Istri Pengganti Ustadz

Kematian Kiyai

Hanum menelan salivanya berat, detik ini seakan menyeramkan baginya. Jujur ia masih belum siap untuk menceritakan semuanya pada Umi, bahkan untuk memutar kembali sekedar menjelaskan Hanum masih enggan.

 
"Bu Nyai? Apa mau ikut sahur bersama kita?" Nadin menyapa kembali wanita dengan sorot mata porak porandanya itu.
 
Hanum menggaruk pelipis lalu mengulum bibirnya menyadari jika saat ini akan ada tangisan yang mungkin keluar dari mulut umi pada Ustadz Riza.
 
"Nak, kamu sudah sahur? Jika sudah ... ayo cepat berkemaslah, umi tidak ada waktu banyak disini. Abi menunggumu," ujarnya tanpa sedikit pun bertanya tentang Nadin dan membalas ucapan Nadin saja umi juga tidak. Beliau seolah sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi.
 
"Baik, Umi ... Hanum akan bersiap." Hanum mengalihkan pandangan umi dengan menarik lengannya cepat masuk ke dalam, melewati Ustadz Riza yang tiba-tiba bangkit dari kursi lalu menyalami umi. 
 
"Apa kabar umi?" tanya Ustadz Riza sambil menyalami ibu mertuanya.
 
"Baik." Sesingkat itu umi menjawab, umi terlihat sangat dingin ia seakan sudah tidak peduli lagi dengan apa yang sedang terjadi, Hanum saja bingung pada sikap umi yang sekarang.
 
Jujur ada banyak pertanyaan yang ingin Hanum lontarkan pada Umi, tetapi melihat kondisi umi seperti orang yang sedang bingung. Akhirnya Hanum memilih untuk menanyakan hal itu di rumah, sekaligus mempersiapkan penjelasan yang harus ia jelaskan pada kedua orang tuanya nanti, bahwa sebenarnya Ustadz Riza sudah menikah lagi tanpa sepengetahuan mereka.
 
Hanum dengan cepat berkemas, memakai pakaian serba hitam lalu memakai cadar kebanggaan Kyai. "Aku pergi dulu, Mas," ujar Hanum sambil mencium tangan suaminya. "Oh ... iya, Mas bisa langsung pergi ke pondok tanpa menunggguku. Nanti Hanum nyusul." 
 
Kemudian Hanum menoleh pada Nadin. "Umi pergi dulu ya, tolong jaga abi. Assalamualaikum" 
 
Nadin merangkul Ustadz Riza. "Baik, Umi. Walaikumsalam," jawabnya manja.
 
 
Hanum melangkah keluar rumah, sesekali menoleh menatap wajah Umi yang terlihat acuh tanpa pertanyaan melihat adanya perempuan lain sambil memeluk suami anaknya dalam satu atap.
 
Kini umi dan Hanum sudah menaiki mobil, tetapi sikap Umi tetap tidak sama seperti kemarin, dirinya hanya terdiam bola matanya menghadap kosong lurus ke depan sepanjang jalan. "Umi sakit?" tanya Hanum sangat pelan.
 
Umi menggeleng, wanita itu terus membuat anaknya semakin bingung. Rasanya Hanum sudah tidak sabar untuk sampai ke rumah, ingin secepatnya tahu ada masalah apa di balik dinginnya sikap umi padanya. 
 
Wanita bercadar itu terus menatap wajah ibunya, dia seakan tidak lagi mengenali seorang ibu yang duduk berada di sampingnya saat ini. Seperti ada kemarahan terpendam yang sebentar lagi akan meledak saat ia mulai membuka suara.
 
Hanum menunduk, ia berfikir mungkin ke dua orang tuanya sudah tahu dengan apa yang sudah terjadi pada rumah tangga anaknya dan mereka pun kecewa karena merasa tidak dihormati sebagai orang tua, sampai anak menantu mereka menikah lagi pun mereka tidak di beri tahu melainkan tahu dari mulut orang lain.
 
Begitulah isi alur di dalam kepala Hanum, ia tahu saat ini sudah mengecewakan ke dua orang tuanya. Tetapi ... apa saja konsekuensi yang Hanum akan dapatkan nanti, Hanum sudah ikhlas. Ia juga tahu Kyai pasti akan menceramahi anak perempuannya sepanjang hari sebab kebodohan yang Hanum perbuat.
 
 Hanum bergelut dengan fikirannya sendiri sambil menatap ke arah luar kaca, hingga ia tersadar telah sampai di depan halaman rumah Kyai.
 
Ia keluar dari dalam mobil, jalannya tertinggal oleh umi yang begitu cepat masuk ke dalam rumah.
 
Sedangkan Hanum masih terdiam sambil mengamati sekitar, masih mencoba memahami situasi dengan apa yang sebenarnya terjadi?
 
Mengapa begitu banyak orang yang berlalu lalang keluar masuk dari dalam rumahnya? Hampir sebagian para sahabat Kyai pun datang berkunjung ke rumah. Hanum memasang senyum di wajahnya menyapa satu persatu kerabat dari Kyai, hingga akhirnya bola mata Hanum terpaku pada bendera kuning yang terpasang di sudut pojok rumah.
 
Hanum mematung beberapa detik, bola matanya berlinang, jantungnya seakan runtuh secara tiba-tiba. Hanum berlari masuk ke dalam. 
 
Semua orang menatap Hanum dengan raut wajah sedih, semakin Hanum mendekati keramaian semakin pula kakinya melemah. 
 
Kemudian tangisannya pecah, Hanum merasa Allah sedang mempermainkan takdirnya sekarang. 
 
Hanum tersungkur lemah, melihat tubuh seorang abi yang ia banggakan dan ia kagumi terbaring pucat kaku di atas ranjang. 
 
"Beri ruang untuk Ning, agar bisa mencium Kyai." Suara salah satu kerabat Kyai yang datang mempersilahkan Hanum mencium Kyai untuk terakhir kalinya.
 
Hanum bangkit lalu berjalan menembus keramaian dan duduk di samping jenazah Kyai. Hanum memeluk Kyai erat, ada begitu banyak hal yang belum sempat Hanum sampaikan padanya. Hanum memang menunggu waktu yang tepat untuk berbicara, tetapi ... mengapa seolah takdir tidak berpihak pada Hanum? 
 
Lagi-lagi Hanum menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi saat ini. Ada sebuah penyelasan besar yang terhimpit di dalam dadanya. Ia masih memeluk Kyai erat sebelum raga itu nantinya tidak bisa lagi ia peluk.
 
Gadis kecil yang dulu sering Kyai manja, kini hanya bisa memeluk, menangis tanpa suara. Hanum menggenggam tangan Kyai yang dulu sering menguatkan Hanum hanya lewat genggaman tangannya.
 
"Abi ... bagaimana dengan Hanum?" ucapan itu tidak sengaja terlontar dari mulut Hanum, ia sudah tidak tahu lagi harus apa saat ini. Bahkan ia butuh menangis sekencang-kencangnya agar bisa tertidur dan terbangun berharap semuanya hanya sebagian dari mimpi.
 
Hanum benar-benar lelah, setiap hari selalu saja ada luka yang memeluknya dan lagi-lagi dihancurkan oleh keadaan.
 
"Nak, sudah?" tanya Umi merangkul bahu Hanum. "Abi sudah waktunya untuk dimandikan." 
 
Hanum menggeleng, ia mencium kening Kyai sangat lama. Menikmati ciuman untuk terakhir kalinya pada seorang pria yang membuat dirinya jatuh cinta di setiap hari. "Hanum sekarang sadar, Bi ... tidak ada yang menyayangiku seperti Abi, bahkan suamiku sendiri ...," ucapnya perlahan menutup wajah Kyai dengan kain putih.
 
Umi menguatkan Hanum, wanita paruh baya itu nampak kuat dan ikhlas tidak menangisi Kyai sama sekali. 
 
Sedangkan Hanum ... hatinya sangat hancur, bahkan sekarang semuanya tampak meninggalkan luka yang sangat mendalam dibanding kemarin.
 
Saat sedang dalam waktu memandikan jenazah, Hanum hendak menghubungi Ustadz Riza. Setidaknya memberi tahu kabar duka pada sang suami. 
 
Ia mencari satu kontak nama 'My Habibie.' di dalam ponselnya, setelah terlihat kontak nama itu di ponselnya. Hanum sedikit menjauh dari keramaian untuk menghubungi Ustadz Riza. 
 
Namun, di saat Hanum menekan tombol panggilan. Umi seketika merebut ponsel Hanum lalu tiba-tiba mengakhiri panggilan itu.
 
"Jangan dulu ... tolong hargai, Umi. Setidaknya sampai luka hati umi dan abimu sembuh." 
Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!