Jatuh Cinta Dengan Pengawalku
Semakin Sempit
“Aku mau keluar.”
“Tidak bisa, Nona.”
“Aku cuma mau ke bawah.”
“Perintah Tuan Jackson, Nona tetap di kamar.”
Claudia menatap pengawal di depan pintunya dengan rahang menegang. Sudah tiga hari sejak Adrian dibawa pergi, dan sejak malam itu hidupnya berubah semakin menyesakkan.
Dua pengawal berjaga tepat di depan kamar selama dua puluh empat jam.
Pintu lantai atas selalu terkunci otomatis. Ponselnya disita. Bahkan akses internet di cabin dibatasi.
Jackson benar-benar mengurungnya sekarang dan Claudia mulai merasa gila.
“Aku bukan tahanan,” ucapnya dingin.
Pengawal itu hanya menunduk kecil. “Maaf, Nona.”
Claudia tertawa kecil hambar sebelum akhirnya menutup pintu kamar keras.
Brak.Suara itu menggema di ruangan yang luas namun terasa begitu sempit.
Ia berjalan mondar-mandir sambil mengacak rambutnya frustrasi. Tirai kamar masih tertutup sejak pagi, membuat suasana terlihat suram dan dingin.
Di meja dekat ranjang, sarapan yang diantar Bibi sejak tadi bahkan belum disentuh.
Claudia tidak lapar.
Ia terlalu marah.
Terlalu kecewa.
Dan terlalu merindukan seseorang yang sekarang bahkan tidak tahu di mana.
Ia berhenti di depan jendela lalu membuka tirainya kasar.
Kabut pegunungan terlihat tebal pagi itu. Hujan sudah berhenti sejak subuh, menyisakan udara dingin dan halaman basah di sekitar cabin.
Dua mobil hitam masih terparkir di bawah.
Para pengawal berjaga lebih banyak dibanding sebelumnya.
Claudia memejamkan mata sesaat sambil menahan sesak di dadanya.
“Aku benci hidup kayak gini…”
Tok.
Tok.
Suara ketukan pintu terdengar pelan.
“Nona… saya masuk ya.”
Suara Bibi terdengar hati-hati dari luar. Claudia mengembuskan napas pelan sebelum menjawab lirih, “Masuk aja…”
Pintu terbuka perlahan. Bibi masuk sambil membawa nampan baru berisi teh hangat dan makanan kecil.
Wajah wanita tua itu terlihat khawatir sejak beberapa hari terakhir.
“Nona belum makan lagi…”
“Aku nggak lapar.”
“Kalau terus begini nanti sakit.”
Claudia tersenyum tipis tanpa semangat. “Biar aja.”
Bibi langsung mendekat lalu duduk di tepi ranjang. “Jangan ngomong begitu.”
Claudia menunduk diam. Beberapa detik kemudian suaranya terdengar jauh lebih kecil.
“Bibi tahu Adrian di mana?”
Pertanyaan itu membuat Bibi terdiam sesaat. “Saya nggak tahu.”
“Tapi Ayah nyakitin dia kan?”
Mata Claudia mulai memerah lagi. “Semua orang selalu bilang Ayah berbahaya.” gumamnya lirih. “Dan sekarang aku mulai percaya.”
Bibi langsung menggenggam tangan Claudia pelan.
“Tuan Jackson cuma takut kehilangan Nona.”
“Aku capek dijaga terus.”
Suara Claudia mulai bergetar.
“Kalau sayang kenapa rasanya malah nyakitin.”
Air matanya jatuh perlahan. Ia benar-benar lelah sekarang. Lelah hidup dalam ketakutan. Lelah terus dikurung. Dan lebih dari semuanya ia lelah kehilangan orang-orang yang mulai berarti baginya.
“Nona…”
“Aku cuma pengin hidup normal.”
Tangis Claudia pecah pelan. Bibi langsung memeluk gadis itu erat sambil mengusap rambutnya perlahan.
“Semua akan baik-baik aja."
Namun bahkan Bibi sendiri tidak yakin dengan kata-katanya. Karena dunia Jackson Laurent terlalu gelap untuk disebut baik-baik saja. Sementara itu di tempat lain, suasana jauh lebih dingin.
Adrian duduk diam di sebuah ruangan sempit bercahaya redup. Sudut bibirnya masih terluka, dan lebam samar terlihat di wajahnya akibat pukulan beberapa malam lalu.
Namun tatapannya tetap tenang. Pintu besi terbuka pelan.
Vino masuk sambil membawa kantong es dan rokok di tangannya.
Begitu melihat Adrian, pria itu langsung mendecakkan lidah.
“Parah juga muka lo.”
Adrian mengembuskan napas pelan. “Harusnya lo mati aja waktu itu.”
Vino tertawa kecil. “Sayang gue terlalu keren buat mati.”
Ia duduk di kursi depan Adrian lalu melempar kantong es kecil ke arah pria itu.
“Tempelin tuh.”
Adrian mengambilnya tanpa banyak bicara.
Ruangan kembali hening beberapa detik sebelum akhirnya Vino bersandar santai sambil menatapnya.
“Jackson ngamuk besar.”
“Saya tahu.”
“Lo bikin masalah serius.”
Tatapan Adrian lurus ke depan “Saya nggak pernah nyentuh dia.”
“Masalahnya bukan itu.” Vino menggeleng kecil. “Lo jadi penting buat Claudia.”
Kalimat itu langsung membuat Adrian diam. Dan itu cukup menjadi jawaban. Vino tertawa tipis.
“Nah kan.”
“Jangan mulai.”
“Lo suka sama dia?”
Pertanyaan itu keluar begitu saja. Adrian langsung menatap Vino tajam. Namun beberapa detik kemudian ia justru memalingkan wajah. Rahangnya mengeras kecil. Dan itu kembali menjadi jawaban tanpa kata.
“Gila…” Vino mengusap wajahnya pelan sambil tertawa tidak percaya. “Lo beneran jatuh.”
Adrian menutup matanya sesaat. “Aku cuma pengin dia aman.”
“Nah itu masalahnya.” Vino menunjuk Adrian malas. “Orang jatuh cinta selalu bilang begitu.”
Hening beberapa detik memenuhi ruangan. Lalu Adrian membuka mata perlahan.
“Jackson nggak akan biarin saya balik lagi.”
“Ya jelas.”
“Tapi Claudia sendirian.”
Tatapan Adrian mulai berubah lebih gelap. Dan untuk pertama kalinya, Vino melihat kekhawatiran nyata di wajah pria itu.
“Dia bakal makin benci hidupnya sekarang.”
Vino mengembuskan napas panjang. “Lo nggak bisa nyelametin semua orang, bro.”
Adrian menunduk diam. Namun dalam pikirannya hanya ada satu bayangan Claudia.
Sendirian di cabin. Dikurung lagi dan mungkin menangis karena dirinya. Malam harinya cabin kembali sunyi.
Claudia duduk di lantai dekat jendela sambil memandangi hujan yang turun lagi di luar. Lampu kamar dimatikan hanya cahaya bulan samar yang masuk lewat celah tirai.
Ia memegang buku kecil milik ibunya yang diam-diam ia ambil dari mansion dulu.
Di halaman terakhir terdapat foto lama. Foto dirinya saat masih kecil bersama sang ibu. Dan di belakang foto itu tertulis kalimat kecil dengan tulisan tangan lembut.
“Untuk Claudia kecilku, hiduplah bebas dan bahagia.” Mata Claudia langsung berkaca-kaca lagi.
Bebas. Kata itu terdengar begitu jauh dari hidupnya sekarang.
Tok.
Suara kunci pintu terdengar dari luar. Claudia langsung menoleh cepat. Namun bukan Adrian yang masuk.
Jackson berdiri di sana dengan wajah lelah dan jas hitam yang masih rapi seperti biasa.
Beberapa detik mereka hanya saling diam.
Hubungan mereka terasa begitu jauh sekarang. “Aku mau pulang,” ucap Claudia pelan.
Jackson menatap putrinya lama. “Kamu aman di sini.”
“Aku nggak peduli.”
“Kamu akan tetap di sini sampai keadaan tenang.”
Claudia tertawa kecil hambar. “Keadaan nggak akan pernah tenang di dunia Ayah.”
Kalimat itu membuat Jackson terdiam lalu perlahan Claudia berdiri sambil menatap ayahnya dengan mata merah.
“Ayah bilang semua ini buat lindungin aku…”
Suaranya mulai bergetar lagi. “Tapi kenapa aku malah ngerasa hidup aku hancur karena Ayah?”