Jatuh Cinta Dengan Pengawalku

Kota Yang Asing

“Aku ingin keluar lagi.”

 

Suara Claudia terdengar pelan namun jelas di tengah ruang makan villa yang sunyi. Pagi itu hujan sudah berhenti, menyisakan udara dingin yang masih terasa hingga ke dalam rumah. Bibi yang sedang menuangkan teh langsung menghentikan gerakannya, sementara Adrian yang berdiri tidak jauh dari pintu perlahan menoleh.

 

Claudia duduk tenang di kursinya. Wajahnya terlihat lembut seperti biasa, namun kali ini ada tekad yang tidak bisa disembunyikan dari sorot matanya.

 

“Aku hanya ingin melihat kota sebentar,” lanjutnya pelan. “Aku tidak akan pergi jauh.”

Bibi tampak ragu. “Tuan putri.”

 

“Aku bosan terus berada di dalam sini,” potong Claudia lirih. “Aku ingin tahu seperti apa dunia di luar tanpa harus sembunyi-sembunyi.”

 

Hening sesaat memenuhi ruangan. Adrian menatap Claudia cukup lama sebelum akhirnya berbicara. “Situasi sedang tidak aman.”

“Aku tahu,” jawab Claudia cepat. “Tapi aku tidak akan sendiri.”

 

Tatapannya perlahan beralih pada Adrian. “Ada kamu.”

Kalimat itu membuat suasana mendadak terasa canggung beberapa detik. Adrian memalingkan pandangan lebih dulu.

“Saya akan bicara dengan Tuan Jackson,” katanya singkat.

Claudia langsung berdiri dari kursinya. “Jadi… boleh?”

“Saya belum mengatakan itu.”

Namun untuk pertama kalinya sejak beberapa hari terakhir, senyum kecil muncul di wajah Claudia.

Dan Adrian diam-diam menyadari satu hal, ia mulai kesulitan mengatakan tidak pada gadis itu.

 

Satu jam kemudian, Claudia sudah berdiri di depan pintu utama villa dengan wajah yang jauh lebih cerah dari biasanya. Ia mengenakan gaun panjang berwarna krem lembut dengan cardigan putih tipis. Rambut panjangnya dibiarkan terurai sederhana.

 

Bibi berdiri di sampingnya sambil membawa tas kecil, sementara Adrian masih sibuk berbicara melalui alat komunikasi di telinganya.

 

“Area pusat kota dipastikan aman. Tim dua ikut dari belakang,” ucapnya tegas.

Setelah selesai, Adrian berjalan mendekat ke arah Claudia.

“Kita hanya pergi sebentar,” katanya datar. “Dan Anda harus mengikuti semua instruksi saya.”

 

Claudia mengangguk cepat. “Iya.”

“Tidak boleh berjalan sendiri.”

“Iya.”

 

“Tidak boleh menghilang dari pandangan saya.”

“Iya.”

Adrian menatapnya beberapa detik. “Dan kalau saya memberi kode, Anda harus langsung menurut.”

Claudia terlihat bingung. “Kode?”

 

Adrian menghela napas kecil sebelum akhirnya mengangkat tangannya perlahan.

“Tangan terkepal.” Ia memperlihatkan kepalan tangannya. “Artinya diam.”

Claudia langsung mengangguk serius. “Diam.”

Adrian membuka telapak tangannya. “Kalau tangan terbuka seperti ini, artinya lari.”

 

“Lari,” ulang Claudia pelan sambil memperhatikan dengan fokus.

Lalu Adrian menurunkan telapak tangannya ke bawah. “Kalau tangan saya begini, artinya jongkok.”

 

Claudia kembali mengangguk patuh. “Diam, lari, jongkok,” gumamnya menghafal.

 

Adrian tanpa sadar tersenyum tipis melihat keseriusan gadis itu, Claudia langsung menyipitkan mata curiga. “Itu trik apa sebenarnya?”

 

Adrian tertawa kecil pelan. Jarang sekali ekspresinya melunak seperti itu. Namun bukannya menjawab serius, ia justru berkata santai,

“Itu latihan untuk anak anjing.”

“Apa?!”

Refleks Claudia langsung mengejar Adrian yang mulai berjalan menjauh sambil menahan tawa kecil. “Kamu jahat!”

 

“Cepat tangkap saya kalau bisa.”

“Adrian!”

Claudia benar-benar mengejarnya sampai ke dalam rumah. Mereka menaiki tangga besar lalu berputar mengelilingi meja dapur.

 

Bibi yang sedang menyusun makanan hanya bisa menatap mereka sambil tersenyum kecil.

Sudah lama sekali ia tidak melihat Claudia tertawa sebebas itu.

 

“Berhenti lari!” protes Claudia sambil tertawa kecil.

“Anda sendiri yang mengejar.”

“Karena kamu bilang aku anak anjing!”

 

“Itu hanya contoh latihan.”

“Bohong!”

Adrian akhirnya berhenti di dekat meja dapur sambil mengangkat kedua tangannya menyerah. Claudia ikut berhenti di depannya dengan napas sedikit terengah.

 

Rambut panjangnya sedikit berantakan, namun wajahnya terlihat jauh lebih hidup dibanding biasanya. Dan Adrian diam-diam menyadari satu hal, Ia mulai terbiasa melihat Claudia tersenyum.

 

****

Siang harinya, mobil hitam keluar dari area villa dengan pengawalan ketat. Dua kendaraan mengikuti dari belakang, sementara Adrian duduk di kursi depan memperhatikan jalanan dengan waspada.

 

Claudia duduk di dekat jendela sambil melihat kota dengan mata berbinar. Meski ini bukan pertama kalinya ia keluar, perasaan itu tetap sama.

Takjub.

 

Gedung-gedung tinggi menjulang memenuhi kota, layar iklan besar menyala di beberapa sudut jalan, orang-orang berjalan cepat dengan kehidupan mereka masing-masing.

Claudia memandang semuanya seperti anak kecil yang baru pertama kali melihat dunia.

“Banyak sekali orang,” bisiknya pelan.

 

Bibi tersenyum kecil di sampingnya. “Kota memang selalu ramai.”

Claudia menempelkan pandangannya ke kaca mobil. Matanya terus bergerak memperhatikan setiap detail kecil yang ia lihat.

 

Seorang anak kecil tertawa sambil berlari mengejar balon, pasangan muda berjalan sambil bergandengan tangan, seorang wanita duduk sendirian di halte sambil membaca buku.

 

Hal-hal sederhana yang selama ini tidak pernah ia rasakan dan entah kenapa, semua itu terlihat begitu indah.

Mobil berhenti di depan pusat perbelanjaan besar di pusat kota. Adrian turun lebih dulu, memastikan area aman sebelum membuka pintu untuk Claudia.

 

“Jangan jauh dari saya,” ucapnya tegas.

Claudia mengangguk patuh, nmun begitu kakinya menyentuh lantai luar, matanya langsung dipenuhi rasa kagum.

 

Bangunan itu sangat besar. Lampu-lampu terang memenuhi langit-langit kaca, suara orang berbicara bercampur dengan musik yang terdengar dari dalam pusat perbelanjaan.

Claudia berjalan perlahan di samping Bibi, sesekali menoleh ke berbagai arah seperti takut melewatkan sesuatu.

 

“Aku tidak menyangka tempat seperti ini benar-benar ada,” katanya pelan.

Bibi tertawa kecil.

“Kamu seperti anak kecil.”

“Aku memang belum pernah melihat semua ini.” Nada suaranya terdengar polos.

 

Dan Adrian yang berjalan di depan mereka tanpa sadar sedikit menoleh ke belakang. Entah kenapa, melihat Claudia menikmati hal-hal kecil seperti itu membuat dadanya terasa aneh.

 

Mereka memasuki salah satu toko pakaian besar. Claudia langsung terpaku melihat deretan gaun dan pakaian yang tertata rapi. Tangannya perlahan menyentuh salah satu kain berwarna krem dengan hati-hati.

 

“Cantik…” bisiknya.

“Kamu mau coba?” tanya Bibi.

Claudia mengangguk kecil.

 

Saat Bibi mulai memilih beberapa pakaian, Claudia justru lebih sibuk melihat orang-orang di sekitar. Ia memperhatikan gadis-gadis seusianya yang tertawa bebas bersama teman mereka.

 

Mereka terlihat begitu bebas, tatapan Claudia perlahan berubah sendu.

“Apa semua orang bisa hidup seperti itu?” tanyanya tiba-tiba.

Bibi menoleh pelan. “Maksudmu?”

 

“Mereka terlihat bebas melakukan apa saja.”

Bibi terdiam beberapa detik sebelum menjawab pelan. “Kebebasan setiap orang berbeda.”

Claudia menunduk kecil.

 

“Tapi aku bahkan tidak pernah punya pilihan.” Kalimat itu membuat Bibi tidak mampu menjawab.

 

Beberapa saat kemudian, Claudia keluar dari ruang ganti dengan gaun sederhana berwarna putih lembut. Rambut panjangnya terurai rapi di bahu.

Bibi langsung tersenyum. “Cantik sekali.”

Claudia terlihat sedikit malu.

Namun sebelum sempat berbicara, Adrian yang berdiri tidak jauh dari sana tanpa sadar ikut menatap Claudia beberapa detik lebih lama dari biasanya.

 

Gaun itu sederhana, tetapi Claudia terlihat begitu berbeda memakainya.

Lebih dewasa dan entah kenapa sulit diabaikan.

 

Claudia menyadari tatapan itu dan langsung menoleh ke arah Adrian.

“Bagaimana?” tanyanya pelan.

 

Adrian langsung memalingkan pandangan. “Lumayan.”

Jawaban singkat itu membuat Claudia tertawa kecil. “Lumayan?”

“Itu sudah bagus,” jawab Adrian datar. Namun diam-diam sudut bibir Claudia terangkat tipis.

 

Sore mulai turun saat mereka keluar dari pusat perbelanjaan. Jalanan kota mulai dipenuhi lampu-lampu malam.

 

Claudia berjalan sedikit lebih lambat dari yang lain. Matanya masih sibuk memperhatikan suasana sekitar.

 

Namun beberapa meter dari mereka, seorang pria bertopi hitam diam-diam memperhatikan Claudia sejak tadi, tatapannya tajam, mencurigakan. Pria itu perlahan mengambil sesuatu dari sakunya, sebuah kamera kecil.

Klik. Foto Claudia berhasil diambil.

 

Di saat yang sama, Adrian langsung menyadari sesuatu. Matanya bergerak cepat ke arah pria itu dan instingnya langsung memberi peringatan ada bahaya.

 

“Masuk ke mobil sekarang,” ujar Adrian tegas.

Claudia sedikit terkejut. “Ada apa?”

“Sekarang.” Nada suara Adrian berubah jauh lebih dingin.

Bibi langsung menggenggam tangan Claudia dan membawanya masuk ke mobil tanpa banyak bertanya.

 

Sementara Adrian berjalan cepat menuju arah pria tadi namun saat sampai orang itu sudah menghilang. Adrian mengeratkan rahangnya. Ia terlambat.

 

Di dalam mobil, Claudia mulai merasa suasana berubah tegang.

“Ada apa sebenarnya?” tanyanya pelan.

Adrian masuk ke mobil sambil tetap melihat ke luar jendela. “Kita pulang sekarang.”

“Tapi kenapa?”

Adrian akhirnya menoleh, tatapannya serius. “Karena seseorang sedang mencari Anda.”

 

Kalimat itu membuat Claudia langsung diam, jantungnya perlahan berdegup lebih cepat dan untuk pertama kalinya sejak keluar dari villa ia menyadari bahwa dunia luar tidak hanya indah tetapi juga berbahaya.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!