Jatuh Cinta Dengan Pengawalku

Hukuman

“Ayah nggak bisa ngelakuin ini.”

Suara Claudia terdengar pecah di tengah ruang cabin yang sunyi. Matanya terus menatap pintu depan tempat Adrian baru saja dibawa keluar beberapa detik lalu.

Hujan di luar turun semakin deras, suara rintiknya menghantam atap kayu dan jendela besar seperti memperberat suasana malam itu.

Jackson berdiri tidak jauh darinya dengan wajah dingin dan rahang mengeras. Jas hitamnya masih sedikit basah karena hujan, sementara tatapannya tetap tajam mengawasi Claudia yang mulai kehilangan kendali emosinya.

“Aku mau ngomong sama dia.”

Claudia bergerak cepat menuju pintu, namun salah satu pengawal langsung menahan langkahnya pelan.

“Nona.”

“Lepas!”

Claudia menarik tangannya kasar lalu menoleh pada Jackson dengan mata memerah.

“Ayah nggak bisa seenaknya bawa dia pergi!”

“Cukup, Claudia.”

Nada suara Jackson rendah, tetapi cukup membuat seluruh ruangan mendadak diam.

Biasanya Claudia akan langsung terdiam mendengar nada seperti itu.

Namun malam ini berbeda.

“Ayah selalu ngatur hidup aku!”

“Karena saya berusaha bikin kamu tetap hidup.”

“Aku capek hidup kayak gini!”

Suara Claudia meninggi tanpa bisa ia tahan lagi.

Dadanya terasa sesak, kepalanya penuh dan semua emosi yang selama bertahun-tahun ia pendam akhirnya pecah malam itu.

“Ayah mengurung aku sejak kecil, nyembunyiin semuanya dari aku, bahkan bohong soal keluarga Ayah sendiri!”

Mata Jackson sedikit berubah saat mendengar itu.

Namun Claudia tidak berhenti. “Sekarang satu-satunya orang yang bikin aku ngerasa aman juga Ayah ambil!”

“Dia pengawal.”

“Dia manusia!”

“Dan dia lupa posisinya.”

Jawaban itu langsung membuat Claudia menggeleng cepat.

“Nggak! Adrian nggak pernah ngapa-ngapain!”

Tatapan Jackson berubah semakin tajam. “Kamu terlalu polos buat ngerti.”

“Aku ngerti cukup banyak sekarang!”

Hening mendadak memenuhi ruangan.

Sophia yang sejak tadi berdiri dekat jendela hanya memperhatikan tanpa bicara. Sementara para pengawal memilih menunduk diam.

Tidak ada yang berani ikut campur saat Jackson Laurent sedang marah.

“Ayah pikir semua orang bakal nyakitin aku?” suara Claudia mulai bergetar lagi. “Sampai orang yang baik sama aku pun Ayah singkirkan?”

Jackson mengembuskan napas panjang pelan.

Untuk pertama kalinya malam itu, wajah pria itu terlihat lelah.

Sangat lelah.

“Kamu nggak tahu apa yang bisa dilakukan orang kalau mereka tahu kelemahan saya.”

“Aku bukan kelemahan!”

“Kamu adalah satu-satunya kelemahan saya.”

Kalimat itu membuat Claudia langsung terdiam. Ruangan kembali sunyi.

Jackson jarang sekali bicara seperti itu bahkan mungkin tidak pernah.

Tatapan pria itu perlahan berubah lebih gelap. “Ibu kamu mati karena dunia ini.”

Suara beratnya terdengar jauh lebih pelan sekarang.

“Dan saya nggak akan kehilangan kamu dengan cara yang sama.”

Mata Claudia perlahan memerah lagi. Namun rasa sakit di dadanya belum hilang.

Karena semua perlindungan itu justru terasa seperti penjara.

“Aku nggak minta dilindungi sampai nggak bisa hidup…”

Jackson menatap putrinya cukup lama.

Dan untuk sesaat, ada sesuatu yang terlihat retak di mata pria itu.

Rasa takut, nyata namun beberapa detik kemudian wajahnya kembali dingin seperti biasa.

“Mulai malam ini kamu tetap di sini.”

Claudia langsung menggeleng cepat.

“Aku mau ketemu Adrian.”

“Tidak.”

“Ayah.”

“Saya bilang tidak.”

Nada suara Jackson kali ini benar-benar final. Tidak memberi ruang untuk dibantah. 

 

Mata Claudia mulai dipenuhi air mata lagi. “Kenapa Ayah selalu mutusin semuanya sendiri…”

Jackson tidak menjawab karena jauh di dalam dirinya, ia tahu Claudia akan membencinya setelah ini.

Namun kebencian itu lebih baik dibanding kehilangan putrinya.

Di luar cabin, udara malam terasa sangat dingin.

Hujan turun deras membasahi jalan setapak menuju halaman depan. Lampu mobil hitam menyala samar di tengah kabut tipis pegunungan.

Adrian berdiri diam di bawah atap kayu dengan kedua tangan ditahan dua pria bertubuh besar.

Wajahnya tetap tenang namun matanya terlihat jauh lebih kosong dibanding biasanya. Pintu cabin terbuka tiba-tiba.

“Adrian!” Suara Claudia terdengar dari dalam.

Gadis itu berlari keluar sambil mendorong pengawal yang mencoba menahannya. “Claudia, jangan.” 

Namun Claudia tetap berlari menembus hujan.

Adrian langsung menoleh cepat dan beberapa detik kemudian Claudia sudah berdiri di depannya dengan napas tidak beraturan.

Rambut panjangnya mulai basah terkena hujan, matanya merah karena menangis.

“Aku nggak mau kamu pergi.”

Suara itu terdengar begitu kecil, begitu rapuh dan untuk pertama kalinya sejak lama, Adrian merasa dadanya benar-benar sakit.

“Masuk lagi ke dalam,” katanya pelan.

Claudia langsung menggeleng cepat. “Nggak.”

Tatapan gadis itu penuh panik sekarang. “Ayah nggak bakal nyakitin kamu kan?”

Adrian tidak menjawab dan diamnya justru membuat Claudia semakin takut. “Adrian.” 

Claudia menggenggam lengan pria itu erat.

Tangannya dingin karena hujan. “Jangan pergi.”

Rahang Adrian mengeras kecil, ia ingin mengatakan sesuatu.

Ingin menenangkan Claudia seperti biasa namun sekarang semuanya terasa berbeda.

Karena apapun yang ia lakukan mulai dianggap ancaman oleh Jackson. “Claudia.”

Suara Jackson terdengar dari belakang pintu cabin.

Dingin, tegas. “Masuk.”

Claudia menoleh dengan napas gemetar. “Ayah jangan lakukan ini.”

“Sekarang.”

Nada suara Jackson membuat para pengawal langsung tegang.

Namun Claudia tetap berdiri di depan Adrian seolah mencoba melindunginya.

“Aku nggak peduli kalau Ayah marah sama aku,” katanya sambil menangis pelan. “Tapi jangan sakitin dia.”

Kalimat itu terasa seperti pisau kecil bagi Adrian.

Karena semakin Claudia menunjukkan perasaannya seperti ini semakin besar bahaya yang akan datang.

Adrian perlahan menurunkan tangan Claudia dari lengannya. Gerakan sederhana itu langsung membuat mata gadis itu membesar.

“Adrian?”

Tatapan pria itu tetap tenang. “Kamu harus masuk.”

Suara Adrian rendah. Namun justru itu yang membuat hati Claudia semakin hancur.

“Kamu nyuruh aku pergi juga?”

Beberapa detik Adrian tidak mampu menjawab.

Karena jika ia terus membiarkan Claudia seperti ini, keadaan akan semakin buruk.

Dan ia tidak ingin gadis itu terluka lebih jauh. “Masuk, Claudia.”

Nada suaranya lebih tegas sekarang, air mata Claudia akhirnya jatuh lagi.

Untuk pertama kalinya Adrian melihat tatapan kecewa sebesar itu di mata Claudia.

Dan ia membencinya namun ia tetap berdiri diam.

Karena itu satu-satunya cara melindungi Claudia sekarang.

Dua pengawal akhirnya membawa Claudia kembali masuk ke dalam cabin meski gadis itu terus menoleh ke belakang.

Tatapan mereka bertemu untuk terakhir kalinya malam itu.

Dan itu cukup membuat dada Adrian terasa sesak.

Pintu cabin tertutup. Suara hujan kembali mendominasi suasana malam.

Salah satu pria mendorong Adrian menuju mobil hitam.

“Jalan.”

Mobil segera melaju meninggalkan cabin.

Sementara di balik jendela lantai atas, Claudia berdiri memeluk dirinya sendiri sambil menangis dalam diam.

Dan malam itu untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Claudia benar-benar merasakan bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang ia sayangi.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!