Jatuh Cinta Dengan Pengawalku

Pertolongan

Malam itu datang dengan tenang, namun tidak bagi Claudia. Sejak pulang dari pusat perbelanjaan, pikirannya tidak pernah benar-benar berhenti. Ia duduk di depan meja kecil di kamarnya, buku catatan terbuka, pena di tangannya bergerak pelan namun pasti. Ia menuliskan setiap detail yang ia ingat jalan yang dilalui, posisi gedung, arah belokan, bahkan letak pintu keluar di pusat perbelanjaan tadi. Tidak ada yang ia lewatkan. Ini bukan lagi sekadar rasa penasaran. Ini rencana.

Claudia berhenti sejenak, menatap tulisannya. Ia menghela napas pelan, lalu berbisik pada dirinya sendiri, “Aku sudah pernah keluar… berarti aku bisa melakukannya lagi.”

Namun kali ini, ia tidak ingin tersesat. Ia tidak ingin panik. Ia ingin siap.

Di sisi lain rumah, Adrian berdiri di ruang kontrol, menatap layar CCTV dengan fokus yang sama seperti biasanya. Namun malam itu, matanya lebih sering berhenti pada satu layar kamar Claudia.

Ia melihat gadis itu duduk di meja, menulis sesuatu.

“Dia tidak akan diam…” gumam Adrian pelan.

Ia tahu itu sejak awal. Sejak pertama kali melihat sorot mata Claudia yang berbeda dari yang lain.

Bukan hanya ingin bebas. Tapi ingin mengerti. Adrian menghela napas panjang. Ia tahu, cepat atau lambat, Claudia akan mencoba lagi.

Dan jika itu terjadi Ia harus memilih. Menahan. Atau… membiarkan.

 

Keesokan harinya, suasana rumah kembali berjalan seperti biasa. Namun Claudia tidak lagi hanya menjalani hari tanpa arah. Ia mulai memperhatikan setiap hal kecil jam pergantian penjagaan, jalur yang sering dilewati pengawal, bahkan kebiasaan para pembantu di dalam rumah. Ia belajar. Diam-diam. Tanpa membuat siapa pun curiga.

Di taman belakang, Claudia duduk di bangku seperti biasa. Tangannya memegang buku, seolah sedang membaca. Namun matanya sesekali mengarah ke gerbang kecil di sudut taman pintu yang jarang digunakan, yang pernah ia lihat terbuka saat para pembantu keluar masuk.

Adrian berdiri tidak jauh dari sana. Ia memperhatikan. Dan ia tahu. Claudia tidak hanya membaca.

“Kalau aku lewat sana…” bisik Claudia pelan, hampir tak terdengar.

Ia menunduk kembali, membuka halaman buku. Namun pikirannya tidak ada di sana.

Siang hari, Claudia kembali ke dalam rumah. Ia berjalan menuju dapur, tempat Bibi sedang menyiapkan sesuatu.

“Bi,” panggil Claudia pelan.

Bibi menoleh dengan senyum hangat. “Iya, sayang?”

 

Claudia mendekat, lalu berdiri di sampingnya. “Aku boleh ke taman lagi nanti sore?”

Bibi tersenyum. “Boleh. Kamu sekarang memang lebih sering di sana.”

Claudia mengangguk kecil. “Aku suka… lebih tenang.”

Bibi tidak curiga. Tidak ada yang terlihat aneh. Namun di dalam diri Claudia Ada rencana yang semakin jelas.

 

Sore hari tiba. Langit mulai berubah jingga. Claudia kembali ke taman, seperti yang ia katakan.

Ia duduk sebentar, lalu berdiri, berjalan perlahan ke arah sudut taman.

Ke arah pintu kecil itu. Langkahnya tenang. Tidak tergesa.

Seolah hanya berjalan tanpa tujuan. Namun saat ia semakin dekat Suara langkah terdengar di belakangnya. “Tuan putri.”

Claudia berhenti. Perlahan menoleh. Adrian berdiri beberapa meter darinya. Tatapannya tajam. Mengetahui. Hening sejenak. Claudia tidak terlihat kaget.

Seolah sudah menduga.

 

“Aku hanya ingin melihat-lihat,” katanya pelan.

Adrian melangkah mendekat. “Area itu tidak untuk Anda.”

Claudia menatapnya beberapa detik.

Lalu berkata pelan, “Kalau aku tidak pernah ke sana… aku tidak akan tahu apa yang ada di luar.”

Adrian tidak langsung menjawab.

Claudia melanjutkan, “Kemarin aku keluar. Aku tidak tahu apa-apa. Aku takut.”

Ia menunduk.

“Kalau aku terus seperti itu… aku akan selalu takut.”

Angin sore berhembus pelan Suasana menjadi lebih hening Adrian menatapnya.

Ia bisa melihat Claudia tidak lagi sekadar mencoba kabur.

Ia sedang belajar. “Dan sekarang?” tanya Adrian.

Claudia mengangkat wajahnya. “Sekarang aku tidak mau takut lagi.”

Kalimat itu sederhana. Namun kuat. Adrian terdiam cukup lama. Pikirannya bekerja.

Sebagai pengawal, ia harus menghentikan.

 

Sebagai seseorang yang melihat Ia tahu Claudia tidak akan berhenti. Akhirnya, Adrian berkata pelan “Pintu itu… mengarah ke jalur servis.”

Claudia sedikit terkejut. Ia tidak menyangka Adrian akan menjawab.

“Jarang dijaga. Tapi tetap diawasi,” lanjut Adrian.

Claudia menatapnya. Matanya sedikit berbinar.

“Dan kalau kamu keluar dari sana…” Adrian berhenti sejenak, “kamu harus tahu ke mana arahmu.”

Claudia mengangguk cepat. “Iya.”

Adrian menghela napas pelan. Ia melangkah sedikit ke samping. Tidak sepenuhnya memberi jalan. Namun juga… tidak menghalangi.

“Jangan lama,” katanya. Claudia terdiam. Beberapa detik. Seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

“Kamu… mengizinkan?” tanyanya pelan.

Adrian tidak menatapnya.

“Saya tidak melihat apa-apa,” jawabnya singkat.

Itu bukan izin. Tapi cukup. Lebih dari cukup.

 

Claudia menggenggam ujung gaunnya. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ini kesempatan. Nyata.

 

Ia melangkah perlahan ke arah pintu kecil itu. Tangannya menyentuh gagangnya. Dingin. Namun tidak menakutkan lagi.

 

Ia menoleh sebentar ke arah Adrian. Pria itu masih berdiri di sana. Diam. Tidak menghentikan. Claudia menarik napas dalam. Lalu membuka pintu itu perlahan.

 

Udara luar masuk. Berbeda. Lebih bebas. Ia melangkah keluar. Satu langkah. Dua langkah. Ia tidak jauh.

 

Hanya beberapa meter dari pagar. Namun itu sudah cukup untuk membuat hatinya bergetar.

 

Ia melihat jalan kecil di luar. Sepi. Namun nyata. Claudia tersenyum kecil. “Aku bisa…” bisiknya.

 

Beberapa menit berlalu. Ia tidak pergi jauh Tidak nekat Ia hanya berdiri, melihat, merasakan. Lalu perlahan kembali.

Saat ia masuk kembali ke taman, Adrian masih di tempatnya.

Claudia menutup pintu itu pelan Lalu berjalan mendekat Wajahnya berbeda Lebih hidup.

“Terima kasih,” katanya pelan. Adrian menatapnya.

Tidak menjawab Namun kali ini Tatapannya tidak setegas biasanya.

Malam hari, Claudia kembali ke kamarnya. Ia duduk di meja kecil, membuka buku catatannya. Namun kali ini Ia tidak hanya menulis rencana Ia menulis pengalaman Tentang langkah kecil yang ia ambil Tentang rasa yang ia rasakan.

Lalu ia menulis satu kalimat di bagian bawah: “Aku tidak sendirian lagi.”

Claudia menutup buku itu perlahan. Senyum tipis muncul di wajahnya. Karena hari ini Untuk pertama kalinya Seseorang tidak hanya menjaganya.Tapi… membantunya melangkah.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!