Di depan julangan gedung tinggi pondok pesantren milik Ustadz Riza, mobil mereka berhenti diiringi rintik gerimis seperti simbol hati Hanum saat ini. Rintikan air yang terjatuh dari langit seolah ingin sedikit memberi kesejukan perasaannya yang sudah panas terbakar api asmara.
Pintu mobil yang baru saja terbuka lebar tidak biasanya berdecit keras, seakan menertawakan apa yang akan terjadi nanti di dalam sana.
Hanum melangkahkan kaki secara perlahan, tak lupa merapihkan cadar di wajahnya. Ustadz Riza berjalan di depannya dengan terburu-buru sudah tidak lagi berjalan sejajar dengan langkah yang bersamaan atau bergandengan tangan seperti kemarin dan sudah tidak akan lagi Hanum merasakan panas jemarinya karena tergenggam erat oleh suami tercintanya.
"Mas ...," panggil Hanum pada suaminya dengan suara yang sangat kecil hampir tidak terdengar sama sekali.
Tetapi hebatnya Ustadz Riza masih bisa mendengar panggilan istrinya meski suara itu hampir hilang terbawa angin. Ia berhenti sejenak lalu menoleh ke belakang.
"Mas ... bisakah kita berjalan seperti kemarin? Aku sungguh malu berjalan di belakangmu," pinta Hanum sambil mengulum bibirnya. Dia benar-benar malu berjalan di belakang suaminya dengan sorotan mata yang begitu banyak mengarah padanya.
Ustadz Riza tersenyum dia lupa istrinya masih begitu takut untuk berjalan sendiri di tengah keramaian, bahkan raut wajah Hanum pun terlihat begitu panik. 'Masya Allah ... seandainya istriku bisa memberiku keturunan, akan kupastikan aku tidak akan tega untuk menduakannya! Dia sangat penurut dan mencintaiku setulus hatinya, tapi bagaimana dengan keturunanku?' batinnya bergumam.
Akhirnya Ustadz Riza merangkul pundak Hanum dan berjalan bersamaan seperti biasanya.
'Alhamdulillah ya Allah.'
Hanum yang merasa lega pun mengembangkan bibirnya mengarah pada seorang suami yang sebentar lagi akan mengenalkan calon madunya.
"Hanum? Apa Mas menyakitimu?" tanya Ustadz Riza sangat pelan sembari melangkah menuju ke salah satu kelas santri.
"Heuh?" Hanum seketika berubah menjadi gelagapan.
"Maaf ... ini untuk kebahagiaan kita juga, terima kasih untuk keikhlasanmu, Hanum. Lagi pula kamu jangan khawatir cinta mas akan selalu utuh untukmu sampai kapan pun! Mas janji ...," ujar Ustadz Riza sembari mengusap pundak Hanum dengan sangat lembut.
Hanum menghela napas panjang mendengar perkataan itu, kemudian mengulum senyumnya dengan pandangan yang sulit diartikan. "Terima Kasih," ujar Hanum singkat.
"Hanum beneran ikhlas, kan?" tanya Ustadz Riza memastikan.
Seketika kepala Hanum menoleh lalu memandang suaminya tajam, namun tetap dengan wajah yang masih tersenyum manis. "Apa ikhlasku masih berperan penting, Mas? Toh aku ikhlas atau nggak kamu tetap menikahkan dia to?" tanya Hanum.
"Setidaknya kalau kamu ikhlas, rumah tangga kita akan tetap tentram dan berbahagia. Jadi ...sekarang mas tanya, kamu beneran ikhlas atau enggak?" tanya Ustadz Riza kembali.
Hanum tidak menjawab perkataan suaminya ia hanya memandang Ustadz Riza dengan tatapan yang masih sulit untuk diartikan.
Beberapa meter mereka berjalan Hanum dihentikan oleh suaminya untuk duduk menunggunya di depan kelas.
"Duduk disini sebentar Hanum, aku akan kembali lagi secepatnya." Ustadz Riza mengambilkan kursi untuk Hanum dan mempersilahkan dirinya duduk.
Hanum pun duduk sembari memperhatikan langkah suaminya yang masuk ke dalam kelas dengan terburu-buru.
Beberapa menit kemudian Ustadz Riza datang berdampingan dengan seorang gadis yang selama ini Hanum kenal.
Seketika Hanum berdiri dari duduknya, "Nadin ...." Suara Hanum tidak sengaja mengeluarkan nada tinggi.
Gadis berkerudung merah dengan dress berwarna peach itu hanya menunduk tak sanggup untuk melihat Hanum.
NADIN AZAHRA SALSABILA nama itu masih teringat jelas di kepala Hanum setiap kali dia mengabsen satu-persatu nama anak didiknya.
"Lihat Umi, Nadin!" ujar Hanum mengetai santri yang ia kenal umurnya masih belasan tahun dan Nadin pun masih sangat baru menjadi santri di pondok pesantren milik Ustadz Riza ini, mungkin hanya sekitar tiga bulanan jika Hanum tidak salah hitung. Bahkan perilaku Nadin pun masih terkenal menyeleneh dibanding para santri lainnya.
Nadin alih-alih mengadahkan kepalanya pada Hanum, ia malah lancang menggenggam jemari Ustadz Riza lalu bersembunyi di belakang Ustadz Riza bagaikan anak kecil yang takut akan amarah ibunya.
Sebagai istri sah dari Ustadz Riza, Hanum semakin marah melihat perilaku anak didiknya berprilaku tidak sopan pada yang bukan muhrimnya. "Nadin, lepaskan tanganmu dari abi sekarang juga! Atau Umi yang memaksamu untuk melepaskan?!" ujar Hanum dengan menahan emosi yang hampir meledak.
Nadin pun melepaskan tautannya pada Ustadz Riza, "Maaf Umi ... Nadin takut." Gadis itu terlihat sedari tadi sibuk memainkan jentik jarinya.
Melihat Nadin yang sudah mulai ketakutan, Hanum pun mengambil napas dalam dan menghembuskannya secara perlahan. Mencoba untuk mengatur ritme emosinya agar tidak meledak dan membuat malu suaminya sendiri.
"Hanum ... istighfar ...," ujar Ustadz Riza sembari menghusap pundak Hanum yang kini terduduk sambil memejamkan matanya.
Sontak perkataan itu membuat Hanum membuka pelupuk matanya secara tiba-tiba lalu menatap mata suaminya penuh arti dan menoleh kembali pada gadis yang masih berdiri kaku bak manekin.
"Nadin ...," panggil Hanum dengan sangat lembut. "Nadin, tolong lihat umi. Apa kamu tau apa tujuan abi membawamu pada umi?" tanya Hanum dengan hati yang sudah dikuat-kuatkan olehnya.
Nadin mengangguk pelan tanpa melihat Hanum, itu artinya gadis itu memang sudah tahu apa maksut mereka berdua menghadap Hanum.
"Nadin ... Nadin tau apa yang akan terjadi setelah ini?" tanya Hanum lagi dengan intonasi yang sangat pelan, ia takut akan menyakiti hati Nadin.
Sontak pertanyaan itu membuat Nadin mengangkat kepalanya lalu menggeleng. "Nadin hanya tau, Abi akan menikahi Nadin ...," ujar Nadin lalu kembali menundukkan kepalanya.
Hanum mengambil kedua tangan Nadin dan menggenggamnya. "Nak ... kamu dan abi usianya sangat jauh berbeda dan menikah itu bukanlah perkara yang mudah, apa kamu siap menjadi istri kedua abi?" tanya Hanum sangat begitu pelan.
"T-tapi ... kata abi bukan jadi istri yang kedua, abi menikahi Nadin untuk menggantikan umi agar abi bisa mempunyai anak ...," jawab Nadin polos.
Lantas jawaban itu membuat Hanum melepaskan tangan Nadin secara tidak sengaja, ia menoleh ke arah suaminya dengan hati yang semakin perih.
Kemudian Hanum menoleh lagi pada Nadin, "Nak ... apa kamu mencintai abi? Apa abi yang memaksamu untuk menikah dengannya?" tanya Hanum dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Dari pertama kali Nadin memasuki pondok ini, Nadin sudah menyukai Abi. Maaf umi ... Nadin bener-bener nggak tau saat itu abi sudah menikah! Nadin baru beberapa minggu ini tahu jika umi dan abi adalah sepasang suami istri. Sekali lagi Nadin minta maaf umi ...." Perkataan Nadin terhenti lalu ia menoleh pada Ustadz Riza. "Dan maaf umi ... kemarin abi mengajak Nadin menikah, untuk menggantikan posisi umi."
Hanum menelan salivanya secara perlahan lalu menoleh memandang suaminya tajam. Tanpa satu patah kata pun Hanum melangkah meninggalkan mereka berdua dengan kekecewaan. Hatinya hancur sehancur-hancurnya setelah mendengar ucapan anak didiknya sendiri.
Setega itu kah suaminya mengatakan jika dia ingin menggantikan Hanum? Kekecewaan Hanum memuncak, merasa tidak dihargai dan dikhianati hanya karena dirinya tidak kunjung juga mempunyai anak.
"Kurangnya aku apa ... kurawat dirinya sebaik mungkin! Selalu wangi dan sebisa mungkin kuusahakan dirinya selalu tampil menawan! Tapi nyatanya ia main gila dibelakangku!" gerutu Hanum sembari melangkah kasar ke arah mobil.
Cletak!!!
Pintu mobil tertutup kencang, Hanum melemparkan dirinya duduk dengan sejuta tangisan. "Apa salahku ya Allah?" batin Hanum bergumam.
Tak lama kemudian Ustadz Riza masuk, "Hanum ...," panggilnya sembari menggenggam tangan Hanum. "Hanum ... kamu salah paham. Mas akan jelaskan!" ucap Ustadz Riza dengan santai seperti tidak ada kesalahan apa pun. "Istighfar ... Hanum, istighfar ...."
Hanum mengadahkan kepalanya, menatap tajam mata suaminya. "Istighfar? Lalu, Mas?" sahut Hanum lalu menyenderkan kembali pundaknya ke tepi dekat kaca. "Pulang." Hanum meminta dengan tegas.
Ustadz Riza langsung melajukan mobilnya sesekali menoleh ke arah Hanum yang sedang diam seribu bahasa dengan tatapan kosong mengarah ke depan. Ustadz Riza ingin menegur istrinya tetapi ia takut akan respon yang dikeluarkan Hanum padanya, takut jika Hanum malah akan mengatakan hal yang tiba-tiba membuatnya tersingung dan akhirnya terjadi keributan padahal ia sedang menyetir.
Sedangkan Hanum masih menunggu suaminya mengatakan hal sesuatu yang membuat dirinya tenang, ia ingin ditenangkan oleh suaminya bukan malah menenangkan dirinya sendiri.
Dan sekarang Hanum masih memandang rintik hujan yang masih belum berhenti sejak tadi, "Hujan ... aku ingin bertanya mana yang lebih menyakitkan, tubuh yang terbakar api? Atau kepala yang dipenggal paksa? Mungkin Terdengar sedikit menyeramkan. Tapi ... aku ingin tahu jawabannya, karena ntah mengapa sekarang aku ingin keluar dari cinta yang salah." Batin Hanum menangis sejadi-jadinyaa. Namun wajahnya tetap datar menatap hujan sembari bertanya meski tidak akan pernah ada jawabannya.
Beberapa menit kemudian Hanum yang menunggu Ustadz Riza menenangkan dirinya, tetapi tak kunjung juga ditenangkan. Akhirnya Hanum membuka suaranya terlebih dulu yang mungkin kata-kata itu akan membuat perlawanan untuk suaminya.
"Aku membatalkan izinku untuk dimadu," ujar Hanum datar dengan mata yang masih memandang kosong ke depan.
Citttt!!!
Suara ban mobil berdecit kencang, Ustadz Riza tiba-tiba memberhentikan lajuan mobilnya di pinggir jalan tol.
"Coba katakan sekali lagi!" pintanya.
"AKU MEMBATALKAN IZINKU UNTUK DIMADU!" jawab Hanum lagi, kali ini penuh dengan penekanan.
Mendengar ucapan yang baru saja keluar dari dalam mulut Hanum, seketika Ustadz Riza langsung melajukan mobilnya dengan laju yang sangat kencang.
Hingga ia menyetir diluar kendali dan akhirnya mobil yang mereka pakai, menabrak pembatas dan terguling bebas di jalanan.
"ASTAGHFIRULLLAH!!!" jerit keduanya secara bersamaan.