Jatuh Cinta Dengan Pengawalku
Perang
“Adrian…”
Suara Claudia tercekat di tenggorokannya saat melihat pria itu berdiri di tengah hujan dengan pistol di tangan. Lampu-lampu pelabuhan yang redup memantulkan bayangan tubuh Adrian di genangan air, membuat suasana terlihat semakin gelap dan mencekam.
Wajah pria itu masih dipenuhi luka lebam.
Sudut bibirnya sedikit robek.
Namun tatapannya tetap setajam biasanya.
Dan entah kenapa—
hanya dengan melihat Adrian datang, rasa takut Claudia perlahan mulai berkurang.
Jackson yang berdiri di depan putrinya langsung mengeras rahangnya.
Tatapannya berubah dingin saat melihat Adrian muncul di tengah kekacauan malam itu.
“Saya suruh kamu menjauh dari Claudia.”
Nada suaranya rendah dan penuh tekanan.
Namun Adrian tidak memandang Jackson.
Tatapannya hanya tertuju pada Claudia yang berdiri gemetar di balik pria itu.
“Habis ini marahin saya aja,” jawab Adrian pendek.
Dor!
Tembakan kembali terdengar dari arah belakang.
Adrian langsung bergerak cepat menembak dua orang yang mencoba mendekat dari sisi kanan kontainer.
Tubuh mereka jatuh bersamaan ke lantai basah.
“Turun!” teriak Adrian tajam.
Claudia refleks berjongkok lagi saat peluru menghantam besi tepat di atas kepala mereka.
Suara hujan semakin deras.
Area pelabuhan berubah seperti medan perang kecil di tengah malam.
Eric yang berdiri cukup jauh memperhatikan Adrian dengan senyum tipis samar.
“Jadi ini pengawal kesayangan putri kamu?”
Tatapan Jackson langsung penuh kebencian.
“Diam.”
Eric tertawa kecil.
“Menarik.” Ia menggeleng pelan sambil menatap Adrian. “Anak buah kamu ternyata lebih setia sama Claudia daripada sama kamu.”
Kalimat itu membuat suasana semakin menegang.
Jackson tidak menjawab.
Namun Claudia bisa melihat rahang ayahnya mengeras kuat.
Sementara Adrian tetap fokus memperhatikan sekitar.
“Mereka mulai nutup sisi belakang,” ujar Vino yang baru datang sambil terengah dan memegang senapan. “Kita harus keluar sekarang.”
Jackson langsung melihat situasi cepat.
Jumlah orang Eric terlalu banyak.
Dan mereka semakin terpojok.
“Mobil di utara masih aman?” tanya Jackson dingin.
“Kalau kita bisa sampai sana.”
Dor!
Sebuah peluru menghantam dekat kaki mereka membuat Claudia refleks menutup telinga.
Tubuh gadis itu mulai gemetar hebat lagi.
Adrian langsung menyadarinya.
Ia bergerak mendekat lalu berjongkok di depan Claudia.
“Lihat saya.”
Tatapan Claudia langsung bertemu dengannya.
Dan seketika napas gadis itu terasa sedikit lebih tenang.
“Kamu bisa jalan?”
Claudia mengangguk pelan meski wajahnya masih pucat.
Adrian mengusap pelan air hujan di pipinya tanpa sadar.
“Jangan lepas dari saya.”
Kalimat sederhana itu langsung membuat jantung Claudia berdegup lebih cepat.
Di tengah kekacauan dan ketakutan malam itu, Adrian masih memprioritaskan dirinya.
Dan itu terasa sangat nyata, Jackson yang melihat interaksi kecil itu langsung memalingkan wajah dingin.
Entah kenapa ada sesuatu yang terasa menyesakkan di dadanya.
Namun belum sempat suasana berubah lebih jauh suara langkah kaki kembali terdengar mendekat.
“Keluarin gadisnya!”
“Cepat cari!”
Anak buah Eric mulai mengepung dari berbagai sisi kontainer.
Lampu senter menyapu area gelap dengan brutal.
Adrian langsung berdiri sambil menarik Claudia ke belakang tubuhnya.
“Kita keluar lewat timur,” ujarnya cepat.
“Di sana ada sniper,” sahut salah satu pengawal.
“Kalau tetap di sini kita mati.”
Jackson menatap Adrian beberapa detik.
Hujan turun di antara mereka.
Dan untuk pertama kalinya sejak menangkap pria itu—
Jackson sadar Adrian memang tidak pernah takut pada dirinya.
Yang pria itu takutkan cuma satu.
Claudia terluka.
“Buka jalan,” ujar Jackson akhirnya dingin.
Adrian langsung bergerak lebih dulu.
Dor! Dor!
Ia menembak cepat ke arah dua pria di ujung lorong kontainer sebelum berlari membawa Claudia melewati area sempit yang dipenuhi genangan air.
Jackson dan pengawal lainnya mengikuti dari belakang sambil terus membalas tembakan.
Suara peluru bersahutan memecah malam.
Tubuh Claudia beberapa kali hampir terpeleset karena jalan licin.
Namun Adrian terus menggenggam tangannya erat.
Jari pria itu dingin karena hujan.
Tetapi anehnya justru membuat Claudia merasa aman.
“Sedikit lagi,” ujar Adrian sambil terus melihat sekitar.
Namun tiba-tiba—
Dor!
Suara tembakan keras terdengar dari kejauhan.
Tubuh Adrian langsung terhenti sesaat.
Claudia membelalak saat melihat darah mulai muncul di sisi bahu pria itu.
“Adrian!”
Pria itu menahan napas kasar namun tetap berdiri tegak.
“Aku nggak apa-apa.”
“Kamu kena tembak!”
“Terus jalan!”
Suara Adrian tetap tegas meski wajahnya mulai menegang menahan sakit.
Claudia langsung menggigit bibir menahan panik.
Mereka terus berlari melewati lorong kontainer.
Namun di depan—
tiga mobil hitam tiba-tiba berhenti menghalangi jalan keluar.
Puluhan pria bersenjata turun bersamaan.
Salah satu dari mereka langsung mengokang senapan.
“Berhenti!”
Jackson langsung menarik Claudia mundur.
Sial.
Mereka benar-benar terkepung sekarang.
Eric perlahan berjalan mendekat dari belakang kelompoknya sambil membawa payung hitam.
Langkah pria itu santai.
Terlalu santai untuk situasi penuh darah seperti malam ini.
“Sudahi aja, Jackson.”
Tatapan Eric jatuh pada Claudia lagi.
“Kasihan putri kamu kalau terus lihat orang mati.”
Claudia langsung menegang.
Tatapan pria itu membuatnya merinding.
Jackson mengangkat pistolnya tanpa ragu.
“Saya bakal bunuh kamu dulu.”
Eric tersenyum tipis.
“Kamu masih belum ngerti ya?” Ia menggeleng pelan. “Malam ini kamu udah kalah.”
Suasana mendadak sunyi beberapa detik.
Hanya suara hujan dan napas berat yang terdengar di tengah pelabuhan.
Lalu Eric kembali bicara pelan,
“Semua orang yang ada di sekitar kamu selalu berakhir hancur.”
Tatapan pria itu perlahan bergeser ke Adrian yang berdiri melindungi Claudia meski darah terus mengalir dari bahunya.
“Kamu lihat?” Eric tersenyum kecil. “Sekarang bahkan pengawal kesayangannya ikut sekarat.”
“Diam!” Claudia berteriak tiba-tiba.
Semua orang langsung menoleh padanya.
Napas Claudia naik turun cepat.
Matanya merah penuh emosi.
“Aku benci kalian semua…”
Suara gadis itu mulai bergetar.
“Semua orang terus mati karena permainan kalian!”
Tatapan Eric sedikit berubah.
Sementara Jackson membeku beberapa detik mendengar suara putrinya.
“Aku nggak pernah minta hidup kayak gini…” air mata Claudia jatuh bercampur hujan. “Aku nggak pernah minta jadi target siapa pun…”
Adrian langsung menatap Claudia khawatir.
Namun gadis itu terus berbicara sambil menangis.
“Kalian bilang semua ini buat melindungi aku…” suaranya pecah. “Tapi hidup aku malah hancur…”
Hening.
Bahkan anak buah Eric ikut diam sesaat.
Karena untuk pertama kalinya—
mereka melihat siapa sebenarnya korban terbesar dari perang panjang antara Jackson dan Eric.
Claudia.
Eric perlahan tersenyum tipis lagi.
“Kamu mirip ibu kamu.”
Kalimat itu langsung membuat Jackson berubah dingin.
“Saya bilang jangan bawa dia.”
Namun Eric tidak peduli.
“Ibumu juga selalu bilang dia benci dunia ini.” Tatapannya tetap pada Claudia. “Tapi pada akhirnya dia tetap mati karena Jackson.”
“Cukup!”
Dor!
Jackson langsung menembak ke arah Eric.
Kekacauan pecah lagi dalam hitungan detik.
Semua orang saling membalas tembakan.
Suara peluru menggema di seluruh area pelabuhan.
Adrian langsung menarik Claudia jatuh ke bawah saat tembakan sniper menghancurkan lampu di atas mereka.
Gelap.
Area pelabuhan mendadak lebih kacau.
Teriakan orang-orang bercampur suara hujan dan tembakan.
“Bawa Claudia keluar!” teriak Jackson dari kejauhan.
Adrian langsung menggenggam tangan Claudia lagi.
“Ayo!”
Mereka berlari melewati lorong gelap di tengah kekacauan perang malam itu.
Sementara di belakang mereka pertempuran antara kelompok Jackson dan Eric akhirnya berubah menjadi perang terbuka yang selama ini tidak pernah benar-benar muncul ke permukaan.