Jatuh Cinta Dengan Pengawalku

Timbul Kebencian

“Ayah nggak pernah benar-benar peduli sama apa yang aku rasain.”

Suara Claudia terdengar pelan, tetapi cukup tajam untuk membuat suasana kamar langsung berubah dingin. Gadis itu berdiri beberapa langkah dari jendela dengan mata merah dan napas yang belum sepenuhnya tenang setelah tangisnya pecah beberapa menit lalu.

Jackson masih berdiri di dekat pintu kamar. Jas hitamnya terlihat rapi seperti biasa, namun wajah pria itu tampak jauh lebih lelah dibanding terakhir kali Claudia melihatnya.

Hening panjang memenuhi ruangan. Suara hujan di luar terdengar samar menghantam kaca jendela cabin.

“Aku capek,” lanjut Claudia lirih sambil menahan air matanya lagi. “Aku capek hidup kayak tahanan begini.”

Tatapan Jackson perlahan berubah berat. Ia berjalan masuk beberapa langkah lalu menutup pintu kamar pelan di belakangnya.

“Kamu pikir saya juga menikmati semua ini?” tanyanya rendah.

Claudia tertawa kecil hambar mendengar itu. Ia menggeleng pelan sambil memeluk kedua lengannya sendiri.

“Ayah selalu bilang semuanya demi aku.” Matanya kembali memerah. “Tapi Ayah nggak pernah benar-benar nanya aku mau apa.”

Jackson terdiam beberapa detik. Ia memang terbiasa mengendalikan keadaan.

Mengatur semuanya sendiri dan selama bertahun-tahun ia yakin itu adalah cara terbaik menjaga Claudia tetap hidup.

Namun sekarang putrinya berdiri di depannya dengan tatapan penuh luka.

Dan untuk pertama kalinya Jackson merasa dirinya benar-benar gagal sebagai ayah.

“Kamu masih muda,” ucap Jackson akhirnya sambil menahan napas pelan. “Kamu belum ngerti seberapa berbahayanya dunia ini.”

“Aku ngerti sekarang.”

Suara Claudia terdengar lebih tegas kali ini. “Aku ngerti kalau semua orang takut sama Ayah.”

Tatapan Jackson langsung berubah sedikit lebih tajam.

“Aku ngerti kalau Ayah punya musuh di mana-mana.” Claudia terus menatap lurus pada pria itu. “Dan aku ngerti kalau hidup aku cuma alat buat nyakitin Ayah.”

“Kamu bukan alat.”

“Tapi semua orang ngelihat aku kayak itu.”

Ruangan kembali hening. Claudia menunduk sebentar sebelum akhirnya berkata lebih lirih,

“Termasuk Ayah.”

Kalimat itu terasa seperti pukulan kecil yang langsung menghantam dada Jackson.

Ia memalingkan pandangan sesaat dan Claudia menyadarinya.

“Ayah bahkan nggak pernah cerita soal keluarga baru Ayah.” Suaranya mulai bergetar lagi. “Aku harus tahu dari orang lain.”

Jackson mengembuskan napas panjang. “Itu nggak sesederhana yang kamu pikir.”

“Semua selalu nggak sesederhana itu.” Claudia tertawa kecil pahit. “Tapi hasil akhirnya aku tetap sendirian.”

Mata gadis itu mulai dipenuhi air mata lagi.

“Aku tinggal sendiri di mansion bertahun-tahun,” bisiknya lirih. “Sementara Ayah punya hidup lain.”

Tatapan Jackson perlahan melemah.

Ia masih ingat bagaimana Claudia kecil dulu selalu berlari menyambutnya setiap kali pulang.

Anak kecil yang terus menunggu perhatian ayahnya.

Namun semakin Claudia tumbuh besar, semakin ia menjauhkan putrinya dari dunia luar demi keamanan.

Dan tanpa sadar ia juga menjauh dari kehidupan Claudia sendiri.

“Sofia bukan pengganti ibu kamu,” ujar Jackson pelan.

“Aku nggak peduli soal itu.”

“Lalu apa yang bikin kamu marah?”

Claudia menatap ayahnya lama, tatapan itu penuh kecewa.

“Ayah nggak pernah nganggap aku bagian dari hidup Ayah lagi.”

Kalimat itu membuat Jackson membeku beberapa detik.

Untuk seseorang seperti Jackson Laurent, ancaman pembunuhan, pengkhianatan politik, bahkan perang bisnis tidak pernah benar-benar mengguncangnya.

Namun suara putrinya malam itu berhasil membuat dadanya terasa sesak.

“Aku cuma disembunyiin,” lanjut Claudia pelan. “Dijaga. Dipindahin dari satu tempat ke tempat lain.”

Ia tersenyum kecil hambar.

“Kadang aku mikir, kalau aku mati mungkin hidup Ayah justru lebih gampang.”

“Jangan ngomong begitu.”

Nada suara Jackson langsung berubah tajam.

Namun Claudia justru mengangkat wajah dengan mata penuh luka.

“Bukannya memang begitu?”

“Claudia.”

“Ayah kehilangan Mama karena dunia Ayah.” Air matanya jatuh lagi perlahan. “Dan sekarang semua orang juga terluka karena aku.”

Jackson langsung berjalan mendekat cepat.

“Lihat saya.” Claudia tidak bergerak.

Jackson akhirnya memegang kedua bahu putrinya pelan namun tegas.

“Kamu dengar baik-baik.” Tatapannya lurus ke mata Claudia. “Saya kehilangan segalanya waktu ibu kamu mati.”

Suasana kamar terasa semakin sunyi.

“Dan satu-satunya alasan saya masih bertahan sampai sekarang ya karena kamu.”

Mata Claudia perlahan membesar sedikit.

Ia jarang sekali mendengar ayahnya bicara sejujur itu.

Namun rasa sakit di hatinya belum hilang.

“Kalau Ayah sayang sama aku,” suaranya bergetar kecil, “kenapa Ayah ambil Adrian dari aku?”

Tatapan Jackson langsung berubah dingin lagi.

Nama itu kembali membuat suasana menegang.

“Karena dia terlalu dekat sama kamu.”

“Dia satu-satunya orang yang bikin aku ngerasa aman.”

“Justru itu masalahnya.”

Claudia menggeleng cepat sambil melepaskan tangan ayahnya dari bahunya.

“Ayah selalu nganggep semua orang ancaman!”

“Karena memang begitu kenyataannya!”

Suara Jackson akhirnya meninggi.

Untuk pertama kalinya malam itu emosinya benar-benar mulai lepas.

“Kamu pikir orang-orang di luar sana peduli sama kamu?” Tatapannya mengeras tajam. “Mereka cuma bakal pakai kamu buat hancurin saya!”

“Aku bukan benda!”

“Tapi kamu kelemahan saya!”

Kalimat itu menggema di dalam kamar. Hening panjang langsung jatuh setelahnya, napas Claudia terasa tercekat.

Sementara Jackson berdiri diam dengan rahang menegang keras seolah menyesali emosinya sendiri.

Namun semuanya sudah terucap, Claudia tertawa kecil pelan.

Dan suara tawanya terdengar jauh lebih menyakitkan dibanding tangis.

“Nah.” air matanya kembali jatuh, “akhirnya Ayah jujur juga.”

Tatapan Jackson perlahan berubah namun Claudia mundur satu langkah.

“Aku cuma kelemahan buat Ayah.”

“Bukan begitu maksud saya.”

“Tapi itu kenyataannya.”

Claudia menghapus air matanya kasar.

“Makanya Ayah ngurung aku.” Ia tersenyum hambar. “Karena Ayah takut kehilangan sesuatu yang Ayah punya.”

“Kamu bukan barang.”

“Tapi Ayah nggak pernah ngelakuin apa pun yang bikin aku merasa jadi anak Ayah.”

Kalimat itu membuat Jackson kehilangan jawaban sesaat.

Dan Claudia terus menatapnya dengan mata penuh luka yang selama ini ia tahan sendiri.

“Waktu Mama meninggal.” suaranya melemah pelan, “Ayah nggak pernah benar-benar ada buat aku.”

Jackson memejamkan mata sesaat karena itu benar.

Setelah kematian istrinya, ia tenggelam dalam dunia politik, bisnis, dan balas dendam.

Ia membangun tembok besar di sekitar Claudia demi keamanan.

Namun tanpa sadar tembok itu juga memisahkan dirinya dari putrinya sendiri.

“Aku tumbuh sendirian,” lanjut Claudia lirih. “Aku takut sama pengawal di rumah sendiri.” Suaranya mulai pecah lagi. “Aku bahkan nggak tahu cara hidup normal.”

Jackson perlahan membuka matanya kembali.

Tatapan pria itu terlihat jauh lebih lelah sekarang.

“Dan sekarang.” Claudia menunduk kecil sambil menangis pelan, “satu-satunya orang yang bikin aku nggak ngerasa sendirian juga Ayah ambil.”

Nama Adrian tidak perlu disebut lagi.

Mereka sama-sama tahu siapa yang dimaksud.

Jackson mengepalkan rahangnya kuat.

“Perasaan seperti itu cuma bakal nyakitin kamu.”

“Setidaknya itu perasaan yang nyata.”

Jawaban Claudia langsung membuat Jackson terdiam.

Hujan di luar turun semakin deras sekarang.

Dan suasana kamar terasa sesak oleh terlalu banyak emosi yang selama ini dipendam.

“Aku benci hidup ini.” Suara Claudia sangat pelan.

Namun cukup membuat dada Jackson terasa berat. “Aku benci semua aturan Ayah.”

Air matanya jatuh semakin deras.

“Dan untuk pertama kalinya.” Claudia perlahan mengangkat wajahnya lagi, “aku mulai benci Ayah juga.”

Kalimat itu membuat ruangan mendadak terasa benar-benar sunyi.

Jackson membeku, tatapannya perlahan kosong beberapa detik.

Mungkin ancaman musuh tidak pernah bisa menghancurkannya.

Namun kata-kata putrinya malam itu berhasil melukai sesuatu yang selama ini selalu ia sembunyikan rapat.

Claudia langsung memalingkan wajah sambil menahan tangisnya.

“Ayah bisa keluar sekarang.”

Jackson tidak bergerak. Ia hanya menatap putrinya lama sekali. 

Tatapan yang biasanya penuh kendali itu kini terlihat kehilangan arah mamun beberapa detik kemudian pria itu akhirnya berbalik pelan menuju pintu.

Tangannya sempat berhenti di gagang pintu.

Seolah ingin mengatakan sesuatu namun tidak ada kata yang keluar.

Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya Jackson Laurent tidak tahu bagaimana cara memperbaiki hubungannya dengan anaknya sendiri.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!