Jatuh Cinta Dengan Pengawalku
Claudia Ikut Terseret
“Aku tidak boleh keluar lagi?”
Suara Claudia terdengar pelan di tengah ruang keamanan villa yang dipenuhi cahaya monitor CCTV. Sejak pagi langit tampak mendung, membuat suasana rumah terasa lebih dingin dan sunyi dari biasanya, puhan layar menyala tanpa henti memperlihatkan setiap sudut villa gerbang utama, lorong belakang, taman, hingga jalan kecil di area hutan sekitar rumah.
Adrian berdiri di depan salah satu monitor sambil membaca laporan di tangannya. Wajahnya terlihat jauh lebih serius dibanding biasanya, sementara Claudia berdiri beberapa langkah di belakangnya dengan kedua tangan saling menggenggam gugup.
“Untuk sementara, tidak,” jawab Adrian akhirnya.
Jawaban itu membuat Claudia menunduk pelan. Sudah tiga hari sejak mereka pergi ke pusat perbelanjaan. Tiga hari sejak seseorang diam-diam mengambil fotonya. Dan sejak hari itu, semuanya berubah.
Jumlah pengawal bertambah. Patroli diperketat. Beberapa pintu di area luar bahkan kini terkunci otomatis setiap malam.
Claudia baru sadar bahwa tempat yang selama ini ia anggap rumah ternyata lebih mirip benteng yang mengurungnya.
“Karena orang itu?” tanyanya lirih.
Adrian menghela napas kecil sebelum menoleh. “Kemungkinan anak buah Eric mulai mencurigai identitas Anda.”
“Karena foto itu?”
“Mungkin.”
Claudia menggigit bibir bawahnya pelan. “Aku bahkan tidak melakukan apa-apa,”
Nada suaranya terdengar lelah. Ia hanya ingin keluar sebentar. Ingin melihat dunia luar seperti gadis biasa lainnya. Namun sekarang semuanya kembali terasa sempit. Bahkan lebih sempit dari sebelumnya.
Ia berjalan perlahan mendekati deretan monitor dan memperhatikan layar demi layar yang menampilkan para pengawal berjaga di setiap sudut rumah. Kamera kecil tersembunyi hampir di seluruh area villa, seolah tidak ada satu tempat pun yang benar-benar bebas dari pengawasan.
“Semua ini untuk menjagaku?” tanyanya pelan.
Adrian berdiri di sampingnya. “Untuk memastikan Anda aman.”
Claudia tertawa kecil hambar. “Ini terasa seperti penjara.”
Beberapa detik Adrian terdiam sebelum akhirnya berkata pelan, “Dunia di luar lebih buruk dari ini.”
Claudia langsung menoleh. “Karena Ayah?”
Tatapan Adrian berubah sedikit lebih tajam. “Anda tidak tahu siapa saja musuh Tuan Jackson.”
“Kalau semuanya seberbahaya itu, kenapa Ayah tetap masuk politik?”
Pertanyaan itu membuat suasana hening sesaat.
Karena bahkan Adrian sendiri tahu jawabannya rumit. Jackson bukan hanya pengusaha besar. Ia hidup di dunia kekuasaan, dan di dunia seperti itu, mundur berarti kalah, siang harinya villa kembali tenggelam dalam kesunyian. Hanya suara hujan kecil yang terdengar dari luar jendela besar ruang tengah.
Claudia duduk di sofa sambil memegang buku, tetapi sejak tadi matanya bahkan tidak benar-benar membaca satu halaman pun. Pikirannya dipenuhi terlalu banyak hal tentang Eric, tentang ancaman, tentang ayahnya, dan tentang dirinya sendiri.
Ia melirik ke arah taman. Dua pengawal masih berdiri di sana dengan tatapan waspada.
Bahkan melihat hujan pun terasa seperti sedang diawasi.
“Aku ingin hidup normal,” bisiknya pelan.
Bibi yang sedang merajut di dekatnya perlahan mengangkat wajah. “Kamu sedih?”
Claudia tersenyum kecil, tipis sekali. “Aku cuma lelah.”
Bibi menghentikan rajutannya lalu mendekat perlahan. Tatapannya penuh rasa iba.
“Aku tidak mengerti hidupku sendiri, Bi,” ucap Claudia lirih. “Aku tidak tahu kenapa Ayah punya banyak musuh. Aku tidak tahu kenapa semua orang terus menyembunyikan sesuatu dariku.”
Matanya mulai berkaca-kaca. “Aku bahkan tidak tahu siapa diriku sebenarnya.”
Bibi terdiam. Sejak bayi ia sudah menjaga Claudia. Ia melihat sendiri bagaimana gadis itu tumbuh di rumah besar yang mewah namun sunyi, belajar tersenyum di tengah rasa kesepian yang tidak pernah benar-benar hilang.
Namun tetap saja, ia tidak bisa mengatakan semuanya karena terlalu berbahaya.
Malam turun perlahan, membuat lorong-lorong panjang villa terasa semakin dingin. Lampu-lampu menyala terang, tetapi suasananya tetap terasa kosong.
Claudia berjalan menuju dapur kecil di lantai bawah karena ia tidak bisa tidur. Pikirannya terlalu penuh.
Saat memasuki dapur, langkahnya terhenti sesaat melihat Adrian berdiri di dekat meja sambil menuang kopi hitam ke dalam cangkir.
“Kamu belum tidur?” tanyanya pelan.
Adrian menoleh sekilas. “Belum.”
“Kamu selalu kerja terus.”
“Itu tugas saya.”
Claudia menghela napas kecil sambil tersenyum samar. “Kamu benar-benar tidak punya jawaban lain selain itu?”
Adrian tidak membalas. Ia hanya bersandar kecil di meja sambil memegang cangkir kopinya. Anehnya, suasana hening di antara mereka justru terasa nyaman.
Berbeda dengan pengawal lain yang selalu membuat Claudia gugup, Adrian justru membuatnya merasa tenang.
“Aku boleh tanya sesuatu?” ucap Claudia hati-hati.
“Tergantung pertanyaannya.”
“Kamu takut?”
Adrian sedikit mengernyit. “Takut apa?”
“Hidup di dunia bersama Ayah mu.”
Beberapa detik Adrian tidak menjawab. Tatapannya turun ke permukaan kopi hitam di tangannya sebelum akhirnya ia berkata pelan, “Takut itu normal.”
“Lalu kenapa tetap bertahan?”
“Kita semua punya alasan masing-masing.”
Claudia diam-diam memperhatikan wajah pria itu. Untuk pertama kalinya ia melihat sisi lelah di mata Adrian. Bukan hanya sosok dingin dan tegas seperti biasanya, tetapi seseorang yang menyimpan terlalu banyak hal sendirian.
“Tapi kamu selalu terlihat tenang,” katanya pelan.
“Itu bagian dari pekerjaan.”
“Aku tidak bisa seperti itu.”
“Kamu tidak perlu seperti itu.”
Claudia menunduk kecil sebelum akhirnya berbisik, “Aku takut sekarang.”
Suara itu lirih, tetapi cukup membuat Adrian langsung menatapnya.
“Aku takut orang-orang itu benar-benar datang mencariku.”
Tatapan Claudia terlihat rapuh malam itu. Sangat berbeda dari gadis yang biasanya penasaran pada dunia luar. Kini ia mulai memahami kenyataan sebenarnya bahwa dirinya bukan hanya putri Jackson Laurent.
Ia adalah kelemahan terbesar pria itu dan itu membuatnya menjadi target. Adrian perlahan meletakkan cangkir kopinya di meja.
“Selama saya di sini,” katanya pelan, “tidak akan ada yang menyentuh Anda.”
Kalimat itu membuat Claudia diam cukup lama. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Entah kenapa, setiap Adrian mengatakan hal seperti itu, semuanya selalu terdengar tulus.
“Tapi kenapa?” tanyanya pelan.
Adrian mengernyit kecil. “Kenapa apa?”
“Kenapa kamu selalu melindungiku sejauh ini?”
Hening beberapa detik memenuhi dapur. Claudia terus menatapnya menunggu jawaban, tetapi Adrian justru mengalihkan pandangannya lebih dulu.
“Karena itu tugas saya.”
Claudia tersenyum tipis. “Bohong.”
Adrian kembali menatapnya. “Saya tidak bohong.”
“Kamu selalu bilang begitu setiap kali menghindar.”
“Saya tidak menghindar.”
“Kamu iya.”
Untuk pertama kalinya Adrian terlihat kehilangan jawaban sesaat, dan itu justru membuat Claudia terkekeh pelan.
Suasana dapur yang biasanya dingin perlahan terasa lebih hangat.
Namun di tempat lain, seorang pria duduk di ruangan gelap yang dipenuhi layar monitor dan asap rokok tipis. Beberapa foto Claudia tersebar di atas meja, foto saat ia berada di pusat perbelanjaan, foto ketika tertawa kecil bersama bibinya, dan satu foto saat Adrian berdiri di dekatnya.
Pria itu tersenyum dingin.
“Jackson menyembunyikan putrinya selama bertahun-tahun,” gumamnya pelan. “Ternyata dia benar-benar punya titik lemah.”
Seorang anak buah berdiri di dekat meja. “Kami masih mencoba mencari lokasi gadis itu.”
“Terus cari.”
“Baik, Tuan Eric.”
Nama itu membuat suasana ruangan terasa semakin gelap.
Eric Laurent. Musuh terbesar Jackson dan tanpa Claudia sadari, dirinya perlahan mulai terseret masuk ke dalam permainan berbahaya mereka.
Sementara itu di villa, Claudia kembali berdiri di depan jendela kamarnya sebelum tidur, hujan masih turun pelan di luar sana, lampu keamanan menyala terang, para pengawal masih berjaga dan villa itu terlihat tenang dari kejauhan.
Namun sekarang Claudia tahu ketenangan itu hanyalah ilusi, karena di balik dinding mewah dan penjagaan ketat ini, ancaman terus mengintainya dalam diam.
Dan semakin ia mengenal dunia ayahnya, semakin ia sadar bahwa hidupnya mungkin tidak akan pernah benar-benar bebas.