Jatuh Cinta Dengan Pengawalku
Kejatuhan
“Ayo terus lari!”
Suara Adrian terdengar berat di tengah hujan deras saat ia menarik tangan Claudia melewati lorong sempit di antara kontainer pelabuhan. Nafas pria itu mulai tidak stabil akibat luka tembak di bahunya, tetapi genggamannya tetap kuat seolah tidak ingin membiarkan Claudia lepas sedikit pun.
Di belakang mereka suara tembakan masih bersahutan.
Api mulai muncul dari beberapa kendaraan yang terbakar.
Malam itu pelabuhan berubah menjadi medan perang yang kacau.
Tubuh Claudia gemetar hebat saat terus berlari mengikuti Adrian. Kakinya terasa lemas, napasnya sesak, dan kepalanya dipenuhi terlalu banyak suara.
Teriakan. Ledakan dan wajah orang-orang yang jatuh tertembak satu per satu. Ia ingin semua ini berhenti.
“A-Adrian.” Suara Claudia pecah di tengah napasnya yang berantakan.
Pria itu langsung menoleh cepat. “Kamu kuat sedikit lagi.”
“Aku nggak bisa."
“Kamu bisa.”
Tatapan Adrian tetap tenang meski wajahnya pucat karena kehilangan darah. Dan seperti biasa suara pria itu selalu berhasil membuat Claudia bertahan.
Mereka akhirnya berhenti di balik bangunan gudang tua dekat bibir pelabuhan. Adrian langsung memeriksa sekitar sebelum membawa Claudia masuk ke dalam ruangan kosong yang gelap dan lembap.
Hanya ada beberapa lampu redup menggantung di langit-langit tua.
Claudia langsung jatuh duduk di lantai sambil memegangi dadanya yang terasa sesak.
Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan lagi.
“Aku takut.”
Suara itu sangat kecil namun cukup membuat Adrian menoleh.
Pria itu berjalan mendekat lalu berjongkok di depan Claudia meski tubuhnya sendiri mulai melemah.
“Kita keluar dari sini habis ini.”
“Kamu bohong."
Tatapan Claudia penuh air mata. “Dari dulu kamu selalu bilang semuanya bakal aman.” suaranya bergetar hebat. “Tapi semuanya malah makin hancur.”
Adrian terdiam karena kali ini Claudia benar. Ia tidak bisa lagi menjanjikan keamanan, dunia mereka memang sudah terlalu rusak.
“Aku capek.” Claudia menunduk sambil menangis pelan. “Aku capek kehilangan semuanya.”
Adrian perlahan mengangkat wajah gadis itu pelan agar menatapnya.
“Kamu belum kehilangan semuanya.”
Mata Claudia langsung memerah semakin dalam.
“Kalau kamu mati aku sendirian.”
Kalimat itu membuat Adrian membeku sesaat, hening memenuhi gudang tua itu.
Suara hujan terdengar samar dari luar dan untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan ini dimulai Adrian melihat dengan jelas betapa takutnya Claudia kehilangan dirinya.
Tatapan pria itu perlahan berubah lebih lembut. “Aku belum mati.”
“Tapi kamu terluka…”
Claudia langsung memegang bahu Adrian yang berdarah dengan tangan gemetar.
Wajahnya berubah panik lagi saat melihat darah pria itu terus mengalir.
“Kita harus cari bantuan.”
“Aku masih bisa jalan.”
“Kamu keras kepala."
Meski sedang menangis, Claudia tetap memaksa menahan luka Adrian dengan potongan kain dari bajunya sendiri.
Jari gadis itu gemetar kecil dan Adrian hanya diam memperhatikannya, dulu Claudia selalu terlihat seperti gadis rapuh yang tidak tahu apa-apa tentang dunia luar.
Namun sekarang di tengah kekacauan dan rasa takut, gadis itu justru tetap berusaha menyelamatkannya.
“Aku nggak mau kamu mati,” bisik Claudia lirih.
Napas Adrian terasa tertahan sesaat, ia perlahan menggenggam tangan Claudia yang dingin.
“Aku juga nggak mau ninggalin kamu.”
Jantung Claudia langsung berdetak jauh lebih cepat, tatapan mereka bertemu di tengah cahaya redup gudang tua itu.
Dan di luar sana dunia mereka masih runtuh perlahan, sementara itu di area utama pelabuhan, perang akhirnya mulai mereda.
Tubuh-tubuh berserakan di jalanan basah. Mobil terbakar masih mengeluarkan asap hitam ke udara malam.
Lampu polisi mulai terlihat mendekat dari kejauhan setelah suara tembakan menggemparkan seluruh area pelabuhan.
Jackson berdiri di tengah hujan dengan pistol di tangannya.
Wajah pria itu dipenuhi darah samar dan air hujan, tatapannya gelap, kosong.
Eric berdiri beberapa meter di depannya sambil tersenyum tipis meski beberapa anak buahnya sudah tumbang.
“Kita benar-benar sampai sejauh ini,” gumam Eric pelan.
Jackson menatapnya dingin. “Ini selesai malam ini.”
Eric tertawa kecil. “Selesai?” Ia menggeleng perlahan. “Nggak ada yang benar-benar selesai di dunia kita.”
Suara sirine polisi semakin mendekat.
Lampu merah biru mulai memantul di area pelabuhan.
Eric memandang itu sekilas sebelum kembali menatap Jackson.
“Kamu kalah, Jackson.”
Tatapan Jackson berubah tajam. “Kamu kehilangan reputasi.” Eric tersenyum kecil. “Bisnis kamu hancur. Politik kamu selesai.”
Pria itu mendekat perlahan.
“Dan yang paling lucu,” suaranya merendah, “putri kamu sekarang takut sama kamu.”
Rahang Jackson langsung mengeras karena itu benar dan fakta itu jauh lebih menyakitkan dibanding kehilangan kekuasaan.
“Aku cuma pengin kamu ngerasain apa yang aku rasain dulu,” lanjut Eric lebih pelan. “Kehilangan segalanya.”
Jackson menatap pria itu lama. Hujan turun di antara mereka.
Dua pria yang selama bertahun-tahun saling menghancurkan demi kekuasaan dan dendam.
Namun malam ini Jackson akhirnya sadar satu hal.
Tidak ada kemenangan di dunia seperti ini yang ada hanya kehilangan.
Tatapannya perlahan berubah lelah. “Saya udah capek.”
Eric sedikit mengernyit.
Jackson menurunkan pistolnya perlahan dan untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun hidup di dunia gelap itu ia melepaskan amarahnya sendiri. “Saya nggak peduli lagi soal politik.”
Eric membeku sesaat. “Saya juga nggak peduli soal kekuasaan.”
Suara Jackson terdengar sangat tenang sekarang.
“Saya cuma pengin Claudia hidup normal.”
Hening. Sirine polisi semakin dekat dan Eric perlahan menyadari pria di depannya sudah berubah.
Jackson Laurent yang dulu akan melakukan apa pun demi menang kini terlihat seperti seseorang yang akhirnya kelelahan melawan dunia.
“Lucu, ” Eric tertawa kecil hambar. “Kita ngancurin hidup masing-masing buat sesuatu yang ternyata nggak ada artinya.”
Tatapan Jackson kosong. “Harusnya kita berhenti sejak lama.”
Namun semuanya memang sudah terlambat, lampu polisi akhirnya memenuhi area pelabuhan.
Teriakan petugas mulai terdengar dari berbagai arah.
Dan malam itu—
seluruh rahasia kotor yang selama ini disembunyikan Jackson dan Eric akhirnya mulai terbuka ke publik.
Beberapa jam kemudian, Hujan akhirnya berhenti menjelang subuh, langit masih gelap saat Claudia duduk diam di dalam ambulans sambil memegangi selimut tipis di tubuhnya.
Wajahnya masih pucat, matanya sembab. Dan pikirannya terasa kosong setelah semua yang terjadi malam itu.
Adrian duduk di sampingnya dengan bahu diperban setelah mendapat penanganan darurat.
Meski kondisinya stabil, wajah pria itu masih terlihat lelah namun sejak tadi tatapannya tidak pernah benar-benar lepas dari Claudia.
Takut gadis itu kembali menangis, takut Claudia hancur sendirian lagi, pintu ambulans tiba-tiba terbuka pelan. Jackson berdiri di sana.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, pria itu terlihat benar-benar kehilangan.
Tidak ada aura mengintimidasi, tidak ada tatapan dingin penuh kuasa hanya seorang ayah yang terlihat sangat lelah.
Claudia perlahan menatapnya dan hening panjang langsung memenuhi suasana.
Jackson memandang Adrian sebentar sebelum kembali pada putrinya.
“Aku udah nyuruh orang siapin tempat aman buat kamu.”
Suara pria itu terdengar lebih pelan dari biasanya.
Claudia menggenggam selimutnya erat. “Ayah masih mau ngurung aku lagi?”
Pertanyaan itu terasa menusuk. Jackson menunduk sesaat sebelum akhirnya menggeleng kecil. “Nggak.”
Claudia sedikit membeku dan Jackson perlahan melanjutkan dengan suara serak yang jarang sekali terdengar darinya.
“Aku capek kehilangan orang yang aku sayang karena terlalu takut.”
Mata Claudia perlahan memerah lagi, sementara Jackson menatap putrinya dengan tatapan penuh penyesalan.
“Mulai sekarang.” pria itu menarik napas panjang, “kamu bebas milih hidup kamu sendiri.”
Kalimat itu membuat Claudia terdiam. Bertahun-tahun hidup di dalam sangkar emas, dikurung, dijaga, dipenuhi rasa takut. Dan akhirnya, ayahnya sendiri yang membuka pintu sangkar itu untuknya.
Jackson memandang Adrian cukup lama. Tatapannya masih berat namun kali ini tidak ada ancaman di sana.
“Habis ini,” ujarnya pelan pada pria itu, “jangan bikin dia nangis lagi.”
Adrian menatap balik tanpa ragu. “Saya nggak akan ninggalin dia.” Dan untuk pertama kalinya, Jackson tidak menolak itu lagi.