tangannya saling menggenggam erat, ia menunduk. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan lagi.

 

“Aku… takut…” bisiknya lirih.

Ia memeluk dirinya sendiri, mencoba menenangkan napasnya yang masih tidak beraturan.

 

Orang-orang tetap berlalu lalang di depannya namun tidak ada yang benar-benar melihatnya. Di tengah keramaian itu Claudia merasa lebih sendirian dari sebelumnya. 

 

****

 

Di sisi lain, keadaan di rumah berubah drastis.

 

Adrian yang baru saja selesai dari kamar mandi berjalan santai menuju ruang kontrol. Rambutnya masih sedikit basah, namun langkahnya langsung terhenti saat matanya menangkap sesuatu yang janggal di layar CCTV.

 

Ia mengernyit, Claudia tidak terlihat, ia berpindah ke kamera lain lalu ke yang lain tetap tidak menemukan sosok tuan putri.

 

Wajahnya langsung berubah serius. “Tidak mungkin…”

 

Ia mempercepat gerakannya, mengecek setiap sudut namun hasilnya sama. Claudia tidak ada di dalam rumah.

 

Adrian langsung meraih ponselnya. “Semua unit, cari Tuan putri sekarang. Periksa seluruh area rumah. Pastikan tidak ada titik yang terlewat.”

 

Suaranya tegas, cepat, ia tidak menunggu lama, langsung berlari keluar, tujuannya satu mencari Bibi.

 

Beberapa menit kemudian, ia melihat Bibi baru saja masuk dari pintu belakang dengan kantong belanjaan di tangannya.

 

“Bibi!”

Wanita itu terkejut.

“Ada apa?”

“Tuan putri di mana?”

 

Bibi mengernyit. “Di kamar, bukan?”

“Tidak.” 

Jawaban itu membuat wajah Bibi langsung pucat. “Tidak mungkin…”

 

Ia menoleh ke belakang, panik. “Tadi aku hanya ke pasar sebentar…”

 

Adrian mengepalkan tangannya. “Dia mengikuti Anda.”

 

Bibi menutup mulutnya. “Ya Tuhan…”

“Ke mana arah pasar?”

Bibi menunjuk dengan tangan gemetar.

“Lewat jalan kecil itu… lalu belok ke jalan utama…”

 

Adrian tidak menunggu lagi, ia langsung berlari.

 

**** 

 

Sementara itu, Claudia masih duduk di tangga kecil itu, napasnya perlahan mulai lebih tenang, meski matanya masih basah. Ia mengangkat wajahnya, menatap jalan di depannya.

 

Kendaraan terus berlalu, orang-orang terus berjalan, dunia terus bergerak tanpa peduli pada dirinya.

 

Claudia menggigit bibirnya pelan, ia tidak tahu harus kemana, tidak tahu bagaimana pulang namun satu hal yang ia sadari Dunia ini… tidak seperti yang ia bayangkan, tidak seindah yang ia lihat dari balik jendela. 

 

Realita nya lebih keras, lebih dingin, lebih nyata. Ia menunduk kembali. “Ayah…” lirihnya.

 

Namun kali ini, bukan hanya rindu melainkan juga ketakutan.

 

Dan untuk pertama kalinya Claudia mulai mengerti, kenapa dunia di luar sana tidak pernah dibukakan untuknya begitu saja.

 

Claudia masih duduk di anak tangga samping gedung itu, mencoba menenangkan napasnya yang sejak tadi tidak beraturan, tangannya masih saling menggenggam, tubuhnya sedikit gemetar. Ia menatap kosong ke arah jalan, membiarkan hiruk pikuk kota berlalu begitu saja di hadapannya.

 

Namun tiba-tiba, matanya menangkap sesuatu. Sebuah mobil hitam melintas di depan jalan.

 

Claudia langsung terdiam. Mobil itu…

Ia berdiri perlahan, matanya tidak lepas dari kendaraan tersebut, nantungnya kembali berdetak lebih cepat, tapi kali ini bukan karena panik. Melainkan karena… yakin.

 

“Itu…” bisiknya pelan, ia tidak mungkin salah.

Selama bertahun-tahun, ia melihat mobil itu datang dan pergi dari rumahnya. Bentuknya, warnanya bahkan pelat nomornya semuanya begitu familiar. “Itu mobil Ayah…”

 

Tanpa berpikir panjang, Claudia langsung melangkah turun dari tangga, kakinya bergerak mengikuti arah mobil itu, meski jaraknya tidak terlalu dekat, ia berjalan cepat, berusaha tidak kehilangan jejak.

 

Mobil itu berhenti di lampu merah, Claudia mempercepat langkahnya, matanya terus tertuju ke sana.

 

“Ayah pasti ada di dalam sana…” gumamnya, “aku harus menemuinya.”

 

Lampu berubah hijau, mobil itu kembali berjalan. Claudia hampir berlari sekarang. Ia tidak peduli dengan orang-orang di sekitarnya. Ia hanya fokus pada satu hal mobil itu.

 

Beberapa menit kemudian, mobil tersebut berbelok dan masuk ke area sebuah gedung besar yang menjulang tinggi. Bangunannya terlihat megah, dengan dinding kaca yang memantulkan cahaya siang, orang-orang dengan pakaian rapi keluar masuk dari pintu utama.

 

Claudia berhenti sejenak di depan gedung itu, matanya menatap ke atas. Tinggi, sangat tinggi. Namun sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, pintu mobil itu terbuka.

 

Seorang pria keluar, Claudia langsung membeku. “Ayah…” Itu benar, ia tidak salah mengenalinya.

 

Sosok itu, postur tegap, jas hitam rapi, langkah yang tenang, tidak mungkin ia lupakan.

 

Claudia melangkah maju perlahan, matanya mulai berkaca-kaca, ada rasa rindu yang tiba-tiba memenuhi dadanya.

 

Beberapa pria lain mendekat, salah satu dari mereka menjabat tangan ayahnya. “Selamat siang, Mr. Jackson.”

 

Claudia terdiam. Mr. Jackson? Begitu orang-orang memanggilnya.

 

Ia memperhatikan dari kejauhan, cara orang-orang itu bersikap, cara mereka menghormati ayahnya, cara mereka menjaga jarak semuanya terasa berbeda.

 

Ayahnya bukan sekadar pria biasa, dan itu semakin membuat Claudia ingin mendekat. Ia melangkah lagi, satu langkah hampir mendekati.

 

“Ayah…” panggilnya pelan.

Namun suaranya terlalu kecil, tenggelam di antara keramaian.

 

Claudia menarik napas, bersiap untuk memanggil lebih keras namun tiba-tiba… Sebuah tangan menutup mulutnya dari belakang.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!